Wednesday, December 29, 2010

'kenapa' untuk sebuah kegilaan.

Seorang teman bilang, "ngapain sih lo bersedia gila buat dia?"
Saya hanya mengedikan bahu. Mungkin karena saya sudah benar-benar gila saja, atau secara tidak terjelaskan, hanya merasa apa yang saya rasakan benar-benar benar.
***

kegilaan itu dimulai dari serangkaian kata-kata. Tidak manis, tidak menggoda, hanya 'mengganggu'. Bukan jenis mengganggu seperti ada orang yang berteriak-teriak di kuping saya saat sedang sakit gigi, atau seperti ada segerombolan ABG labil yang kompak berpakaian serupa. Ini jenis mengganggu yang membuat nalar saya bicara, "ini tidak mungkin cuma sekedar kebetulan". Dan saya pun jadi penasaran.

Sayangnya mungkin rasa penasaran ini akan sangat sulit dimengerti oleh orang lain. Wajar sih, semua orang pasti akan berpikir menggunakan akal sehat, sedangkan semenjak kegilaan ini dimulai, entah apa yang saya gunakan untuk berpikir.

Hati ? ah. Terlalu dini untuk bilang begitu. Saya pun tidak tahu lagi. Yang jelas semua kegilaan ini mulai berubah menjadi sesuatu yang adiktif dan saya mulai kewalahan. Apa sih yang sebenarnya saya harapkan, saya juga tidak bisa menetapkan dengan jelas.

Saya hanya ingin jawaban untuk berbagai macam kata kenapa yang sering muncul saat saya sedang bengong. Sekaligus jawaban untuk berbagai macam keyakinan, yang entah kenapa, mulai saya rasakan di tengah ketidak pastian.

Sayangnya, kegilaan ini seperti juga dimulainya, berakhir dengan sedikit gila (entah apa pantas menyebutnya begitu). Ketika sebuah akhir terjadi, tentunya kita ingin sekali memberi tanda titik disana. Sebuah tanda titik, yang entah kenapa (lagi-lagi kenapa) belum rela untuk saya bubuhkan.

Menunggu apalagi sih ? Tidak tahu. Mungkin sebuah kegilaan lain. Yang menyakitkan. Yang barangkali akan membuat semuanya jauh lebih mudah.



***

"I'm always here
All alone without you now
Lights of the night
Just to see you somehow

There's two of us in here
The only, only
There's two of us in here
And it's only

Just you wait
Just you wait
Just you wait
Just you wait

If you run
If you run
If you run

I'll wait, I'll wait"
If You Run-The Boxer Rebellion

Tuesday, December 28, 2010

for the sake of.

the photo hasn't been published before.
I accidentaly found it in a friend's hard disk.
Decided to upload it as a personal rememberance.

***

for the sake of our twenty-something drama.
for the sake of lessons we've learned
for the sake of laugh and tears that had been covering one another from time to time.

for the sake of our earlier life together,
and for the sake of our dream of being together forever.


Ginna Finalis-Zulkifli Tegar
May, 21st 2007

photo taken and edited by : Rizky Amalia

absurd, nothing described it better.

Most of my nights are absurd, no bragging about it.
But, this is the most absurd night in my life, so far.
The place is crowded. Mostly with people i know. I'm busy saying hi, giving hugs, and answering curiosity.

Suddenly, a woman stand up from the crowd, to sing a song with the band. And i was strangled. Is that MEL SHANDY ? Yes, the lady rocker who was quite popular back then, along side with Nicky Astria and Nike Ardila.

FYI, she's now wearing 'jilbab'. And the place is a bar, full with alcohol. She picked a song "What's Going On", and sang the song in highly lady rocker pitch. And the band is a britpop band.

I couldn't say anything but absurd. Or maybe surreal. Something you can't believe, but somehow it feels real.
***

Dan sebuah telepon dari teman membuat saya berhenti berpikir ini adalah sesuatu yang nyata. Saya harap itu tidak nyata.
Saya harap saya kemarin tidak pergi ke gig itu, tertawa-tawa, memeluk semua orang, dan sedikit tipsy karena tequilla. Saya harap saya tidak menonton teman saya perform, dan tidak bisa menebak siapa yang tiba-tiba naik ke atas panggung untuk menyumbang lagu.

Saya tidak bisa berharap membatalkan beberapa hal lain di belakangnya, karena semuanya memang sudah seharusnya begitu.
Tetapi, mungkin kalau saya tidak pergi kemarin, di saat yang bersamaan, dia juga tidak akan melakukan hal yang kemarin dilakukannya.

Hal yang membuat saya merasa seperti seorang cold hearted bitch. useless-cold-hearted bitch. Because even if i felt something, i couldn't do anything to that.

***

All of sudden, the band played a song that had been haunting me earlier that night. The vocalist--not Mel Shandy--said, the song was dedicated to my other friend. But, yet, i feel like the song was dedicated to me. I sang it loudly, as my invisible tears began to shed . I feel misrable and somehow i feel bad of being good.

"Take me out tonight
Where there's music and there's people
Who are young and alive
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one anymore

Take me out tonight
Because I want to see people
And I want to see life
Driving in your car
Oh please don't drop me home
Because it's not my home, it's their home
And I'm welcome no more

And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well the pleasure, the privilege is mine

Take me out tonight
Take me anywhere, I don't care
I don't care, I don't care
And in the darkened underpass
I thought Oh God, my chance has come at last
But then a strange fear gripped me
And I just couldn't ask"
There is a Light That Never Goes Out, The Smiths

Thursday, December 16, 2010

and i've been followed.

kehilangan 1 orang followers tidak pernah terasa se-tidak enak ini. Dan perlu dicatat, meskipun sering membayangkan apa rasanya memiliki followers sampai ratusan ribu, saya tidak pernah terlalu peduli jumlah yang saya miliki. Kalau memang ada yang follow, pastilah saya masih punya orang-orang yang sepemikiran, atau yah setidaknya saya masih punya teman, atau paling yah, saya punya seseorang yang ingin sopan saja.
***

Sampai hari ini. Seseorang dengan twit-twitnya yang aneh. dan kesukaan-kesukaanya yang mirip dengan saya. disertai kecenderungan-kecenderungan pemilihan jokes, yang seringkali mendekati selera saya. ditambah kebiasaannya mengolah kata dalam bahasa inggris yang secara gramatikal sempurna, atau bahasa indonesia yang sangat baik, yang pastinya akan membuat saya--si fetish bahasa--sangat tertarik.

there is always a first time for everything.
and this is my first time, feeling like crying, to lost one particular follower.
well, maybe that one follower is special, somehow.

and i've been followed, but no longer. 


***

"suddenly everything has changed

putting all the clothes

you washed away
as you're folding up the shirts
you hesitate
then it goes fast
you think of the past

suddenly everything has changed"
'Suddenly Everything has Changed-The Postal Service'

siapa tahu.

dia mengusap-usap punggung perempuan itu hingga tertidur. Ada sebuah keheningan janggal yang dia tahu harusnya tidak ada. Dalam kedekatan dan sentuhan mereka seolah menciptakan jarak.

Namun tentu saja tidak perlu ada pembicaraan. Dia hanya ingin tidur. Mungkin memeluknya sampai pagi. Karena siapa tahu, besok-besok mereka tidak lagi seperti ini. Entahlah, siapa tahu. Hanya siapa tahu...

***




Monday, December 13, 2010

emotional emoticon, part II : "tidak ada emoticon yang pas".

these kind of emoticons make our world seems easier. But, how about if we want to express something un-describeable.
*taken from : 'emotional emoticons.'
===============================

Serendipity.
A word that people have heard before, but still hard to describe.
This word even listed as one of 10 hardest words to be described in English languange.


***

Kemarin malam, sempat bicara dengan seorang teman tentang serendipity. Entah kenapa, kata itu sedang sering muncul di timeline kami. Padahal, serendipity khan judul satu film romantis yang dibintangi John Cusack, aktor yang paling saya tidak sukai.

Tapi tentu saja hal-hal semacam ini akan sangat menyenangkan untuk dibicarakan, ketika kita benar-benar merasakan. Sayangnya, ketika bicara dalam sebuah kotak kecil dalam 140 karakter, beberapa detail akan seringkali terlewat. Maka sebagai gantinya, kita akan menambahkan sebuah emoticon.

Mungkin akan sangat gampang menambahkan emoticon :p atau ;) dibelakang kata itu. Tapi, jika kisahnya tidak semulus yang berjalan dalam filmnya, tentu saja akan jauh lebih sulit.

***

saya mencari-cari emoticon yang pas. Tidak ketemu. Karena kata itu--serendipity--untuk kami yang hidup di dunia nyata, ternyata bukan hanya membuat tersenyum, tapi juga bikin sesak.

Kami tertawa-tawa akan kenyataan ini. Berharap ada yang bisa menterjemahkannya dalam sebentulk emoticon.

saya :-( dan ;-) di saat yang bersamaan. Hanya saja, tentu perasaan sesak itu tidak terjelaskan.

***

"Hold my head inside your hands,
I need someone who understands.
I need someone, someone who hears,
For you, I've waited all these years."
--'Till Kingdom Comes', by : Coldplay.

Saturday, December 11, 2010

the worst emotional triger.

are you a melody person, or a lyrics person ?
i'm a lyrics person.

but whatever you are, as long as you like music that much, songs could be the worst emotional triger on earth.
***

saya membagi penyuka musik dalam 2 kategori. Penyuka lirik dan penyuka melodi.

Penyuka lirik akan menyukai sebuah lagu, asal liriknya menarik, mengena, atau lebih baik lagi menohok. Penyuka melodi, adalah tipe-tipe penggemar musik yang menyuikai lagu berdasarkan keindahan alunan nada. Tentu saja keduanya pada dasarnya sama, sesuai selera.

