Thursday, June 9, 2011

Memulai [Sendirian] Mengakhiri

packing up my things into boxes.
packing up my life to another stage.

***

2004
Memulai semuanya sendirian.
Lulus SMA, berusaha keluar dari rumah, sejauh mungkin. Ingin bertualang.
End up only 2 hours away from home, Bandung.

2005
Menjadi mahasiswi sejati.
Kuliah pagi, dan begadang hingga pagi.

2006
Termakan omongan sendiri, setiap kali pulang kampung dan lewat daerah Jati Nangor, "Ih, daerah apa ini. I would never live in such a place!"
Pindah ke JatiNangor dengan berurai air mata.

2007
Somehow, making my way into a radio business.And stay there for several years later.
2008
Mendapatkan pekerjaan ter-enak di dunia. Music Director. I basically just listening to the music all day, choose them as my heart desire.

2009
Baru teringat bahwa sudah terlambat setahun untuk lulus kuliah.
Mulai kebosanan dengan Bandung, bertekad untuk hidup di Bali.

2010
Baru teringat lagi, bahwa sudah terlambat dua tahun untuk lulus kuliah.
Lost & found. Sleepless & inspired.
Mencetuskan sebuah (soon to be) masterpiece.
Melakukan sebuah perjalanan gila.
Had myself inked.
Mendapat pelajaran, bahwa hal-hal. terbaik dalam hidup, justru terjadi saat kita kehilangan.

2011
Baru teringat lagi, bahwa sudah terlambat 3 tahun untuk lulus kuliah, dan hampir DO. Tidak menyesal sama sekali, meskipun akhirnya harus menyelesaikan semuanya dengan susah payah, di detik-detik terakhir.
Memutuskan resign dari dunia radio yang sangat disukai, dan masuk ke dunia yang sepenuhnya baru.
Menemukan moment yang tepat untuk keluar dari Bandung.
No, apparently not Bali.
Pulang. Ke Jakarta.
Mengakhiri semuanya, sendirian.

***

Semua itu disertai dengan bumbu-bumbu percintaan platonik, pertemanan absurd, perjumpaan surreal, suara tawa, derai tangis, teriakan kesal, wajah-wajah hangat, serta sekumpulan lirik-lirik lagu, yang terbungkus dalam kesederhanaan dan dinginnya malam-malam di kota Bandung.

Too many memories in that town.
I would need millions of box to pack it up.
I decided to leave it all behind, and just keep them in my heart.


***

"...Finally we have seen some things

Some awfully nice
Some dreadfully bad
But we will sing
Wash the blood off our knees
Cause our love breaks through rough seas our ship will sail
And I don't understand how this world would work
Cause time will tell us nothing
I'll take a chance on something

Feeling old, feelings this time take you
Down river, down river, down river, down
Walk these stairs, put the pieces back together
Go don't stop, go don't stop, go don't stop now, go..."
---Taken from : Down River, By : The Temper Trap




Saturday, May 21, 2011

about [...] and [....]

“Now, there's a man and a woman.

He's a cook, she's a waitress.

Now, they meet

and they don't connect,

only she noticed him,

he could feel it, and he noticed her


and they both knew

it was gonna happen.

They made love

and for maybe one whole night,

they forgot the million things

that make people think

"I don't love this person,

"I don't like this person,

I don't know this..."

Instead, it was perfect

and they were perfect

and that's all there was

to know about it.

Only now, she's beginning

to forget all that

and maybe he'll forget it, too.


So could you play an encore

for [....] and [....]

in the hope of something that ought

to last and not self-destruct?”

------- by : Terrence McNally

*Please feel free to fill the blanks with your names

Monday, May 16, 2011

hujan sore tadi.

refleksi kehidupan tidak pernah begitu terasa, untuk saya, si sentimentil bertopeng realis. Saya hanya percaya, kehidupan itu perlu dijalani, dengan cara terus maju.

Setidaknya, sampai sore tadi...

***

Sebuah telepon berdering. Milik saya. Nomornya tidak dikenal, tapi saya langsung tahu dari kode area nya, mungkin ini penting.

