Friday, December 11, 2009

shiver

So I look in your direction,
But you pay me no attention, do you.
I know you don’t listen to me.
’cause you say you see straight through me, don’t you.

On and on from the moment I wake,
To the moment I sleep,
I’ll be there by your side,
Just you try and stop me,
I’ll be waiting in line,
Just to see if you care.

Did you want me to change?
Well I change for good.
And I want you to know.
That you’ll always get your way,
I wanted to say,

***

so maybe, shiver has always been my favourite coldplay song.

di bagian lalu dalam hidup saya, fix you adalah lagu coldplay kesukaan saya. mungkin karena liriknya yang menyentuh sisi personal saya saat itu, atau mungkin karena beberapa orang berkata Chris Martin menulis fix you untuk Gwyneth Paltrow, untuk membuatnya merasa lebih baik saat ayahnya meninggal. sweet. Atau mungkin juga karena fix you mempunyai bagian klimaks yang bisa membuat saya merinding.

Tapi shiver, seperti arti harfiahnya, selalu membuat saya bergetar. Dingin dan sedikit dark, namun selalu sukses mengajak saya menyanyi dengan emosional. Saya menyukai sisi emosional dan sentimentil yang dibawa lagu ini. Beberapa orang mempercayai lagu ini ditulis oleh Chris saat ia jatuh cinta kepada Natalie Imbruglia. Chris menolaknya, yang jelas, katanya, lagu ini memang ditulis untuk seorang yang special. Tapi hingga saat saya menyanyikan lagu ini 5 menit yang lalu, saya lebih menyukai spekulasi pertama. Bahwa lagu ini ditulis untuk Natalie, diluar kebetulan yang sangat luar biasa dimana Natalie juga memiliki lagu hits berjudul sama.

Perasaan saya hanya menginginkannya begitu, karena begitu indah mungkin kedengarannya. Chris jatuh cinta, bertepuk sebelah tangan, lalu membuat sebuah lagu patah hati yang sangat dark. Sangat datar, Bahkan lagunya pun tidak memiliki klimaks yang spesifik. Tapi betapa spesialnya lagu ini, jika memang benar ditujukan untuk Natalie. Lagu patah hati yang tidak memojokan, tidak menghakimi, dan tidak memaksa.

Pada kenyataannya saya tidak tahu apakah Chris masih menyimpannya dalam hati. Karena seperti kita tahu, Chris sekarang bersama Gwyneth, HAPPY. Tapi yang jelas, lagu itu bukan untuk Gwyneth. Lagu itu untuk seseorang yang sangat special, Natalie.


I want to be Natalie in your life. Don't judge me just because i broke your heart before, just wrote me a nice song, and sing it to the world...
life goes on, but the song remains.

***


Don’t you shiver? shiver, shiver

I’ll always be waiting for you,
So you know how much I need ya,
But you never even see me, do you?

And this is my final chance of getting you.

On and on from the moment I wake....
Did you want me to change? ...

Sing it loud and clear.
I’ll always be waiting for you.

Monday, December 7, 2009

di suatu malam minggu

"... gue ngga bisa bohong, bahwa gue bener-bener percaya sama lu. Gue percaya lu akan jadi sesuatu...."

*It feels really nice, when somebody believe that you're something, instead of nothing. thank you....

an unimportant message for important people

Dear Mommy and Daddy,

Please let me do what i really want.

I want to move to Bali and finished my book (our book, friend!)
I want to travel around the world and try living abroad
I want to have my own fashion line, and work myself full time on that

Dear Mommy and Daddy,
Just let me see the world...Because, maybe, it's just about time...

Yours Sincerely,
daughter and an independent person

***

Friday, December 4, 2009

similarity equal soulmate, question mark.

"love is not about similarities , miracles, or faith. It's just about what's right." --me

***

Adik tokoh Tom dalam film (500) Days of Summer menasihati kakaknya, yang clueless dalam urusan cinta, "Not just because she likes the same quirky things as you, making her your soulmate..." Tom sedang semakin tergila-gila akan Summer, tokoh perempuannya, karena sama-sama menyukai The Smiths.

***

Adik saya, jauh sebelum film (500) Days of Summer dirilis, pernah berkata, "Elu ngerasa dia bener dan kalian cocok, bukan karena kenyataannya gitu. Dasarnya emang kalian SAMA aja...." (*hebat juga adik saya, jangan-jangn dia inspirasi dibalik film itu) Saya tertegun.

***

Saya sejujurnya adalah pencari soulmate sejati. Saya, meskipun menolak untuk menunjukkan, sangat percaya pada silly little things called love, yang diragukan banyak orang. Maka semenjak umur saya sangat muda, saya mulai mencari dengan penuh percaya diri.

Soulmate : karena jika diterjemahkan membuat artinya semakin membingungkan dan absurd, saya mulai membuat definisi sendiri, definisi sok tahu lebih tepatnya " seseorang dengan banyak kesamaan dengan saya, yang membuat saya jatuh cinta dan pastinya nyaman, yang akan menemani saya sampai akhir hayat."

Polos saya memang, dulu.

Susah sekali ternyata menemukan kesamaan itu. Maka, jarang yang benar-benar bisa membuat saya jatuh cinta, dan semakin saya mencari, semakin banyak kandidat yang datang, semakin jauhlah saya dari soulmate saya. Karena saya mencari, kesamaan, kecocokan, ke-monokrom-an (???)......

***

Bertemulah dengan satu kandidat lagi. Saya sedang sangat lelah mencari, dan dia datang begitu saja. Setelah scanning sedikit soal bau badan dan selera musik, saya memutuskan bersamanya. Dalam berbagai macam hal kami cocok. Konsep beragama, gaya hidup, selera musik, sampai gaya bercanda, dan kegemaran makan. Saya hampir merasa menemukan soulmate saya, sampai....

