Thursday, January 28, 2010

dearest listeners

sometimes, it's exhausting to be everyone's lover. you have to be nice, put your smiley voice, and pretend as if you are in a good mood. no matter how sick their comments are, or how it affect our dignity as a person.

we are just ordinary people. that's what you should now about us, announcers. we laugh as much as we cry, and we're angry as much as we're happy. all dearest listeners, please be kind. and you're gonna hear us smiling, like we mean it.

"it's nice to be important, but it's 'more' important to be nice..."

*dedicated to all dearest skylover. appriciate us like you want to be appriciated. that would be nice.

Monday, January 18, 2010

adi(a)idan

Posting ini hanya untuk memastikan, anak-anak saya (di masa depan) mempunyai nama seperti yang sudah saya rencanakan. Tidak bernama Budi-Wati seperti di buku Bahasa Indonesia, atau Meghan-Steve, seperti nama-nama artis baru, yang sudah pasti nama samaran.

Nama anak-anak saya adalah : Adia & Aidan

***

Adia
taken from one of a heartwarming number from Sarah Maclahlan, "Adia". It's a calming song, I want my baby girl grow up calm, and be the coolest girl in town and the warmest girl in heart. And remember, it should pronounced as Sarah sing the song : Ei-di-ya.

***

Aidan
named after Carrie Bradshaw's almost-true-love boyfriend, Aidan Shaw. He's warm, nice, and such a gentleman. I want my baby boy to grow up just like Aidan. It's also pronounced Ei-den, just like the perfect heaven people all looking for. And by the way, why not Big, Carrie Bradshaw's true love ? Simple, I don't want my baby boy, grow up like some kind of immature womanizer.

***

dedicated to my future baby girl and baby boy.
And yes, i'd prefer two children only.

Let's Just Fall In Love Again

"Beb, kita mainan jaman PDKT lagi yu...." tanya saya, berseri-seri, berharap.
"Ngga ah, capek." jawabnya, singkat padat, melanjutkan makan.

***

Tidak banyak lagu yang begitu mendengar langsung saya sukai. Jason Castro harus merasa beruntung. Singlenya yang berjudul "Let's Just Fall In Love Again," membuat saya jatuh cinta, bahkan ketika mendengar intronya saja. Entah intronya yang menarik dengan suara siulan, entah judulnya yang lucu, atau liriknya yang lugas dan membuat saya senyum-senyum sendiri.

Let’s pretend baby

That you’ve just met me

And I’ve never seen you before

I’ll tell all my friends

That I think you’re starin’

And you say the same to yours


And oh, we’ll dance around it all night

And then I’ll follow you outside

And try to open up my mouth

And nothing comes out right


Jika dibahasa Indonesiakan, mungkin lagu ini akan berjudul "Ayo Kita PDKT Lagi". Hahaha. Katakanlah saya cheesy, tapi lagu ini membuat saya teringat setiap moment PDKT saya bersama pacar. Berkenalan, pertama kali menikmati sore bersama, mengobrol dan bercanda dengan kaku. SMS tidak penting, telepon canggung, dan saling bercerita soal kegemaran. Tersenyum-senyum kecil mengingat satu sama lain, lalu mengaku jatuh cinta, dan mengajak kencan.

I’ll call you in three days

Not too soon, not too late

And I’ll ask your roommate if you’re home

You call me on Thursday

And we’ll hang out all day

Then fall asleep on the phone


And oh, I’ll hold your hand when we drive

And we’ll lose track of all the time

And we’ll tell everyone

That we ain’t never felt so alive


We’ll fall disgustingly fast

And we’ll stop hangin’ out with friends

And they’ll be so offended

Manis. Dan saya baru ingat lagi rasanya. Tidak ada perasaan yang lebih berbunga dibanding itu semua. Saya ingin merasakannya lagi. Bukannya saya sudah berhenti jatuh cinta. Hanya karena semuanya tadi begitu lucu untuk dikenang. Dan kadang, dengan kebersamaan menahun, pertengkaran, dan sifat jelek pacar yang menjengkelkan, kita lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.

