Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

Wednesday, July 7, 2010

too much of you.


From Dian Sastro to Mariana Renata.
From Kate Bosworth to Megan Fox.

I don't find them intimidating.
They're just too much.

And you are the right portion of your ownself.

***


pict taken from here.


the mythical Mr. Perfect.


"Rindu mengorak menarik hati serentak
hey-hey siapa dia...
Wajah sembunyi di balik payung fantasi
hey-hey siapa dia..."
***

Mendengar pembicaraan seorang teman saya sedang mempersiapkan pernikahan, saya menanyakan sebuah pertanyaan klasik : "So, how do you know that he's the perfect one ?"

Saya sering sekali menanyakan pertanyaan ini, sampai-sampai bosan sendiri. Saya selalu ingin tahu proses awal dibalik keputusan penting itu. 5W+1H, dari memutuskan seseorang sebagai the mythical Mr. Perfect.

Why mythical ? Because i don't believe there is someone that could be soo perfect.

Hal paling saya sukai dari teman saya ini adalah dia seorang realis sejati, yang selalu menemukan logika untuk segala sesuatu. Bahkan untuk sesuatu yang sifatnya absurd dan subjektif macam siapakah Mr. Perfect kita.

"Well, basically you just know. Perfect itu masalah yang tidak bisa disama ratakan. Ukurannya banyak, dan jelas bukan dalam arti kata sesungguhnya. Perfect itu adalah ketika dia datang di saat yang tepat, seperti di saat elo emang udah pengen nikah. Atau sesuatu yang sangat ngga penting, seperti dia bisa mengerti jokes norak lo, atau selera makan lo yang gila. Perfect doesn't always mean that he's extremely cool or what. You'll know what you need."

Begitu kira-kira resume jawabannya.

Saya yang seringkali mendengar jawaban serupa adegan di film Serendipity, langsung berbinar. The cynical and pesimistic me suddenly believe, that someday i'll be able to find my Mr. Perfect. And getting married, making love, having my own home, and be undescribeably happy, despites all the ups and downs.

Finding someone, who's perfect in his unperfections, that sounds possible.


***

Saya bermimpi saya berhadapan dengan Kris Biantoro, memperkenalkan saya dengan suara tenornya. Tentu saja di acara kuis klasik itu, Kuis Siapa Dia. Hanya saja judulnya kali ini, "Siapa Dia si Mr. Perfect". Potongan wajah dikeluarkan satu-persatu di layar. Saya menebak dan gagal. Lalu tirai itu terbuka.

Isinya seorang pria duduk diatas kursi, wajahnya gelap.

Tapi itu sama sekali bukan mimpi buruk. Itu hanya kenyataan. Mungkin memang saya belum menemukan dia.

'Dia' masih menunggu di balik tirai, dengan sabar, menunggu jawaban saya tepat dengan potongan-potongan wajahnya, yang ditampilkan di layar.

***

"Payung fantasi arah kemana dituju
hey-hey tunggu dulu...
Bolehkah aku melihat seri wajahmu
boleh kah disayang....

Siapa geranfan tuan...
pembawa pelipur rasa bahagia...
cendrawasih dari bulan...
Ataukah si bintang siang"
(Payung Fantasi-Ismail Marzuki
)


bapak.papa.AYAH.daddy.pops


"Some people lost a big football match, while others had just lost a family member. World is really unpredictable, yes?"

***

Betapa menyesalnya saya ketika tidak sempat menerima telpon dan membalas message teman saya, soal kabar duka yang menimpa keluarganya secara tiba-tiba. Semuanya hanya karena keteledoran saya, yang lupa me-non-aktifkan mode silent di HP saya.

I really-really want to be someone who comfort her in this kind of situation.

***

Pulang makan malam itu, saya masuk ke kamar dengan kesal. Menyesalkan betapa tidak asiknya penjaga kosan saya, yang melarang pacar masuk, hingga saya tidak sempat cuddling dulu sebelum tidur. Atau menyesali betapa bodohnya saya yang membiarkan sebuah kewajiban menggantung begitu saja, hanya karena malas. Meratapi diri sendiri, yang sudah gagal memenuhi tantangan '30 HAri Menulis Blog' di hari ke-empat.

PLUS, sebuah hal yang selalu saya keluhkan setiap hari : "Kenapa ayah saya adalah orang seperti dirinya."

Semuanya nampak seperti keluhan wajar seorang anak, yang sedang bosan hidup begini-begini saja, sambil sesekali menyalahkan diri sendiri, dan mengkambing hitamkan cara ayah nya mendidik dan memperlakukan.

Sampai pacar saya datang,LAGI setelah mengantar saya pulang tadi, menggedor pintu rumah saya dengan panik. Katanya ayah sahabat kami meninggal.

Ya, sahabat saya yang tidak sempat saya balas message nya tadi. Saya menengok ponsel saya. Puluhan missed call, dan sepotong kata pendek di aplikasi Yahoo Messenger "Ginna..."

***

Dengan back sound dramatis sorakan dan umpatan serta bunyi vuvuzela dalam mode sayup-sayup, matanya kosong, ketika menceritakan sepotong kisah terakhir tentang sang ayah. Sekali-sekali cuma ada sekilas tawa miris. Ia takut tidak bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Entah kenapa, saya bisa merasakan semua emosi yang sedang dia rasakan, lalu mulai mengasosiasikannya dengan diri saya sendiri. Betapa saya tidak akur dengan ayah saya sendiri, selalu menuduhnya tidak pernah menghargai saya, dan jarang sekali mendengarkan pendapat saya. Tidak pernah puas, tidak pernah memuji, tidak pernah cukup menyayangi saya. Jarang menemani saya, seringnya hanya memarahi. Saya banyak menyalahkannya akan keadaan saya yang seperti sekarang. Akhirnya jarang mengunjungi, tidak menelpon, dan berhenti mengingat yang baik-baik soal beliau.

