Showing posts with label just theory. Show all posts
Showing posts with label just theory. Show all posts

Wednesday, February 15, 2012

"if there is a god, i know he likes to rock."

MOZ. That's how people sometimes called him, or famously known simply as : Morrissey. This guy has very much well known with his contribution in how good the Smith rule the music scene in the 80's, and moreover alone as a solo singer/musician.


Btw, why the hell i open this post with such a cliche background of 'WHO IS MORRISSEY'?! OF COURSE YOU (and everyone that concerns enough about counter culture movements and indie music) KNOW(s) MORRISSEY! As in fact, most of us considered him as God.

And attending his concert, for some people, is the main purpose in life.


 ***

Sebuah kehebohan terjadi di timeline twitter saya pagi ini, dimana hampir semua orang bereaksi sama terhadap berita konfirmasi konser tunggal Morrissey di Jakarta. Semuanya terjebak dalam sebuah histeria berjamaah, menyebut-nyebut bahwa akhirnya sang idola bisa ditonton live sebelum mati (maklum, si opa yang stau ini memang sudha berumur--dan beberapa yang menyukainya juga sudah cukup berumur, ditambah sebuah spekulasi tentang kiamat 2012 yang sedikit banyak dipercaya akan terjadi). Saya juga terlibat di dalamnya. Kebanyakan hanya karena ingin menyebarkan berita gembira ini, sisanya memang kepingin nonton juga, meskipun saya bukanlah salah satu hardcore fan-nya.

Ada yang (lebay-nya) langsung tremor, teriak-teriak tidak karuan, atau tiba-tiba bengong di tengah kegiatan apapun yang sedang dilakukannya pagi tadi, karena terlalu gembira. Well, Morrissey is coming to town, what should i say. Sesuatu yang sudah menjadi harapan umat-nya di Indonesia mungkin semenjak dua dekade silam, dan tidak banyak yang optimis hari ini akan tiba.

Saya tidak akan berkomentar negatif tentang apapun reaksi orang hari ini, karena saya tahu, mungkin saya juga bisa saja melakukan hal-hal gila di atas (atau bahkan yang lebih gila) kalau saja yang datang ke Indonesia itu adalah Coldplay atau Manic Street Preachers. Dua band yang lagu-lagunya merasuki kehidupan saya semenjak pertama kali saya dengar, yang lalu mulai menjadi obsesi pribadi paling tinggi, di atas hal-hal duniawi lainnya. Senang rasanya melihat teman-teman dan beberapa orang yang saya tahu memuja Morrissey seperti saya memuja Chris Martin, akhirnya akan mencapai titik tertinggi itu beberapa saat lagi.  Mungkin hal ini juga yang membuat istilah 'naik haji kecil' itu populer. Sebuah istilah yang menggambarkan pencapaian seorang fans fanatik, ketika akhirnya bisa menonton idola-nya, live and upclose. Sebuah ekspresi pencapaian tertinggi dari karier para gigs freaks dan music geek, yang kali ini tampaknya adalah kesempatannya para pemuja Morrissey.

Mungkin beberapa orang--obviously haters--akan merasa, ini hanya sebuah obsesi sinting dari segerombolan cult pemuja Tuhan gadungan, dan terpaan budaya populer yang terlalu tinggi, tapi apa sih yang salah dari berekspresi terhadap sebuah hal yang paling kita sukai di dunia ? Bukankah dalam hidup itu perlu ada sebuah pencapaian--apapun itu bentuknya ? Dan bukannya ekspresi itu adalah bentuk paling umum dari emosi, yang sayang sekali jika hilang dari hidup ini ?

Jika tuhan itu memang ada, saya yakin ia tidak akan keberatan berbagi umatnya dengan para musisi yang menyentuh emosi ini. Karena toh ini adalah masalah apresiasi, bukan dualisme kepercayaan. Persis seperti apa yang Billy Corgan dari Smashing Pumpkins (yang sudah saya tunaikan ibadah haji kecil-nya dua tahun lalu, dan rasa-rasanya beberapa teman saya masih ingat bagaimana wajah histeris saya muncul secara close up di big screen sebelah panggung, karena saya ada di barisan terdepan, dan terlihat paling histeris), katakan lewat salah satu lagunya :

"If there is a God
I know he likes to rock
He likes his loud guitars
And his spiders from Mars..."


Amen, to that.

***

I'm still waiting for my time to come. To scream histerically at Coldplay's concert front row, and to shed a tears as Manic Street Preachers begin to play the first tune in front of my very eyes. 