Saya mengurunkan niat tidak menerima telepon tersebut, dan menerimanya dengan semanis yang saya bisa. Untungnya memang tidak butuh basa basi, saya kemudian diberi tahu, sebuah kabar baik yang saya tunggu mungkin sedang terjadi.

Dada saya berdegup seperti sedang berlari menaiki tangga, dan perut saya terasa pindah ke dada.

Sebuah kemungkinan baru semakin dekat dengan kenyataan (semoga). I crossed my fingers, and i looked outside. The rain was pouring beautifuly. and suddenly, i fell in love with the rain.

***

Dalam hujan sore tadi, saya melihat butiran-butiran air mata saya sendiri. Yang pernah turun deras karena sakitnya, dan kadang meleleh perlahan-lahan, karena hal-hal manis terjadi.

Beberapa keadaan dari bulan-bulan kebelakang berputar di kepala saya seperti serangkaian potongan gambar yang terkesan acak. Bagaimana saya tertawa, terjatuh, memunguti sisa-sisa kejayaan, bersandar di pundak seseorang, hingga meringkuk sendirian di tempat tidur saya yang berantakan.

Meskipun semuanya acak, saya sekarang mengerti mengapa mereka harus terjadi. Seperti ada sekumpulan garis yang menghubungkan mereka semua, membentuk sebuah pola.

Pola kehidupan saya. Yang hanya saya yang mengerti.


***

Saya membuka jendela untuk menghirup udara di luar dan merasakan tetesan hujan di wajah saya. Lalu, saya berkata pada diri saya sendiri,

"Semua memang tidak mudah. Memang tidak perlu jadi mudah..."




Wednesday, May 11, 2011

sacred forewords.

"Gather ye rosebuds while ye may,
old time is still a flying,
and this same flower that smiles today,
tomorrow will be dying."--- Dead Poets Society.

***

Sebuah pertanyaan bodoh pernah terlintas di kepala saya, “Apakah orang akan mengingat nama saya ketika saya mati ?” Beberapa orang mentertawakan pertanyaan tersebut, sisanya hanya berkata, “Jangan bicara soal kematian, bad luck, tahu nggak!”

Meskipun tidak puas, saya mengerti. Mungkin mereka hanya tidak tahu jawabannya, dan mungkin saja mulai mempertanyakan hal yang sama di dalam kepala mereka sendiri. Lagipula, bukan kematian yang saya takutkan, bukankan setiap orang akan begitu pada waktunya nanti ? Yang saya takutkan hanya, apakah ketika waktu saya datang, saya telah sempat melakukan hal-hal berguna bagi diri sendiri dan orang lain ?

Gelar Sarjana adalah salah satu, dari sekian banyak hal, yang saya takutkan tidak akan sempat saya raih dalam hidup. Dan, dengan selesainya skripsi ini, luar biasa lega rasanya. Seperti satu langkah lebih dekat, menuju terwujudnya sebuah harapan yang sudah lama saya gantungkan, sebelum waktu saya habis.

Namun sekedar ucapan syukur dan ekspresi lega saya pribadi, rasanya akan sangat tidak berarti, dibandingkan dukungan dari nama-nama di bawah ini, yang sudah selalu siap menyemangati saya dengan caranya masing-masing. Dibalik bermacam emosi kepasrahan hingga ketidak sabaran, sampai akhirnya kemarahan yang dikeluarkan, dalam rangka memastikan saya menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik, saya yakin, hanyalah bentuk kepercayaan yang begitu dalam.

Untuk itu, ijinkanlah saya untuk menyebutkan nama mereka satu-persatu, dan dengan rendah hati mempersembahkan ‘karya’ ini sebagai milik mereka juga.