Namun, dulu sih pernah ada yang bilang pada saya. Kalau kita adalah penyuka lirik, pastilah kita pribadi yang rasional. Sebaliknya, penyuka melodi, pasti lebih emosional. Semacam bisa menjelaskan otak bagian mana yang paling banyak mempengaruhi perilaku kita. Entahlah apa bisa kita mempercayai teorinya.

karena toh pada akhirnya, penyuka lirik seperti saya pun seringkali merasa emosional, apabila mendengar lagu-lagu yang liriknya saya sukai, karena mengingatkan saya pada satu moment. Atau lebih parah lagi, ketika lagu itu diberikan oleh penyuka lirik yang lain--tampaknya dia seperti itu--hanya untuk melegitimasi kenangan saya bersama dia.

saya mendadak ingin membunuh semua memori lagu yang ada di otak saya. atau setidaknya buatlah saya tones-deaf. Agar tidak ada lagi lagu di dunia ini yang bisa membuat saya merasa sentimentil, bahkan hanya ketika mendengar sepotong bagian dengan lirik absurd semacam, "ba da da da pap" dan "ta ta ra ta ta ta ta ra ta".
***

and i realize, I would be forever music lover, song enthusiast.
maybe, that's how life manage me to remember you forever.


Thursday, December 9, 2010

a soulmate passing by.

jadi apakah soulmate itu?

saya tidak tahu. hanya saja. saya mungkin tahu rasanya menemukan satu.

***

banyak hal yang diramalkan orang-orang tentang soulmate. Ada yang percaya mentah-mentah, bahwa manusia itu katanya diciptakan berpasangan, laki-laki & perempuan. Sebuah konsep yang sedikit cacat di bagian gender secara berpasangan. Jumlah mereka saja berbeda, lagipula, tentu saya dunia ini berputar bersama modernisasi, dimana apapun bisa saja terjadi.

Banyak juga yang menanggapi dengan skeptis. Bahwa soulmate itu cuma hoax bikinan produsen cokelat, kartu valentine, dan penjual bunga. Hoax yang memaksa kita memborong semua produk mereka di tanggal-tanggal khusus seperti 14 Febuari, dengan harapan akhirnya mendapat balasan serupa di tahun berikutnya. Merasa aman, karena tindakan berbalas seperti itu, artinya jodoh.

padahal tentu saja, soulmate itu bukan cuma sekedar jodoh. soulmate itu melengkapi.

***

tidak pernah melihat kehidupan seseorang sedekat ini dengan kehidupan saya. kepalanya seperti menyatu dengan kepala saya. atau mungkin dia adalah alter ego saya, yang sedang menggoda ke-skeptisan saya pada konsep soulmate itu. entahlah, yang jelas tiba-tiba saya bisa melihat seluruh bayangan kehidupan saya. bahkan hingga hal-hal yang belum terjadi.

ini mungkin kalau bahasa klenik, adalah wangsit.
bahasa psikologinya, self-awakening.

saya lebih memilih bahasa kehidupan.
soulmate mungkin telah berpapasan hari ini.
dan itu mungkin saya dengan dia.


"...
You and I singing solo our very own silly song
Playing lovers of all edens all life long
All life long..." --Float, Stupido Ritmo.

Friday, December 3, 2010

shoes judging method.

are you a mocassins type, or a hi-top chuck taylor type ?
are you a doc marteens type, or a running shoes type ?
or are you as easy as those people who choose flip-flops, and go bare feet if you could ?
***

people judge others by their cover. I judge pople by their shoes. Yes, your shoes. Because i think shoes never lies.
***

"Bok, sepatunya dia apaan?"
"Mana gue tau. Mana gue perhatiiin. Ga ada kali orang pas kenalan ngeliatin sepatu."
"Oh emang ngga ya? kok gue iya sih?"
"Freak lo ah. Emang apa yang lo bisa lihat dari sepatu orang ?"
"banyak hal kali. Seleranya, gaya hidupnya...."
"ini apa sih, merknya maksudnya. Gila lo ah, brand minded."
"Ngga gituuu. Bentuknya, modelnya, bersih enggak nya... Sepatu itu menggambarkan perjalanan lo. Sesuatu yang lo anggap nyaman untuk menemani langkah lo, sesuatu yang lo percayai untuk memeluk kaki lo dalam porsi yang lo butuhkan, sesuatu yang lo yakin bisa menjadi teman sepadan outfit lo."
"Serius lo ah. Gila! Gimana sih taunya? Pas salaman lo nunduk? Atau ngintip ke kolong meja"
"I don't know. I just know."
***

in some other people mind, i'm just sick.
yes, i'm sick. I'm sick judging people by their last names, handshake, or smile. They all could be artificial. I'm sick of people tendencies not to judge by cover, just to do something fair. it's too naive. because at the end, if you had a first impression on someone you've just met, thats your standard talking. and putting someone at your very own shoes is just a different kind of unfair
judgemental behaviour.

shoes aren't just cover. shoes comfort you, lead your way, to whatever you're aiming for. They should be honest.


Thursday, December 2, 2010

near-magical experience.

so, do you believe in coincidence?
I'm once non-believers.
i think the concept of coincidence is way too naive.
But, the joke is on me.
Reality struck. And now, i'm at the stage of totally believing that coincidence really exist. Yes, it's a near-magical experience, and also yes, i'm a little bit exagerrating it.

***

hey, Mr. Anonymous, nice to know that you actually have a name.

Sunday, October 24, 2010

thank you.

so, this is my birthday.

thank you for reminding me of all my past mistakes and failure...




daddy.
24/24/10/10

Saturday, October 16, 2010

Day #30 : sebuah titik.

memulai itu hal yang mudah. menyelesaikanlah yang sulit.

***

saya membuka laptop saya perlahan-lahan. disana tersimpan banyak hal. gambar, melodi, sinema. namun satu yang memiliki tempat khusus, folder sendiri yang bersebrangan dengan folder tugas-tugas kulian, adalah tulisan-tulisan saya.

Dalam folder khusus itu, mereka membagi-bagi dirinya sendiri ke dalam beberapa kategori. kesayangan, racauan tidak berdasar, cerita pendek, naskah film, hingga rencana sebuah cerita yang yakinnya akan suatu hari diterbitkan menjadi buku. Beberapa dari mereka memiliki titik, tapi sisanya hanya mencantumkan koma.

Saya selalu berkata pada diri saya sendiri, dan tentunya mereka--tulisan-tulisan saya--ini hanya sementara. Bahwa mereka semua mempunyai open ending, atau belum berjudul, hanya karena saya belum menemukan yang tepat untuk mereka. Bahwa mereka semua istimewa, dan suatu hari akan terselesaikan.

Gombal memang saya ini. Karena nyata-nyatanya, semakin lama mereka dibiarkan menggantung seperti itu, semakin sulit saya untuk menyelesaikannya. Andaikan mereka manusia, pasti mereka sudah berhenti bicara pada saya karena ngambek, atau keburu mati bunuh diri. dan sayalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kemungkinan-kemungkinan itu.
***

hari ini, sebuah proyek panjang selesai. Proyek iseng-iseng yang harus sampai saya ulang dua kali, demi mengerti apa artinya konsistensi. Selesai seperti yang diharapkan, tanpa twist, tanpa alternate ending. Selesai. Itulah endingnya.

Tapi nyatanya, masih banyak hal-hal lain yang sudah saya mulai dalam kehidupan, dan belum terselesaikan. Mereka tiba-tiba menyerbu saya, minta diberi titik. Selama ini saya hanya membuat sebuah ilusi, seolah-olah semuanya sudah selesai. Mengarang sebuah cerita sendiri, demi menamatkan kewajiban-kewajiban, lewat jalan pintas, lalu kemudian lupa, waktu terus berputar dan saya harus terus berjalan

Seperti kata Bari dalam film FIKSI. karya Mouly Surya, "itulah bedanya fiksi dan realita. Dalam kisah fiksi, semuanya punya ending, sementara di kehidupan nyata life goes on."

***

sabar. saya sedang berjalan ke arah sana.

Friday, October 15, 2010

Day #29 : terlalu banyak.

terlalu banyak hal untuk dikeluhkan.
jalanan yang terlalu padat. harga bensin yang mahal. jalan tol yang berlubang.

terlalu banyak hal untuk diprotes.
kesenjangan sosial. ketidak adilan gender. jam kerja yang terlalu panjang, tanpa uang lembur yang pantas.

terlalu banyak hal untuk ditertawai.
presiden yang lembek. jurnalisme yang tidak akurat. dunia infotainment yang seperti parodi.

terlalu banyak hal untuk dikritik.
film yang terlalu mudah ditebak. lirik lagu yang terlalu sembrono. iklan-iklan yang tidak punya kelas.
***

semua membuat kita lupa bersyukur.

pada secangkir kopi hangat pagi ini, ucapan terima kasih yang tulus, atau tweet yang menyemangati dari orang-orang tidak terduga. pada tas kanvas berwarna orange yang lucu, kalung hand made keren murah meriah, dan jeans belel yang membuat 90an abadi.
***

"Terlalu banyak.... Terlalu banyak hal kecil untuk dinikmati hari ini..."







