Wednesday, September 22, 2010

Day #6 : salam dari pusing.

menonton upin dan ipin, sambil memegangi kepala. Berharap tayangan ini akan membuat pusing saya berkurang.

Ini bukan jenis pusing yang dirasakan ketika kita sedang banyak urusan dan tinggal menunggu kepala meledak saja. Ini juga bukan pusing yang dirasakan ketika hidung tersumbat karena flu, menghambat asupan oksigen ke kepala. Ini bukan juga pusing-pusing yang biasa saya rasakan gara-gara terlambat makan. Ini bukan pusing biasa. Dan percayalah, saya telah merasakan sebagian besar jenis pusing di dunia.

I even cheated the worst of it earlier in my life.


***

Saya masih ingat seberapa khawatirnya wajah mama, saat saya yang waktu itu masih usia TK, mengaku melihat langit-langit rumah kami berputar, lalu terasa menimpa saya, sampai napas saya sesak. Ia merasa melakukannya kepada saya. Sore harinya mama tidak sengaja menge-rem mobil yang kami tumpangi secara mendadak, membuat saya yang duduk di kursi samping supir, terlempar menghantam kaca.

Sejak itu kepala saya sering sekali pusing. Bahkan seringkali berakhir sangat mengerikan, seperti langit-langit yang serasa runtuh, raksasa yang terasa menginjak kepala, atau rumah yang terus berputar.

Tidak ada penjelasan medis, bahkan setelah beberapa kali mengunjungi dokter, sampai di rontgen segala. Waktu itu saya menyangka, saya akan menghabiskan seumur hidup saya, merasakan pusing.

Sampai sebuah de javu...
***

Di tempat yang sama persis. Dengan kejadian yang sama persis. Seperti sebuah reka ulang, kepala saya kembali membentur kaca depan mobil. Cukup keras, i even could feel a snap in my head. A snap that heal me.

Hari itu, pusing tidak lagi datang melalui langit-langit yang berputar atau raksasa. I cheated it.
***

Memang, kadang-kadang pusing masih mengunjungi saya. Cukup sering ketimbang yang biasa orang rasakan, seperti hari ini. Pusing yang belum pernah saya tahu. Mungkin ini hanya sebentuk salam lainnya dari pusing.

Pacar saya menyarankan untuk pergi ke dokter. Saya belum mau melakukannya. Mungkin saya takut. Atau mungkin saya lebih percaya spekulasi saya sendiri.

"Like that old movie Final Destination, Devon Sawa once cheated destiny, the worst of it, death. It ends haunted him forever, ini a little less form of destiny.
Well, i guess it's better than the worst. The death itself."



Tuesday, September 21, 2010

Day #5 : Mr. Postman.



Accidentally found this picture, and all of sudden, I feel like I miss Mr. Postman. It's been a while since I last did writing with my own hands and pencil, instead of keybaoard. Put it in an envelopes, stamped it, and send it with Mr. Postman's help.

I miss the feeling of waiting on the porch, beside the mailbox, and opening it every minutes, until Mr. Postman finally arrived.

the satisfaction pays all the effort.

***

well, I'm gonna do something for the sake of Mr. Postman. I'll tweet about it.



pictures taken here.

Monday, September 20, 2010

Day #4 : beberes.



Seberapa benci kamu akan kata : "beberes" ?

Saya yakin kebanyakan akan menjawab, SANGAT. Tapi saya yakin, saya lebih membencinya ketimbang siapapun.

Seriously, i hate it so much!
***

Entah itu beberes dalam konteks, rumah, kamar, cubicle kantor, bahkan rambut. Berbeda dengan adik saya, yang entah kenapa, gila kerapihan, saya benci segala sesuatu yang tertata. Menurut saya segala sesuatu yang diatur itu tidak normal, tidak natural, tidak seru.

Di kampus dulu, saya dikenal bukan karena saya mahasiswa teladan atau mahasiswa yang banyak kegiatan. Saya seringkali lebih dikenal gara-gara rambut saya yang tidak pernah disisir. Padahal, bukan maksud saya jadi terkenal gara-gara tidak pernah nyisir, saya hanya malas menyisir, benci menyisir. Karena dengan menyisir, itu artinya saya harus beberes rambut setiap hari, sebelum berangkat ke kampus.

Ibu saya pernah bilang, "anak cewek kok, ngga pernah nyisir. Nanti ngga ada yang naksir." Saya tidak peduli, kebetulan waktu itu sedang ada yang naksir pada saya. Lagipula untuk apa menyisir--beberes--untuk orang lain, agar suka pada kita.
***

Suatu hari, saya menemukan rambut saya ruwet. Seperti habis digimbal. Saya coba mengurainya dengan jari, dengan tangan, dengan shampoo. Hanya sisir yang tidak saya coba, karena saya tidak terbiasa menyisir, saya tidak punya sisir.

Hari itu, rambut panjang saya harus dipotong. Saya hampir menangis. Rambut saya harus dipotong, hanya karena saya tidak suka menyisir. Sebuah hal yang selayaknya dilakukan semua orang yang mempunyai rambut.

Saya melihat helaian rambut yang jatuh satu persatu. Hidup saya yang berkembang bersama rambut itu juga ikut berjatuhan.

Hanya karena saya tidak suka beberes, hidup saya harus terpotong. Tersendat, menunggu nya tumbuh kembali, sampai panjang seperti sebelumnya, lalu baru memulai kembali.
***

picture taken here .


Dalam rambut pendek saya, saya akhirnya mengerti. Beberes itu bukannya agar kita disukai orang lain, karena kerapihan yang kita miliki. Beberes itu untuk menata apa yang kita punyai.

Karena saat semuanya tertata, kita tidak perlu menunggu.

Sunday, September 19, 2010

Day #3 : so, it isnt't that easy.

Mudah memang mengatakan pada dunia apa yang kita pikir kita bisa lakukan. Yang lebih susah adalah melakukannya.

***

Saya tumbuh sebagai satu sosok instan, yang kurang menghargai proses. Saya mengucapkannya dengan bangga, karena itulah saya. Ibaratnya membaca buku, saya tidak akan ragu-ragu melompat ke bagian akhir, kalau di tengah-tengah saya mulai bosan dengan alur ceritanya.

Ya, saya memang selalu kalah dengan rasa bosan. Bosan berkerja, bosa menonton, bosan di rumah saja, bosan ini, bosan itu.

Tapi saya tidak pernah mengira saya akan sampai pada satu kata ini : bosan menulis. Bosan pada sesuatu yang saya selalu katakan kepada orang lain, akan terus saya lakukan.

***

Entah ini hanya sebuah fase, atau ini akan berlangsung lebih lama. Semoga ini hanya sesuatu yang mereka bilang writer's block.

Karena saya sangat suka menulis. Satu-satunya hal di dunia yang saya tahu bisa saya lakukan dengan benar.

But yes i have to admit. It's not that easy to do what you think you could do.





Friday, September 17, 2010

Day #2 : blank page.

i pushed myself harder than before. and i feel like i'm standing on a blank page of my life. drunk of failure, waiting for someone to slap me in the face.

i pray to something i didn't know exist. a true happiness that nobody could describe.

sick, i wrote a page of my wish. and it's still blank.





Day #1 : dalam sepotong paha ayam goreng.

makan.
satu hal yang kita tahu, kita sama-sama suka. Hanya saja, kadang kita suka makan yang berbeda.

Seperti kamu yang bilang ayam goreng bagian paha itu adalah pemborosan besar-besaran. Sudah bayar mahal, hanya dapat sepotong daging berlemak. Sebaliknya saya bilang ayam goreng bagian dada itu rasanya tidak enak, terlalu berserat, dan akan sangat menyiksa menghabiskan sepotong besar daging yang seperti itu.

Dalam paket kita belajar berbagi.
Memesan satu paket dua ayam, satu nasi, dan minuman, ditambah satu nasi ekstra, akan membuat kita puas. Kamu mendapatkan dada ayam kesukaan mu, dan saya akan menikmati paha ayam yang kamu sisakan tanpa harus protes, kenapa bagian mu lebih besar.
Satu gelas besar soda akan kita minum bersama sesudahnya. Saya hanya perlu sesisip untuk melepas dahaga, karena rasa soda selalu membuat saya kesal, kalau terlalu banyak, dan kamu akan menandaskan sisanya, karena kamu selalu adalah penyuka soda.

***

Beberapa hal tentang makan telah membuat saya mengerti, apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Kita berbagi.

Tidak hanya ayam goreng, tapi juga sepiring lemak daging yang selalu kamu pinggirkan untuk saya habiskan, sepotong bala-bala spesial yang membuat mu sampai harus menelepon saya untuk memberi tahu, dan sekotak cokelat yang selalu kamu makan sedikit saja untuk akhirnya saya nikmati.