*finger crossed*

***
 

 Laneway Festival Singapore 2012 :
Where I fulfilled most of my biggest obsession in music
Feist, Chairlift, M83, etc.

Tuesday, February 14, 2012

valentine's (not) suck : a present from the universe.

Valentine's day suck.

Membuat para laki-laki sibuk dengan serba salah, berusaha menebak-nebak apa yang pasangannya inginkan (atau tidak inginkan). Sedangkan para perempuan, berharap-harap cemas, apakah pasangan mereka cukup peduli (dan tidak takut jadi banci) untuk memberikan kejutan manis.

Saya sudah melewatkan proses menyebalkan itu cukup lama (and save my ex BFs a lot of energy). Tapi harus saya akui, tahun ini Valentine sepertinya berhasil membunuh keskeptisan saya.

***

Semalam, seorang teman menghubungi lewat sms dan telepon. Minta saran, lagu apa yang kira-kira bagus dipakai mengiringi Valentine's Day. Sisi pecinta musik saya langsung merasa tertantang, tapi sisanya--sisi anti-valentine--mulai berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang konyol. Membantu seseorang, untuk melakukan sebuah ritual yang tercipta hanya karena sebuah legenda seorang martir--yang bahkan tidak berhubungan. Tapi toh, saya tetap mencarikan lagu untuknya.

Dan di tengah-tengah semua proses itu, diam-diam saya berpikir, apa benar Valentine itu useless?

Di luar semua ketololan bahwa merayakan Valentine itu artinya membeli benda-benda berwarna pink muda atau cokelat berbentuk hati beraroma mawar, yang belum tentu rasanya enak, saya mulai merasa, mungkin saja Valentine ini diciptakan dengan maksud tertentu. Seperti, misalnya, membuat orang yang kita sayangi tersenyum.

Siapa sih yang tidak tersenyum saat menemukan setangkai mawar di pintu depan rumahnya ? Atau saat mencium aroma pancake yang dibuat khusus sebagai tanda cinta, dan saat menerima sebuah bingkisan berisi boneka binatang yang enak dipeluk, lengkap dengan kartu ucapan bertuliskan 'xoxo'. Lalu sebagai timbal baliknya, melihat si penerima tersenyum seperti itu, siapa yang tidak akan tersenyum lebih lebar. Semua effort terbayar. sisanya hanya perasaan yang hangat karena bisa sama-sama berbagi senyuman.

Saya sih bukan tipe perempuan yang luluh oleh mawar, pancake, dan boneka binatang (iya, ini #KODE untuk yang ingin mengirimi saya kado Valentine), tapi saya lemah sekali dengan satu hal yang bernama 'ketulusan'. Apapun alasannya, bagaimana pun caranya (tapi please, jangan mawar atau teddy bear), asalkan diawali dengan sebuah niat tulus untuk membuat yang disayang tersenyum, semuanya akan termaklumi.

Saya pun tersenyum, mengirimkan satu judul lagu untuk teman saya tadi, dan berharap, semoga esoknya dia dan pasangan benar-benar bisa bertukar senyuman yang bermakna. Lebih dari sekedar ritual Valentine itu sendiri. .

***

And this morning, i smell a conspiracy between Valentine's Day itself and the universe. They sent me a special personalized valentine present. When the present passing me by on the highway--trying to make a statement--all i could do was capturing it right away.


"I really wanted to share it with you, 
and the thoughts of it made me smile... even wider."

***

"Before I die I'd like to do something nice
Take my hand and I'll take you for a ride
You hit me yesterday because I made you cry
So before we die let me do something nice

I want to buy you something but I don't have any money

No I don't have any money
I want to buy you something but I don't have any money
No I don't have any money

And if I had a car I would trade in my car

If I had a gun I would trade in my gun

Honey we ran from the country,
when we rushed to the city
And now there's nothing to be done
there's nothing to be done..."
--The Drums, on : Money
.

Monday, January 9, 2012

Kegelapan itu menular. Kegalauan itu menghasut.

"Beberapa hal dalam hidup itu harusnya diatasi, bukan disesali. Dimaklumi, bukan dikutuki."
***

Saya sih jarang sekali ingin menguliahi orang dengan pepatah-pepatah soal kehidupan. Karena menurut saya, semuanya hanya soal teori. Dan tidak ada yang lebih benar dari menjalaninya saja, ketimbang membebani kehidupan itu sendiri dengan sekumpulan hal-hal teoretis absurd yang membuat kita jadi susah mengaplikasikannya.