And I wanna fall in love with you again

I don’t have to try

It’s so easy

Who needs to pretend?

But because it’s so funny

Let’s just think about it, honey

Let’s just fall in love again


***

Semoga lain kali dia mau.
Let’s just think about it, honey. Let’s just fall in love again...


==============================================
download the song here:
http://www.get-music.net/mp3-994265/jason-castro-let-just-fall-in-love-again.html


Saturday, January 16, 2010

second trickiest question



"so, miss x... what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?"

The second Trickiest question an interviewer could possibly ask to a writer.

The first is, "who's your favorite author?"


***

Saya seringkali melakukan simulasi gila mengenai bagaimana wawancara soal buku best seller saya berlangsung di masa mendatang. Mungkin saya ada di sebelah Jay Lenno, menari bersama Ellen Degeneres, dan bila beruntung menyelesaikan buku pertama saya sebelum Oprah pensiun, diundang ke studio Harpo. Yah setidaknya bercanda bersama Tukul, atau berdiskusi bersama Andy F Noya, lalu buku saya dibagikan kepada seluruh penonton di studio.

Saya menanti-nantikan saat seperti itu semenjak saya menulis cerita pendek pertama saya, yang terinspirasi dari cerita bersambung di majalah Bobo. Saya suka menulis. Dan saya membayangkan, betapa indahnya jika bisa dikenal orang banyak lewat sesuatu yang sangat saya sukai, dan yang saya pikir satu-satunya yang bisa saya lakukan dengan benar. Menulis.

Simulasi wawancara saya biasanya berlangsung di malam hari, ketika semua orang sudah tidur. Semua interviewer hebat yang saya sebutkan tadi--ehmmm...kecuali Tukul, dia entertainer hebat, tapi interviewer hebat, i don't know, how about if we try to hijack his sacred laptop?--akan memulai dengan pertanyaan dengan inti yang sama.

"Jadi buku anda ini bercerita soal apa?" (Oprah biasanya akan membuka dengan "I Love This Book, I even read it only in one night, and I put in on Oprah's Book Club." Then suddenly, all the Americans said soo)

Saya membayangkan akan menjawabnya dengan kata-kata macam : kontemplasi, refleksi, mediasi, provokasi, atau bahkan sublimasi. Mereka mengangguk tanda puas. Saya telah menjawab dengan cara cukup pintar. Mudah, gunakan saja istilah-istilah sulit berakhiran si.

Pertanyaan selanjutnya, "Apakah ini kisah nyata ?"

Saya akan menjawab, "Ini cerita keseharian. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Ini bagian dari hidup saya, anda, dan semua yang pernah menjadi wanita."

*applause cheering*

"Lalu, apakah anda lebih suka menulis kisah-kisah fiksi atau sebaliknya ? Kenapa ?"
"(Saya memutuskan untuk memakai sedikit bahasa Inggris, jika ini untuk acara lokal, kalaupun Tukul tidak mengerti, setidaknya itu akan jadi umpan bagus untuk lawakannya) I'd prefer to write about life. Tapi, saya bukan jurnalis. Saya hanya tahu berkhayal, merefleksikannya (lagi-lagi istilah berakhiran 'si') pada kehidupan saya, dan menuangkannya dalam tulisan. Saya tidak tau cara membuat feature human interest dan mewawancarai orang seperti anda. Dengan begitu saya bisa mengedepankan kenyataan hidup dengan cara fantasi yang disukai banyak orang."

*applause cheering*

"Oke, sejak kapan anda menulis ?"
"Sepanjang saya bisa mengingat, selama itu pula saya sudah mulai menulis."
"Baik, kalau begitu anda lebih baik punya alasan bagus untuk melakukannya?" (Mungkin Jay Lenno yang akan bertanya dengan cara seperti ini) Kalimat lain untuk bertanya "what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?" The second trickiest question for all writers.