Suatu hari saya bangun dengan perasaan gamang yang aneh. Saya merasa lelah, tidak lengkap, dan kesepian. All of these odd simililarities between us, started to killing me. Mungkin kami terlalu banyak bersama, membicarakan hal yang sama, dan makan hal yang sama, sampai chemistry itu hilang entah kemana. Entah apakah chemistry itu pernah ada atau tidak. Saya terlalu sibuk mencari kesamaan, disaat seharusnya saya banyak-banyak mencari seseorang yang bisa melengkapi saya, dan saling melengkapi.

Tanpa kesamaan, hanya karena dia terasa benar.

***

"I thought you were right, but maybe, I'm not right for you..." --Summer to Tom, on their favourite bench.

Well, baby, let's think about us again....

Friday, November 27, 2009

kisah si pembela kebenaran & si menyebalkan

Penokohan #1 : Si Pembela Kebenaran

Jika dia berjalan, dia akan memandang ke sekitarnya lalu mulai membaca tanda. Bukan menilai, bukan juga menghakimi, hanya melihat yang kebetulan bisa ia rasakan. Kadang-kadang dia benci menjadi satu-satunya yang mengerti, karena instingnya pasti akan membawanya ke berbagai kejadian aneh, yang kadang bisa membuatnya ingin melakukan sesuatu, atau setidaknya, muntah. Dia hanya bingung, kenapa manusia suka sekali mengurusi urusan manusia lainnya. Padahal seperti namanya, urusan pribadi itu, sifatnya PRIBADI.

Penokohan #2 :Si Menyebalkan

Jika berjalan, dia akan dinilai menyebalkan oleh banyak orang. Kelihatan sombong, acuh, dan pemilih. Padahal dia hanya selalu berusaha menjadi dirinya sendiri. Yang bukannya sombong, tapi hanya pelupa. Bukannya acuh, hanya terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri, untuk ingin tahu urusan orang lain. Bukannya pemilih, hanya selalu punya standar akan segala sesuatu, dan standar itu TINGGI.

***

Babak I

Si Pembela Kebenaran bertemu Si Menyebalkan di tengah jalan. Orang-orang di sekeliling mereka sedang kasak kusuk menghakimi Si Menyebalkan. Katanya orang itu jahat dan tidak punya hati. Si Pembela Kebenaran maju dan berdiri di sebelah Si Menyebalkan. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, tidak boleh ada orang yang menghakimi orang lain seperti itu, tanpa memahami siapa dia sebenarnya. Lagipula siapa yang pernah memahami Si Menyebalkan. Untuk mengenalnya saja, orang terlalu banyak alasan untuk mau.

Babak II

Berada di bagian jalan kehidupannya yang paling asing, Si Menyebalkan mulai merasa lelah menjadi orang lain. Toh hasilnya sama saja, tidak ada yang mengerti. Di saat gelagat orang-orang yang mulai ingin menambahkan satu lagi label pada dirinya--senseless--dia bertemu Si Pembela kebenaran. Entah kenapa, dia mau berdiri di sebelah Si Menyebalkan, dan menemaninya menghadapi orang-orang. Si Menyebalkan baru saja disadarkan, mungkin saja ketulusan memang ada di dunia ini.

Babak III

Si Pembela Kebenaran dan Si Menyebalkan berjalan pulang bersama. Dan mungkin ini adalah awal sebuah kebersamaan yang aneh, antara dua orang berbeda keyakinan. Tapi satu hal mereka sepakat, pertemanan memang seharusnya tulus-tulus saja.

***

Pesan Moral

"Jangan pernah berkompromi dengan apapun yang kita yakini. Karena suatu saat, di tengah perjalanan hidup ini, mungkin saja kita dipertemukan dengan orang yang bersedia memahami. Tanpa tendensi dan ego, hanya karena ingin menemani."

Thursday, November 26, 2009

sayang dan ukuran

Beberapa ukuran sayang pada keluarga :

+ lulus kuliah cepat-cepat
+ tidak punya pacar gondrong
+ rajin membereskan kamar
+ tidak suka pulang malam
+ punya kerjaan tetap
+ tidak suka memakai jeans robek ke acara keluarga

Saya hanya punya setidaknya satu dari ukuran sayang tadi. Tapi bukan berarti saya tidak sayang keluarga. Saya hanya suka pakai celana robek saya karena nyaman, tiak membereskan kamar karena tidak sempat, pulang malam2 karena banyak pekerjaan, lalu kebetulan jatuh cinta pada pria berambut gondrong, dan tidak punya waktu untuk ribut tidak penting mengurusi panjang rambutnya. Untuk cepat lulus kuliah, oke saya mungkin malas, lalu frustasi, dan sekarang sedang bersemangat.
Saya ingin lulus. Tapi bukan untuk membuktikan saya sayang keluarga. Saya ingin lulus saja tanpa dipaksa dan dikatai 'bullshit'. Karena saya seorang anak, bukan tetangga yang butuh banyak alasan untuk menyayangi.

Terima kasih ayah, sudah membuat malam ini saya berpikir, sesudah ini semua selesai, saya harus berhenti menjadi boneka siapapun. Saya pegang janji saya, dan pegang janji mu untuk membiarkan saya, kali ini, memilih jalan saya sendiri. Bukan karena saya tidak sayang keluarga, tapi karena saya ingin menyayangi tanpa ukuran apa-apa.

hectisism.

A word that reverse to a hectic situation, which made u want to jump from an 11 storeys building and die instantly.
--me

Monday, November 23, 2009

ungu.jingga.muda

Tidak sengaja saya melihat langit kekuningan itu. Jarang sekali muncul di tengah musim hujan yang tidak menentu ini.