Thursday, October 14, 2010

Day #28 : kotak bergambar yang bisa berbicara.

lewat sebuah kotak bergambar yang bisa berbicara, dia melihat dunia, menyusun mimpi, dan mencari keseimbangan.
lewat sebuah kotak bergambar yang bisa berbicara, dia menemukan dunia baru. Dunia setelah dini hari yang tidak sunyi, dan diterangi seperti sore hari.
lewat sebuah kotak bergambar yang bisa berbicara, dia menilai. menilai kemampuannya sendiri untuk masuk kesana dan menjadi bagian dari orang-orang berukuran mini dalam kotak tersebut.
***

ia mengetuknya dengan hati-hati. seseorang di dalam sana terus bicara tanpa henti. ia pun sadar, ia telah menjadi bagian dari kotak tersebut sejak lama, hidup bersamanya. tapi tentu saja kotak itu hanyalah kotak bergambar yang bisa berbicara. ia tidak bisa diajak bercengkrama, atau bermain bersama.

Wednesday, October 13, 2010

Day #27 : adiksi.

minggu kemarin minuman teh bersoda. minggu ini kopi krim kalengan. lalu es krim premium dengan cokelat belgia dan almond. nasi bebek goreng remuk juga pernah. bahkan tidak terkecuali, minuman-slash-makanan jelly khusus anak-anak.

masih banyak lagi yang lainnya. asalkan rasanya enak, dan baru dicobanya, pasti akan membuat ia ketagihan. Lalu mulai membeli dan mengkonsumsi mereka secara sembrono dalam satu kurun waktu tertentu. sayangnya memang tidak bertahan lama. Seperti tidak pernah belajar hukum Gossen 1* di jaman SMA dulu, dia akan mengulang-ngulang sebuah kegiatan baru yang di sukai, sampai kebosanan menampar.

dan biasanya jika kebosanan sudah datang, ia tidak akan berusaha bertahan. ia akan segera menemukan yang lain untuk disukai. seperti sebuah siklus. sebuah siklus yang dibuatnya sendiri, untuk menghindari keterikatan dengan apapun, untuk menghindari ketergantungan.
***

dia berkata pada dirinya sendiri, "Apakah ini sama dengan caranya mencintai?"

menemukan seseorang yang disukai. menyukainya sampai puas. teradiksi, lalu bosan dan pergi. Tapi tentu saja pergi bukan urusan yang gampang bila berhubungan dengan hati. lama-lama dia merasa dirinya lemah, tidak berdaya. karena terkadang, ia ingin tetap disana , tapi siklus akan segera memaksanya untuk pergi. sebuah siklus yang awalnya dibuatnya sendiri untuk menghindari keterikatan, justu mengikatnya terlalu keras. ia tidak bisa mengendalikannya. dan ia takut, suatu saat nanti, dia akan berkahir hidup sendirian, hanya terikat dengan ketakutannya sendiri tentang ketergantungan.

Tuesday, October 12, 2010

Day #26 : lewat jendela tua.



sebuah bangunan di tengah kota kembali terbayang di kepala saya sore ini. semua detailnya mengingatkan saya akan beberapa potong proses pendewasaan, yang sempat mengiringi cerita hidup.
***

lantai bawah pernah menjadi saksi kesibukan yang seakan tidak pernah selesai. Datang di tengah malam. Mempercepat langkah, karena lorongnya selalu membuat saya takut. Lalu duduk bersama, dengan goal yang sama, saling bersaing demi bisa diterima.

lantai atas selalu mengingatkan saya pada rumah. rumah yang tidak pernah saya miliki di kota ini. Ruangan-ruangan yang selalu diisi wajah-wajah yang sama, seperti sebuah rumah kos yang padat penghuni, yang sesekali berkumpul di balkon untuk saling bertukar cerita lucu atau tangisan yang ditahan-tahan. Merencanakan sebuah petualang bersama, dan mulai memikirkan cerita selanjutnya untuk dijalani sendiri-sendiri.

Salah satu ruang yang kedap suara, selalu saya anggap seperti sekolah, yang anehnya membuat saya tahu lebih banyak. Belajar hal-hal baru, dan bertemu orang-orang yang kelak menjadi penting. Tempat berbisik soal rahasia-rahasia yang terekam manis seperti mix tape yang tidak disengaja.

saya masih ingat pertama kali menjejakan kaki disana. Disambut wajah-wajah asing, yang saya harap akan menyambut dengan ramah. siapa yang tahu, hanya butuh beberapa lama saja, untuk bergabung disana, duduk bersama sambil bergosip atau main gitar, menyatu dalam kata kekeluargaan. Menangis bersama-sama atas nama persahabatan, dan saling curi pandang karena merasakan kisah percintaan yang aneh satu sama lain.

***

pertama kali setelah sekian lama, akhirnya menjejakan kaki lagi disana, membuka pintunya dengan maksud yang sama sekali berbeda. Saya hampir menangis. Di tengah-tengah semua ruangannya yang kosong dan pintu-pintu yang sudah berdebu, saya masih bisa merasakan kehangatan yang pernah sangat saya sukai. Saya mengintip lewat jendela, dan tiba-tiba melihat lebih jelas melalui kaca berjamur itu.

saya harus keluar. melihat dunia, dan mencari rumah-rumah lain untuk disinggahi.

*tribute to Diponegoro 21. A place once felt like home.

Monday, October 11, 2010

Day #25 : senin.

hari senin yang biasa. Bangun pagi dengan malas-malasan. Berharap bisa menghentikan waktu sebentar agar bisa tidur lebih lama, atau memutar waktu sekalian, agar kembali ke weekend yang menyenangkan. Kadang-kadang saya berharap, seandainya saja hari Senin namanya bukan Senin, mungkin saja ia tidak semembosankan ini. Mungkin saja ia secerah minggu pagi, atau semenyenangkan jumat malam.

Tapi ini masih Senin, hari yang paling dibeci di dunia. Hari yang paling biasa menurut saya. Karena disanalah rutinitas dimulai. Dan buat saya, mungkin orang lain juga, rutinitas itu bukan hal yang istimewa. Jadi hari dimana rutinitas dimulai, tentunya itulah hari yang paling biasa.

***

hari Senin yang biasa. Dimulai dengan siaran pagi bersama partner. Lalu mengucapkan selamat pagi kepada pendengar lewat situs jejaring sosial. Sebuah pesan balasan masuk.

katanya, "Hayooo Ginna....semangat-semangat !!!"
Partner siaran saya menaikan alis sambil memajukan dagunya sedikit. Bahasa isyarat bertanya, "Siapa?" Saya mengedikan bahu, membahasakan, "tidak tahu." Bukan karena saya tidak kenal atau lupa pernah berkenalan, tapi karena tidak percaya. Dia adalah orang terakhir yang saya bisa sangka menyemangati semanis itu di pagi hari.

Saya menatap kalender sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan hari senin. Hari senin tidak pernah berawal semanis ini.




Sunday, October 10, 2010

Day #24 : di pasar itu, dulu.

dulu, di pasar ini saya pernah merasakan sedihnya sendirian. untung hari ini bergendengan. seperti melihat potret saya yang duduk sendirian mencari. sementara dia sibuk mengurusi dirinya sendiri.

dan waktu itu waktu masih sangat panjang, untuk saya menyadari, bahwa saya membutuhkan tangan lain untuk digandeng.


Saturday, October 9, 2010

Day #23 : new geek muse.


well hello geeks!

Here's your new rival. Mike Posner. The coolest geeky musician from America. And why again you have to considered him as your new geek rival, geeks? Here's the reason

one, he had this very geeky pict of him.

two, he has this very geeky song, with synthesizer and a bit of hip-hop.

three, he's cute.

Thank's for your attention geeks!

***

"you got designer shades,
just to hide your face and
you wear them around like
you're cooler than me.
and you never say hey,
or remember my name.
its probably cuz,
you think you're cooler than me."

(Cooler Than Me-Mike Posner)

Friday, October 8, 2010

Day #22 : catatan seorang fans (hampir) radikal.

Gelisah. Mondar-mandir dalam tidur. Andaikan saya adalah sleepwalker, mungkin saya akan berjalan keliling kamar dalam tidur saya. Terbangun setiap dua jam, sambil memikirkan apa yang akan terjadi besok. Hari ini. Malam ini.

Tidak ada yang lebih indah memang membayangkan pertemuan dengan idola masa muda. Yes, tonight i'm going to Smashing Pumpkin's concert.

Semoga Billy Corgan melihat ke arah saya. Saat itu entah apa lagi yang bisa membedakan saya dengan para fans radikal yang melemparkan bra ke atas panggung panggung.

Finger crossed.

***

Dalam tidur yang tidak tenang, saya bermimpi hang out bersama Smashing Pumpkin. Billy bercanda bersama D'Arcy, dan Iha terlihat sesekali ikut menimpali. Sesuatu yang saya hampir harapkan menjadi nyata, tapi sepertinya tidak mungkin.

"Time is never time at all
You can never ever leave without leaving a piece of youth
And our lives are forever changed
We will never be the same
The more you change the less you feel
Believe, believe in me, believe
That life can change, that you're not stuck in vain
We're not the same, we're different tonight
Tonight, so bright
Tonight..."

Thursday, October 7, 2010

Day #21 : seperti memotong rambut sendiri.

Dan berjatuhanlan lembaran-lembaran rambut itu satu persatu. Hasilnya ? Terlalu pendek.

***

Saya menarik-narik poni saya ke arah wajah. Tetap saja terlalu pendek. Bahkan dalam keadaan basah. Terlalu memang. Bukan hanya terlalu pendek tadi, tapi juga terlalu kalau memotong rambut sendiri saja tidak bisa. Padahal logikanya, itu rambutmu sendiri, tanganmu sendiri juga yang menggerakan gunting, dan otakmu sendiri yang bilang harus seberapa banyak memotong.