***

you once said that you don't share food. in some kind of way, you actually share. it's just about finding the right sharing partner.
============
*another attempt to 30 Hari Menulis Blog. Let's see how will this one ends.
Read more about "30 HARI MENULIS BLOG" here, and be a part of it.

Wednesday, August 25, 2010

me and little pathetic thing called one way anger.


Membabi-buta seperti orang psycho adalah hobi saya dulu. Buat saya, kesalah pahaman itu tidak boleh bertahan lama. Cara penyelesaiannya adalah konfrontasi di tempat. Dan di masa itu, tidak ada apapun, atau siapapun yang bisa mencegah proses itu terjadi, kapanpun, dimanapun. Waktu itu saya berpikir, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan secara sepihak sebuah masalah, yang sebenarnya melibatkan dua (atau lebih) pihak, semakin lah kita akan terperosok dalam perseteruan yang hanya akan membuat capek hati. Saya memilih untuk mencari solusi.

Satu hal yang saya lupakan adalah, mungkin tidak semua orang siap untuk menerima jalan pintas yang saya tempuh. Karena dalam kamus solusi versi saya, 'waktu' dan 'berpikir' tidak ada di dalamnya. Beberapa orang merasa terpaksa, dan akhirnya mengambil keputusan yang tidak mereka inginkan, hanya karena saya memaksa.

Saya adalah si pembenci proses, ketika orang lain mungkin hanya butuh sedikit jeda, dan saya tidak bersedia menunggu.

***

Tapi kali ini, dalam diam saya menunggu. Sabar sekali, karena ada satu hal yang diam-diam ingin sekali saya ketahui, sejauh mana kamu berani melakukan sesuatu untuk saya.

Tentu saja di luar kasak-kusuk tidak adil mu, dalam mempertahankan posisi. But hey, this is not politics. Tidak ada yang namanya pencemaran nama baik atau pembentukan sekutu. Dan tentunya tidak ada double standard.

What I need is impulsive act.

Because when you're impulsive, it means you're true inside.

***

I'm done sitting and waiting. I guess I prove myself wrong about you. I'm gonna leave.






Monday, August 9, 2010

satu hal.satu kata.

saat mendengar berita itu, saya langsung berlarian pulang. Ingin secepatnya sampai di rumah, agar saya bisa membuktikan sendiri, bahwa dia baik-baik saja. Gagah, tegas, dan masih berdiri tegak.

Sayangnya, saya harus berbelok dulu ke sebuah tempat dimana Ia berbaring. Tidak lemah, masih tegas dan gagah. Hanya saja di matanya saya melihat ketakutan.

Saya menangis, dan membisiki di kupingnya, "ayah, kakak pulang..."
***

Saya selalu menggambarkan, membicarakan, dan menuliskan dia sebagai tokoh antagonis dalam hidup saya. Meskipun saya lahir dari buah tangan dan aturan-aturannya saya mengganggap sikap diktatorialnya itu adalah hal yang paling traumatis. Kata-kata yang selalu harus dituruti, perbuatan yang terkadang menyakiti hati, dan kasih sayang yang tidak pernah diberi tahukan. Setidaknya lima tahun belakangan ini, saya semakin merasakan aura antipati. Entah apa yang pernah diperbuat atau dikatakannya pada saya, satu yang selalu saya percayai, dia berhutang satu kata pada saya : MAAF. Dan satu hal yang ingin sekali saya dapatkan darinya : sebuah pengakuan.

Tapi sebagaimana pun antagonis dirinya dalam cerita kehidupan saya, saya tahu saya tidak pantas menyebutnya begitu. Saya ada disini, karena dia selalu ada di belakang saya, dengan caranya sendiri. Saya pun bisa sampai di titik ini, secara langsung ataupun tidak, adalah karena pemikiran saya, yang mulai berkembang berkat beribu-ribu perselisihan dan perdebatan di antara kami.

Saya mulai berpikir. Mungkinkah untuk mendapatkan permintaan maaf itu, saya harus meminta maaf terlebih dulu. Dan untuk diakui, mesti kah saya yang mengakui terlebih dahulu, bahwa keberadaannya dalam hidup saya, ternyata memiliki arti yang luar biasa. Lebih dari sekedar pemeran antagonis.

Hanya satu kata yang menghalangi saya menyadari dan mau melakukan semua itu : KEANGKUHAN. Satu sikap, yang diturunkannya kepada saya, lewat darah yang mengalir di nadi saya hingga saat ini.

Ya, sebegitu miripnya kami, hingga sulit sekali untuk berdamai.
***

Dan ayah berbisik sambil memeluk saya, "kakak, pulanglah lebih sering. Ayah kangen."

Monday, August 2, 2010

Men + Tawa + i = hidup.


sometimes life is just unpredictable, menyerang dengan kejutan-kejutan saat kita lengah. Menghalang-halangi rencana yang sudah disusun matang. Menyebalkan ? Pasti! Mengutip kalimat seseorang, seperti ini rasanya :

"kayak ditabrak truk, pas lagi nongkrong di warung kopi, di dalam kampung yang jalannya ngga cukup buat dilewatin truk...

atau lagi nyebrang, tiba-tiba ditabrak boeing 737...

atau lagi ngerokok di genteng, terus ada orang pakai parasut mendarat di samping kamu, trus ngomong bahasa Jerman."


Dia serius waktu bilang begitu. Memang orangnya 'serius' menghadapi hidup. Andai saya bisa sedikit lebih seperti dia.

Mentertawai, bukan mengutuki hidup.



be good to me, Monday.

Some people are keep saying, "I hate Monday", As if Monday is always very cruel to them. But, Hey, what's wrong with Monday? It could be sweet too, you know..

In my case, literally SWEET.
***

sweetness #1 : Cereal & cold Milk

Partner siaran saya menyodorkan sekotak cereal siap makan, lengkap dengan sendok dan susu putih. I love cereal. Bahkan cereal bisa membuat saya menyukai susu yang biasanya saya benci. And I love having a sweet breakfast with a sweet friend.

Thank you. :)
***

sweetness #2 : Croissant, frapuccino, and chocolate cookies.

Kami (saya dan--masih dengan--partener siaran saya) membuka bungkusan besar itu. Seperti yang dijanjikan, seorang pendengar morning show kami, mampir membawakan sarapan. Bahkan orangnya tidak sempat kami temui. Hanya ada secarik kertas robekan kecil, "selamat sarapan :)." Mendengarkan ocehan kami saja sudah sweet. Masih ditambah lagi sarapan pagi ?

Thank you. :)
***

sweetness #3 : chocolate-wafer bar.

"Mari kita makan sama-samaaaa....." seorang teman menyodorkan satu bar cokelat, hadiah pernikahannya dari seseorang. Rasanya super manis. Entah memang begitu, atau manisnya bertambah karena kehangatan berbagi?

Thank You. :)
***

It's still 12.30 AM, and so many sweetness have occured. I hope another half of the day could be even sweeter.

Just like those cynical-hopeful twitter posts in my timeline, "Be good to me, Monday..."

monologue.

so I guess I failed my project, #30harimenulisblog...

Membuktikan bahwa bagaimana pun, saya tidak bisa menulis dengan cara dipaksa. Sekaligus pertanda, satu lagi kegagalan terjadi di tahun ini, padahal ramalan zodiak bilang ini tahun keberuntungan saya.

Well, whatever the prophecy said, it's not gonna work unless we fight harder...

***

oh ya, that was a monologue.

Saturday, July 31, 2010

city of us.

As cheesy as it sounds, this city of flowers would forever be my rememberance of you. of us.

***

Reality had been so cruel to us those days. Once it made me fall in to you, but another day it just drove me away from you. Leaving a mark that would never be erased.

I'm sorry, that's the thing that i'd never able to say to you before. But i have to admit, I think you're the one who owe me an apologize from that moment.

You see me as if i was invisible, when on the other side you were my number one. I guess it's kinda unfair.

And i still remember how you beg me to become yours again. You cried. You i said your life was going to be miserable without my presence. And i told you that you're sick. Bad choice of words. It only made you think that I was your greatest cure.

A deadly storm lighting thunder striked us. You realized at that moment i was never going to be yours again, and I knew, you're not the one with whom I'll be living with for the rest of my life. I just couldn't stand the idea of me, as your comforting zone.

I chose to deal with three scariest words, when they're put together; Without.Your.Love.

***

I always wondering how would we be good together. Sitting on the bench, under the blue sky. The blue sky that had collapsed. Flown away by our failed dream of forever.