Seketika saya merasakan kamu.
Lalu ada semacam film yang diputar dalam mode rewind dalam otak saya, dengan kecepatan 24 x. ayam terenak di dunia. mobil derek. batik. hujan. boromeus. sop kaki kambing. yoghurt. toko buku. tangis. perempuan itu. kosong. weker biru. kanebo kuning. kompor gas. bawang putih. pasta. daging merah. diskusi feminis. soda. ceumar. hujan. ujang. ujangwati. mobil hyundai matic tidak bernama. gambir anom. batik agung. muara rajeun. lampu merah. gelap. lampu biru. alkohol. ganja. time after time. bertengkar. bermesraan. s. bunga matahari. si buma. spiderman 3. lisung. bukit bintang. jati nangor. tol cipularang. ciuman.ciuman.ciuman. menangis. tertawa. mentertawakan. bawal aprie. bercanda. kamu. saya. kita. ungu. jingga. muda.
Tentu saja tidak semuanya saya ingat *kalau-kalau kamu membaca dan protes.

Mungkin tidak akan ada banyak hal yang saya ingat dalam otak saya yang sulit sekali mememori ini. Tapi saya akan selalu ingat ungu.jingga.muda. Warna yang membuat saya jatuh cinta pada langit sore, dan kamu.

aku kamu dia kita (akan) pulang


"good things take time honey, just be patient a little bit more."
Saya merasa salah bicara, karena dia bilang dia menangis. Meskipun saya tidak melihat, saya tahu dia menangis, tulisannya terlihat sedih.

***

Tidak biasa-biasanya dia begitu. Lesu, tidak teriak-teriak tidak jelas, dan tidak bercerita dengan jemari yang merekah kemana-mana. Bajunya memang berwarna cerah seperti biasanya. Tapi jelas hari ini di tidak baik-baik saja.

Entah apa yang sedang menimpanya, saya tidak tahu secara detail. Yang jelas ini bukan masalah cinta biasa. Masalah cinta ini sudah jadi perkara 'konsep diri'. Pada akhirnya saya ngobrol juga soal 'konsep diri' ini dengannya. Bukannya malah tenang, dia terasa tegang.

Dan menangislah dia setetes demi setetes. Membuat maskara yang selalu dipakainya luntur. Seketika dia tidak terlihat seperti dia. Dia bilang dia lelah dan merasa lemah. Lalu menangis lagi.

Saya mengerti. Sangat mengerti. Merasakan perasaan tak berdaya, yang akan sangat asing, kalau kita terbiasa hidup tanpa siapa-siapa dan selalu berusaha mengurus diri kita sendiri. Berusaha menepis cibiran orang, dan tatapan menyepelekan yang sering kali datang. Ingin berlari keluar, tapi ingin pulang.

Mungkin pada akhirnya kita semua harus pulang. Menemui mereka yang pasti tidak akan membiarkan kita jatuh. Dan memahami kita seperti kita apa adanya, tanpa label , tanpa penilaian. ayah, ibu, adik, kakak. Keluarga.

Dalam tangisnya, dia berkata harus bicara pada ayahnya. Ya, itu benar.

Hanya mereka yang akan menerima kita setelah kita berlari jauh, kelelahan, dan ingin beristirahat.

***
"Jika lelah beristirahat lah, dan sandarkan kepala mu di bahu seseorang. Mungkin itu akan membantu mu berbaikan dengan diri mu sendiri."

seperti debt collector

seperti debt collector, saya yakin dia akan menagih sesuatu kapan-kapan.

Saya tidak ingin berhutang pada mu, hanya karena kamu menginginkan saya.

Maka saya akan diam, dan terus tidak menginginkan mu.

Saya
Hanya
Tidak seperti itu.

pengakuan yang harus diakui

"(nyengir) ehmm...i'm late ..."

"what (datar)?"

"Late...I'm late 30 minutes for morning show...(sambil menyiapkan alasan)"

"owh, yes...(melanjutkan baca koran)."

"..."

well, harus diakui itu pengakuan ter-kaku yang pernah saya akui. Tapi apa boleh dikata, pengakuan harus tetap dilakukan karena harus, khan ?

mari meramal lewat music folder

"Being bold is not just about appearence, it's about having standard"--me

***

Membuat sebuah keputusan untuk bersama seseorang, tidaklah mudah. Kita harus menimbang, menilik, mengintip, bahkan hingga mengintil. Setiap orang mempunyai kategori yang berbeda, dan batasannya masing-masing. Sama seperti membeli barang di pusat grosir, ada yang banyak permintaan, ada yang pasrah dengan tawaran penjualan.

Untuk saya pengambilan keputusan macam ini, tidak perlu banyak requirement. Hanya tiga point yang menjadi highlight saya :

1. Chemistry
2. tidak bau badan
3. selera musik yang bagus

Nah, point ke-3 ini seringkali membuat saya dibilang 'nggak banget' oleh beberapa teman yang tahu. Katanya apa hubungannya selera musik, dengan memilih pasangan. Well, i have my own reason.

I believe that your playlist or music folder described you best.

Seperti tulisan, yang bisa menggambarkan isi otak penulisnya, dan lukisan yang bisa menuliskan perasaan hati si pelukis.

Tapi tidak semua orang bisa (dan suka) menulis, apalagi melukis. Yang semua orang bisa lakukan adalah menikmati. Dan yang paling mudah untuk dinikmati adalah musik. Musik tersedia dalam segala selera. Selera pasar yang cheesy, selera music-expert yang sulit dimengerti, atau selera jujur yang aneh.

Saya tidak bilang selera saya yang mana, atau lebih baik punya selera musik kategori mana. Tapi yang jelas saya punya standar. Itu khan yang paling penting.

Jadi standar sih gampang, punya standar kadang-kadang sulit.

Saya ingat-ingat folder musik mantan-mantan kesayangan saya. Tidak semua bagus, tapi mereka punya standar. Yah, punya standar itulah yang paling penting. You have standard, then u're are bold enough to choose the best for u...

Friday, November 20, 2009

a (re)call to a (good)friend

" ...And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war..."

(the call, by : Regina Spektor)

* dedicated to a friend, "I'll fill your book to the very end, because you've had fill mine..."

Thursday, November 19, 2009

undeniable awkward moment

awkward moment #1

"Selamat sore, dengan mas x..."
"Selamat sore menuju malam, dengan siapa ya..."