Tapi akhir-akhir ini, rasanya ingin sekali berteriak di kuping beberapa orang tentang bagaimana seharusnya hidup itu --secara teoretis-- dijalani saja. Apalagi ketika beberapa orang itu merasa berhak mengganggu ketenangan hidup orang lain dengan membagi beberapa pandangannya soal hidup yang mengusik.

Kegelapan itu menular. Kegalauan itu menghasut. Atau paling tidak kedua hal itu bisa menelanjangi diri kita sendiri di hadapan orang lain, dan membuat kita  semakin sulit digapai. Jauh dari teori hakiki tentang berbagi, yang seharusnya membuat bebapa hal jadi terasa lebih mudah.

Tidak ada yang lebih mudah memang kalau bicara soal hidup. Banyak permasalahan yang akan sangat sulit dimengerti lewat cara pandang yang kelewat kaku, apalagi kalau sudah memilih untuk tidak merasa bahagia.

Jadi, bukankah lebih baik berbagi ketololan hidup secara atau cerita konyol yang garing ? Setidaknya orang bisa mentertawainya secara sarkastik, dan tidak jadi mencibir sinis lalu ikut merasa tidak bahagia.
***

"There are so many choices in life. Being happy is one of them."


Tuesday, July 19, 2011

personality traces on your desk.

"...people judge others by their cover. I judge pople by their shoes. Yes, your shoes. Because i think shoes never lies."
           --taken from : shoes judging method.

are you have enough of me, telling how shoes could be the most accurate measurement to your personality ? Well, eventually, the old theory has a contender.

Something comes up in my mind, while i'm staring at my current working space. It has just been a month and a half, since i first occupy the cubicle, but i already could see my personality traces everywhere. Even it hasn't been personalized much yet, it can tell that i'm a heavy smoker, with a spicy tounge, that being shown by an ashtray full of cigarette butts and a bottle of super spicy sauce, laying unorganized on my desk (and that's another thing, showing that I'm an unorganized person myself).i begin to take a little deeper to others working spaces around me. And of course, more or less, they also have the owner's personality traces.

And here the theory goes : "do judge people by their working spaces."

 If you take more attention, you'll know who your working mates really are, or even knowing yourself better...
***

Here are my poor attempt to capture my previous working spaces, at work and at home. Care to guess my personality ?


My messy desk at the previous office. 
I think the CDs burried my personality away.



 
here's my--other--messy desk at the old room. There's no CDs, but more DVDs. 
And, NO, it's not the same. 
There's a pretty big differences between CD and DVD.

And, this is (hopefully be) me, with (hopefully be) my writing partner, 
working together at (hopefully be) our (own) working space.

pict taken from : www.theselby.com  
(creative people at their creative space) 

***


* I'll show you my recent working space later. It needs to be personalized a little bit more (means : adding a stack of either CDs or DVDs, and some sort of things)

Friday, December 3, 2010

shoes judging method.

are you a mocassins type, or a hi-top chuck taylor type ?
are you a doc marteens type, or a running shoes type ?
or are you as easy as those people who choose flip-flops, and go bare feet if you could ?
***

people judge others by their cover. I judge pople by their shoes. Yes, your shoes. Because i think shoes never lies.
***

"Bok, sepatunya dia apaan?"
"Mana gue tau. Mana gue perhatiiin. Ga ada kali orang pas kenalan ngeliatin sepatu."
"Oh emang ngga ya? kok gue iya sih?"
"Freak lo ah. Emang apa yang lo bisa lihat dari sepatu orang ?"
"banyak hal kali. Seleranya, gaya hidupnya...."
"ini apa sih, merknya maksudnya. Gila lo ah, brand minded."
"Ngga gituuu. Bentuknya, modelnya, bersih enggak nya... Sepatu itu menggambarkan perjalanan lo. Sesuatu yang lo anggap nyaman untuk menemani langkah lo, sesuatu yang lo percayai untuk memeluk kaki lo dalam porsi yang lo butuhkan, sesuatu yang lo yakin bisa menjadi teman sepadan outfit lo."
"Serius lo ah. Gila! Gimana sih taunya? Pas salaman lo nunduk? Atau ngintip ke kolong meja"
"I don't know. I just know."
***

in some other people mind, i'm just sick.
yes, i'm sick. I'm sick judging people by their last names, handshake, or smile. They all could be artificial. I'm sick of people tendencies not to judge by cover, just to do something fair. it's too naive. because at the end, if you had a first impression on someone you've just met, thats your standard talking. and putting someone at your very own shoes is just a different kind of unfair
judgemental behaviour.

shoes aren't just cover. shoes comfort you, lead your way, to whatever you're aiming for. They should be honest.