1. Tuhan YME, Allah SWT, the greater power out there, that I believe always works in a mysterious way. Finally, I’ve got your cue, to be a total believer.
2. Rais Atmadja. Seorang ayah, sekaligus partner bertukar pikiran paling tangguh yang pernah saya miliki. Terima kasih untuk selalu berusaha mempercayai saya, di tengah semua kekacauan yang seringkali saya buat. Karya ini saya persembahkan untuk Ayah.
3. Dyah Indrawati. Ibu yang jarang sekali mau mencampuri urusan saya, hanya karena mengerti, saya selalu benci direcoki. Terima Kasih untuk pengertiannya yang tidak pernah usai, dan dukungan yang seringkali buta. Saya yakin karya ini akhirnya selesai berkat doa Mama.
4. Giza Rysdinia. Adik kecil yang sudah mulai beranjak dewasa, dan membuat saya belajar banyak soal mendukung secara diam-diam. Terima kasih untuk selalu berusaha memahami ke-absurd-an hidup saya.
5. Rizky Amalia. Seorang teman baik, juga kakak yang tidak pernah saya miliki. Terima kasih untuk malam-malam kebersamaan yang sedikit banyak membuat saya semakin dewasa, dan akhirnya bisa menemukan kembali tujuan hidup saya.
6. Gilang Adesha. A muse that I’ve never had before. Thank You, you’re the trigger to many big things in my life today, and I hope, ahead.
7. Pak Kunto. Pembimbing yang begitu sabar, dan tidak hentinya menyemangati saya. Terima Kasih untuk bimbingan-bimbingan virtual via twitter dan email, yang menjadi awal dari terjadinya karya ini.
8. Detta Rahmawan. Sahabat sekaligus pengingat saya, bahwa waktu terus berjalan, dan kita tidak boleh berhenti. Terima Kasih untuk obrolan-obrolan kecil yang membesarkan hati saya, dan film-film rare yang selalu jadi hiburan terbaik.
9. Alda Dina Bangun. Teman seperjuangan yang begitu setia di tahun-tahun terakhir ini. Terima Kasih untuk obrolan dan tawa yang tidak pernah berhenti sepanjang perjalanan Bandung-Jatinangor. We finally did it, dude!
10. Alfa Haga, Tophansyah Ali, Tita Puspitasari, Elizabeth Kurnia, Pratita Rani, Lintang Kinasih, Mega Pratama, dan teman-teman Mankom UNPAD 2004. Tentu saja untuk inspirasinya, mengikuti jejak kesuksesan kalian, cepat atau lambat.
11. Maradilla Syachridar, Yafi Alawy, Theoresia Rumthe, Anissa Rilia, Iwan Rahmawan, Decky Danumihardja, dan keluarga besar SKY 90.50 FM, Bandung. Tempat saya berkarya sekaligus bermain. Terima Kasih atas kebebasan yang selalu diberikan, dan tentu saja dukungan yang begitu besar.
12. Zulkifli Tegar Zakaria. Terima Kasih untuk menemani saya dengan sabar di masa-masa transisi twenty something yang sulit. I hope at the end, we could learn something.
13. Teman-teman dari #30HariMenulis; Theoresia Rumthe, Maradilla Syachridar, Dimas Ario, dan Sundea Belaka. Like Dilla once said :” Ginna, you’re so lucky to have friends like us.” Thank you!

14. Dead Poets Society, Michel Gondry, dan Ben Folds. Terima kasih untuk selalu mengingatkan saya, bahwa berbeda itu tidak apa-apa. Yang penting semua berasal dari hati.

15. Dan tentu saja untuk semua pihak yang terlibat dalam pengerjaan karya ini, baik secara emosional maupun lahiriah, yang sangat sulit untuk saya jabarkan satu persatu karena keterbatasan tempat. Terima Kasih banyak!

Lalu, seorang teman menjawab pertanyaan saya, dengan sebuah quotes dari Benjamin Franklin :

"Either write something worth reading or do something worth writing."

Di luar semua keterbatasan dan ketidak sempurnaan dalam skripsi ini, semoga ini menjadi sesuatu yang layak di baca dan berguna bagi siapa saja. Karena pada akhirnya saya mengerti, menyelesaikan skripsi ini, sudah sepantasnya saya lakukan sejak lama. Saya tidak ingin, orang mengingat nama saya, sebagai seseorang yang hanya bisa memulai, tapi tidak bisa menamatkan.

Akhir kata, biarkanlah saya tidur nyenyak malam ini—karena satu kewajiban besar sudah dituntaskan pada akhirnya—untuk esok hari bisa melanjutkan hidup lagi, kemanapun arah kaki melangkah. Tetap dukung saya, ya…!