*saya cengengesan kesel, mungkin memang ada perbedaan waktu 12 jam

=============================

awkward moment #2

"Jadi yang disediain apa aja ?"
"Paling cuma sound aja, ngga ada alatnya..."
"alat apa maksudnya ?"
"eh...mmm....alat musik"
"(dengan nada tersinggung) oh, pasti saya bawa sendiri lah, mbak....."

*untung saya cepat mengarang alasan, "soalnya ada beberapa yang minta disediain alat (sulap)"

==============================

awkward moment #3

SMS saya kirim
"Ini no saya : 081220683xxx atau 92834xxx "
SMS dibalas
"Ini no saya : 081220683xxx atau 92834xxx (yang GSM khan no saya mbak)
Membalas SMS lagi dengan malu
"Maaf saya sedang sangat stress, yang benar 085861179xxx..."
SMS dibalas lagi
"Oooo.....maklum..."

*agak tidak sensitif ya mas, padahal saya sudah curhat colongan

==============================

awkward moment #4

"Maaf mbak, boleh pinjam sajadah ?"
"Oiya boleh (sambil memberikan sajadah)"
"Sholatnya dimana ya mbak...?"
"Di sini aja (sambil mengantar)"
"Kalau kiblatnya kemana ?"
"............(bingung) kemana sih ? Maaf, tidak sholat"

*saya biarkan saja dia menyangka agama saya kaballah

==============================


(semua didengar oleh seorang PD radio wanita di Bandung, yang geleng-geleng, lalu ingin guling-guling)

inspired by the addicted blog : www.ngupingjakarta.blogspot.com

Saturday, November 14, 2009

when life isn't good



kata adiknya, yang terpisah jarak dua kota,
" gue ingin nangis, tapi ngga tahu apa yang gue tangisi...."

kata temannya, yang ditawarinya pekerjaan,
" gue nggak tahu gue harus gimana...."

kata dia kepada dirinya sendiri,
" gue tidak baik-baik saja.... gue ngga tahu apa yang gue inginkan..."
alih-alih berkata hal yang sama kepada temannya yang menemani malam itu, dia malah,
"tenang aja.... gue baik-baik aja. Ini cuma syndrome twenty something yang aneh."

Hidup tidak pernah sesempurna itu untuk beberapa orang. Dia berpikir, adiknya, temannya, dan dirinya sendiri sedang ada di dalam bagian terendah hidup mereka. Mereka saling terhubung. Lewat sambungan telepon, lewat dunia maya, dan waktu yang menghampiri mereka dengan kabar buruk.

Hari ini dia merasa tidak sendirian.
Menghadapi kehidupan yang sedang membelakangi.
Atau mungkin dia sedang membelakangi kehidupannya sendiri.
Tapi semua ini harus berubah.
Setidaknya dia tidak sendirian lagi.

when life isn't good
it's glad to know you're not alone......

Friday, November 13, 2009

S.I.A.R.A.N. P.A.G.I


1...2...3...4...5...6...7.............14 hari

Empat belas hari tanpa kalimat :
" Langsung dari Surapati Core F21, Sky Etalase Pagi..." (oh betapa saya kangen pada Diponegoro 21)

Empat belas hari tanpa menyebut nama yang saya benci itu :
"Ginna Raisha" (nama saya Ginna Finalisssss....!!!)

Empat belas hari tanpa bangun pagi buta :
" dan interview client padahal belum mandi, mandi di kantor, dan dandan seadanya " (well hey, i'm not a morning person !!!)

Empat belas hari tanpa menahan emosi :
" Sky Fm sekarang ngga banget deh...lagunya kampungan...." (sialan playlist gue tuh a*jing!!!!)
atau....
" Salam-salam buat pacarku si anu, i lap yu poreper...." (masihhh pagi neng....moal dikawiiinnnn....)
daaannnn....
" F**K....!!!!! kenapa sih internet mati, headset kresek-kresek, dan SMS nge-hang............" (ganggu mood pagi aja, dan biasanya saya akan uring-uringan seharian)

Empat belas hari tanpa :
"S.I.A.R.A.N. P.A.G.I"

Saya tidak pernah menyangka, semua ritual siaran pagi itu akan membuat saya kangen. Luar biasa rasanya ingin siaran lagi. Yak, istirahat saya tampaknya sudah cukup. Saatnya untuk kembali berkarya, dan menikmati moment-monent terakhir saya disana (well, kalau bisa sih minus error-error nya, tapi kalau itu terlalu muluk, biarlah, yang penting siaran lagi). Entah didengarkan atau tidak, saya hanya ingin berkarya. Siaran untuk saya sendiri, sebentar lagi...

"Put the smile on your face, and say good morning.....!!!!"

dwi andika : no offend, it's just my subjective thought


tidak jelas : checked ganggu : checked ga laki : checked selera fashion buruk : checked

well, well, dengan segala requirement di atas, pantaslah bila dia menjadi artis sinetron belaka, yang seringkali digosipkan bersama artis-artis wanita yang tidak kalah mengganggu. Pantas pula bahwa saya seringkali merasa terganggu melihat kemunculannya di televisi.

Tapi alangkah mengganggunya, melihat tayangan gosip barusan. Dimana Dwi Andika ini memamerkan sketch-sketch desain barunya, hasil perkuliahan di salah satu sekolah fashion terkemuka di Jakarta. Bukan karena desainnya yang aneh (yah, ini memang sangat subjektif, menurut saya desainnya sangat aneh), atau dia membuat fashion designing jadi sangat tidak keren. Ini hanya masalah iri dengki. SAYA INGIN SEKOLAH DESIGN. Kenapa DWI ANDIKA yang sekolah design ????????

made me jealous : checked !!!!

*congrats dude !

saya si bunga matahari, mmm.... benarkah ?