Thursday, December 2, 2010

near-magical experience.

so, do you believe in coincidence?
I'm once non-believers.
i think the concept of coincidence is way too naive.
But, the joke is on me.
Reality struck. And now, i'm at the stage of totally believing that coincidence really exist. Yes, it's a near-magical experience, and also yes, i'm a little bit exagerrating it.

***

hey, Mr. Anonymous, nice to know that you actually have a name.

Friday, October 15, 2010

Day #29 : terlalu banyak.

terlalu banyak hal untuk dikeluhkan.
jalanan yang terlalu padat. harga bensin yang mahal. jalan tol yang berlubang.

terlalu banyak hal untuk diprotes.
kesenjangan sosial. ketidak adilan gender. jam kerja yang terlalu panjang, tanpa uang lembur yang pantas.

terlalu banyak hal untuk ditertawai.
presiden yang lembek. jurnalisme yang tidak akurat. dunia infotainment yang seperti parodi.

terlalu banyak hal untuk dikritik.
film yang terlalu mudah ditebak. lirik lagu yang terlalu sembrono. iklan-iklan yang tidak punya kelas.
***

semua membuat kita lupa bersyukur.

pada secangkir kopi hangat pagi ini, ucapan terima kasih yang tulus, atau tweet yang menyemangati dari orang-orang tidak terduga. pada tas kanvas berwarna orange yang lucu, kalung hand made keren murah meriah, dan jeans belel yang membuat 90an abadi.
***

"Terlalu banyak.... Terlalu banyak hal kecil untuk dinikmati hari ini..."







Wednesday, October 13, 2010

Day #27 : adiksi.

minggu kemarin minuman teh bersoda. minggu ini kopi krim kalengan. lalu es krim premium dengan cokelat belgia dan almond. nasi bebek goreng remuk juga pernah. bahkan tidak terkecuali, minuman-slash-makanan jelly khusus anak-anak.

masih banyak lagi yang lainnya. asalkan rasanya enak, dan baru dicobanya, pasti akan membuat ia ketagihan. Lalu mulai membeli dan mengkonsumsi mereka secara sembrono dalam satu kurun waktu tertentu. sayangnya memang tidak bertahan lama. Seperti tidak pernah belajar hukum Gossen 1* di jaman SMA dulu, dia akan mengulang-ngulang sebuah kegiatan baru yang di sukai, sampai kebosanan menampar.

dan biasanya jika kebosanan sudah datang, ia tidak akan berusaha bertahan. ia akan segera menemukan yang lain untuk disukai. seperti sebuah siklus. sebuah siklus yang dibuatnya sendiri, untuk menghindari keterikatan dengan apapun, untuk menghindari ketergantungan.
***

dia berkata pada dirinya sendiri, "Apakah ini sama dengan caranya mencintai?"

menemukan seseorang yang disukai. menyukainya sampai puas. teradiksi, lalu bosan dan pergi. Tapi tentu saja pergi bukan urusan yang gampang bila berhubungan dengan hati. lama-lama dia merasa dirinya lemah, tidak berdaya. karena terkadang, ia ingin tetap disana , tapi siklus akan segera memaksanya untuk pergi. sebuah siklus yang awalnya dibuatnya sendiri untuk menghindari keterikatan, justu mengikatnya terlalu keras. ia tidak bisa mengendalikannya. dan ia takut, suatu saat nanti, dia akan berkahir hidup sendirian, hanya terikat dengan ketakutannya sendiri tentang ketergantungan.

Tuesday, October 12, 2010

Day #26 : lewat jendela tua.



sebuah bangunan di tengah kota kembali terbayang di kepala saya sore ini. semua detailnya mengingatkan saya akan beberapa potong proses pendewasaan, yang sempat mengiringi cerita hidup.
***

lantai bawah pernah menjadi saksi kesibukan yang seakan tidak pernah selesai. Datang di tengah malam. Mempercepat langkah, karena lorongnya selalu membuat saya takut. Lalu duduk bersama, dengan goal yang sama, saling bersaing demi bisa diterima.

lantai atas selalu mengingatkan saya pada rumah. rumah yang tidak pernah saya miliki di kota ini. Ruangan-ruangan yang selalu diisi wajah-wajah yang sama, seperti sebuah rumah kos yang padat penghuni, yang sesekali berkumpul di balkon untuk saling bertukar cerita lucu atau tangisan yang ditahan-tahan. Merencanakan sebuah petualang bersama, dan mulai memikirkan cerita selanjutnya untuk dijalani sendiri-sendiri.

