Monday, October 11, 2010

Day #25 : senin.

hari senin yang biasa. Bangun pagi dengan malas-malasan. Berharap bisa menghentikan waktu sebentar agar bisa tidur lebih lama, atau memutar waktu sekalian, agar kembali ke weekend yang menyenangkan. Kadang-kadang saya berharap, seandainya saja hari Senin namanya bukan Senin, mungkin saja ia tidak semembosankan ini. Mungkin saja ia secerah minggu pagi, atau semenyenangkan jumat malam.

Tapi ini masih Senin, hari yang paling dibeci di dunia. Hari yang paling biasa menurut saya. Karena disanalah rutinitas dimulai. Dan buat saya, mungkin orang lain juga, rutinitas itu bukan hal yang istimewa. Jadi hari dimana rutinitas dimulai, tentunya itulah hari yang paling biasa.

***

hari Senin yang biasa. Dimulai dengan siaran pagi bersama partner. Lalu mengucapkan selamat pagi kepada pendengar lewat situs jejaring sosial. Sebuah pesan balasan masuk.

katanya, "Hayooo Ginna....semangat-semangat !!!"
Partner siaran saya menaikan alis sambil memajukan dagunya sedikit. Bahasa isyarat bertanya, "Siapa?" Saya mengedikan bahu, membahasakan, "tidak tahu." Bukan karena saya tidak kenal atau lupa pernah berkenalan, tapi karena tidak percaya. Dia adalah orang terakhir yang saya bisa sangka menyemangati semanis itu di pagi hari.

Saya menatap kalender sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan hari senin. Hari senin tidak pernah berawal semanis ini.




No comments:

Post a Comment