It's a shame. Because It was not like the Adelaide sky that had fallen apart. It's our sky, the blue one above our city of flowers.

***

Sometimes, I wish I could turn back time. So that i could go back to that carnival where I met you, and said my deepest apology when you first shake my hand, instead of a warm halo. Maybe that way, you would considered me as a freak, and just lost in the crowd, never turning back, never bring 'us' a chance.

*the bold words came from Adhitia Sofyan's EPs and Album, his songs title that reminds me of someone important. I hope he doesn't mind.

opened options.

we do have an option. Just don't make them one of your priority until you know you're theirs.

***

kick in a head when you said that, friend.

maybe i would have me as my priority instead of whoever they are. Until I know that I'm somebody's priority, then I'll keep my option wide open.

mengukur.

Quotes of the day :
"Untuk para perempuan, jangan biarkan apapun atau siapapun, mengajari kalian bagaimana caranya untuk menjadi cantik." -- seorang idola, Kartika Jahja (Tika & The Dissident)
***

Saya mengingat bagaimana seseorang pernah mengatur saya bagaimana caranya terlihat cantik. Hanya saja, pada waktu itu saya tidak sadar, dia melakukannya dengan cara membuat saya merasa jelek. Merasa tidak special dan tidak ada.

Sementara dia seolah mulai mencuri energi 'kecantikan' saya, saya mulai bertengkar dengan diri saya sendiri. Saya menetapkan standar yang tinggi, menghukum diri saya sendiri, dan berkata hal-hal menyakitkan hati, hanya untuk merasakan bahwa saya memang tidak layak disayangi.

Saya bermusuhan dengan diri saya, hanya karena orang lain. Diadu domba oleh ukuran yang sama sekali bertolak belakang dengan yang saya miliki.
***

Pada akhirnya saya mulai menyadari, tidak ada seorang pun yang boleh menggunakan ukurannya untuk menilai saya. Karena sebaik apapun ukurannya, itu bukan punya saya. Dan apapun yang bukan kepunyaan saya, hanya akan tampak kedodoran, kesempitan, dan tidak enak dilihat.
***

Another quotes of the day :
"Berbaikanlah dengan dirimu sendiri, dan kamu akan baik-baik saja." --seorang teman baik, Rizky Amalia.

a failed love song.

You and your silly head
You and your silly hatred
You and your silly own world
You and your silly dream of living underworld

Me and my silly insecurity
Me and my silly sudden obbesity
Me and my silly needs of companion
Me and my silly lack of love union

you can't stand me complaining the traffic
I couldn't help to yell when you said you're lunatic
you won't be holding my hand any longer when i said i need
I wouldn't let you away and enjoy your weed

You can't stand me, and I can't stand you
So why can't we stand to stay away from another

maybe it should be me that leaving for good
Before our failed love song waken up the neighborhood

*wrote this with a possibility that someone could turn it into song. Yes, you're the one I imagine doing it (you know who you are... :) )

Wednesday, July 14, 2010

with you i'm weak.

Once effy said to freddy on 'skins' : "when I'm with you I'm weak. Our love makes me weak, and I'm afraid I can't take the world anymore."
5:42 AM Jul 12th via UberTwitter


Most girls strugle to stay strong in this insane world. Just to make people look up to them. But...
5:50 AM Jul 12th via UberTwitter

When it comes to love, they are forced to be weak. Because when they're too strong, most guys will be intimidated.
Monday, July 12, 2010 7:55:17 PM via UberTwitter

It's like the world force girls to stay behind. Just like those silly phrase, "there's always a great woman, behind the great man."
Monday, July 12, 2010 7:58:12 PM via UberTwitter

Why can't we take it in reverse or just admit it, there are girls that better than most guys.
Monday, July 12, 2010 8:01:10 PM via UberTwitter

And some other are stronger than what they seem.
***

And now i'm at the weakest part of my entire 23 years. I need somebody to lean on. To hold my hand when I shed tears, hug me when I finally admit, that i'm at the end not one of those girls, and say 'it's okay' when I said I'm weak because of you. Just simply to giving me the permission to be weak, sweeping away my unconsious pshyco thinking, and helping me facing the world.

But, you're not there.


I'm afraid, you were never there.

Saturday, July 10, 2010

life surprise(s).

Seorang teman bilang dia lebih memilih untuk dikejutkan oleh hidup. And I should do too. You know what...
about 13 hours ago via UberTwitter

Life surprised me a lot lately. And I'd prefer to be stable. I'm not well of taking surprises...
about 13 hours ago via UberTwitter

Birthday surprise,I could just said,"uh,thanks!" Valentine surpise, I said this first before someone gave me some, "valentine sucks!"
about 13 hours ago via UberTwitter

And of course, life surprise(s). I said, "fuck you life, you can go to hell, and burn. Let me just LIVE normally, like other people do!"
about 13 hours ago via UberTwitter

For once in my life, I want to be normal,average,main stream, or whatever 'normal' called.No more surprises please,just please let me be me.
about 13 hours ago via UberTwitter

***

Life surprise(s). Written for #30harimenulisblog #9. Too lazy to open up my laptop, just gonna copy it to my blog later.
about 13 hours ago via UberTwitter

*my first attempted micro-blogging. Posted here without any editing.

Thursday, July 8, 2010

siapa yang tahu waktu akan membawa kita kemana, ya?

Kadang kita bertukar rokok.
Kadang sekedar bertukar lagu.
Kadang cuma bertukar kabar tidak penting.

Ada satu bagian dari diri saya yang selalu bertanya-tanya, apakah kamu orangnya?

Jika iya, entahlah apa saya akan merasa lega atau menyesal, membiarkan kamu menunggu begitu lama.

Tapi, siapa yang tahu waktu akan membawa kita kemana, ya?

Wednesday, July 7, 2010

too much of you.


From Dian Sastro to Mariana Renata.
From Kate Bosworth to Megan Fox.

I don't find them intimidating.
They're just too much.

And you are the right portion of your ownself.

***


pict taken from here.


the mythical Mr. Perfect.


"Rindu mengorak menarik hati serentak
hey-hey siapa dia...
Wajah sembunyi di balik payung fantasi
hey-hey siapa dia..."
***

Mendengar pembicaraan seorang teman saya sedang mempersiapkan pernikahan, saya menanyakan sebuah pertanyaan klasik : "So, how do you know that he's the perfect one ?"

Saya sering sekali menanyakan pertanyaan ini, sampai-sampai bosan sendiri. Saya selalu ingin tahu proses awal dibalik keputusan penting itu. 5W+1H, dari memutuskan seseorang sebagai the mythical Mr. Perfect.

Why mythical ? Because i don't believe there is someone that could be soo perfect.

Hal paling saya sukai dari teman saya ini adalah dia seorang realis sejati, yang selalu menemukan logika untuk segala sesuatu. Bahkan untuk sesuatu yang sifatnya absurd dan subjektif macam siapakah Mr. Perfect kita.

"Well, basically you just know. Perfect itu masalah yang tidak bisa disama ratakan. Ukurannya banyak, dan jelas bukan dalam arti kata sesungguhnya. Perfect itu adalah ketika dia datang di saat yang tepat, seperti di saat elo emang udah pengen nikah. Atau sesuatu yang sangat ngga penting, seperti dia bisa mengerti jokes norak lo, atau selera makan lo yang gila. Perfect doesn't always mean that he's extremely cool or what. You'll know what you need."

Begitu kira-kira resume jawabannya.

Saya yang seringkali mendengar jawaban serupa adegan di film Serendipity, langsung berbinar. The cynical and pesimistic me suddenly believe, that someday i'll be able to find my Mr. Perfect. And getting married, making love, having my own home, and be undescribeably happy, despites all the ups and downs.

Finding someone, who's perfect in his unperfections, that sounds possible.


***

Saya bermimpi saya berhadapan dengan Kris Biantoro, memperkenalkan saya dengan suara tenornya. Tentu saja di acara kuis klasik itu, Kuis Siapa Dia. Hanya saja judulnya kali ini, "Siapa Dia si Mr. Perfect". Potongan wajah dikeluarkan satu-persatu di layar. Saya menebak dan gagal. Lalu tirai itu terbuka.

Isinya seorang pria duduk diatas kursi, wajahnya gelap.

Tapi itu sama sekali bukan mimpi buruk. Itu hanya kenyataan. Mungkin memang saya belum menemukan dia.

'Dia' masih menunggu di balik tirai, dengan sabar, menunggu jawaban saya tepat dengan potongan-potongan wajahnya, yang ditampilkan di layar.

***

"Payung fantasi arah kemana dituju
hey-hey tunggu dulu...
Bolehkah aku melihat seri wajahmu
boleh kah disayang....