Salah satu ruang yang kedap suara, selalu saya anggap seperti sekolah, yang anehnya membuat saya tahu lebih banyak. Belajar hal-hal baru, dan bertemu orang-orang yang kelak menjadi penting. Tempat berbisik soal rahasia-rahasia yang terekam manis seperti mix tape yang tidak disengaja.

saya masih ingat pertama kali menjejakan kaki disana. Disambut wajah-wajah asing, yang saya harap akan menyambut dengan ramah. siapa yang tahu, hanya butuh beberapa lama saja, untuk bergabung disana, duduk bersama sambil bergosip atau main gitar, menyatu dalam kata kekeluargaan. Menangis bersama-sama atas nama persahabatan, dan saling curi pandang karena merasakan kisah percintaan yang aneh satu sama lain.

***

pertama kali setelah sekian lama, akhirnya menjejakan kaki lagi disana, membuka pintunya dengan maksud yang sama sekali berbeda. Saya hampir menangis. Di tengah-tengah semua ruangannya yang kosong dan pintu-pintu yang sudah berdebu, saya masih bisa merasakan kehangatan yang pernah sangat saya sukai. Saya mengintip lewat jendela, dan tiba-tiba melihat lebih jelas melalui kaca berjamur itu.

saya harus keluar. melihat dunia, dan mencari rumah-rumah lain untuk disinggahi.

*tribute to Diponegoro 21. A place once felt like home.

Monday, October 11, 2010

Day #25 : senin.

hari senin yang biasa. Bangun pagi dengan malas-malasan. Berharap bisa menghentikan waktu sebentar agar bisa tidur lebih lama, atau memutar waktu sekalian, agar kembali ke weekend yang menyenangkan. Kadang-kadang saya berharap, seandainya saja hari Senin namanya bukan Senin, mungkin saja ia tidak semembosankan ini. Mungkin saja ia secerah minggu pagi, atau semenyenangkan jumat malam.

Tapi ini masih Senin, hari yang paling dibeci di dunia. Hari yang paling biasa menurut saya. Karena disanalah rutinitas dimulai. Dan buat saya, mungkin orang lain juga, rutinitas itu bukan hal yang istimewa. Jadi hari dimana rutinitas dimulai, tentunya itulah hari yang paling biasa.

***

hari Senin yang biasa. Dimulai dengan siaran pagi bersama partner. Lalu mengucapkan selamat pagi kepada pendengar lewat situs jejaring sosial. Sebuah pesan balasan masuk.

katanya, "Hayooo Ginna....semangat-semangat !!!"
Partner siaran saya menaikan alis sambil memajukan dagunya sedikit. Bahasa isyarat bertanya, "Siapa?" Saya mengedikan bahu, membahasakan, "tidak tahu." Bukan karena saya tidak kenal atau lupa pernah berkenalan, tapi karena tidak percaya. Dia adalah orang terakhir yang saya bisa sangka menyemangati semanis itu di pagi hari.

Saya menatap kalender sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan hari senin. Hari senin tidak pernah berawal semanis ini.




Thursday, October 7, 2010

Day #21 : seperti memotong rambut sendiri.

Dan berjatuhanlan lembaran-lembaran rambut itu satu persatu. Hasilnya ? Terlalu pendek.

***

Saya menarik-narik poni saya ke arah wajah. Tetap saja terlalu pendek. Bahkan dalam keadaan basah. Terlalu memang. Bukan hanya terlalu pendek tadi, tapi juga terlalu kalau memotong rambut sendiri saja tidak bisa. Padahal logikanya, itu rambutmu sendiri, tanganmu sendiri juga yang menggerakan gunting, dan otakmu sendiri yang bilang harus seberapa banyak memotong.

Begitulah. Hampir sama dengan bagaimana kita mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Kadang terlalu pendek, hingga hasilnya hanya tindakan impulsif yang tidak ada artinya. Atau malahan tidak sengaja membuat kuping sedikit tersayat gunting, yang artinya kita kurang hati-hati.