Begitulah. Hampir sama dengan bagaimana kita mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Kadang terlalu pendek, hingga hasilnya hanya tindakan impulsif yang tidak ada artinya. Atau malahan tidak sengaja membuat kuping sedikit tersayat gunting, yang artinya kita kurang hati-hati.

Tapi apalah nilainya memotong terlalu pendek dan kuping yang tersayat gunting. Toh luka akan hilang, dan rambut akan segera tumbuh kembali. Susahnya adalah ketika kita tidak berani memotong rambut sendiri. Sampai akhirnya terlalu panjang, kusut, dan mengganggu pandangan.

Sampai suatu hari kesempatan sudah lewat, dan trend rambut di majalah sudah berganti. Kita tidak akan bisa kembali.

***


Well, I said whatever. My hair will grow faster than I could even notice.

Wednesday, October 6, 2010

Day #20 : an answer to future.

Talking about future always making me anxious. I'm not the kind of person that live for future, I'm more a live-for-now person. Enjoying everything to the fullest while it last.

But that's the missing point of my way of life. How much time it will last, this I'll never know.

***

Pagi ini saya dikejutkan oleh ide topik siaran yang keluar dari mulut partner siaran saya. Ide awalnya adalah menyoroti fenomena early retirement yang skrg banyak dilakukan para profesional di luar negeri. Lalu pertanyaannya adalah gambaran apakah yang ada di benak kita, tentang hidup setelah pensiun.

Saya tertegun. Bukan saja karena saya memang seringkali tidak terlalu ambil pusing soal apa yang akan terjadi, tapi saya merasa urusan pensiun hanya urusan orang yang umurnya 50 tahun ke atas. Jadi ketika ditanya bayangan kehidupan di masa itu, saya harus ekstra berpikir cepat.

And this is my answer to that :


"saya ingin hidup bersama pasangan saya. Tua dan merasa bahagia bersama-sama, tanpa menyusahkan anak-anak kami nanti. Tinggal di rumah kami yang nyaman di dearah suburban yang nyaman, sesekali bepergian ke kota dan bersenang-senang, atau berlibur ke tempat yang eksotis. Seperti sepasang nenek-kakek lincah, yang kemana-mana bersama, sambil sesekali bertengkar soal hal-hal kecil yang sebenarnya adalah kebiasaan"

Jawaban ini malah lebih mengejutkan dibandingkan apa yang saya rasakan saat ditanya. Karena di masa-masa produktif seperti sekarang, keinginan saya justru sangat bertolak belakang. Misalnya saja, untuk berkarier setinggi-tingginya, mengesampikan urusan berkeluarga belakangan, dan punya banyak uang, hanya agar tidak menjadi tergantung pada siapa pun juga. Apakah itu memang kecenderungan seseorang untuk merasa independen dalam suatu fase, lalu berpindah ke fase yang lebih settle dengan berbagi ? I really don't know. But it would be nice to live peacefuly at the end. Having somene to hold your hand until you die.

Too sentimental ? Well, i guess when it comes to life, everybody is sentimental.


***

Talking about future always making me anxious.
So many dreams, too many hopes, and adding another mistery to be revieled.


Tuesday, October 5, 2010

Day #19 : one day slacker.

the sun is shining too bright. I don't want to wake up. I don't want to shower. I don't want to go to work. I just want to be a slacker for one day, and not feeling guilty about it.

Monday, October 4, 2010

Day #18 : masa masak ?

Memotong daging, mengiris sayuran, meramu bumbu. Mencampurnya ke dalam wajan, lalu menyajikannya semanis mungkin. Tentu saja semua itu bagian dari memasak. Satu hal yang bisa jadi sebenarnya adalah hobby terpendam saya, yang dari dulu tidak ingin saya akui.
***

Kenapa saya benci memasak, banyak yang bisa saya sebutkan sebagai jawabannya. Entah karena sesudahnya saya harus mencuci piring, ditambah tangan yang bau dan baju yang kotor, atau karena menurut saya kegiatan ini terlalu feminin dan menguji kesabaran, hingga sulit sekali cocok dengan profil diri saya.
Setelah melalui proses denial bertahun-tahun, saya baru berdamai dengan memasak, kali ini. Saat melihat betapa sumringahnya wajah adik saya yang menemukan makanan hasil masakan saya di kamar kosnya--yang artinya dia tidak harus bayar makan malam. Saat menerima satu ciuman berbau nasi uduk yang saya masak, dari si pacar.
Seolah-olah memasak adalah cara saya berbagi. Saya yang selalu kesulitan menyalurkan afeksi dalam bentuk apapun, akhirnya menemukan, bahwa memasak bukan hanya sekedar meracik bahan dan memakannya. Memasak adalah sebuah proses mengumpulkan cita rasa dan emosi, hingga bisa dihidangkan sebagai sajian berbagi bersama orang-orang kesayangan.
***

Saya membayangkan diri saya mengenakan apron berenda dan topi koki. Saya memasak dengan cekatan. Di depan saya beberapa pasang mata menatap tidak sabar. Dan saat masakannya jadi, kami makan bersama hingga kekenyangan, sampai sulit berdiri.

Sunday, October 3, 2010

Day #17 : tentang mimpi.

so, i have this really weird dream last night.
About me, quitting my job. In that dream, I hug everyone, packed, and just go without any second thought.
Am i just dreaming, or this is somekind of way my mind telling me what to do?
***

Menghitung hari-hari yang sudah dihabiskan di tempat itu. 3 x 365 hari. Mungkin sudah terlalu banyak. Sampai saya lupa bagaimana caranya bergerak. Keterbiasaan kadang memang membuat kita lengah, sampai-sampai jadi bodoh. Tidak tahu lagi bagaimana menterjemahkan sikap profesional dan mengesampingkan double standard. Tidak lagi ada intrik, tidak lagi ada jenjang untuk dinaiki. Apalagi jika bicara mimpi-mimpi. Belakangan mimpi memang hanya yang hadir saat tidur. Sisanya, terlupakan.
***

In that dream i walk away. The rest i didn't know. Just hoping it was a sweet dream after all.

Saturday, October 2, 2010

Day #16 : Teori Budi.

Ditengah kebosanan menunggu di sebuah pusat shuttle service antar kota, seorang bapak mengemukakan teorinya soal salah satu nama paling common di Indonesia. BUDI. Saya mulai merasa terhibur dan mencuri dengar.
Katanya pada temannya, "Ada 7 juta Budi di Indonesia..."

Oh really? Saya mempublishnya di twitter. Sekedar yg mengecek. Yang me-retweet tidak terhitung.

Oke, saya sedikit lebay. Cuma dua sih. Tapi benar, sebegitu banyak kah Budi di Indonesia?

***

Saya jadi ingat nama lain di Indonesia, yang sempat banyak diperhatikan orang, setelah diangkat oleh seorang penulis slash artis, HERMAN--bukan nama penulisnya. Teori penulis itu, nama Herman begitu common terdengar di telinga dan diucapkan orang Indonesia, tapi bukan benar-benar nama yang ada di daftar orang yang kita kenal. Waktu membacanya saya mengerenyit. Well, saya punya paman yang namanya Herman, jadi teori itu aneh sekali. Tapi banyak sekali, hampir semua yang pernah membacanya bahkan, menyatakan kebenaran teori itu. Entah karena nama Herman adalah nama yang hanya populer di ranah fiksi saja, atau karena semua Herman itu penyendiri, atau hanya karena teori itu telah terlanjur dibukukan, atau karena penulisnya adalah artis.

Tapi diluar kenyataan yang saya anggap benar, bahwa saya punya kenalan yang benar-benar bernama Herman. Sebuah teori lain sudah kembali membuat saya bingung, dan menyangkal kebenaran. Ada 7 juta Budi di Indonesia. Banyaknya Budi di Indonesia menjelaskan teori Herman. Karena kalau Herman yang ada dalam teori Budi, pastilah Herman sudah sebegitu terkenalnya.

***

Tidak lama salah satu petugas shuttle service itu memanggil nama Budi. Dalam ruangan itu tiga orang berdiri. Salah satunya adalah bapak pencetus teori Budi.

Ya, Herman memang tidak sebanyak Budi. Tanyakan saja pada 6.999.997 Budi lainnya.




Thursday, September 30, 2010

Day #15 : [REAL] man manual.

seorang laki-laki telah menjadi laki-laki, jika sudah berani mengakui, bahwa ia juga menyukai hal-hal yang disukai perempuan. Membaca majalah perempuan, mengikuti saran artikel self help, bergosip, dan nonton maraton serial sex and the city di TV kabel.

Yang tidak boleh dilakukan laki-laki hanyalah berselingkuh. Tentunya disamping memakai topi vedora berpayet, crop jacket glitter, dan suit warna pastel.

Day #14 : pernah, masih.

Mantan teman sejawat.
Mantan teman sepermainan.
Mantan teman sekolah.
Mantan teman tapi mesra.
Mantan temannya teman.
***

Entah masih bisa dibilang teman atau tidak, kalau sudah disebut mantan. Yang jelas semua masih bercanda, meledek, dan saling memandangi. Berusaha menemukan sosok-sosok yang dulunya begitu akrab, dibalik rambut yang memanjang, kumis yang tumbuh sembarangan, atau tubuh yang semakin tambun. Mencoba mengejar ketertinggalan dalam waktu yang sempit, dan duduk bersama seperti dulu lagi. Lalu satu persatu semuanya beranjak. Pulang untuk kembali pada kehidupannya sendiri-sendiri.
***

Di tengah jalan pulang saya tersadar. Kami pernah, dan masih begitu hangat.

Wednesday, September 29, 2010

Day #13 : random.

today wish list :

a cup of banana ice cream
a splash of barbeque night with friends
a hint of smile from some strangers
a kiss that last forever

***

ingredients of an anti-boring day.