Siapa geranfan tuan...
pembawa pelipur rasa bahagia...
cendrawasih dari bulan...
Ataukah si bintang siang"
(Payung Fantasi-Ismail Marzuki
)


bapak.papa.AYAH.daddy.pops


"Some people lost a big football match, while others had just lost a family member. World is really unpredictable, yes?"

***

Betapa menyesalnya saya ketika tidak sempat menerima telpon dan membalas message teman saya, soal kabar duka yang menimpa keluarganya secara tiba-tiba. Semuanya hanya karena keteledoran saya, yang lupa me-non-aktifkan mode silent di HP saya.

I really-really want to be someone who comfort her in this kind of situation.

***

Pulang makan malam itu, saya masuk ke kamar dengan kesal. Menyesalkan betapa tidak asiknya penjaga kosan saya, yang melarang pacar masuk, hingga saya tidak sempat cuddling dulu sebelum tidur. Atau menyesali betapa bodohnya saya yang membiarkan sebuah kewajiban menggantung begitu saja, hanya karena malas. Meratapi diri sendiri, yang sudah gagal memenuhi tantangan '30 HAri Menulis Blog' di hari ke-empat.

PLUS, sebuah hal yang selalu saya keluhkan setiap hari : "Kenapa ayah saya adalah orang seperti dirinya."

Semuanya nampak seperti keluhan wajar seorang anak, yang sedang bosan hidup begini-begini saja, sambil sesekali menyalahkan diri sendiri, dan mengkambing hitamkan cara ayah nya mendidik dan memperlakukan.

Sampai pacar saya datang,LAGI setelah mengantar saya pulang tadi, menggedor pintu rumah saya dengan panik. Katanya ayah sahabat kami meninggal.

Ya, sahabat saya yang tidak sempat saya balas message nya tadi. Saya menengok ponsel saya. Puluhan missed call, dan sepotong kata pendek di aplikasi Yahoo Messenger "Ginna..."

***

Dengan back sound dramatis sorakan dan umpatan serta bunyi vuvuzela dalam mode sayup-sayup, matanya kosong, ketika menceritakan sepotong kisah terakhir tentang sang ayah. Sekali-sekali cuma ada sekilas tawa miris. Ia takut tidak bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Entah kenapa, saya bisa merasakan semua emosi yang sedang dia rasakan, lalu mulai mengasosiasikannya dengan diri saya sendiri. Betapa saya tidak akur dengan ayah saya sendiri, selalu menuduhnya tidak pernah menghargai saya, dan jarang sekali mendengarkan pendapat saya. Tidak pernah puas, tidak pernah memuji, tidak pernah cukup menyayangi saya. Jarang menemani saya, seringnya hanya memarahi. Saya banyak menyalahkannya akan keadaan saya yang seperti sekarang. Akhirnya jarang mengunjungi, tidak menelpon, dan berhenti mengingat yang baik-baik soal beliau.

Anak durhaka, mungkin itulah saya.

Anak perempuan yang sedang berusaha berdamai dengan kenyataan, bahwa seorang ayah hanya berusaha menjalankan tugasnya.
***

Saat sedang menunggu sambil harap-harap cemas akan kepastian tiket pesawatnya, untuk mengantar ayahnya terakhir kali, dia membisiki saya, "Baik-baik lah sama bokap lo. Lo ga akan pernah tahu kapan bakal kehilangan..."

Saya merasa ingin menelpon ayah saya saat itu juga dan meminta ampun. Seperti biasa saya tidak melakukannya karena terlalu gengsi. Tapi di siang bolong itu, saya kembali mengingat sepotong-sepotong kenangan yang lucu bersama ayah.

Saya ingat digendongnya di pundak, dibilangnya pelan-pelan, bahwa saya adalah anak kesayangannya.

Sunday, July 4, 2010

fin.


" i want to live in those comic books. Sure there are ups and downs.
But, we always could go to the last page,
and see the beautiful ending. "

***



* the pict taken here. thanks!

Saturday, July 3, 2010

when you're not around.


it's an 'argentina vs germany' big match time.
I don't really care, but maybe this is going to be useful, if I forgot when i write this thing down.
Maybe it also could answer the 'why'...

***

because i'm lonely. that's it.

***

People cheering like it was Indonesia who play at the big game. Maybe if it was really Indonesia, I also wouldn't give a damn.

I like to listen to my heart when you're not around. It says " Let's get out of here, you silly!"

Friday, July 2, 2010

a conventional confession.


Topik siaran pagi ini :
"Hal apa yang menurut anda harus tetap konvensional dan apa adanya ? Boleh benda, pemikiran, apapun, bebas!"

Partner siaran saya bilang :
"Surat-menyurat. Harus tetap lewat pos. Ayo kita hidupkan korespondensi yang sebenarnya!"

Saya sih bilang :
"Kamar mandi Indonesia. Pakai bak mandi, ada gayung, boleh basah. Ngga usah sok kebarat-barat an, pakai bathtub, dan harus kering. Biar mandinya puas"

Kami tidak pernah berpikir akan ada yang menjawab :
"WANITA harus tetap konvensional..."


WTF, said us (off air of course)...

***


"...wanita itu harus tetep konvensional. karena wanita modern membuat saya pusiiiingggg..."


Begitu kata si pendengar itu via SMS. Lebih ke arah curhat memang, tapi entah kenapa ya, saya kok tersinggung.

Mungkin kata-kata ini justru datangnya dari orang--laki-laki--yang sangat konvensional. Takut akan perubahan. Bahkan tidak rela kalau wanita jauh dari stereotype yang ada dalam bayangannya. Lemah lembut, tinggal di rumah, nurut sama suami, ngga punya power. Semoga sih tidak disertai pakai konde, kebaya, dan jarik. Semoga, maksudnya wanita modern juga bukan, yang suka keliaran tengah malam, one night stand sana-sini, sambil mabuk-mabukan.

Tidak enak sekali rasanya menjadi serba salah. Kalau jadi konvensional artinya lemah. Kalau jadi modern takutnya jadi liar.

I'm not a feminist or such a thing. Tapi mendengar masih banyak pemikiran begitu soal wanita membuat saya sedikit gila. Lalu buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, mengejar karier, dan berusaha mandiri, kalau akhirnya disuruh kembali lagi ngulek sambel, dan dituntut menghasilkan sambel enak, karena kalau tidak katanya bukan istri teladan.

There is nothing wrong of being modern woman. You, guys, who need to eat that fact, and face it wisely!

***


"Kalau kata saya, yang harus tetep konvensional itu DASHBOARD..." kata seorang teman lewat twitter.

Kami berpandangan, lalu tertawa lepas kontrol, sambil mencari-cari judul lagu Vindicated sebagai gong.


*You know what, Chris Carraba is not a conventional man either. I heard he's gay... And it's confessional, not conventional.

Thursday, July 1, 2010

the shoes ballad.


"Yo, Move your big a**, lady....Make a room!" seru si Loreng marah-marah. Pardon her language, gaya nya memang begitu. Terobsesi jadi artis R&B afro-american. Liat saja dandanannya dengan leopard print warna cokelat itu.

"Haduhh...harusnya situ yang agak sedikit minggir. Saya kejepit nih..." kata si Manik tidak kalah ceriwis. Dia membereskan manik-manik merahnya, yang terinjak.

"Sssst.... tenang!" Si Purple mengambil alih, mungkin dia yang paling waras di ruangan itu. Gaya bossy nya, dengan satin berwarna ungu itu, membuatnya semakin tampak seperti leader. "Lebih baik kalian diam. Atau orang akan mendengar kita."

***

Manik-manik warna merah menyala.
Ungu satin yang anggun.
Dan satu lagi, leopard printed cokelat. Dia favorite saya.

Mereka dimasukan secara paksa ke dalam kantong belanjaan itu, oleh penjaga toko. Saya menenteng mereka dengan puas. They perfectly ended my day.
They just didn't know.
***

"huhuhu....aku berdandan begini bukan untuk dikurung gelap-gelapan bersama kalian. Lihat manik-manik merah ku, lucu khannn...," Manik mulai menangis.

"Welcome to the club. Gue juga disini untuk pamer motif leopard ini. This is so HOT you know..." sahut Loreng acuh tak acuh.

"ssshhh....please girls, stay quiet. We're shoes, we aren't suppose to talk. just sit pretty and be patient. We're made to be worn. Believe me, this is just a beginning of our wonderful journey... " ucap Purple bijaksana.

Mereka bertiga menatap ke atas. Ada cahaya. Disusul dengan sepasang tangan manusia. Tangan yang gemetaran karena senang.