"...you're not Carrie, you are Ginna Finalis! bungamatahari! yang selalu bikin kumbang iri. you know what i mean, darl."

mmm...maaf tapi saya tidak tahu....
Justify Full
***

Teman saya itu orangnya memang misterius. Kadang-kadang dia membuat saya amaze. Dia seringkali lebih tahu diri saya, dibanding saya sendiri. Saya saja lupa sejak kapan saya adalah si bunga matahari. Apalagi si bunga matahari yang selalu bikin kumbang iri. Ahhhhh....sejak kapannnn........??? Siapa pula kumbang ?

Begitulah hidup bersama-sama dengan penduduk dunia yang lain yah. Harus siap dengan komentar, judgement, sampai pujian yang mereka buat. Well, terus terang saya selalu paling tidak siap dengan pujian. Pujian bikin saya sesak napas, apa benar ya saya seperti itu.....kok mereka lebih tahu....??? Lagipula, saya harus membalas seperti apa ? Bilang 'iya dooongg...' kok rasanya ge-er betul. Bilang 'terima kasih...' terlalu basa-basi. Tidak bilang apa-apa, nanti dikira sombong. Kalau cibiran atau ledekan, jauh lebih mudah untuk dihadapi. Tinggal senyum sambil pergi, dan mengibaskan rambut dengan cool. Saya tidak pernah diajari untuk perduli sama hal-hal semacam itu.

Maka, waktu teman saya itu mengomentari sebuah notes saya di facebook, saya tidak tahu harus bagaimana. Mungkin saya harus bilang terima kasih saja. Tapi, saya tidak tahu bagaimana harus bilang terima kasih, tanpa terlihat ge-er, seperti artis-artis infotainment itu. Jadilah saya menulis saja.

***

"...gw percaya ketika lo sedang bikin titik-titik, kadang gak keliatan, kadang samar, kadang rapuh, kadang bolakbalik kita hapus. tapi kalau kita lakuin itu dengan konsisten, titik-titik itu bisa jadi garis lurus yang tebal dan kuat. lo dan gw sedang 'menitiki' sesuatu, ssshhh! orang-orang saja yang ngga tau dan mungkin ngga mau tau. itu urusan mereka."

Kalimat lanjutan dari teman saya. Nah, yang ini saya sangat setuju. Orang-orang kadang memang ngga tahu, ngga mau tahu, dan.....sok tahu. Biar saja, itu urusan mereka.

Thursday, November 12, 2009

gara-gara nyamuk garis-garis


Saya paling suka motif garis-garis. Entah kenapa. Yang jelas sebagian besar baju saya bermotif garis-garis. Tidak peduli orang-orang berkata saya kelihatan gendut dengan motif itu, saya suka saja (lagipula sejak kapan saya perduli dengan orang lain).

Tapi garis-garis kali ini, saya benci sekali. Bahkan saya belum sempat melihatnya. Tapi seingat saya akan pelajaran biologi dulu (yang ibu gurunya namanya Bu Rini), katanya nyamuk aides aigepty itu juga garis-garis. Warnanya hitam-putih pula, padanan garis-garis kesukaan saya. Nyamuk pembawa demam berdarah yang fashionable ini, benar-benar tidak tertebak. Kalau penyakit biasanya identik dengan yang kotor-kotor, dia malah ada di air yang jernih. Saya jadi menyesal belakangan ini rajin bersih-bersih. Karena kalau tidak begitu, bisa jadi saya tidak jadi tertimpa musibah.

Demam Berdarah.
Nyamuk itu membawa penyakit yang dulu saya kira biasa saja. Saya pernah dengar sih demam berdarah itu mematikan, tapi saya tidak tahu, demam berdarah itu memang benar-benar demam yang berdarah. Membuat tubuh panas, bahkan hingga kejang, dan sel darah merah ikut menurun drastis. Well, saya telah berharap penyakit ini lebih kreatif dibandingkan sekedar namanya. Nyatanya, demam berdarah ini hanya 'menyebalkan'.

Membuat saya dua minggu di rumah sakit, pipis di atas tempat tidur, makan makanan yang bukan makanan manusia (sepertinya), menonton reality show seharian, dan tidak bisa berbuat apa-apa selain : mengeluh.......

Hmmm...mungkin trenyata saya memang pengeluh seperti yang selalu dikeluhkan pacar saya. Mungkin itu hikmahnya.

Gara-gara nyamuk garis-garis itu, saya lebih mengenal diri saya. Mungkin...

*salam kenal untuk nyamuk-nyamuk bergaris hitam-putih di seluruh dunia, semoga ini pertemuan terakhir kita

this time i write for my self

yes, this time i will write for myself

ya, kali ini saya akan menulis untuk diri saya sendiri

i will allow people to read my mind once again, but not for them, it's just for me to let them know

saya sekali lagi akan membiarkan orang lain membaca pikiran saya, untuk saya yang membiarkan mereka tahu, sekali lagi....

semoga siapapun tidak keberatan, bahkan ketika namanya ada dalam tulisan (dan pikiran saya).

Welcome....
Selamat datang....

Di dunia saya yang dipenuhi garis-garis berwarna-warni
in my colorful-striped world

Wednesday, June 10, 2009

strawberry on the shortcake

kamu dan diri mu
kamu dan kehidupan baru mu

ijinkanlah saya menjadi bagiannya

                                           ****

a piece of cake, with a strawberry on the top of it.
Where would you start to eat ?

the cake first, and you left the strawberry for the last bite.
or
you take the strawberry first, and after that, you start eating the cake untill the last bite...

Sebuah film menganalogikan cara memakan cake ini, sebagai cara menyayangi.

Kebanyakan orang akan memilih cara pertama. Memisahkan strawberry dari cake mereka, meletakkannya di pinggiran piring, dan memakannya sebagai suapan terakhir yang memuaskan, setelah semua cake itu habis. Alasannya, karena mereka sangat menyukai strawberry itu, dan ingin menyimpannya dulu, untuk dinikmati paling akhir. Untuk memberikan kepuasan akhir yang nikmat.