Tuesday, September 28, 2010

Day #12 : Hello, I'm Ginna, and I'm a -----holic.

Saya menuju rak penyimpanan setengah berlari. Harap-harap cemas, saya lihat botol-botol berisi cairan itu masih setengah penuh. Ada yang berwarna, hijau, biru, merah tua, dan yang lainnya yang sulit saya deteksi warnanya. Teman saya dulu pernah bilang, "never trust the red, blue, and green, one." Katanya mereka memabukkan, bikin ketagihan.

Nyatanya saya memang begitu. Ketagihan. Warnanya yang menarik, sensasinya yang berbeda, dan aromanya yang menyengat. Saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Bahkan cenderung kehilangan kepercayaan diri kalau sensasi mereka sudah tidak ada lagi di tubuh saya.

Saya memilih salah satu. Yang merah tua. Berisi paling sedikit diantara yang lain, karena sensasinya selalu menempel sempurna di tubuh saya. Saya buka tutup botolnya, dan saya hirup bau khas nya yang menyengat dalam-dalam.

Saya tersenyum. Begini toh rasanya ketagihan, menghirup baunya saja sudah menjadi sesuatu yang memuaskan. Jari-jari saya bergetar seakan tidak sabar. Sudah tidak ada lagi alasan menunggu.

Memang saatnya saya oleskan kuteks merah tua itu di kuku saya, setelah sekian lama.


***




Monday, September 27, 2010

Day #11 : mimpi-mimpi yang terlupakan.

Saya berharap ingat mimpi semalam. Seharusnya ada alat yang bisa membuat kita bisa tetap mengingat semua detail mimpi kita, setidaknya hanya sampai saya bisa mencatat dan mengartikannya. Saya hanya ingin tahu, kenapa saya banyak sekali bermimpi tentang kamu, bahkan ketika kamu tertidur di sebelah saya. Apakah mimpi-mimpi ini mencoba mengatakan sesuatu, atau ini hanya sebuah refleksi kebersamaan yang mulai terlalu banyak?

Tapi mimpi semalam, saya ingin sekali ingat. Saya ingat, bahkan ditengah-tengah tidur saya yang tidak terlalu nyenyak tadi malam, saya berusaha mengingatkan diri saya, agar begitu terbangun langsung menceritakannya kepada kamu.

Kenyataannya, pagi tadi kita hanya berpisah lewat sekilas salam dari balik jendela. Saya lupa. Dan sekarang sudah terlambat untuk mengingatnya.

***


Sunday, September 26, 2010

Day #10 : earth day.

I'm always a big city girl, born and raise. But this morning, in our meditation mode, i almost fell in love with nature. Almost said yes to camping, noded to barefoot walking, and embraced the wind that blew my charming hair away.

It felt like the nature was in some kind of conspiracy, to bring me closer to them. I surrendered for a little bit, and i heard what it was saying, "you are mine, and i'm yours." Enough said, i cheated my boyfriend for about fifteen minutes, and became nature's. We--me and nature--were pretty sure he would understand.

***

"The Lodge" Maribaya, Bandung
an EARTHBOUND trial with some random interesting people.

Saturday, September 25, 2010

Day #9 : saturday morning.

Terbangun dengan bau nasi uduk dan telur dadar, dibawa oleh sebentuk wajah yang sangat familiar. Dilanjutkan dengan menonton serial favorite bersama-sama. Iya, saya baru bangun tidur, belum mandi, bahkan belum cuci muka dan sikat gigi. But, that's what make this typical Saturday morning perfect.

Sederhana dan tanpa rencana.
***

"It's getting late on Sunday morning
I get up and see
Silly TV talking by itself in the living room
I slept on the sofa again
And don't remember the ending of
The late night movie
And my old lady she don't care,
As I look for food in the fridge

Well, this is life
Well, this is my life
Well, this is life
To plan a weekend without you"

(Lazy Sunday Morning, by : Clazziquai)

Thursday, September 23, 2010

Day #8 : how i met your father.

Just a random thougths while I was watching "How I Met Your Mother", laughing my ass off.

"When will I met my Ted Mosby ? A guy that will telling my kids, the story of how he met their mother with every single silliest detail, in a funniest-charmingly way ?"

Judge me as a mass product of Hollywood-made-serial-slash-unreal-dream, but this Tv series has made its point.

That it'll be nice if i could finally find someone who are willing to do something so sweet, and in reverse give my version of the story, of how i met their father, to our kids...

***






Day #7 : a few more people like you.

Saya buka kolom comment di bawah tulisan terakhir saya. Lagi-lagi ada nama kamu. Saya tersenyum. Bukan karena comment-mu yang selalu lucu dan apa adanya. Tapi karena wajahmu terlihat lebih berukuran normal jika diperkecil dalam seukuran ujung kuku.

Seberapa besar yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi berarti?
Dari kamu, saya mengetahui, tidak selalu sebegitu besarnya.

***

Lewat facebook, bahkan friendster--sayang kamu tidak punya twitter--yang tidak pernah lupa kamu hampiri, untuk sekedar me-like, mengirim testimonial, atau mengomentari.

Lewat SMS dan telepon, yang sekali dua kali akan datang, hanya untuk mengecek kabar atau mengucap selamat ulang tahun, bahkan dari jauh.

Lewat film-film gore dan komik-komik cult, yang kamu sarankan, hanya karena kamu memaklumi selera saya yang tidak wajar.

Lewat blog yang selalu penuh dengan comment-comment penuh semangat atau comment asal, yang sedikit banyak membuat saya merasa harus terus menulis.

Lewat pertemuan sesekali, yang akan berlangsung lamaaaaa sekali.
***

Semuanya wajar, tulus, dan tidak dipaksakan. Sebuah kenyataan yang kadang membuat saya lupa, bahwa hal-hal yang berarti itu bukan selalu sesuatu yang besar.

Kecil, tapi selalu ada. Itu kamu dalam hidup saya.



*A few more people like you, and i'll be complete. :)

Wednesday, September 22, 2010

Day #6 : salam dari pusing.

menonton upin dan ipin, sambil memegangi kepala. Berharap tayangan ini akan membuat pusing saya berkurang.

Ini bukan jenis pusing yang dirasakan ketika kita sedang banyak urusan dan tinggal menunggu kepala meledak saja. Ini juga bukan pusing yang dirasakan ketika hidung tersumbat karena flu, menghambat asupan oksigen ke kepala. Ini bukan juga pusing-pusing yang biasa saya rasakan gara-gara terlambat makan. Ini bukan pusing biasa. Dan percayalah, saya telah merasakan sebagian besar jenis pusing di dunia.

I even cheated the worst of it earlier in my life.


***

Saya masih ingat seberapa khawatirnya wajah mama, saat saya yang waktu itu masih usia TK, mengaku melihat langit-langit rumah kami berputar, lalu terasa menimpa saya, sampai napas saya sesak. Ia merasa melakukannya kepada saya. Sore harinya mama tidak sengaja menge-rem mobil yang kami tumpangi secara mendadak, membuat saya yang duduk di kursi samping supir, terlempar menghantam kaca.

Sejak itu kepala saya sering sekali pusing. Bahkan seringkali berakhir sangat mengerikan, seperti langit-langit yang serasa runtuh, raksasa yang terasa menginjak kepala, atau rumah yang terus berputar.

Tidak ada penjelasan medis, bahkan setelah beberapa kali mengunjungi dokter, sampai di rontgen segala. Waktu itu saya menyangka, saya akan menghabiskan seumur hidup saya, merasakan pusing.

Sampai sebuah de javu...
***

Di tempat yang sama persis. Dengan kejadian yang sama persis. Seperti sebuah reka ulang, kepala saya kembali membentur kaca depan mobil. Cukup keras, i even could feel a snap in my head. A snap that heal me.

Hari itu, pusing tidak lagi datang melalui langit-langit yang berputar atau raksasa. I cheated it.
***

Memang, kadang-kadang pusing masih mengunjungi saya. Cukup sering ketimbang yang biasa orang rasakan, seperti hari ini. Pusing yang belum pernah saya tahu. Mungkin ini hanya sebentuk salam lainnya dari pusing.

Pacar saya menyarankan untuk pergi ke dokter. Saya belum mau melakukannya. Mungkin saya takut. Atau mungkin saya lebih percaya spekulasi saya sendiri.

"Like that old movie Final Destination, Devon Sawa once cheated destiny, the worst of it, death. It ends haunted him forever, ini a little less form of destiny.
Well, i guess it's better than the worst. The death itself."



Tuesday, September 21, 2010

Day #5 : Mr. Postman.



Accidentally found this picture, and all of sudden, I feel like I miss Mr. Postman. It's been a while since I last did writing with my own hands and pencil, instead of keybaoard. Put it in an envelopes, stamped it, and send it with Mr. Postman's help.

I miss the feeling of waiting on the porch, beside the mailbox, and opening it every minutes, until Mr. Postman finally arrived.

the satisfaction pays all the effort.

***

well, I'm gonna do something for the sake of Mr. Postman. I'll tweet about it.



pictures taken here.

Monday, September 20, 2010

Day #4 : beberes.



Seberapa benci kamu akan kata : "beberes" ?

Saya yakin kebanyakan akan menjawab, SANGAT. Tapi saya yakin, saya lebih membencinya ketimbang siapapun.

Seriously, i hate it so much!
***

Entah itu beberes dalam konteks, rumah, kamar, cubicle kantor, bahkan rambut. Berbeda dengan adik saya, yang entah kenapa, gila kerapihan, saya benci segala sesuatu yang tertata. Menurut saya segala sesuatu yang diatur itu tidak normal, tidak natural, tidak seru.