"Yes miss, shoes are made to be worn, and one of you are going to accompany me starting this lovely July.

Oh, maybe the red one is perfect..."
bisik manusia itu.

***

Saat mengeluarkan sepatu manik-manik merah dari kantong, saya mendengar pekikan tertahan, "yayyy! she had just picked me!"

Did she just speak ? Are shoes suppose to speak, like all those toys in Toy Story ?

Well, mungkin saya berhalusinasi akibat euphoria berbelanja sepatu kemarin malam.

===========================================

btw, this is my first attempt of continously writing my blog in this whole July. Theo nantangin saya. And i said yes. Mungkin juga saya menantang diri saya sendiri. Menulis setiap hari dalam sebulan, that should be interesting. And, yes, I definitely said yes....

Let this feast begin "30 Hari Menulis Blog" !!! *finger crossed

Friday, June 4, 2010

move through.

kantor ini ternyata membosankan.
saya baru ingat, pertemanan yang membuatnya menyenangkan.

mungkin saya harus bekerja di taman kanak-kanak saja. Meskipun saya benci anak-anak, tapi setidaknya pertemanan mereka tulus.

***

I'm ready to move forward, now.
Wait for me folks!

Thursday, June 3, 2010

emotional emoticons.


:) happy
:( sad
:x love struck
X( angry

these kind of emoticons make our world seems easier. But, how about if we want to express something un-describeable.

Like "i love you, but i'm so angry, that i couldn't say if I were happy or sad" ?

That's another story i guess.

***

Entah kenapa jika saya berkirim pesan dengan-mu, selalu ada emoticon-emoticon itu. Apakah karena kata-kata tidak cukup atau memang terlalu sulit untuk mendeskripsikan apa yang kamu dan saya punya lewat kata-kata.

Maka saya akan hanya mengetik :) di belakang kalimat pendek saya, dan kamu membalas dengan x) di belakang jawaban mu.

Saya terkikik geli. Bukan karena gurauan mu, yang entah kenapa selalu sulit untuk saya cerna, tapi karena emoticon itu x) sangat mirip kamu ketika kita biasa ngobrol setiap hari.

Sayangnya kamu dan saya memang bukan pasangan terbaik di atas kertas. Saya begini, kamu begitu. Kita berbeda. Tapi, bukan jenis perbedaan yang bisa melengkapi satu-sama lain, hanya perbedaan yang berbeda.

Sulit untuk paham bagaimana emoticon-emoticon itu bekerja mengirimkan pesan-pesan emosional. Seperti senyuman yang kamu kirimkan siang ini, dimana hati saya sedang berwarna hitam karena sudah lama tidak diisi semangat.

Terima kasih sudah memberi nya warna.

Semoga emoticon itu sungguhan.
***

maybe somebody should just stop creating emoticons.
They could lie you know.

Tuesday, May 11, 2010

i'm a fuckin' mess.

I try to pick up the pieces of me everywhere, but now i'm getting tired.
I'm indeed a fuckin' mess, and i don't know what to do to myself.

Tuesday, April 27, 2010

so, what band are you ?


Saya mendapati seonggok benda yang tidak familiar diatas tempat tidur saya. Sebuah kaos berwarna kuning, yang gambarnya saya kenali sebagai mendiang raja pop, Michael Jackson. Tidak lupa ada tulisan R.I.P. nya. Mmmmm....Well, kita semua sudah tahu dia sudah meninggal, buat apa sih diberi keterangan lagi, dicetak jadi kaos pula. Gambarnya besar, jelas, dan....mmm....sangat MJ. Sementara tulisannya juga besar, jelas, dan....mmm...sangat berusaha meyakinkan kita bahwa dia (pembuat kaosnya) adalah orang paling berduka sedunia.

Oh ya, by the way, kaos itu ternyata oleh-oleh dari pacar adik saya, UNTUK SAYA.

Sempat tersinggung sih, kenapa dari semua band dan musisi yang ada di dunia, yang mungkin dijadikan kaos, saya malah diberi yang bergambar MJ--saya bahkan tidak berpikir moonwalk nya itu keren. Tapi mau bagaimana lagi. Itu khan pemberian (jangan marah ya pacar adik ku). Salah saya juga pesan kaos band tapi tidak menyebutkan secara spesifik namanya (sekali lagi jangan marah ya, setengahnya memang salah saya).


But.....seriously, AM I LOOK LIKE A MICHAEL JACKSON's FAN ?

***

Pacar saya pernah bilang, "Taruh-taruhan, yang. Setengah dari ABG-ABG yang pakai kaos Antrhax atau Lamb of God itu, pasti ngedengerinnya Avenged Sevenfold....." Saya tertawa. Bisa jadi sih. Soalnya agak tidak masuk akal juga kalau ABG-ABG seumur adik saya, mengidolakan band dan mendengarkan musik yang umurnya mungkin lebih tua dari ayah saya. Tapi marilah jangan meng-under estimate-kan mereka. Bisa saja pengetahuan musiknya jauh lebih luas dibandingkan dengan saya sendiri, yang kebetulan berprofesi sebagai music director. Dan biarkanlah mereka berekspresi, toh masih muda.

Saya sendiri punya dua kaos band di lemari saya. Satu dari band lokal, Efek Rumah Kaca, yang karya-karyanya saya dengarkan secara religius, satu lagi dari band-legendaris-yang-kalau-saya-sebut-tidak-mungkin-tidak-kenal, The Beatles. Diantara keduanya yang saya sebut pertama lebih sering saya pakai--sampai-sampai sekarang hilang di tumpukan cucian kosan. Entah karena bahannya yang nyaman, atau hati saya yang nyaman ketika memakainya, jadi kalau-kalau ada orang yang beratanya "Eh, Efek Rumah Kaca itu yang kayak gimana sih ?" saya bisa menjawab dengan yakin begitu.

Lain dengan kaos The Beatles, yang sengaja saya beli di flea market, untuk sengaja kembaran sama pacar saya. Seringnya saya pakai untuk di rumah, dimana tidak akan ada yang mungkin mencoba me-ngetes pengetahuan saya akan band tersebut. Karena, paling-paling saya hanya bisa menyebut Lennon, Mccartney, Inggris, Abbey Road, dan Hey Jude.

Begitulah kaos band buat saya. Seperti identitas, buat apa dipakai jika tidak paham.

Saya yakin, pacar saya juga lebih senang mengenakan kaos Nine Inch Nail atau The Perfect Circle-nya ketimbang kaos The Beatles kembar kami--dan terlihat lebih tampan juga.

***

So, what band are you ?

p.s. : and once again, am i really, really, really.....like a Michael Jackson fan type ? *heart broken*


Wednesday, April 21, 2010

living (as) zombie

Dia berlari terengah-engah. Kota kosong ini terasa semakin mengerikan. Apalagi setelah teman-temannya mati.

Well, bukan benar-benar mati sih. Mereka berubah menjadi zombie-zombie ganas yang menyebarkan virus mematikan. Bukan tidak mungkin dalam hitungan jam virus ini akan menjangkiti seluruh negeri. Dia tidak perduli, yang penting ia tidak menjadi seperti mereka.

Lebih baik dia bunuh diri saja.

***

Belakangan, hari-hari saya, saya jalani sebagai zombie. Bangun pagi pukul 05.40--waktu yang sudah saya perhitungkan dengan cermat, agar saya bisa tidur lebih lama, tapi tidak sa
mpai termbat--, cuci muka-sikat gigi, ganti baju, dan secara tergesa menyetir ke kantor, di jalanan yang masih sepi, sambil humming menghilangkan "suara bantal". Biasanya partner siaran saya sudah datang duluan dan duduk manis di depan mic sambil browsing bahan siaran, saya--lagi-lagi tergesa--duduk di mic yang satu lagi, di depan mixer, sambil memilih lagu opening yang tepat. Sambil menunggu smash opening, kami akan saling mengucapkan selamat pagi, dan sedikit cathcing up cerita-cerita ngga penting. Setelah itu, kami akan siaran selama dua jam penuh, sambil sesekali keluar ke kamar mandi atau minum kopi.
Siaran selesai, saatnya office hour. Tidak lupa numpang mandi dulu di kamar mandi kantor--ya, saya mandi di kantor. Setelah menjemur handuk di balkon kantor, saya akan
mulai bekerja. Sampai jam pulang datang,--diselingi ngobrol, keluar makan siang, atau kabur keluar sebentar menyelesaikan skripsi yang tak kunjung usai--dan saya pergi pulang.
Sampai di rumah, saya akan menyetel TV, nonton sinetron sambil tiduran, makan malam--bersama pacar atau adik--, lalu tidur.
DAN......mengulang kegiatan diatas lagi.


photo by : Duane Michals (check his other awesome works here)


Well, i'm no different with those zombies. I'm soulless. I forgot how to have fun.