Sebagian orang akan melahap strawberry itu lebih dulu, dan menghabiskan cake nya belakangan. Bukan karena mereka membenci strawberry. Mereka melakukannya justru karena mereka sangat suka strawberry. Dan apapun yang disukai, harus menjadi yang 'pertama'.

Cake adalah kehidupan.
Dan strawberry adalah segala sesuatu yang bisa membuat hidup ini jauh lebih indah.
Seseorang yang penting.
Yang disayangi melebihi apapun, bahkan melebihi kehidupan itu sendiri.

Kamu adalah strawberry diatas cake saya. Seseorang yang penting, yang membuat hidup saya lebih berwarna. Namun saya memilih untuk memakan strawberry saya terakhir.

Karena saya ingin kamu menemani saya hingga gigitan terakhir kehidupan.

Seperti strawberry di sisi piring, yang menunggu untuk dihabiskan, ketika yang empunya sudah berhasil menelan kehidupan dengan sukses, dan telah menemukan nikmatnya kehidupan. Untuk kemudian berbagi manisnya hidup, dengan sepotong strawberry dengan warnanya yang merah dan rasanya asam, untuk membuat kehidupan makin terasa manis.

                                       ***

kamu dan diri mu
kamu dan kehidupan baru mu

ijinkanlah saya menjadi bagiannya

seperti dulu, waktu hanya ada kamu dan saya....

Tuesday, June 9, 2009

mulai menulis (lagi)

ketika bicara bukanlah pilihan
saya menulis

ketika menulis bukanlah pilihan
saya menangis

menangisi semua yang terlambat saya lakukan
menangisi semua yang terlalu cepat saya putuskan
menangisi semua kombinasi kepahitan yang datang bernama kehidupan

dan kegetiran akan mengalir seperti tulisan

Lalu saya bisa mulai menulis lagi dengan tenang...

Sunday, March 22, 2009

....(they said i shouldn't publish)

yes, they said I shouldn't publish my blog. I don't know why....

As I know, blog is my only tools to widely communicating....

why
why
why...???

Tuesday, March 17, 2009

+10

Banyak hal yang mencantumkan +10 di permukaannya :

+10 di mainan anak-anak
Yang concern pasti ibu-ibu. Karena kalau anaknya masih di bawah 10 tahun, bahayanya bisa macam-macam. Tersedak (mainan), keracunan (mainan), atau....ya anaknya tidak bisa memainkan mainan tersebut. Anaknya pasti tidak perduli. Karena buat mereka, mainan ya untuk dimainkan, bukan untuk dilihat dulu kemasan nya, baru dibeli.

+10 di wahana taman bermain
Yang concern sudah pasti petugas yang bertanggung jawab untuk wahana tersebut. Kalau tidak, bisa jadi mengakibatkan korban (jiwa maupun psikis). Pengunjung sih hanya pasrah. Menurut saja, daripada acara liburan berubah jadi bencana.

+10 di ulangan.
Yang concern hanya ibu guru dan pak guru. Karena artinya, didikan mereka berhasil. Bukan karena muridnya jenius, tapi pretise sebagai guru unggulan. Sedangkan buat murid, itu sama saja dengan memberi cap "NERD" di kepala mereka, dan membuat mereka jauh dari kehidupan sosial yang wajar.

Saya bukan ibu-ibu.
Saya juga bukan petugas wahana taman bermain.
Dan yang jelas, sejak masuk kuliah, nilai yang saya dapat sudah tidak diberikan dengan angka lagi.
Jadi saya tidak peduli. Buat apa menambah masalah-masalah saya dengan +10 jenis itu.

Tapi bukan berarti +10 bukan masalah.

Hari itu saya menemukan +10 yang lain. Yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kepala saya yang -10 ini.

Timbangan + 10 = panic attack.

Artinya saya harus turun dari timbangan itu secepat mungkin, dan kemudian membakar timbangan itu, demi menghilangkan bukti bahwa saya sudah memasuki tahap overweight.

Akhirnya saya peduli juga. karena +10 di perut, artinya,
semua baju yang saya punya akan terus kekecilan.





Wednesday, February 11, 2009

Reflection

Sepotong tulisan bikinan sahabat :

Desember 2005

Oooowwww,,
Tiba-tiba back sound yang muncul adalah lagu secret garden, jelas yang terpercik dalam pikiran saya adalah satu nama..
Ginna,,
Juga berbagai hal yang berkaitan dengan nya..

Saya cukup mengenal karakternya walaupun kadang ada saja kelakuannya yang saya tidak mengerti,,
Maklum manusia itu padanya berbeda..
Dan memang pada dasar nya semua manusia itu unik..
Kalo saya memandang Gina, dia memiliki karakter yang cukup unik..
Dia karakternya Sangunui yang Populer bangetlah..
Emosional, spontanius, mudah berteman, dan lainnya..
Bila saya teringat tentang dia, pasti bibir saya akan memicing dan tersenyum..
Sekarang pun saat saya menulis ini, saya senyum-senyum sendiri..
Memang wanita yang aneh..
Dia selalu ingin menjadi wanita yang kuat,,
Jelas kuat, dengan jari kaki yang selalu bergerak-gerak dengan ga jelas..

Hmmm..
Sekarang dia sedang menghadapi konflik dengan pacarnya,,
Aduh Gee,,
Bukannya saya pengen ngebahas, cuman saya hanya menuangkan berbagai kata yang muncul dalam pikiran saya..
Ga apa-apa ya..
Jangan marah,,

Saya rasa
Ginna itu pengen..
Sebuah perhatian yang sederhana.
Sebuah perhatian yang layaknya diberikan kepada seorang wanita.
Sebuah keinginan untuk diperhatikan.
Sebuah keinginan untuk dimanja.
Sebuah keinginan untuk disayang
Sebuah keinginan untuk diperlakukan like ordinary woman.
Sebuah keinginan untuk menjadi prioritas, tidak perlu untuk selamanya tapi pada saat yang tepat.
Maybe she needs a little bit more attention..?