***

To those who believe in passion, and live to it ‘till the end.
To those who believe in what their heart desires, and built the best of it.
To all the’ free thinkers’, that inspire me to this exclamation day.
Carpe Diem. Seize the day,make your lives extraordinary!

*unedited version of my thesis' forewords*


Thursday, May 5, 2011

fastforward button.

and there are times you wish you could skip, rewind, or even pause.

The thing is, you just simply can't.
***

Sleepless, nervous, and uneasy.
I even puke because of that at some point.


Bagaimana tidak, semua perjuangan tujuh tahun di kota orang, akan ditentukan dalam waktu kurang dari seminggu. Dan untuk saya, masalahnya bukanlah hanya waktu yang sudah terlalu lama saya habiskan untuk menunda semua ini, tapi juga dorongan yang begitu besar dari orang-orang di sekeliling saya.

Saya malu.
Beberapa orang bahkan sangat yakin saya akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Sementara saya sendiri, sejak minggu lalu, yang ada di otak saya hanyalah : memencet tombol fastforward kehidupan.

I want to skip the process. BADLY. i'm too scared!
***

"Kalau hidup itu sekeping DVD, di skip terus akan membuat dia scratch, dan tersendat nantinya."
Analogi yang bagus. Teman saya mengerti sepenuhnya, segala hal yang berhubungan dengan film, pasti akan lebih mudah saya mengerti. Begitu juga hal-hal lain yang berhubungan dengan musik, fashion, pop art, televisi, kuliner, belanja, dll. Hal-hal lain di luar yang berhubungan dengan pendidikan saya saat ini, hal-hal lain di luar masa depan.

I have spent too much of my time to live at the moment.

Dan itu mencegah saya dari menikmati beberapa proses, yang sebetulnya tidak perlu saya tunda. Hanya karena apa ? Malas, tidak mood, dan takut? Oh, i'm more than cheesy!

I hope i didn't skip my life too much before. I don't want my future ended scratchy, like a worn out DVD.
***

Believe me, all the scratch you need, is from all the process you've done and gonna do, not from the fastforward button, that not even legal in a real life.

*ditulis di malam jumat paling menegangkan di dunia. wish me luck, people!

Tuesday, April 19, 2011

pertanda-pertanda kecil.

Dulunya kelinci hanyalah binatang pemakan wortel. Saya pernah punya dua, di masa kecil saya. Satu hilang dicuri orang, satunya lagi mati terkena penyakit aneh.

Tragis. Memang.
Hanya saja, saya kemudian mulai belajar memelihara kelinci di dalam kepala saya, sebagai rangkaian huruf, sebuah kata, yang sama lucunya ketika dilafalkan dalam bahasa indonesia dan bahasa Inggris.

Ya. Saya menyukai kelinci sebagai sebuah kata.
Mungkin kombinasi dari berakhirnya keterkaitan saya dengan binatang kecil berbulu lembut itu, yang bernasib terlalu mengenaskan. Atau mungkin juga karena saya hanya sebegitu anehnya, punya kata-kata kesukaan, yang salah satunya adalah kelinci.

Kelinci. Rabbit.
Bunyinya begitu menggemaskan. Bukan bunyi yang dikeluarkan binatang itu. Tapi bunyi yang kita keluarkan, ketika mengeja nya di mulut. ke-lin-ci. ra-bbit. Selalu membuat saya ingin mencubit seseorang ketika mendengarnya.
***

Membingungkan, ya?
Sayang saya tidak bisa menjelaskannya lebih detail lagi. Hanya akan jadi semakin memusingkan.

Dan semakin saya memikirkannya, semakin saya teringat pada seseorang yang begitu memahami. Hanya karena dia sama anehnya--mungkin. Menyukai hippopotamus sebagai sebuah kata, bukan seekor binatang pemalas yang kerjanya berkubang di danau.
***

Fokus dunia saya telah berubah.

Seolah-olah semua kelinci yang ada di dunia berkomplot menyudutkan saya. Penanggalan Cina juga tiba-tiba berhasil menyita perhatian saya, karena tanpa saya sadari, tahun ini, adalah tahun kelinci. Mungkin itu penjelasan bagus, kenapa saya melihat begitu banyak kelinci semenjak awal tahun. Kebetulan saja.

