Tuesday, November 26, 2013

you're borrowed.

Someday I'll find a way to get you back.


***

Dia menangis tak terkendali malam itu.

Menangisi kontradiksi yang membingungkan dalam hidupnya. Saat bagian-bagian lain mulai tersusun dan saling mengisi sesuai dengan apa yang direncanakannya, ada satu hal yang terus membuatnya terkaget-kaget. Rasa kehilangan yang begitu besar. Hampir sebesar keinginannya untuk melupakan, yang terkadang bisa membuat segala hal yang telah berhasil diaturnya kembali berserakan.

Dia sering berkata pada dirinya sendiri, ini hanya sebuah fase patah hati. Mungkin yang jenisnya paling parah. Tapi tentu saja dia yakin bisa mengatasinya. Dia pernah melalui hal-hal yang lebih mengerikan dari ini, kenapa harus takut sekarang. Dia berencana menyerap semua perasaan yang menyakitkan itu hingga mati rasa, lalu pelan-pelan menguburnya, dan melanjutkan hidup.

Hanya saja, setelah beberapa lama Ia baru mengerti, ini bukan hal yang bisa direncanakan dengan strategi sehebat apapun. Karena ini adalah tentang merelakan. Seperti membiarkan sepatu kesayangnya dipinjam dan tidak kembali. Sampai kapanpun, sepatu itu akan terus menjadi kesayangannya. Dan dia tahu, dia akan mati penasaran sampai akhirnya mengetahui bagaimana mendapatkannya kembali dan benar-benar mencoba.




***

But I know one day you’ll get it.

And you’ll pick me up, kiss my eyes, and say, “sorry it took me so long.”


No comments:

Post a Comment