Dia berusaha menekankan pada dirinya bahwa dia harus kuat,,
Itu bagus, itu patut di beri acungan jempol
Tapi dia harus ingat pada kodratnya.
Dia itu wanita..
Wanita itu sensitif,
Wanita itu sangat-sangat emosional..

Menurut saya mungkin sudah saatnya tangis itu jatuh..
Sudah terlalu lama tangis itu bergantung..
Tangis itu sudah mulai lelah..

Menangis bukanlah suatu yang hina
Menangis itu hal yang normal,,
Cobalah tumpahkan semuanya,,
 
Tapi itu hanya merupakan pandangan saya,,
Saya hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran,,
Maap ya,,

Dua tahun kemudian, saya baru menyadari, apa yang di tulisnya mungkin benar. Saya akhirnya belajar menyayangi dan berbaikan dengan diri saya sendiri.

That's what friends are for
To reflect ourself in honest way
Because sometimes, people who cares knows better....
 
".....Who is that girl I see
Staring straight back at me
When will my reflection show
Who I am inside

I am now
In a world where I have to hide my heart
And what I believe in
But somehow
I will show the world
Whats inside my heart
And be loved for who I am...."
(Reflection, by : Christina Aguilera)

People are People

Bandung malam itu lumayan dingin. Saya harap-harap cemas menunggu kedatangan orang itu. Mantan pacar.

Semasa SMA. Benar-benar semasa SMA. Artinya saya sempat menghabiskan sebagian besar masa SMA saya bersama dia. Jenis mantan pacar yang menemani di masa paling memorable sekaligus paling labil dalam jenjang kehidupan kita.

Jenis mantan pacar seperti ini sangat berbahaya untuk dihadapi kembali. Baik dalam keadaan masih single, ataupun sudah punya pacar atau suami sekalipun. Riskan. Bisa-bisa dia terlihat lebih dewasa dan ganteng sedikit, cerita semasa SMA terulang lagi.

Tapi, dengan sangat wise, mantan pacar ini datang membawa pacarnya. Saya untungnya juga bersama beberapa teman, yang dengan baik hati mau mencoba menyelamatkan saya dari menjadi lalat pengganggu hubungan orang.

Wajahnya masih sama. Tingginya masih sama--tidak seberapa tinggi. Tangannya masih sama. Wanginya juga entah kenapa masih sama. Saya mendadak sentimentil. Me
ngingat masa-masa bersama dia yang sangat lucu kalau diingat sekarang.

Kalau kami awet dari dulu, harusnya saya sudah nikah sama dia sekarang, punya anak kembar yang hidungnya mancung-mancung
seperti hidungnya--bukan seperti hidung saya. Kami punya semacam janji akan benar-benar nikah lima tahun dari waktu itu. And then live happily ever after. Keputusan yang sangat muda. Masih percaya bahwa hidup begitu mudah, seperti dalam cerita-cerita putri raja ala Disney.

Akhirnya, ketika kami sadar--waktu itu saya duluan yang sadar--bahwa hidup kami masih sangat panjang dan masih banyak kemungkinan dalam hidup kami,saya pergi.
Meninggalkan marah, benci, dan lain-lain yang buruk-buruk di hati.

But thank god. We move on. We live our life, and grow up. End up sitting in the front of each other, without anger, with smile.

Dia hidup dengan baik-baik--he's goin' straight edge for god sake! Punya pacar baik-baik--trully nice girl! He's changed. But he looks happy.

Saya jadi teringat kata teman saya kepada seorang teman yang lain,

"Kalau mau hidup lo membaik, jadian sama Ginna. Tunggu diputusin. Sedih bent
ar. Habis itu niscaya lo jadi orang sukses."

Saya tertawa keras sekali waktu itu. Tapi mungkin benar juga, percaya nggak percaya sih. Beberapa tahun belakangan, ketika saya bertemu beberapa mantan pacar, perkembangan hidup mereka mencengangkan. Satu jadi pilot, satu udah mau jadi bapak, satu udah punya album sendiri dan jadi artis, satu lagi udah kerja di luar negeri, dll. Padahal, dul
unya.....wah, jangan sampai harus saya sebut satu-satu aib mereka. Bisa-bisa ini jadi blog gossip, sekelas Gossip Girl.


People change.

I do believe that.

Meskipun wajah mereka belum berubah. Tinggi mereka tetap sama. Wangi mereka masih seperti yang teringat.
Tanpa harus jadian sama saya.

And somehow in a good way.

I re-think my self.
Apakah saya sudah berubah.
Kata orang saya berubah banyak. Ke arah yang buruk.


Hahahaha

I still believe I've changed in a good way. Because I am a part of people. People change. And what's so wrong about that....?


"...Refine, old time, colourblind

Big sign, do time, doesn't rhyme
A lot, to much, standing tall

And I'm crying in the valley:
“I shall never, ever fall!�?


People are people
and I feel so strong
People are people and I'm
going on...."
(People Are People, a song by D'sound)

Sunday, February 8, 2009

my own glass of martini

Malam mulai larut dan saya mulai kesal,  membayangkan malam minggu ini akan saya  habiskan sendirian saja. Banyak orang mungkin akan mengatakan tak apa bila malam minggu tidak pergi keluar, biarlah itu jadi konsumsi ABG labil dan Geng motor yang masih suka nongkrong di Dago, malam minggu. Friday Night is the new Saturday Night. Saya kurang lebih percaya, laggipula malam minggu jalanan macet, saya benci macet. Tapi entah kenapa malam minggu ini saya tidak ingin sendirian. Mungkin karena sedang sedikit berselisih dengan teman dan pacar sedang sulit dipaksa beranjak dari kasurnya, saya ingin mencari kesenangan hari ini. Di malam minggu yang biasanya biasa-biasa saja.