Saya lebih ingin menjadi tokoh lain dalam film-film thriller itu. Tidak menjadi pahlawan yang bertahan sampai akhir dan menyelamatkan bumi, tidak apa-apa. Mungkin asyik juga menjadi orang yang pertama kali menyadari pergerakan zombie, tapi tidak dipercaya semua orang, dan diasingkan keluar negeri oleh agen pemerintah, bebas dari serangan zombie.

Karena jelas saya bukanlah pahlawan. Menjadi pahlawan bagi diri sendiri saja susah.

***

zombie-zombie itu pun mendekat, dengan mata mereka yang kosong, lidah menjulur seperti terkena rabies, dan wajah pucat menuju busuk. Ia menahan napas, sambil menembakan senapan yang belum pernah disentuhnya sebelumnya, secara random. Keinginan bunuh diri hilang seketika, lagipula Ia tidak punya nyali melakukannya.

Sayang, ternyata tembakan tidak mempan, mungkin juga pelurunya hanya terbuang sia-sia, karena dia menembak asal. Sekarang zombie-zombie itu meraih kaki dan tangannya. Ia menendang dan memukul, mereka tidak bergeming. Dan ia tergigit. Dalam transisinya menjadi zombie, semua kisah hidup dan emosi yang teraduk berputar di depan matanya. Dia berharap melakukan lebih banyak hal berguna dan pergi ke lebih banyak tempat sebelumnya, untuk diingat di saat-saat seperti ini.

Sayang, dia memang bukan pahlawan dari cerita ini, Ia pun berubah menjadi seperti yang lainnya, bergerak mengikuti naluri, bukan pikiran, dengan mata kosong. Bukannya tidak pernah dia bergerak begitu, tapi kali ini berbeda. Hanya saja, menjadi zombie membuatnya kehilangan identitas.
Kini, ia sama dengan yang lain.

a single cup of froyo.

Fro-Yo. Frozen Yoghurt.
Dingin, asam mengigit, dengan semu manis, renyah, atau asam lagi, tergantung topingnya.

Sama seperti rasa menikmatinya sendirian sepulang kerja, hasil keinginan impulsif di sore hari. Asemmmm, seperti iri melihat segerombolan perempuan yang menikmatinya bersama-sama, sembari saling tukar icip toping masing-masing. Renyah, karena rasanya garing juga tidak punya teman ngobrol, selain twitter dan BlackBerry Messenger.

Untung saja saya memilih toping longan hari ini. Rasa akhirnya manis. Baru saya ingat, sudah lama sekali tidak membiarkan saya menyenangkan diri sendiri. Ternyata rasanya manis.

a single cup of longan toped froyo, and a single right moment of sweet me time. Maybe, that's all I need.


Friday, March 26, 2010

the reason why


"i like indie-music, because of the same reason why i like you.


............

not everybody likes it."

silly .little. things

"Saya ingin blogging, tapi internet saya mati...bete..."
"Gitu aja dibesar-besarin. Udah lah...."

Tapi, saya sangat suka blogging. Dan hey...mungkin itu bukan persoalan kecil.

***

Entah karena pada dasarnya saya adalah orang yang sentimentil atau tidak mau ribet, sejak dulu saya adalah orang yang paling suka 'silly-little-things'. Saya menyebutnya begitu, untuk hal-hal sepele yang membuat saya senang.

Daripada sebuket bunga mawar, saya akan memilih sekantung bibit bunga matahari.
Daripada menghitung bintang di atas bukit, saya akan lebih memilih pergi ke planetarium bersama.
Daripada secarik surat cinta dengan bahasa berbunga-bunga, saya akan lebih memilih komik lucu dengan wajah saya sebagai tokohnya.

Buat saya semua hal itu romantis karena sederhana. Sesederhana cinta, yang menurut saya semudah mengucapkan 'i love u'.

Sama seperti bagaimana sederhananya saya mengukur hari yang indah.

Makan makanan enak, menyetir di jalanan yang tidak macet, mengenakan baju yang tidak sama dengan orang lain, dan menulis kapanpun saya inginkan.

Jadi, tidak boleh kah saya merasa kesal kali ini ?

Semudah bagaimana itu bisa membuat saya senang, kenapa tidak kamu bilang saja, "Boleh..." ?
***

Why are you never even try to understand my 'silly-little-things' ?

Wednesday, March 10, 2010

dunia : sebuah komedi berputar

"komi(e)di putar
tempatku tamasya
seperti dunia putarannya pelan penuh mimpi
komi(e)di putar tempatku bermain
sekarang kelata
lain waktu putri"

originaly from : Komidi Putar-Bonita

Monday, March 8, 2010

sparks that sparked.

he's standing there and i reply his message.
it ain't cheating, we're just chatting.
then why do i feel guilty.
is it because of him that standing there with sparkling eyes, or it's just me.

that sparks remind me of something.
You and me...
should we still be together and let us spark again.
or we better runaway from each other, and find that sparks in someone else's.

Wednesday, February 24, 2010

please, press play

I love these words, taken from Pandji's album tittle :

"You'll never know when somebody come and press play in your paused life" (yeah, something like that...i don't know for sure)

today, somebody press play in my paused life. Not my boyfriend, best friend, or anyone special. He's a stranger, that I meet only on class. my lecturer.

Dear Mr, thank you very much. i'm so happy that i could cry.

and now, i could dance over my life again.

Sunday, February 21, 2010

travelling without moving (yes, i take it from Jamiroquai's)

Risto is Estonian, Martina is Italian, and Rhys is from Welsch (part of UK, correct me if I'm wrong). Vinny is my best friend on high school and Zaky is my baby, we are Indonesian.

We, the Indonesian desperately wants to go somewhere around Europe to feel winter. They, the Estonian, Italian, and Irish, wants to go around the world to learn everything new, and not minus 30 cold.

from rice, bahasa, hot water after meal, to smoking in public transportation, something that maybe seems very common for most of Indonesian, amazed them. I'm not a culture expert or profesional tour guide, but I enjoyed explaining our 'silly' traditions one by one. In addition, they told us their culture, and answer my silly questions like, "where is Estonia in exact?"

whatever reason we have in mind, it's always nice to meet new people, even when you are still at the same place that you've born in.

It felt like I'm already went abroad.


from left to right : Martina, Risto, Rhys, Vinny, Me, Zaky, hanging out on Roemah Kopi

thank's to concidered our country for you 'around the world' destination. Wait for us, the Indonesian in Europe! *and please make sure that we could have rice--or nasi goreng even better--for meal, when we reach your country... haha

ps : Vie, bring me more foreigners, and I'm totally going to go pro with this guiding thing. haha!

Friday, February 12, 2010

living in the box.

I write this thing, while everybody is having this important meeting behind me. In front of me there are a square empty dustbin, ouval wet washtafel, and a towel hanger that has no towel on it.

Yes, i'm not part of that important meeting group. I'm an outsider that happen to be here, put aside at the end of the room.

I'm having a great time. alone, at the corner.

***

Tinggal di kota ini--let's say it's Pandora, so i won't insulted anyone--membuat saya terbiasa harus menjadi bagian dari grup ini, atau geng anu. Di daerah tertentu adalah sekelompok geng motor anarki, yang sedang mabuk dan tidak membiarkan seorang pun lewat di sekitar mereka, tanpa perasaan takut dipukul. Di sisi kota yang lain ada sekolompok musisi indie, yang sedang membahas kemungkinan melebarkan sayap mereka ke sebuah cakupan yang lebih luas, tanpa keinginan untuk pergi dari kota. Di tengah kota , di depan sebuah institut seni terkemuka, sekelompok seniman muda sedang membuka sebuah diskusi kecil mengenai aturan kota yang tidak masuk akal, sehingga membatasi kreatifitas mereka ber-seni. Di sebuah toko buku indie di pinggir kota, sekelompok aktivis feminis sedang mengobrol soal bagaimana mereka bisa menyebarkan filosofi mereka, tanpa terdengar terlalu garis keras. Di sudut gelap yang lain, sekelompok musisi underground sedang marah-marah mengenai segala hal yang berbeda dengan mereka, geng motor yang anarki, musisi indie pop yang membosankan, seniman muda yang terikat selera kapitalis, dan para feminis yang mereka tidak mengerti.

Itu hanya sedikit dari kelompok-kelompok di kota ini.

Salahkan saya, yang tidak pernah ada di dalam salah satu dari kelompok tersebut, untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, tapi kota ini sangat terbiasa dengan stereotype.