Di kampus dulu, saya dikenal bukan karena saya mahasiswa teladan atau mahasiswa yang banyak kegiatan. Saya seringkali lebih dikenal gara-gara rambut saya yang tidak pernah disisir. Padahal, bukan maksud saya jadi terkenal gara-gara tidak pernah nyisir, saya hanya malas menyisir, benci menyisir. Karena dengan menyisir, itu artinya saya harus beberes rambut setiap hari, sebelum berangkat ke kampus.

Ibu saya pernah bilang, "anak cewek kok, ngga pernah nyisir. Nanti ngga ada yang naksir." Saya tidak peduli, kebetulan waktu itu sedang ada yang naksir pada saya. Lagipula untuk apa menyisir--beberes--untuk orang lain, agar suka pada kita.
***

Suatu hari, saya menemukan rambut saya ruwet. Seperti habis digimbal. Saya coba mengurainya dengan jari, dengan tangan, dengan shampoo. Hanya sisir yang tidak saya coba, karena saya tidak terbiasa menyisir, saya tidak punya sisir.

Hari itu, rambut panjang saya harus dipotong. Saya hampir menangis. Rambut saya harus dipotong, hanya karena saya tidak suka menyisir. Sebuah hal yang selayaknya dilakukan semua orang yang mempunyai rambut.

Saya melihat helaian rambut yang jatuh satu persatu. Hidup saya yang berkembang bersama rambut itu juga ikut berjatuhan.

Hanya karena saya tidak suka beberes, hidup saya harus terpotong. Tersendat, menunggu nya tumbuh kembali, sampai panjang seperti sebelumnya, lalu baru memulai kembali.
***

picture taken here .


Dalam rambut pendek saya, saya akhirnya mengerti. Beberes itu bukannya agar kita disukai orang lain, karena kerapihan yang kita miliki. Beberes itu untuk menata apa yang kita punyai.

Karena saat semuanya tertata, kita tidak perlu menunggu.

Sunday, September 19, 2010

Day #3 : so, it isnt't that easy.

Mudah memang mengatakan pada dunia apa yang kita pikir kita bisa lakukan. Yang lebih susah adalah melakukannya.

***

Saya tumbuh sebagai satu sosok instan, yang kurang menghargai proses. Saya mengucapkannya dengan bangga, karena itulah saya. Ibaratnya membaca buku, saya tidak akan ragu-ragu melompat ke bagian akhir, kalau di tengah-tengah saya mulai bosan dengan alur ceritanya.

Ya, saya memang selalu kalah dengan rasa bosan. Bosan berkerja, bosa menonton, bosan di rumah saja, bosan ini, bosan itu.

Tapi saya tidak pernah mengira saya akan sampai pada satu kata ini : bosan menulis. Bosan pada sesuatu yang saya selalu katakan kepada orang lain, akan terus saya lakukan.

***

Entah ini hanya sebuah fase, atau ini akan berlangsung lebih lama. Semoga ini hanya sesuatu yang mereka bilang writer's block.

Karena saya sangat suka menulis. Satu-satunya hal di dunia yang saya tahu bisa saya lakukan dengan benar.

But yes i have to admit. It's not that easy to do what you think you could do.





Friday, September 17, 2010

Day #2 : blank page.

i pushed myself harder than before. and i feel like i'm standing on a blank page of my life. drunk of failure, waiting for someone to slap me in the face.

i pray to something i didn't know exist. a true happiness that nobody could describe.

sick, i wrote a page of my wish. and it's still blank.





Day #1 : dalam sepotong paha ayam goreng.

makan.
satu hal yang kita tahu, kita sama-sama suka. Hanya saja, kadang kita suka makan yang berbeda.

Seperti kamu yang bilang ayam goreng bagian paha itu adalah pemborosan besar-besaran. Sudah bayar mahal, hanya dapat sepotong daging berlemak. Sebaliknya saya bilang ayam goreng bagian dada itu rasanya tidak enak, terlalu berserat, dan akan sangat menyiksa menghabiskan sepotong besar daging yang seperti itu.

Dalam paket kita belajar berbagi.
Memesan satu paket dua ayam, satu nasi, dan minuman, ditambah satu nasi ekstra, akan membuat kita puas. Kamu mendapatkan dada ayam kesukaan mu, dan saya akan menikmati paha ayam yang kamu sisakan tanpa harus protes, kenapa bagian mu lebih besar.
Satu gelas besar soda akan kita minum bersama sesudahnya. Saya hanya perlu sesisip untuk melepas dahaga, karena rasa soda selalu membuat saya kesal, kalau terlalu banyak, dan kamu akan menandaskan sisanya, karena kamu selalu adalah penyuka soda.

***

Beberapa hal tentang makan telah membuat saya mengerti, apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Kita berbagi.

Tidak hanya ayam goreng, tapi juga sepiring lemak daging yang selalu kamu pinggirkan untuk saya habiskan, sepotong bala-bala spesial yang membuat mu sampai harus menelepon saya untuk memberi tahu, dan sekotak cokelat yang selalu kamu makan sedikit saja untuk akhirnya saya nikmati.

***

you once said that you don't share food. in some kind of way, you actually share. it's just about finding the right sharing partner.
============
*another attempt to 30 Hari Menulis Blog. Let's see how will this one ends.
Read more about "30 HARI MENULIS BLOG" here, and be a part of it.

Wednesday, August 25, 2010

me and little pathetic thing called one way anger.


Membabi-buta seperti orang psycho adalah hobi saya dulu. Buat saya, kesalah pahaman itu tidak boleh bertahan lama. Cara penyelesaiannya adalah konfrontasi di tempat. Dan di masa itu, tidak ada apapun, atau siapapun yang bisa mencegah proses itu terjadi, kapanpun, dimanapun. Waktu itu saya berpikir, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan secara sepihak sebuah masalah, yang sebenarnya melibatkan dua (atau lebih) pihak, semakin lah kita akan terperosok dalam perseteruan yang hanya akan membuat capek hati. Saya memilih untuk mencari solusi.

Satu hal yang saya lupakan adalah, mungkin tidak semua orang siap untuk menerima jalan pintas yang saya tempuh. Karena dalam kamus solusi versi saya, 'waktu' dan 'berpikir' tidak ada di dalamnya. Beberapa orang merasa terpaksa, dan akhirnya mengambil keputusan yang tidak mereka inginkan, hanya karena saya memaksa.

Saya adalah si pembenci proses, ketika orang lain mungkin hanya butuh sedikit jeda, dan saya tidak bersedia menunggu.

***

Tapi kali ini, dalam diam saya menunggu. Sabar sekali, karena ada satu hal yang diam-diam ingin sekali saya ketahui, sejauh mana kamu berani melakukan sesuatu untuk saya.

Tentu saja di luar kasak-kusuk tidak adil mu, dalam mempertahankan posisi. But hey, this is not politics. Tidak ada yang namanya pencemaran nama baik atau pembentukan sekutu. Dan tentunya tidak ada double standard.

What I need is impulsive act.

Because when you're impulsive, it means you're true inside.

***

I'm done sitting and waiting. I guess I prove myself wrong about you. I'm gonna leave.






Monday, August 9, 2010

satu hal.satu kata.

saat mendengar berita itu, saya langsung berlarian pulang. Ingin secepatnya sampai di rumah, agar saya bisa membuktikan sendiri, bahwa dia baik-baik saja. Gagah, tegas, dan masih berdiri tegak.

Sayangnya, saya harus berbelok dulu ke sebuah tempat dimana Ia berbaring. Tidak lemah, masih tegas dan gagah. Hanya saja di matanya saya melihat ketakutan.

Saya menangis, dan membisiki di kupingnya, "ayah, kakak pulang..."
***

Saya selalu menggambarkan, membicarakan, dan menuliskan dia sebagai tokoh antagonis dalam hidup saya. Meskipun saya lahir dari buah tangan dan aturan-aturannya saya mengganggap sikap diktatorialnya itu adalah hal yang paling traumatis. Kata-kata yang selalu harus dituruti, perbuatan yang terkadang menyakiti hati, dan kasih sayang yang tidak pernah diberi tahukan. Setidaknya lima tahun belakangan ini, saya semakin merasakan aura antipati. Entah apa yang pernah diperbuat atau dikatakannya pada saya, satu yang selalu saya percayai, dia berhutang satu kata pada saya : MAAF. Dan satu hal yang ingin sekali saya dapatkan darinya : sebuah pengakuan.

Tapi sebagaimana pun antagonis dirinya dalam cerita kehidupan saya, saya tahu saya tidak pantas menyebutnya begitu. Saya ada disini, karena dia selalu ada di belakang saya, dengan caranya sendiri. Saya pun bisa sampai di titik ini, secara langsung ataupun tidak, adalah karena pemikiran saya, yang mulai berkembang berkat beribu-ribu perselisihan dan perdebatan di antara kami.

Saya mulai berpikir. Mungkinkah untuk mendapatkan permintaan maaf itu, saya harus meminta maaf terlebih dulu. Dan untuk diakui, mesti kah saya yang mengakui terlebih dahulu, bahwa keberadaannya dalam hidup saya, ternyata memiliki arti yang luar biasa. Lebih dari sekedar pemeran antagonis.

Hanya satu kata yang menghalangi saya menyadari dan mau melakukan semua itu : KEANGKUHAN. Satu sikap, yang diturunkannya kepada saya, lewat darah yang mengalir di nadi saya hingga saat ini.

Ya, sebegitu miripnya kami, hingga sulit sekali untuk berdamai.
***

Dan ayah berbisik sambil memeluk saya, "kakak, pulanglah lebih sering. Ayah kangen."