Saya mengucapkan kalimat perpisahan lewat mic, dan tepat ketika saya keluar, beberapa orang teman mengajak saya bepergian. Oh thank God... Datang  juga tawaran itu. Entah kenapa ada rasa malas yang amat sangat  untuk mengajak orang pergi duluan. Terkesan sedikit desperate. Untung yang lain tidak berpikir begitu. Kalau tidak, siapa yang menyelamatkan saya dari malam minggu inii nantinya.

Sempat beberapa kali ganti personel, ganti acara, dan ganti tempat, akhirnya saya berakhir di sebuah cafe baru, bersama lima orang lainnya yang semua laki-laki. Saya menengok teman saya yang sedang memilah milih wine yang diinginkannya, agak lama. Tiba-tiba waitress yang kebetulan juga laki-laki dan sedari tadi menunggu dengan anteng,mulai memberikan saran-saran.

" Kalo boleh saya pilihkan, lebih baik pesan red wine bla bla ini (saya lupa namanya, bahasa Prancis kalau tidak salah). Selain harganya sedang diskon, cocok sekali untuk wanita," katanya dengan gaya profesional sambil melirik kepada saya.

Seolah teman saya itu--dan teman laki-laki yang lainnya--memilih minuman yang dicocok-cocokan dengan saya, seolah karena saya perempuan satu-satunya, sudah pasti saya memang cewek matre yang kemana-mana minta dibayari (tapi memang malam itu teman saya janji menraktir wine tanpa diminta), seolah karena saya perempuan, saya tidak bisa memilih minuman saya sendiri.

Well, jika waitress itu ingin berusaha mengistimewakan saya, dia salah. Entah perempuan lain, tapi saya agak malas menemukan kenyataan itu. Selalu malas, jika menemukan kenyataan, bahwa perempuan selalu dianggap mahluk yang lebih lebih labil, emosional, dan tidak mandiri, baik dalam bersikap maupun berpikir, dengan kedok kesopanan laki-laki.Ladies first ketika masuk ruangan, ladies night di club, ladies parking area di mall.  Itu cuma sesuatu yang secara tidak sadar, mencoba membuktikan bahwa perempuan itu selalu manja. Bohong kalau orang bilang kita hidup di dunia kesetaraan. Setelah sekian lama, kita masih hidup di dunia patriarki, dimana wanita hanya penduduk nomor dua, yang menurut norma sosial, bahkan agama, harus selalu tunduk kepada laki-laki.

Saya perempuan, saya mandiri. Saya bisa memilih. Saya bebas. Saya menolak di nomor dua kan dengan embel-embel keistimewaan.

Maka malam itu saya memilih. Segelas Martini Lychee. Teman saya pun akhirnya tidak jadi memilih wine yang katanya cocok untuk wanita itu. Entah karena harganya terlalu mahal, entah karena dia mengerti perasaan saya, entah karena dia memang sedang tidak ingin saja, saya tetap lega.

" Minum Martini, kayak James Bond aja lo...." begitu kata teman saya.

I sipped my Martini with pride. Akhirnya dia mau coba. Yang lainnya juga.

"Enak ya... Manis !" Saya hanya tersenyum. Mungkin begitu rasanya memilih. Manis...

*So....Cheers everyone...!!!
To live our live in our own way, in a fine way....



"Cause I am a Superwoman
Yes I am
Yes she is
Even when I'm a mess
I still put on a vest
With an S on my chest
Oh yes
I'm a Superwoman"
(taken from '"Superwoman", a song by Alicia Keys)

Friday, January 9, 2009

Seberapa Dalam Cinta Mu

I know your eyes in the morning sun
I feel you touch me in the pouring rain
And the moment that you wander far from me
I wanna feel you in my arms again

And you come to me on a summer breeze
Keep me warm in your love and then softly leave
And its me you need to show

Seberapa Dalam Cinta Mu....

Saya sedang senang menyenandungkan potongan bait lagu, yang disebut-sebut sebagai lagu yang paling banyak di-remake itu. Iya, lagu Seberapa Dalam Cinta Mu ! Yeah well, itu kalau kita menerjemahkannya secara praktis  ke dalam Bahasa Indonesia. Tidak terdengar romantis, tidak kasual, dan sama sekali tidak puitis.

Berulang-ulang saya senandungkan--dalam bahasa Inggris--di depan pacar saya. Berharap kemampuan berbahasa Inggrisnya cukup untuk mengerti kalimat simpel itu. Atau setidaknya kepekaannya cukup besar sehingga akhirnya sadar, seberapa besar keingin tahuan saya terhadap hal itu. Hasilnya pacar saya hanya ikut meneruskan sisa lagunya, entah memang hanya ingin, atau bermaksud membalikan pertanyaannya pada saya. Itu juga saya tidak tahu.

Seberapa Dalam Cinta Mu.
Kalau saya hidup di dunia sinetron atau novel cinta terjemahan yang buruk, mungkin saya akan bisa menanyakannya dengan mudah. Tapi saya hidup di dunia nyata, sudah tentu semuanya lebih sulit.
Cukup sulit sampai kita harus selalu menebak-nebak isi hati orang yang kita sayangi. Takut secara sia-sia akan ketidak berdayaan kita terhadap perasaan orang lain, yang membuat kita jauh dari ketulusan. Atau seperti saya, dengan tidak tahu malu menyanyi dengan kemampuan vokal yang seadanya, yang berakhir memberengut karena tidak diperdulikan.

Seberapa Dalam Cinta Mu ?
Sedalam lautan ?
Seluas Dunia ?
Setinggi angkasa ?
Sebesar jagad raya ?

Saya hanya ingin,
Seindah Ketulusan.

Unconditional Love ?
aahhh....that's another song.....

How deep is your love
I really need to learn
cause were living in a world of fools
Breaking us down
When they all should let us be
We belong to you and me

I believe in you
You know the door to my very soul
Youre the light in my deepest darkest hour
Youre my saviour when I fall
And you may not think
I care for you
When you know down inside
That I really do
And its me you need to show
(How Deep Is Your Love; by Bee Gees )