Tapi, akhir-akhir ini membuat saya banyak berpikir soal kebetulan. Karena kebetulan saat ini, untuk saya, selalu punya penjelasan. Dan saya membuat penjelasan sendiri, soal kebetulan 'kelinci' ini.

Mungkin kelinci adalah satu dari sekian pertanda kecil yang datang bertubi-tubi belakangan ini. Sama seperti, kenapa sebuah kebetulan mempertemukan saya dengan seseorang, yang namanya masih terngiang hingga sekarang di kepala saya, berulang-ulang, berdampingan dengan kata-kata lainnya, kelinci dan hippopotamus.

Dan saat saya secara tidak sengaja membuka akun twitter seorang news anchor favorite saya, yang berbintang sama dengan dia, lalu begitu kaget membaca posting terbarunya, saya seketika percaya. Saya dan kamu, adalah seekor kelinci dan hippopotamus untuk satu sama lain.

Sebuah kebetulan, yang pasti ada penjelasannya. Suatu hari nanti. Saya [masih] percaya.
***

"Is a Hippopotamus a HipPopotamus or just a Really Cool Opotamus?" #MitchHedburg"
via @TimMarbun

Friday, April 8, 2011

[angel] kiss in the eyes.

according to an article I randomly read tonight,
"...a kiss in the eyes, the sweetest and the most intimate kiss. Often known as 'angel kiss', and it means that your lover doesn't want to be apart from you."

***

this is explaining our little games. hope the angels are kind enough, to make it real.

i miss you,
#kiss-in-the-eyes.

***

"In the dark the magic spins and we forget the day
Feel the rush of energy inside your soul
One 2 one
I'll take a chance that love is here
And love is all we know
We're wa-tching one another
Let's be dangerous live only for the moment

Come.. and kiss my eyes
Come.. and kiss my eyes
Over come we're overcome"

Kiss My Eyes-Bob Sinclair

Thursday, March 24, 2011

real-life gimmick.

and every story has a gimmick.
what's yours ?

***

Saya tertawa ketika seorang teman bilang, bahwa sebelumnya dia terlalu takut menceritakan kisahnya, hanya karena dia merasa itu sangat absurd.

Tapi bukankah begitu lah hidup ? Selalu ada bagian-bagian absurd yang terlalu aneh untuk diceritakan, yang biasanya terdiri dari sebuah perjalanan atau pencarian, diisi oleh sepersekian racikan percintaan yang cheesy, dan berakhir dengan sebuah kebodohan yang diikuti bencana.

Dan seperti di film-film, kadang-kadang ada beberapa gimmick tidak penting, yang melengkapi setiap adegannya. Di Eternal Sunshine of The Spotless Mind ada sekotak kaset rekaman ingatan buruk yang berusaha dihapus, di Science of Sleep ada mainan-mainan imajinatif yang hanya bisa dimengerti oleh 'mereka' yang suka 'bermain', dan di Inception ada totem yang bisa mengingatkan para pemimpi, mana yang nyata dan tidak.

Semuanya bergerak, berputar, dan bergantian muncul, sebagai sebuah penanda. Meskipun dalam kisah nyata gimmick tadi biasanya jauh lebih sederhana--sesederhana notes-notes ucapan terima kasih di pintu kosan atau berkendara bersama dalam sebuah mobil VW tua--namun tentu saja mereka juga penting.

Karena, jika suatu saat cerita sudah mulai menjadi semakin absurd, semakin sulit direka ulang, dan semakin mengarah ke sesuatu yang tidak nyata, hanya gimmick-gimmick sederhana itu lah yang kita punya, untuk mengingat dan menceritakannya kembali sambil tersenyum.
***

My gimmick is a random conversation in 140 characters.
Your silly obsession to shoes, words, and music.
And our silly late night games.
I'll keep them that way.


Monday, March 7, 2011

low is the new high.

"i never thought that i could talk about these kind of things with you..." a friend said.

What we talk about that night were : the universe, beliefs, soulmate, and basically some sort of heavy spiritual concepts and shits.