Bahkan dalam bayangan saya, saya terdiam selama beberapa detik. Lalu berkata, "Excuse me ?" hanya untuk memanjangkan waktu berpikir.

Di setiap wawancara yang dilakukan oleh semua penulis, saya menunggu pertanyaan itu keluar. You have to answer it smart enough, or else, people gonna mock you all the way to your grave, as an un-visionary writers.

Saya mencoba, "Saya menulis untuk memberikan pengetahuan dalam cara yang menghibur...??" Terlalu basi.

Coba lagi, "Saya ingin menulis sesuatu yang bisa menginspirasi semua wanita, agar menjadi kuat." Hmmmm...too feminist...

Sekali lagi, "Menulis membuat saya menjadi kuat. Maka saya terhubung dengan semua pembaca di seluruh dunia...bla..bla..bla..." Membingungkan, terlalu lemah, dan secara bersamaan sangat self-centered.

Lalu saya mengingat-ingat dengan khusyuk, alasan saya pertama kali menulis. ...... ..... ......... . Oh tidak, saya tidak punya alasan! Saya hanya suka menulis. Menggerakan jari saya. Mengsinkronisasikannya dengan isi kepala saya, dan menumpahkan segala keluhan hati saya. Lalu membaca nya ulang, hanya untuk memberikan sensasi keberhasilan yang aneh, dan tetap merasakan element of surprises-nya, meskipun semua itu berasal dari kepala saya sendiri. Saya merasa mengenal diri saya ketika saya menulis. Mungkin karena huruf-huruf itu lebih nyata dibandingkan perasaan. Atau menumpahkan sesuatu dalam tulisan, selalu membuat saya seperti habis menyelesaikan salah satu puzzle bagian kehidupan saya. Puas dan lega. Hanya karena itu sebenarnya.

"Well, saya menulis hanya karena saya menyukainya. Saya menulis untuk mengenal diri saya. Just because I like it that bad, that's it,"

Please, ingatkan untuk menjawab pertanyaan 'writing purpose' itu dengan kalimat diatas. Karena saya tidak ingin 'mengarang' sesuatu, sebagai alasan melakukan hal yang paling saya sukai di dunia. Saya hanya ingin jujur. Yah, setidaknya tentang satu hal itu. I don't care if in the end, people mock me to my grave, as an un-visionary best seller writer.

and in my fantasy of finally-answering-the second-trickiest-question-for-every-writers, i get 'boo'-ed, instead of cheering applause.

*people boo-ing*

***

"The last question, who is your favourite author, and give me also the title please..." Oprah said.

"I Like Paulo Coelho's Veronika Decides to Die, because that's the only book that I read to the end, in one single night. Just like how much you love my book, Oprah...." Yes, I beat Oprah up at the trickiest part!

*big smile for the close up*


==================
picture : http://latimesblogs.latimes.com/photos/uncategorized/2008/10/16/laptop_1016.jpg

Wednesday, January 6, 2010

darker you, darker me.




" I like the darker you. So i could cheer you up, and feel like I'm special and important to you. I hate the darker me, because even if you're not there to cheer me up, you're still special to me..."

taken from my "twitter" page, January 5th, 2010
photo by : Rizky Amalia

a (semi)mental-breakdown.

merasa sendirian dan mulai tidak nyaman
mudah menangis
gundah tanpa alasan yang tepat
mengumpat hanya karena hal-hal remeh

Semua symthomps yang bisa diketemukan pada semua wanita di usia twenty-something.... dan pada diri saya.

Am I in the middle of mid-life crisis, or Am I having this (semi)mental-breakdown ?