Monday, August 2, 2010

Men + Tawa + i = hidup.


sometimes life is just unpredictable, menyerang dengan kejutan-kejutan saat kita lengah. Menghalang-halangi rencana yang sudah disusun matang. Menyebalkan ? Pasti! Mengutip kalimat seseorang, seperti ini rasanya :

"kayak ditabrak truk, pas lagi nongkrong di warung kopi, di dalam kampung yang jalannya ngga cukup buat dilewatin truk...

atau lagi nyebrang, tiba-tiba ditabrak boeing 737...

atau lagi ngerokok di genteng, terus ada orang pakai parasut mendarat di samping kamu, trus ngomong bahasa Jerman."


Dia serius waktu bilang begitu. Memang orangnya 'serius' menghadapi hidup. Andai saya bisa sedikit lebih seperti dia.

Mentertawai, bukan mengutuki hidup.



be good to me, Monday.

Some people are keep saying, "I hate Monday", As if Monday is always very cruel to them. But, Hey, what's wrong with Monday? It could be sweet too, you know..

In my case, literally SWEET.
***

sweetness #1 : Cereal & cold Milk

Partner siaran saya menyodorkan sekotak cereal siap makan, lengkap dengan sendok dan susu putih. I love cereal. Bahkan cereal bisa membuat saya menyukai susu yang biasanya saya benci. And I love having a sweet breakfast with a sweet friend.

Thank you. :)
***

sweetness #2 : Croissant, frapuccino, and chocolate cookies.

Kami (saya dan--masih dengan--partener siaran saya) membuka bungkusan besar itu. Seperti yang dijanjikan, seorang pendengar morning show kami, mampir membawakan sarapan. Bahkan orangnya tidak sempat kami temui. Hanya ada secarik kertas robekan kecil, "selamat sarapan :)." Mendengarkan ocehan kami saja sudah sweet. Masih ditambah lagi sarapan pagi ?

Thank you. :)
***

sweetness #3 : chocolate-wafer bar.

"Mari kita makan sama-samaaaa....." seorang teman menyodorkan satu bar cokelat, hadiah pernikahannya dari seseorang. Rasanya super manis. Entah memang begitu, atau manisnya bertambah karena kehangatan berbagi?

Thank You. :)
***

It's still 12.30 AM, and so many sweetness have occured. I hope another half of the day could be even sweeter.

Just like those cynical-hopeful twitter posts in my timeline, "Be good to me, Monday..."

monologue.

so I guess I failed my project, #30harimenulisblog...

Membuktikan bahwa bagaimana pun, saya tidak bisa menulis dengan cara dipaksa. Sekaligus pertanda, satu lagi kegagalan terjadi di tahun ini, padahal ramalan zodiak bilang ini tahun keberuntungan saya.

Well, whatever the prophecy said, it's not gonna work unless we fight harder...

***

oh ya, that was a monologue.

Saturday, July 31, 2010

city of us.

As cheesy as it sounds, this city of flowers would forever be my rememberance of you. of us.

***

Reality had been so cruel to us those days. Once it made me fall in to you, but another day it just drove me away from you. Leaving a mark that would never be erased.

I'm sorry, that's the thing that i'd never able to say to you before. But i have to admit, I think you're the one who owe me an apologize from that moment.

You see me as if i was invisible, when on the other side you were my number one. I guess it's kinda unfair.

And i still remember how you beg me to become yours again. You cried. You i said your life was going to be miserable without my presence. And i told you that you're sick. Bad choice of words. It only made you think that I was your greatest cure.

A deadly storm lighting thunder striked us. You realized at that moment i was never going to be yours again, and I knew, you're not the one with whom I'll be living with for the rest of my life. I just couldn't stand the idea of me, as your comforting zone.

I chose to deal with three scariest words, when they're put together; Without.Your.Love.

***

I always wondering how would we be good together. Sitting on the bench, under the blue sky. The blue sky that had collapsed. Flown away by our failed dream of forever.

It's a shame. Because It was not like the Adelaide sky that had fallen apart. It's our sky, the blue one above our city of flowers.

***

Sometimes, I wish I could turn back time. So that i could go back to that carnival where I met you, and said my deepest apology when you first shake my hand, instead of a warm halo. Maybe that way, you would considered me as a freak, and just lost in the crowd, never turning back, never bring 'us' a chance.

*the bold words came from Adhitia Sofyan's EPs and Album, his songs title that reminds me of someone important. I hope he doesn't mind.

opened options.

we do have an option. Just don't make them one of your priority until you know you're theirs.

***

kick in a head when you said that, friend.

maybe i would have me as my priority instead of whoever they are. Until I know that I'm somebody's priority, then I'll keep my option wide open.

mengukur.

Quotes of the day :
"Untuk para perempuan, jangan biarkan apapun atau siapapun, mengajari kalian bagaimana caranya untuk menjadi cantik." -- seorang idola, Kartika Jahja (Tika & The Dissident)
***

Saya mengingat bagaimana seseorang pernah mengatur saya bagaimana caranya terlihat cantik. Hanya saja, pada waktu itu saya tidak sadar, dia melakukannya dengan cara membuat saya merasa jelek. Merasa tidak special dan tidak ada.

Sementara dia seolah mulai mencuri energi 'kecantikan' saya, saya mulai bertengkar dengan diri saya sendiri. Saya menetapkan standar yang tinggi, menghukum diri saya sendiri, dan berkata hal-hal menyakitkan hati, hanya untuk merasakan bahwa saya memang tidak layak disayangi.

Saya bermusuhan dengan diri saya, hanya karena orang lain. Diadu domba oleh ukuran yang sama sekali bertolak belakang dengan yang saya miliki.
***

Pada akhirnya saya mulai menyadari, tidak ada seorang pun yang boleh menggunakan ukurannya untuk menilai saya. Karena sebaik apapun ukurannya, itu bukan punya saya. Dan apapun yang bukan kepunyaan saya, hanya akan tampak kedodoran, kesempitan, dan tidak enak dilihat.
***

Another quotes of the day :
"Berbaikanlah dengan dirimu sendiri, dan kamu akan baik-baik saja." --seorang teman baik, Rizky Amalia.

a failed love song.

You and your silly head
You and your silly hatred
You and your silly own world
You and your silly dream of living underworld

Me and my silly insecurity
Me and my silly sudden obbesity
Me and my silly needs of companion
Me and my silly lack of love union

you can't stand me complaining the traffic
I couldn't help to yell when you said you're lunatic
you won't be holding my hand any longer when i said i need
I wouldn't let you away and enjoy your weed

You can't stand me, and I can't stand you
So why can't we stand to stay away from another

maybe it should be me that leaving for good
Before our failed love song waken up the neighborhood

*wrote this with a possibility that someone could turn it into song. Yes, you're the one I imagine doing it (you know who you are... :) )

Wednesday, July 14, 2010

with you i'm weak.

Once effy said to freddy on 'skins' : "when I'm with you I'm weak. Our love makes me weak, and I'm afraid I can't take the world anymore."
5:42 AM Jul 12th via UberTwitter


Most girls strugle to stay strong in this insane world. Just to make people look up to them. But...
5:50 AM Jul 12th via UberTwitter

When it comes to love, they are forced to be weak. Because when they're too strong, most guys will be intimidated.
Monday, July 12, 2010 7:55:17 PM via UberTwitter

It's like the world force girls to stay behind. Just like those silly phrase, "there's always a great woman, behind the great man."
Monday, July 12, 2010 7:58:12 PM via UberTwitter

Why can't we take it in reverse or just admit it, there are girls that better than most guys.
Monday, July 12, 2010 8:01:10 PM via UberTwitter

And some other are stronger than what they seem.
***

And now i'm at the weakest part of my entire 23 years. I need somebody to lean on. To hold my hand when I shed tears, hug me when I finally admit, that i'm at the end not one of those girls, and say 'it's okay' when I said I'm weak because of you. Just simply to giving me the permission to be weak, sweeping away my unconsious pshyco thinking, and helping me facing the world.

But, you're not there.


I'm afraid, you were never there.

Saturday, July 10, 2010

life surprise(s).

Seorang teman bilang dia lebih memilih untuk dikejutkan oleh hidup. And I should do too. You know what...
about 13 hours ago via UberTwitter

Life surprised me a lot lately. And I'd prefer to be stable. I'm not well of taking surprises...
about 13 hours ago via UberTwitter

Birthday surprise,I could just said,"uh,thanks!" Valentine surpise, I said this first before someone gave me some, "valentine sucks!"
about 13 hours ago via UberTwitter

And of course, life surprise(s). I said, "fuck you life, you can go to hell, and burn. Let me just LIVE normally, like other people do!"
about 13 hours ago via UberTwitter

For once in my life, I want to be normal,average,main stream, or whatever 'normal' called.No more surprises please,just please let me be me.
about 13 hours ago via UberTwitter

***

Life surprise(s). Written for #30harimenulisblog #9. Too lazy to open up my laptop, just gonna copy it to my blog later.
about 13 hours ago via UberTwitter

*my first attempted micro-blogging. Posted here without any editing.

Thursday, July 8, 2010

siapa yang tahu waktu akan membawa kita kemana, ya?

Kadang kita bertukar rokok.
Kadang sekedar bertukar lagu.
Kadang cuma bertukar kabar tidak penting.

Ada satu bagian dari diri saya yang selalu bertanya-tanya, apakah kamu orangnya?

Jika iya, entahlah apa saya akan merasa lega atau menyesal, membiarkan kamu menunggu begitu lama.

Tapi, siapa yang tahu waktu akan membawa kita kemana, ya?

Wednesday, July 7, 2010

too much of you.