Seorang teman baru, pelancong dari Estonia sempat bertanya pada saya, apakah orang-orang di kota ini memiliki pemikiran tertentu soal pendatang dengan warna kulit dan nuansa pupil mata berbeda. Saya menjawab, "Kota kami sangat terbuka dengan pendatang baru. Tidak ada sedikit pun rasisme besar semacam itu yang pernah terjadi disini. Kami hanya memusuhi orang-orang diluar interest kami."

Stereotype yang terjadi di kota ini hanyalah terbentuk berdasarkan ketertarikan terhadap satu hal. Dan rasisme di kota ini hanya terjadi, ketika seseorang yang merasa sangat individual tiba-tiba ingin mencoba blend in, dengan salah satu diantara kelompok dengan interest yang berbeda. Musik, seni, hobby, dan segala sesuatu yang bisa membuat orang bersatu, malah menjadi kotak-kotak sempit yang membuat orang terlalu nyaman, dan mulai menjadi tidak toleran terhadap individualitas.

Musuh kami adalah kota ini--sebut saja Pandora.

***


Living in this city is--literally--just like you're living in Pandora box. You'll never know, how odd it is to be just like YOU, untill you open the box. And there is no room for individuality.

I want to move somewhere, outside the box--as they say about think differently--and be accepted as individual me.

wish me luck.

***

For now,
every single corner is taken, so maybe i have to live side by side
with dustbin, washtafel, and towel hanger.

--------------------------------------------------------------------------------------

pict taken from : www.digitalmonkeys.wordpress.com

Tuesday, February 2, 2010

have to start over, don't we ?


i miss the days when love is much way simpler.
easy to be described and has no drama.

i miss you.
and our days, when there is soo much smile.
when i trust you more than anybody else.

let's start over, baby...

Thursday, January 28, 2010

dearest listeners

sometimes, it's exhausting to be everyone's lover. you have to be nice, put your smiley voice, and pretend as if you are in a good mood. no matter how sick their comments are, or how it affect our dignity as a person.

we are just ordinary people. that's what you should now about us, announcers. we laugh as much as we cry, and we're angry as much as we're happy. all dearest listeners, please be kind. and you're gonna hear us smiling, like we mean it.

"it's nice to be important, but it's 'more' important to be nice..."

*dedicated to all dearest skylover. appriciate us like you want to be appriciated. that would be nice.

Monday, January 18, 2010

adi(a)idan

Posting ini hanya untuk memastikan, anak-anak saya (di masa depan) mempunyai nama seperti yang sudah saya rencanakan. Tidak bernama Budi-Wati seperti di buku Bahasa Indonesia, atau Meghan-Steve, seperti nama-nama artis baru, yang sudah pasti nama samaran.

Nama anak-anak saya adalah : Adia & Aidan

***

Adia
taken from one of a heartwarming number from Sarah Maclahlan, "Adia". It's a calming song, I want my baby girl grow up calm, and be the coolest girl in town and the warmest girl in heart. And remember, it should pronounced as Sarah sing the song : Ei-di-ya.

***

Aidan
named after Carrie Bradshaw's almost-true-love boyfriend, Aidan Shaw. He's warm, nice, and such a gentleman. I want my baby boy to grow up just like Aidan. It's also pronounced Ei-den, just like the perfect heaven people all looking for. And by the way, why not Big, Carrie Bradshaw's true love ? Simple, I don't want my baby boy, grow up like some kind of immature womanizer.

***

dedicated to my future baby girl and baby boy.
And yes, i'd prefer two children only.

Let's Just Fall In Love Again

"Beb, kita mainan jaman PDKT lagi yu...." tanya saya, berseri-seri, berharap.
"Ngga ah, capek." jawabnya, singkat padat, melanjutkan makan.

***

Tidak banyak lagu yang begitu mendengar langsung saya sukai. Jason Castro harus merasa beruntung. Singlenya yang berjudul "Let's Just Fall In Love Again," membuat saya jatuh cinta, bahkan ketika mendengar intronya saja. Entah intronya yang menarik dengan suara siulan, entah judulnya yang lucu, atau liriknya yang lugas dan membuat saya senyum-senyum sendiri.

Let’s pretend baby

That you’ve just met me

And I’ve never seen you before

I’ll tell all my friends

That I think you’re starin’

And you say the same to yours


And oh, we’ll dance around it all night

And then I’ll follow you outside

And try to open up my mouth

And nothing comes out right


Jika dibahasa Indonesiakan, mungkin lagu ini akan berjudul "Ayo Kita PDKT Lagi". Hahaha. Katakanlah saya cheesy, tapi lagu ini membuat saya teringat setiap moment PDKT saya bersama pacar. Berkenalan, pertama kali menikmati sore bersama, mengobrol dan bercanda dengan kaku. SMS tidak penting, telepon canggung, dan saling bercerita soal kegemaran. Tersenyum-senyum kecil mengingat satu sama lain, lalu mengaku jatuh cinta, dan mengajak kencan.

I’ll call you in three days

Not too soon, not too late

And I’ll ask your roommate if you’re home

You call me on Thursday

And we’ll hang out all day

Then fall asleep on the phone


And oh, I’ll hold your hand when we drive

And we’ll lose track of all the time

And we’ll tell everyone

That we ain’t never felt so alive


We’ll fall disgustingly fast

And we’ll stop hangin’ out with friends

And they’ll be so offended

Manis. Dan saya baru ingat lagi rasanya. Tidak ada perasaan yang lebih berbunga dibanding itu semua. Saya ingin merasakannya lagi. Bukannya saya sudah berhenti jatuh cinta. Hanya karena semuanya tadi begitu lucu untuk dikenang. Dan kadang, dengan kebersamaan menahun, pertengkaran, dan sifat jelek pacar yang menjengkelkan, kita lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.

And I wanna fall in love with you again

I don’t have to try

It’s so easy

Who needs to pretend?

But because it’s so funny

Let’s just think about it, honey

Let’s just fall in love again


***

Semoga lain kali dia mau.
Let’s just think about it, honey. Let’s just fall in love again...


==============================================
download the song here:
http://www.get-music.net/mp3-994265/jason-castro-let-just-fall-in-love-again.html


Saturday, January 16, 2010

second trickiest question



"so, miss x... what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?"

The second Trickiest question an interviewer could possibly ask to a writer.

The first is, "who's your favorite author?"


***

Saya seringkali melakukan simulasi gila mengenai bagaimana wawancara soal buku best seller saya berlangsung di masa mendatang. Mungkin saya ada di sebelah Jay Lenno, menari bersama Ellen Degeneres, dan bila beruntung menyelesaikan buku pertama saya sebelum Oprah pensiun, diundang ke studio Harpo. Yah setidaknya bercanda bersama Tukul, atau berdiskusi bersama Andy F Noya, lalu buku saya dibagikan kepada seluruh penonton di studio.

Saya menanti-nantikan saat seperti itu semenjak saya menulis cerita pendek pertama saya, yang terinspirasi dari cerita bersambung di majalah Bobo. Saya suka menulis. Dan saya membayangkan, betapa indahnya jika bisa dikenal orang banyak lewat sesuatu yang sangat saya sukai, dan yang saya pikir satu-satunya yang bisa saya lakukan dengan benar. Menulis.

Simulasi wawancara saya biasanya berlangsung di malam hari, ketika semua orang sudah tidur. Semua interviewer hebat yang saya sebutkan tadi--ehmmm...kecuali Tukul, dia entertainer hebat, tapi interviewer hebat, i don't know, how about if we try to hijack his sacred laptop?--akan memulai dengan pertanyaan dengan inti yang sama.

"Jadi buku anda ini bercerita soal apa?" (Oprah biasanya akan membuka dengan "I Love This Book, I even read it only in one night, and I put in on Oprah's Book Club." Then suddenly, all the Americans said soo)

Saya membayangkan akan menjawabnya dengan kata-kata macam : kontemplasi, refleksi, mediasi, provokasi, atau bahkan sublimasi. Mereka mengangguk tanda puas. Saya telah menjawab dengan cara cukup pintar. Mudah, gunakan saja istilah-istilah sulit berakhiran si.

Pertanyaan selanjutnya, "Apakah ini kisah nyata ?"

Saya akan menjawab, "Ini cerita keseharian. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Ini bagian dari hidup saya, anda, dan semua yang pernah menjadi wanita."