***

Bergaul dengan banyak teman yang berusia jauh lebih tua, membuat saya sangat mengetahui bagaimana rasanya ada di bagian paling kritis--katanya--dari kehidupan perempuan. Twenty-something. Start on your 22nd or 23rd, and last till you reach another part of life, thirties.
Waktu itu saya hanya manggut-manggut. Saya masih belasan tahun, menunggu ulang tahun saya yang ke-20. Katanya sebentar lagi saya akan memasuki masa-masa paling absurd dari kehidupan saya secara keseluruhan. Meskipun ditakut-takuti, bisa saja saya tidak bisa keluar dari bagian kehidupan itu hidup-hidup, saya malah merasa sangat bersemangat. Di otak saya, yang entah kenapa selalu tertantang untuk melakukan hal-hal buruk--dan selalu kalah (baca : rokok, alkohol, dan hal-hal lain yang tidak enak jika disebutkan)--akan menyenangkan tampaknya memiliki tantangan baru dalam hidup. Maklum, saya baru saja keluar dari masa teenage yang meskipun juga fluktuatif, tapi sangat terasa aman.
Temang saya tertawa melihat sunggingan senyum bersemangat saya. Katanya, "Lihat aja nanti booo! Gue tunggu di sebrang cuma, untuk ngetawain dan bilang, 'what i told 'ya...'"

***

And here I am.

In my not-too-far-from-23-where-it-all-started. Entah ini hormonal atau apa, yang jelas saya merasa menjalani kehidupan saya dalam PMS berkepanjangan. Grumpy, jarang tersenyum, menarik diri dari keramaian, dan mulai banyak mengeluh. Koleksi pakaian yang kurang update (padahal punya satu lemari penuh, yang bahkan sudah sulit ditutup), pekerjaan yang menyebalkan (padahal hanya satu-satunya pilihan yang bisa bikin orang iri, karena waktu yang sangat 'bebas'), kehidupan pergaulan yang membosankan (padahal bertemu orang baru setiap hari, tapi tetap malas memulai hubungan), dan ini itu, banyakkkkk sekaliii. Dan puncaknya, saya mulai sering menangis dalam tidur. Untuk hal yang saya tidak tahu apa. Mungkin ini rasanya menjadi Heath Ledger sebelum meninggal, mencoba melepaskan sosok asing dalam dirinya--yang ternyata adalah Joker, tokoh yang diperankannya sepenuh hati di film terakhirnya--lalu insomnia, hingga frustasi...dan mati.

***

Saya adalah Spongebob dalam episode serial Spongebob Squarepants--yang ironisnya--adalah kesukaan saya. Episode RockBottom.

Dikisahkan Spongebob pergi berlibur bersama Patrick. Namun Spongebob malah tertidur dalam bis dan nyasar ke sebuah kota bernama RockBottom. Pintu masuk kota ini cukup absurd, yaitu sebuah jalan turunan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Kotanya pun sama absurdnya, dengan orang-orang aneh yang tidak dikenal Spongebob, yang bicara dalam bahasa aneh, yang bahkan tidak bisa dibedakan jenis kelaminnya.

Di kegelapan kota asing tersebut, Spongebob berdiri di tepi jalan. Senternya mati, dan hari mulai gelap. Jadwal bis pulang terakhir sudah lewat. Dan, Patrick secara tidak sengaja malah meninggalkannya.

Sendirian. Gelap. Asing. Mendadak Spongebob merasa tidak mengenal dirinya lagi.

***

Menganalogikan kehidupan saya dengan sebuah episode serial kartun, dengan tokoh utama seonggok spons pencuci piring berwarna kuning, memang cukup absurd. Saya sebenarnya melakukannya hanya untuk membuat tulisan ini menjadi sedikit sarkastis dan (berharap) jadi lucu. Tapi sekarang lucunya, saya malah merasa takut.

Jika di episode itu, Spongebob dibuat pulang ke Bikini Bottom dengan selamat, dan meninggalkan Rock Bottom selamanya (maaf, untuk yang belum menonton episodenya, dan saya malah membocorkan endingnya) oleh sang penulis, lalu bagaimana nasib saya ?

Apakah 'Sang Penulis' kisah hidup saya akan melakukan hal serupa ?