Tapi apalah nilainya memotong terlalu pendek dan kuping yang tersayat gunting. Toh luka akan hilang, dan rambut akan segera tumbuh kembali. Susahnya adalah ketika kita tidak berani memotong rambut sendiri. Sampai akhirnya terlalu panjang, kusut, dan mengganggu pandangan.

Sampai suatu hari kesempatan sudah lewat, dan trend rambut di majalah sudah berganti. Kita tidak akan bisa kembali.

***


Well, I said whatever. My hair will grow faster than I could even notice.

Wednesday, October 6, 2010

Day #20 : an answer to future.

Talking about future always making me anxious. I'm not the kind of person that live for future, I'm more a live-for-now person. Enjoying everything to the fullest while it last.

But that's the missing point of my way of life. How much time it will last, this I'll never know.

***

Pagi ini saya dikejutkan oleh ide topik siaran yang keluar dari mulut partner siaran saya. Ide awalnya adalah menyoroti fenomena early retirement yang skrg banyak dilakukan para profesional di luar negeri. Lalu pertanyaannya adalah gambaran apakah yang ada di benak kita, tentang hidup setelah pensiun.

Saya tertegun. Bukan saja karena saya memang seringkali tidak terlalu ambil pusing soal apa yang akan terjadi, tapi saya merasa urusan pensiun hanya urusan orang yang umurnya 50 tahun ke atas. Jadi ketika ditanya bayangan kehidupan di masa itu, saya harus ekstra berpikir cepat.

And this is my answer to that :


"saya ingin hidup bersama pasangan saya. Tua dan merasa bahagia bersama-sama, tanpa menyusahkan anak-anak kami nanti. Tinggal di rumah kami yang nyaman di dearah suburban yang nyaman, sesekali bepergian ke kota dan bersenang-senang, atau berlibur ke tempat yang eksotis. Seperti sepasang nenek-kakek lincah, yang kemana-mana bersama, sambil sesekali bertengkar soal hal-hal kecil yang sebenarnya adalah kebiasaan"

Jawaban ini malah lebih mengejutkan dibandingkan apa yang saya rasakan saat ditanya. Karena di masa-masa produktif seperti sekarang, keinginan saya justru sangat bertolak belakang. Misalnya saja, untuk berkarier setinggi-tingginya, mengesampikan urusan berkeluarga belakangan, dan punya banyak uang, hanya agar tidak menjadi tergantung pada siapa pun juga. Apakah itu memang kecenderungan seseorang untuk merasa independen dalam suatu fase, lalu berpindah ke fase yang lebih settle dengan berbagi ? I really don't know. But it would be nice to live peacefuly at the end. Having somene to hold your hand until you die.

Too sentimental ? Well, i guess when it comes to life, everybody is sentimental.


***

Talking about future always making me anxious.
So many dreams, too many hopes, and adding another mistery to be revieled.


Monday, October 4, 2010

Day #18 : masa masak ?

Memotong daging, mengiris sayuran, meramu bumbu. Mencampurnya ke dalam wajan, lalu menyajikannya semanis mungkin. Tentu saja semua itu bagian dari memasak. Satu hal yang bisa jadi sebenarnya adalah hobby terpendam saya, yang dari dulu tidak ingin saya akui.
***

Kenapa saya benci memasak, banyak yang bisa saya sebutkan sebagai jawabannya. Entah karena sesudahnya saya harus mencuci piring, ditambah tangan yang bau dan baju yang kotor, atau karena menurut saya kegiatan ini terlalu feminin dan menguji kesabaran, hingga sulit sekali cocok dengan profil diri saya.
Setelah melalui proses denial bertahun-tahun, saya baru berdamai dengan memasak, kali ini. Saat melihat betapa sumringahnya wajah adik saya yang menemukan makanan hasil masakan saya di kamar kosnya--yang artinya dia tidak harus bayar makan malam. Saat menerima satu ciuman berbau nasi uduk yang saya masak, dari si pacar.
Seolah-olah memasak adalah cara saya berbagi. Saya yang selalu kesulitan menyalurkan afeksi dalam bentuk apapun, akhirnya menemukan, bahwa memasak bukan hanya sekedar meracik bahan dan memakannya. Memasak adalah sebuah proses mengumpulkan cita rasa dan emosi, hingga bisa dihidangkan sebagai sajian berbagi bersama orang-orang kesayangan.
***

Saya membayangkan diri saya mengenakan apron berenda dan topi koki. Saya memasak dengan cekatan. Di depan saya beberapa pasang mata menatap tidak sabar. Dan saat masakannya jadi, kami makan bersama hingga kekenyangan, sampai sulit berdiri.