*applause cheering*

"Lalu, apakah anda lebih suka menulis kisah-kisah fiksi atau sebaliknya ? Kenapa ?"
"(Saya memutuskan untuk memakai sedikit bahasa Inggris, jika ini untuk acara lokal, kalaupun Tukul tidak mengerti, setidaknya itu akan jadi umpan bagus untuk lawakannya) I'd prefer to write about life. Tapi, saya bukan jurnalis. Saya hanya tahu berkhayal, merefleksikannya (lagi-lagi istilah berakhiran 'si') pada kehidupan saya, dan menuangkannya dalam tulisan. Saya tidak tau cara membuat feature human interest dan mewawancarai orang seperti anda. Dengan begitu saya bisa mengedepankan kenyataan hidup dengan cara fantasi yang disukai banyak orang."

*applause cheering*

"Oke, sejak kapan anda menulis ?"
"Sepanjang saya bisa mengingat, selama itu pula saya sudah mulai menulis."
"Baik, kalau begitu anda lebih baik punya alasan bagus untuk melakukannya?" (Mungkin Jay Lenno yang akan bertanya dengan cara seperti ini) Kalimat lain untuk bertanya "what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?" The second trickiest question for all writers.

Bahkan dalam bayangan saya, saya terdiam selama beberapa detik. Lalu berkata, "Excuse me ?" hanya untuk memanjangkan waktu berpikir.

Di setiap wawancara yang dilakukan oleh semua penulis, saya menunggu pertanyaan itu keluar. You have to answer it smart enough, or else, people gonna mock you all the way to your grave, as an un-visionary writers.

Saya mencoba, "Saya menulis untuk memberikan pengetahuan dalam cara yang menghibur...??" Terlalu basi.

Coba lagi, "Saya ingin menulis sesuatu yang bisa menginspirasi semua wanita, agar menjadi kuat." Hmmmm...too feminist...

Sekali lagi, "Menulis membuat saya menjadi kuat. Maka saya terhubung dengan semua pembaca di seluruh dunia...bla..bla..bla..." Membingungkan, terlalu lemah, dan secara bersamaan sangat self-centered.

Lalu saya mengingat-ingat dengan khusyuk, alasan saya pertama kali menulis. ...... ..... ......... . Oh tidak, saya tidak punya alasan! Saya hanya suka menulis. Menggerakan jari saya. Mengsinkronisasikannya dengan isi kepala saya, dan menumpahkan segala keluhan hati saya. Lalu membaca nya ulang, hanya untuk memberikan sensasi keberhasilan yang aneh, dan tetap merasakan element of surprises-nya, meskipun semua itu berasal dari kepala saya sendiri. Saya merasa mengenal diri saya ketika saya menulis. Mungkin karena huruf-huruf itu lebih nyata dibandingkan perasaan. Atau menumpahkan sesuatu dalam tulisan, selalu membuat saya seperti habis menyelesaikan salah satu puzzle bagian kehidupan saya. Puas dan lega. Hanya karena itu sebenarnya.

"Well, saya menulis hanya karena saya menyukainya. Saya menulis untuk mengenal diri saya. Just because I like it that bad, that's it,"

Please, ingatkan untuk menjawab pertanyaan 'writing purpose' itu dengan kalimat diatas. Karena saya tidak ingin 'mengarang' sesuatu, sebagai alasan melakukan hal yang paling saya sukai di dunia. Saya hanya ingin jujur. Yah, setidaknya tentang satu hal itu. I don't care if in the end, people mock me to my grave, as an un-visionary best seller writer.

and in my fantasy of finally-answering-the second-trickiest-question-for-every-writers, i get 'boo'-ed, instead of cheering applause.

*people boo-ing*

***

"The last question, who is your favourite author, and give me also the title please..." Oprah said.

"I Like Paulo Coelho's Veronika Decides to Die, because that's the only book that I read to the end, in one single night. Just like how much you love my book, Oprah...." Yes, I beat Oprah up at the trickiest part!

*big smile for the close up*


==================
picture : http://latimesblogs.latimes.com/photos/uncategorized/2008/10/16/laptop_1016.jpg

Wednesday, January 6, 2010

darker you, darker me.




" I like the darker you. So i could cheer you up, and feel like I'm special and important to you. I hate the darker me, because even if you're not there to cheer me up, you're still special to me..."

taken from my "twitter" page, January 5th, 2010
photo by : Rizky Amalia

a (semi)mental-breakdown.

merasa sendirian dan mulai tidak nyaman
mudah menangis
gundah tanpa alasan yang tepat
mengumpat hanya karena hal-hal remeh

Semua symthomps yang bisa diketemukan pada semua wanita di usia twenty-something.... dan pada diri saya.

Am I in the middle of mid-life crisis, or Am I having this (semi)mental-breakdown ?

***

Bergaul dengan banyak teman yang berusia jauh lebih tua, membuat saya sangat mengetahui bagaimana rasanya ada di bagian paling kritis--katanya--dari kehidupan perempuan. Twenty-something. Start on your 22nd or 23rd, and last till you reach another part of life, thirties.
Waktu itu saya hanya manggut-manggut. Saya masih belasan tahun, menunggu ulang tahun saya yang ke-20. Katanya sebentar lagi saya akan memasuki masa-masa paling absurd dari kehidupan saya secara keseluruhan. Meskipun ditakut-takuti, bisa saja saya tidak bisa keluar dari bagian kehidupan itu hidup-hidup, saya malah merasa sangat bersemangat. Di otak saya, yang entah kenapa selalu tertantang untuk melakukan hal-hal buruk--dan selalu kalah (baca : rokok, alkohol, dan hal-hal lain yang tidak enak jika disebutkan)--akan menyenangkan tampaknya memiliki tantangan baru dalam hidup. Maklum, saya baru saja keluar dari masa teenage yang meskipun juga fluktuatif, tapi sangat terasa aman.
Temang saya tertawa melihat sunggingan senyum bersemangat saya. Katanya, "Lihat aja nanti booo! Gue tunggu di sebrang cuma, untuk ngetawain dan bilang, 'what i told 'ya...'"

***

And here I am.

In my not-too-far-from-23-where-it-all-started. Entah ini hormonal atau apa, yang jelas saya merasa menjalani kehidupan saya dalam PMS berkepanjangan. Grumpy, jarang tersenyum, menarik diri dari keramaian, dan mulai banyak mengeluh. Koleksi pakaian yang kurang update (padahal punya satu lemari penuh, yang bahkan sudah sulit ditutup), pekerjaan yang menyebalkan (padahal hanya satu-satunya pilihan yang bisa bikin orang iri, karena waktu yang sangat 'bebas'), kehidupan pergaulan yang membosankan (padahal bertemu orang baru setiap hari, tapi tetap malas memulai hubungan), dan ini itu, banyakkkkk sekaliii. Dan puncaknya, saya mulai sering menangis dalam tidur. Untuk hal yang saya tidak tahu apa. Mungkin ini rasanya menjadi Heath Ledger sebelum meninggal, mencoba melepaskan sosok asing dalam dirinya--yang ternyata adalah Joker, tokoh yang diperankannya sepenuh hati di film terakhirnya--lalu insomnia, hingga frustasi...dan mati.

***

Saya adalah Spongebob dalam episode serial Spongebob Squarepants--yang ironisnya--adalah kesukaan saya. Episode RockBottom.

Dikisahkan Spongebob pergi berlibur bersama Patrick. Namun Spongebob malah tertidur dalam bis dan nyasar ke sebuah kota bernama RockBottom. Pintu masuk kota ini cukup absurd, yaitu sebuah jalan turunan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Kotanya pun sama absurdnya, dengan orang-orang aneh yang tidak dikenal Spongebob, yang bicara dalam bahasa aneh, yang bahkan tidak bisa dibedakan jenis kelaminnya.

Di kegelapan kota asing tersebut, Spongebob berdiri di tepi jalan. Senternya mati, dan hari mulai gelap. Jadwal bis pulang terakhir sudah lewat. Dan, Patrick secara tidak sengaja malah meninggalkannya.

Sendirian. Gelap. Asing. Mendadak Spongebob merasa tidak mengenal dirinya lagi.

***

Menganalogikan kehidupan saya dengan sebuah episode serial kartun, dengan tokoh utama seonggok spons pencuci piring berwarna kuning, memang cukup absurd. Saya sebenarnya melakukannya hanya untuk membuat tulisan ini menjadi sedikit sarkastis dan (berharap) jadi lucu. Tapi sekarang lucunya, saya malah merasa takut.

Jika di episode itu, Spongebob dibuat pulang ke Bikini Bottom dengan selamat, dan meninggalkan Rock Bottom selamanya (maaf, untuk yang belum menonton episodenya, dan saya malah membocorkan endingnya) oleh sang penulis, lalu bagaimana nasib saya ?

Apakah 'Sang Penulis' kisah hidup saya akan melakukan hal serupa ?