From Dian Sastro to Mariana Renata.
From Kate Bosworth to Megan Fox.

I don't find them intimidating.
They're just too much.

And you are the right portion of your ownself.

***


pict taken from here.


the mythical Mr. Perfect.


"Rindu mengorak menarik hati serentak
hey-hey siapa dia...
Wajah sembunyi di balik payung fantasi
hey-hey siapa dia..."
***

Mendengar pembicaraan seorang teman saya sedang mempersiapkan pernikahan, saya menanyakan sebuah pertanyaan klasik : "So, how do you know that he's the perfect one ?"

Saya sering sekali menanyakan pertanyaan ini, sampai-sampai bosan sendiri. Saya selalu ingin tahu proses awal dibalik keputusan penting itu. 5W+1H, dari memutuskan seseorang sebagai the mythical Mr. Perfect.

Why mythical ? Because i don't believe there is someone that could be soo perfect.

Hal paling saya sukai dari teman saya ini adalah dia seorang realis sejati, yang selalu menemukan logika untuk segala sesuatu. Bahkan untuk sesuatu yang sifatnya absurd dan subjektif macam siapakah Mr. Perfect kita.

"Well, basically you just know. Perfect itu masalah yang tidak bisa disama ratakan. Ukurannya banyak, dan jelas bukan dalam arti kata sesungguhnya. Perfect itu adalah ketika dia datang di saat yang tepat, seperti di saat elo emang udah pengen nikah. Atau sesuatu yang sangat ngga penting, seperti dia bisa mengerti jokes norak lo, atau selera makan lo yang gila. Perfect doesn't always mean that he's extremely cool or what. You'll know what you need."

Begitu kira-kira resume jawabannya.

Saya yang seringkali mendengar jawaban serupa adegan di film Serendipity, langsung berbinar. The cynical and pesimistic me suddenly believe, that someday i'll be able to find my Mr. Perfect. And getting married, making love, having my own home, and be undescribeably happy, despites all the ups and downs.

Finding someone, who's perfect in his unperfections, that sounds possible.


***

Saya bermimpi saya berhadapan dengan Kris Biantoro, memperkenalkan saya dengan suara tenornya. Tentu saja di acara kuis klasik itu, Kuis Siapa Dia. Hanya saja judulnya kali ini, "Siapa Dia si Mr. Perfect". Potongan wajah dikeluarkan satu-persatu di layar. Saya menebak dan gagal. Lalu tirai itu terbuka.

Isinya seorang pria duduk diatas kursi, wajahnya gelap.

Tapi itu sama sekali bukan mimpi buruk. Itu hanya kenyataan. Mungkin memang saya belum menemukan dia.

'Dia' masih menunggu di balik tirai, dengan sabar, menunggu jawaban saya tepat dengan potongan-potongan wajahnya, yang ditampilkan di layar.

***

"Payung fantasi arah kemana dituju
hey-hey tunggu dulu...
Bolehkah aku melihat seri wajahmu
boleh kah disayang....

Siapa geranfan tuan...
pembawa pelipur rasa bahagia...
cendrawasih dari bulan...
Ataukah si bintang siang"
(Payung Fantasi-Ismail Marzuki
)


bapak.papa.AYAH.daddy.pops


"Some people lost a big football match, while others had just lost a family member. World is really unpredictable, yes?"

***

Betapa menyesalnya saya ketika tidak sempat menerima telpon dan membalas message teman saya, soal kabar duka yang menimpa keluarganya secara tiba-tiba. Semuanya hanya karena keteledoran saya, yang lupa me-non-aktifkan mode silent di HP saya.

I really-really want to be someone who comfort her in this kind of situation.

***

Pulang makan malam itu, saya masuk ke kamar dengan kesal. Menyesalkan betapa tidak asiknya penjaga kosan saya, yang melarang pacar masuk, hingga saya tidak sempat cuddling dulu sebelum tidur. Atau menyesali betapa bodohnya saya yang membiarkan sebuah kewajiban menggantung begitu saja, hanya karena malas. Meratapi diri sendiri, yang sudah gagal memenuhi tantangan '30 HAri Menulis Blog' di hari ke-empat.

PLUS, sebuah hal yang selalu saya keluhkan setiap hari : "Kenapa ayah saya adalah orang seperti dirinya."

Semuanya nampak seperti keluhan wajar seorang anak, yang sedang bosan hidup begini-begini saja, sambil sesekali menyalahkan diri sendiri, dan mengkambing hitamkan cara ayah nya mendidik dan memperlakukan.

Sampai pacar saya datang,LAGI setelah mengantar saya pulang tadi, menggedor pintu rumah saya dengan panik. Katanya ayah sahabat kami meninggal.

Ya, sahabat saya yang tidak sempat saya balas message nya tadi. Saya menengok ponsel saya. Puluhan missed call, dan sepotong kata pendek di aplikasi Yahoo Messenger "Ginna..."

***

Dengan back sound dramatis sorakan dan umpatan serta bunyi vuvuzela dalam mode sayup-sayup, matanya kosong, ketika menceritakan sepotong kisah terakhir tentang sang ayah. Sekali-sekali cuma ada sekilas tawa miris. Ia takut tidak bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Entah kenapa, saya bisa merasakan semua emosi yang sedang dia rasakan, lalu mulai mengasosiasikannya dengan diri saya sendiri. Betapa saya tidak akur dengan ayah saya sendiri, selalu menuduhnya tidak pernah menghargai saya, dan jarang sekali mendengarkan pendapat saya. Tidak pernah puas, tidak pernah memuji, tidak pernah cukup menyayangi saya. Jarang menemani saya, seringnya hanya memarahi. Saya banyak menyalahkannya akan keadaan saya yang seperti sekarang. Akhirnya jarang mengunjungi, tidak menelpon, dan berhenti mengingat yang baik-baik soal beliau.

Anak durhaka, mungkin itulah saya.

Anak perempuan yang sedang berusaha berdamai dengan kenyataan, bahwa seorang ayah hanya berusaha menjalankan tugasnya.
***

Saat sedang menunggu sambil harap-harap cemas akan kepastian tiket pesawatnya, untuk mengantar ayahnya terakhir kali, dia membisiki saya, "Baik-baik lah sama bokap lo. Lo ga akan pernah tahu kapan bakal kehilangan..."

Saya merasa ingin menelpon ayah saya saat itu juga dan meminta ampun. Seperti biasa saya tidak melakukannya karena terlalu gengsi. Tapi di siang bolong itu, saya kembali mengingat sepotong-sepotong kenangan yang lucu bersama ayah.

Saya ingat digendongnya di pundak, dibilangnya pelan-pelan, bahwa saya adalah anak kesayangannya.

Sunday, July 4, 2010

fin.


" i want to live in those comic books. Sure there are ups and downs.
But, we always could go to the last page,
and see the beautiful ending. "

***



* the pict taken here. thanks!

Saturday, July 3, 2010

when you're not around.


it's an 'argentina vs germany' big match time.
I don't really care, but maybe this is going to be useful, if I forgot when i write this thing down.
Maybe it also could answer the 'why'...

***

because i'm lonely. that's it.

***

People cheering like it was Indonesia who play at the big game. Maybe if it was really Indonesia, I also wouldn't give a damn.

I like to listen to my heart when you're not around. It says " Let's get out of here, you silly!"

Friday, July 2, 2010

a conventional confession.


Topik siaran pagi ini :
"Hal apa yang menurut anda harus tetap konvensional dan apa adanya ? Boleh benda, pemikiran, apapun, bebas!"

Partner siaran saya bilang :
"Surat-menyurat. Harus tetap lewat pos. Ayo kita hidupkan korespondensi yang sebenarnya!"

Saya sih bilang :
"Kamar mandi Indonesia. Pakai bak mandi, ada gayung, boleh basah. Ngga usah sok kebarat-barat an, pakai bathtub, dan harus kering. Biar mandinya puas"

Kami tidak pernah berpikir akan ada yang menjawab :
"WANITA harus tetap konvensional..."


WTF, said us (off air of course)...

***


"...wanita itu harus tetep konvensional. karena wanita modern membuat saya pusiiiingggg..."


Begitu kata si pendengar itu via SMS. Lebih ke arah curhat memang, tapi entah kenapa ya, saya kok tersinggung.

Mungkin kata-kata ini justru datangnya dari orang--laki-laki--yang sangat konvensional. Takut akan perubahan. Bahkan tidak rela kalau wanita jauh dari stereotype yang ada dalam bayangannya. Lemah lembut, tinggal di rumah, nurut sama suami, ngga punya power. Semoga sih tidak disertai pakai konde, kebaya, dan jarik. Semoga, maksudnya wanita modern juga bukan, yang suka keliaran tengah malam, one night stand sana-sini, sambil mabuk-mabukan.

Tidak enak sekali rasanya menjadi serba salah. Kalau jadi konvensional artinya lemah. Kalau jadi modern takutnya jadi liar.

I'm not a feminist or such a thing. Tapi mendengar masih banyak pemikiran begitu soal wanita membuat saya sedikit gila. Lalu buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, mengejar karier, dan berusaha mandiri, kalau akhirnya disuruh kembali lagi ngulek sambel, dan dituntut menghasilkan sambel enak, karena kalau tidak katanya bukan istri teladan.

There is nothing wrong of being modern woman. You, guys, who need to eat that fact, and face it wisely!

***


"Kalau kata saya, yang harus tetep konvensional itu DASHBOARD..." kata seorang teman lewat twitter.

Kami berpandangan, lalu tertawa lepas kontrol, sambil mencari-cari judul lagu Vindicated sebagai gong.


*You know what, Chris Carraba is not a conventional man either. I heard he's gay... And it's confessional, not conventional.