Saturday, October 2, 2010

Day #16 : Teori Budi.

Ditengah kebosanan menunggu di sebuah pusat shuttle service antar kota, seorang bapak mengemukakan teorinya soal salah satu nama paling common di Indonesia. BUDI. Saya mulai merasa terhibur dan mencuri dengar.
Katanya pada temannya, "Ada 7 juta Budi di Indonesia..."

Oh really? Saya mempublishnya di twitter. Sekedar yg mengecek. Yang me-retweet tidak terhitung.

Oke, saya sedikit lebay. Cuma dua sih. Tapi benar, sebegitu banyak kah Budi di Indonesia?

***

Saya jadi ingat nama lain di Indonesia, yang sempat banyak diperhatikan orang, setelah diangkat oleh seorang penulis slash artis, HERMAN--bukan nama penulisnya. Teori penulis itu, nama Herman begitu common terdengar di telinga dan diucapkan orang Indonesia, tapi bukan benar-benar nama yang ada di daftar orang yang kita kenal. Waktu membacanya saya mengerenyit. Well, saya punya paman yang namanya Herman, jadi teori itu aneh sekali. Tapi banyak sekali, hampir semua yang pernah membacanya bahkan, menyatakan kebenaran teori itu. Entah karena nama Herman adalah nama yang hanya populer di ranah fiksi saja, atau karena semua Herman itu penyendiri, atau hanya karena teori itu telah terlanjur dibukukan, atau karena penulisnya adalah artis.

Tapi diluar kenyataan yang saya anggap benar, bahwa saya punya kenalan yang benar-benar bernama Herman. Sebuah teori lain sudah kembali membuat saya bingung, dan menyangkal kebenaran. Ada 7 juta Budi di Indonesia. Banyaknya Budi di Indonesia menjelaskan teori Herman. Karena kalau Herman yang ada dalam teori Budi, pastilah Herman sudah sebegitu terkenalnya.

***

Tidak lama salah satu petugas shuttle service itu memanggil nama Budi. Dalam ruangan itu tiga orang berdiri. Salah satunya adalah bapak pencetus teori Budi.

Ya, Herman memang tidak sebanyak Budi. Tanyakan saja pada 6.999.997 Budi lainnya.




Thursday, September 30, 2010

Day #15 : [REAL] man manual.

seorang laki-laki telah menjadi laki-laki, jika sudah berani mengakui, bahwa ia juga menyukai hal-hal yang disukai perempuan. Membaca majalah perempuan, mengikuti saran artikel self help, bergosip, dan nonton maraton serial sex and the city di TV kabel.

Yang tidak boleh dilakukan laki-laki hanyalah berselingkuh. Tentunya disamping memakai topi vedora berpayet, crop jacket glitter, dan suit warna pastel.

Thursday, September 23, 2010

Day #7 : a few more people like you.

Saya buka kolom comment di bawah tulisan terakhir saya. Lagi-lagi ada nama kamu. Saya tersenyum. Bukan karena comment-mu yang selalu lucu dan apa adanya. Tapi karena wajahmu terlihat lebih berukuran normal jika diperkecil dalam seukuran ujung kuku.

Seberapa besar yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi berarti?
Dari kamu, saya mengetahui, tidak selalu sebegitu besarnya.

***

Lewat facebook, bahkan friendster--sayang kamu tidak punya twitter--yang tidak pernah lupa kamu hampiri, untuk sekedar me-like, mengirim testimonial, atau mengomentari.

Lewat SMS dan telepon, yang sekali dua kali akan datang, hanya untuk mengecek kabar atau mengucap selamat ulang tahun, bahkan dari jauh.

Lewat film-film gore dan komik-komik cult, yang kamu sarankan, hanya karena kamu memaklumi selera saya yang tidak wajar.

Lewat blog yang selalu penuh dengan comment-comment penuh semangat atau comment asal, yang sedikit banyak membuat saya merasa harus terus menulis.

Lewat pertemuan sesekali, yang akan berlangsung lamaaaaa sekali.
***

Semuanya wajar, tulus, dan tidak dipaksakan. Sebuah kenyataan yang kadang membuat saya lupa, bahwa hal-hal yang berarti itu bukan selalu sesuatu yang besar.

Kecil, tapi selalu ada. Itu kamu dalam hidup saya.



*A few more people like you, and i'll be complete. :)

Friday, September 17, 2010

Day #1 : dalam sepotong paha ayam goreng.

makan.
satu hal yang kita tahu, kita sama-sama suka. Hanya saja, kadang kita suka makan yang berbeda.