And why on earth he said the earlier phrase, because i'm always a sarcastic-pesimistic bitch. I refuse to believe in sentimentality 'those kind of things' bring. I belive those in shitty way.


***

Suddenly Jobless.
Struggling wrap up my study on the last minute.
Having a heavy financial problems.
Being single.
All the kind of low, everyone could imagine, altogether at the moment i less predict.


Saya sedang semacam mendapat tamparan besar, dan sama sekali tidak melihatnya datang, sampai akhirnya benar-benar terjadi.

Untungnya, malam minggu itu, dua orang teman baik semasa perkuliahan, mengajak janjian bertemu di malam minggu yang tidak terlalu asik itu. Untungnya lagi, saya tidak menolak ajakan mereka.

Lalu, di tengah sebuah cafe yang cukup crowded, kami mengobrol ngalor ngidul soal banyak hal ganjil, yang sepertinya bukanlah pilihan banyak orang sebagai pilihan tema malam minggu.

" I almost lost the posivity I built all this way, over Jakarta. Kota itu, dan kantor gue khususnya, seperti membuat gue berpikir negatif, dan melupakan banyak esensi dari apa yang kita kerjar di dunia ini."

"Kalau dipikir-pikir hidup gue ngga masuk akal. Gaji selalu ngga cukup."

"I'm stressed out, i can't imagine being jobless in this hardest moment."

"I never thought my own wish to a twist could result into tragedy."

Keluhan-keluhan yang cukup sulit untuk dicari jawabannya lewat sebuah kacamata realita. Sepertinya kesimpulan yang tepat hanyalah : "let's commit a comunal suicide, and it's all done."
***

Tapi mungkin saja teori 'negatif bertemu negatif sama dengan positif' malam itu berlaku begitu saja. All the negativity suddenly changed into positivity.

"Tuhan memiliki pintu maaf yang lebih besar dari semua dosa yang mungkin seorang manusia lakukan."

"Kalau kamu berpikir sumber penghasilan hanya gaji, then that's the problem. Coba pikirkan hal-hal lainnya yang mungkin didapat dari sebuah pekerjaan. Mungkin networking atau pengalaman, itulah yang seharusnya kita coba syukuri."

"Semua masalah finansial akan selalu ada jalan keluarnya. Asalkan kita mau mencoba sedikit lebih sederhana dalam berpikir."

"Percayalah bahwa 'universe' selalu punya cara yang unik untuk menjawab banyak hal"

"Kemarahan itu overrated. Bahkan kadang kita lupa apa masalah kita sebenarnya dengan marah-marah. Yang penting adalah memaafkan."

"Do you believe in soulmate ? Bahwa soulmate itu melengkapi kita dengan caranya yang aneh ? I'm a total believer now"

Entahlah apa energi sebuah persahabatan itu begitu besar untuk menyelesaikan banyak permasalahan berbeda yang ada di atas meja malam itu. Atau kami memang sebenarnya datang dengan solusi yang sudah ada di otak kami masing-masing, hanya saja sulit untuk kami deskripsikan secara pribadi. Yang jelas, malam itu saya pulang dengan merasa sangat beruntung.

Beruntung punya teman yang tidak mencoba menggurui saya dengan teori-teori dan usulan sok tahu tentang kehidupan.
Beruntung punya perpanjangan otak untuk menyempurnakan proses yang saya lalui akhir-akhir ini.
Beruntung punya motivator dan filsuf terbaik, bernama : persahabatan.

***

"You sure have experienced a lot of things, girl. You should feel lucky. And we have to cherish it, because not everybody could find it."

That night, all the lows, became the new high.
Dan hal buruk dalam hidup yang mungkin terjadi, yang kami sepakati setelahnya, hanyalah stagnasi. Yang terpenting adalah terus bergerak, mengikuti kata hati (sebuah hal yang sudah seringkali seorang teman lainnya bilang, dan saya kurang mengerti artinya sampai malam itu).

and hey, maybe all those 'things' that i refuse to believe at the beginning, aren't shits at all. They're what i believe deeply, the problem is, how brave we are to bring it all on the table, and suck up the shitty-ness, turn it into enlightning trigger.

