Wednesday, September 22, 2010

Day #6 : salam dari pusing.

menonton upin dan ipin, sambil memegangi kepala. Berharap tayangan ini akan membuat pusing saya berkurang.

Ini bukan jenis pusing yang dirasakan ketika kita sedang banyak urusan dan tinggal menunggu kepala meledak saja. Ini juga bukan pusing yang dirasakan ketika hidung tersumbat karena flu, menghambat asupan oksigen ke kepala. Ini bukan juga pusing-pusing yang biasa saya rasakan gara-gara terlambat makan. Ini bukan pusing biasa. Dan percayalah, saya telah merasakan sebagian besar jenis pusing di dunia.

I even cheated the worst of it earlier in my life.


***

Saya masih ingat seberapa khawatirnya wajah mama, saat saya yang waktu itu masih usia TK, mengaku melihat langit-langit rumah kami berputar, lalu terasa menimpa saya, sampai napas saya sesak. Ia merasa melakukannya kepada saya. Sore harinya mama tidak sengaja menge-rem mobil yang kami tumpangi secara mendadak, membuat saya yang duduk di kursi samping supir, terlempar menghantam kaca.

Sejak itu kepala saya sering sekali pusing. Bahkan seringkali berakhir sangat mengerikan, seperti langit-langit yang serasa runtuh, raksasa yang terasa menginjak kepala, atau rumah yang terus berputar.

Tidak ada penjelasan medis, bahkan setelah beberapa kali mengunjungi dokter, sampai di rontgen segala. Waktu itu saya menyangka, saya akan menghabiskan seumur hidup saya, merasakan pusing.

Sampai sebuah de javu...
***

Di tempat yang sama persis. Dengan kejadian yang sama persis. Seperti sebuah reka ulang, kepala saya kembali membentur kaca depan mobil. Cukup keras, i even could feel a snap in my head. A snap that heal me.

Hari itu, pusing tidak lagi datang melalui langit-langit yang berputar atau raksasa. I cheated it.
***

Memang, kadang-kadang pusing masih mengunjungi saya. Cukup sering ketimbang yang biasa orang rasakan, seperti hari ini. Pusing yang belum pernah saya tahu. Mungkin ini hanya sebentuk salam lainnya dari pusing.

Pacar saya menyarankan untuk pergi ke dokter. Saya belum mau melakukannya. Mungkin saya takut. Atau mungkin saya lebih percaya spekulasi saya sendiri.

"Like that old movie Final Destination, Devon Sawa once cheated destiny, the worst of it, death. It ends haunted him forever, ini a little less form of destiny.
Well, i guess it's better than the worst. The death itself."



No comments:

Post a Comment