Seperti kamu yang bilang ayam goreng bagian paha itu adalah pemborosan besar-besaran. Sudah bayar mahal, hanya dapat sepotong daging berlemak. Sebaliknya saya bilang ayam goreng bagian dada itu rasanya tidak enak, terlalu berserat, dan akan sangat menyiksa menghabiskan sepotong besar daging yang seperti itu.

Dalam paket kita belajar berbagi.
Memesan satu paket dua ayam, satu nasi, dan minuman, ditambah satu nasi ekstra, akan membuat kita puas. Kamu mendapatkan dada ayam kesukaan mu, dan saya akan menikmati paha ayam yang kamu sisakan tanpa harus protes, kenapa bagian mu lebih besar.
Satu gelas besar soda akan kita minum bersama sesudahnya. Saya hanya perlu sesisip untuk melepas dahaga, karena rasa soda selalu membuat saya kesal, kalau terlalu banyak, dan kamu akan menandaskan sisanya, karena kamu selalu adalah penyuka soda.

***

Beberapa hal tentang makan telah membuat saya mengerti, apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Kita berbagi.

Tidak hanya ayam goreng, tapi juga sepiring lemak daging yang selalu kamu pinggirkan untuk saya habiskan, sepotong bala-bala spesial yang membuat mu sampai harus menelepon saya untuk memberi tahu, dan sekotak cokelat yang selalu kamu makan sedikit saja untuk akhirnya saya nikmati.

***

you once said that you don't share food. in some kind of way, you actually share. it's just about finding the right sharing partner.
============
*another attempt to 30 Hari Menulis Blog. Let's see how will this one ends.
Read more about "30 HARI MENULIS BLOG" here, and be a part of it.

Monday, August 2, 2010

Men + Tawa + i = hidup.


sometimes life is just unpredictable, menyerang dengan kejutan-kejutan saat kita lengah. Menghalang-halangi rencana yang sudah disusun matang. Menyebalkan ? Pasti! Mengutip kalimat seseorang, seperti ini rasanya :

"kayak ditabrak truk, pas lagi nongkrong di warung kopi, di dalam kampung yang jalannya ngga cukup buat dilewatin truk...

atau lagi nyebrang, tiba-tiba ditabrak boeing 737...

atau lagi ngerokok di genteng, terus ada orang pakai parasut mendarat di samping kamu, trus ngomong bahasa Jerman."


Dia serius waktu bilang begitu. Memang orangnya 'serius' menghadapi hidup. Andai saya bisa sedikit lebih seperti dia.

Mentertawai, bukan mengutuki hidup.



Saturday, July 31, 2010

opened options.

we do have an option. Just don't make them one of your priority until you know you're theirs.

***

kick in a head when you said that, friend.

maybe i would have me as my priority instead of whoever they are. Until I know that I'm somebody's priority, then I'll keep my option wide open.

mengukur.

Quotes of the day :
"Untuk para perempuan, jangan biarkan apapun atau siapapun, mengajari kalian bagaimana caranya untuk menjadi cantik." -- seorang idola, Kartika Jahja (Tika & The Dissident)
***

Saya mengingat bagaimana seseorang pernah mengatur saya bagaimana caranya terlihat cantik. Hanya saja, pada waktu itu saya tidak sadar, dia melakukannya dengan cara membuat saya merasa jelek. Merasa tidak special dan tidak ada.

Sementara dia seolah mulai mencuri energi 'kecantikan' saya, saya mulai bertengkar dengan diri saya sendiri. Saya menetapkan standar yang tinggi, menghukum diri saya sendiri, dan berkata hal-hal menyakitkan hati, hanya untuk merasakan bahwa saya memang tidak layak disayangi.

Saya bermusuhan dengan diri saya, hanya karena orang lain. Diadu domba oleh ukuran yang sama sekali bertolak belakang dengan yang saya miliki.
***

Pada akhirnya saya mulai menyadari, tidak ada seorang pun yang boleh menggunakan ukurannya untuk menilai saya. Karena sebaik apapun ukurannya, itu bukan punya saya. Dan apapun yang bukan kepunyaan saya, hanya akan tampak kedodoran, kesempitan, dan tidak enak dilihat.
***

Another quotes of the day :
"Berbaikanlah dengan dirimu sendiri, dan kamu akan baik-baik saja." --seorang teman baik, Rizky Amalia.