"Yeah, i'd never thought low is my highest achievement in life."

***

"Life'll only be crazy as it's always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won't be as easy as it often seems
And yet you want me
This cliché's killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before

Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said "To the future we surrender.
Let's just celebrate today, tomorrow's too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn't this what you've been dreaming of?"
Life's to live and love's to love

To the future we surrender
Life's to live and love's to love"

---Surrender, by : Float
*one who finds a friend finds a treasure (italian proverb)

***

# Obrolan absurd malam minggu bersama Detta Rahmawan dan Alfa Haga, diceritakan kembali dengan bahasa yang lebih ringkas, in a charming way... ;p #


Tuesday, February 22, 2011

I WISH I.

You love lemon and I love banana Rabbit is lovely, and hippo is cute But shoes will always be our greatest coincidence
swimming is your specialty And drowning is my tendency Can we just play as a teacher and student and go home after, holding hands

***
Oh I wish I could have the courage To take you away anyhow to some funny named deserted island far far away oh I wish I've always had the guts To ask you dissapear together Getting high on whatever drugs everyday


oh I wish I could made you a better song ***
A kiss on the lips is okay But a kiss in the eyes are even finer Please show up in my every bad dreams And do those secretly under the pillow Let's just sing into every coldplay's song Dancing with gondry into the eternal sunshine Going to hawaii and get married in whatever ritual the tribe suggest I'll dyed my hair blue, just please don't end this as a spotless mind


---------------
"and i'm always a lyric person, please somebody add some melody to get along with it..."

Thursday, February 10, 2011

tipsy talk.

Half drunk and talk. Don't combine them. You'll ended as a blabbery-drunker, or even worst, a wasted-blabbery-drunker.

I'm the last type. I talk when i drunk. Much--the talk, not the drink.

And people often offended , with what i'm saying during those times that i'm not too proud of. They said, I talk in crappy English about unexpected-sensitive things, like religion, or how bad my neighbour looks.

I hope i could be a wise-tipsy-talker. The rare type, that my friend just showed me tonight.

***

katanya, "Galau itu tidak menular. Galau itu menghasut. Seperti lagu-lagunya Efek Rumah Kaca."

katanya lagi, "Kangen itu bukan benda padat. Dia dari gas. Dia bisa menyublim, dan menguap, sesuai dengan momentnya."

the smartest typsi talk that i ever encountered. still absurd, but at least (sounds) smart.

***

envy her.

I don't know which part. The fact that maybe we could drink the same amount of alcohol, and while i'd already got wasted, she would just started being tipsy. 

Or, the other fact, that she didn't offended anybody in her tipsy talk.

  

Monday, January 10, 2011

You and Me.

saya dan seorang sahabat mengambil sebuah kesimpulan akhir dalam senyuman. Baiklah, kami sudah mengerti sekarang. Ada beberapa hal yang memang sebegitu menyakitkannya dan sebegitu mengesalkannya untuk dimengerti pada awalnya, namun akhirnya akan terasa indah juga.

kami pun masuk ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan. Tapi tampaknya, music player saya ingin ikut-ikutan membuat kesimpulan. Dia memutar satu lagu, yang membuat kami tersenyum-senyum konyol. 

***


"Yesterday when you were young
Everything you needed done was done for you
Now you do it on your own
But you find you're all alone, what can you do?

You and me walk on, walk on, walk on
'Cause you can't go back now

You know there will be days
When you're so tired
That you can't take another step
The night will have no stars 
And you'll think you've gone as far 
As you will ever get

You and me wak on, walk on, walk on
'Cause you can't go back now

And yeah, yeah, you go where you want to go
Yeah, yeah, be what you want to be
If you ever turn around, you'll see me

I can't really say
Why everybody wishes they were somewhere else
But in the end, the only steps that matter
Are the ones you take all by yourself

You and me walk on, walk on, walk on
Yeah, you and me walk on, walk on, walk on
'Cause you can't go back now
Walk on, walk on, walk on
You can't go back now" 

Can't Go Back Now,by : the weepies

***

dan hari itu satu impian kami terwujud, lagi...