Anak durhaka, mungkin itulah saya.

Anak perempuan yang sedang berusaha berdamai dengan kenyataan, bahwa seorang ayah hanya berusaha menjalankan tugasnya.
***

Saat sedang menunggu sambil harap-harap cemas akan kepastian tiket pesawatnya, untuk mengantar ayahnya terakhir kali, dia membisiki saya, "Baik-baik lah sama bokap lo. Lo ga akan pernah tahu kapan bakal kehilangan..."

Saya merasa ingin menelpon ayah saya saat itu juga dan meminta ampun. Seperti biasa saya tidak melakukannya karena terlalu gengsi. Tapi di siang bolong itu, saya kembali mengingat sepotong-sepotong kenangan yang lucu bersama ayah.

Saya ingat digendongnya di pundak, dibilangnya pelan-pelan, bahwa saya adalah anak kesayangannya.

Friday, March 26, 2010

the reason why


"i like indie-music, because of the same reason why i like you.


............

not everybody likes it."

Wednesday, March 10, 2010

dunia : sebuah komedi berputar

"komi(e)di putar
tempatku tamasya
seperti dunia putarannya pelan penuh mimpi
komi(e)di putar tempatku bermain
sekarang kelata
lain waktu putri"

originaly from : Komidi Putar-Bonita

Wednesday, February 24, 2010

please, press play

I love these words, taken from Pandji's album tittle :

"You'll never know when somebody come and press play in your paused life" (yeah, something like that...i don't know for sure)

today, somebody press play in my paused life. Not my boyfriend, best friend, or anyone special. He's a stranger, that I meet only on class. my lecturer.

Dear Mr, thank you very much. i'm so happy that i could cry.

and now, i could dance over my life again.

Friday, February 12, 2010

living in the box.

I write this thing, while everybody is having this important meeting behind me. In front of me there are a square empty dustbin, ouval wet washtafel, and a towel hanger that has no towel on it.

Yes, i'm not part of that important meeting group. I'm an outsider that happen to be here, put aside at the end of the room.

I'm having a great time. alone, at the corner.

***

Tinggal di kota ini--let's say it's Pandora, so i won't insulted anyone--membuat saya terbiasa harus menjadi bagian dari grup ini, atau geng anu. Di daerah tertentu adalah sekelompok geng motor anarki, yang sedang mabuk dan tidak membiarkan seorang pun lewat di sekitar mereka, tanpa perasaan takut dipukul. Di sisi kota yang lain ada sekolompok musisi indie, yang sedang membahas kemungkinan melebarkan sayap mereka ke sebuah cakupan yang lebih luas, tanpa keinginan untuk pergi dari kota. Di tengah kota , di depan sebuah institut seni terkemuka, sekelompok seniman muda sedang membuka sebuah diskusi kecil mengenai aturan kota yang tidak masuk akal, sehingga membatasi kreatifitas mereka ber-seni. Di sebuah toko buku indie di pinggir kota, sekelompok aktivis feminis sedang mengobrol soal bagaimana mereka bisa menyebarkan filosofi mereka, tanpa terdengar terlalu garis keras. Di sudut gelap yang lain, sekelompok musisi underground sedang marah-marah mengenai segala hal yang berbeda dengan mereka, geng motor yang anarki, musisi indie pop yang membosankan, seniman muda yang terikat selera kapitalis, dan para feminis yang mereka tidak mengerti.

Itu hanya sedikit dari kelompok-kelompok di kota ini.

Salahkan saya, yang tidak pernah ada di dalam salah satu dari kelompok tersebut, untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, tapi kota ini sangat terbiasa dengan stereotype.

Seorang teman baru, pelancong dari Estonia sempat bertanya pada saya, apakah orang-orang di kota ini memiliki pemikiran tertentu soal pendatang dengan warna kulit dan nuansa pupil mata berbeda. Saya menjawab, "Kota kami sangat terbuka dengan pendatang baru. Tidak ada sedikit pun rasisme besar semacam itu yang pernah terjadi disini. Kami hanya memusuhi orang-orang diluar interest kami."

Stereotype yang terjadi di kota ini hanyalah terbentuk berdasarkan ketertarikan terhadap satu hal. Dan rasisme di kota ini hanya terjadi, ketika seseorang yang merasa sangat individual tiba-tiba ingin mencoba blend in, dengan salah satu diantara kelompok dengan interest yang berbeda. Musik, seni, hobby, dan segala sesuatu yang bisa membuat orang bersatu, malah menjadi kotak-kotak sempit yang membuat orang terlalu nyaman, dan mulai menjadi tidak toleran terhadap individualitas.

Musuh kami adalah kota ini--sebut saja Pandora.

***


Living in this city is--literally--just like you're living in Pandora box. You'll never know, how odd it is to be just like YOU, untill you open the box. And there is no room for individuality.

I want to move somewhere, outside the box--as they say about think differently--and be accepted as individual me.

wish me luck.

***

For now,
every single corner is taken, so maybe i have to live side by side
with dustbin, washtafel, and towel hanger.

--------------------------------------------------------------------------------------

pict taken from : www.digitalmonkeys.wordpress.com

Thursday, January 28, 2010

dearest listeners

sometimes, it's exhausting to be everyone's lover. you have to be nice, put your smiley voice, and pretend as if you are in a good mood. no matter how sick their comments are, or how it affect our dignity as a person.

we are just ordinary people. that's what you should now about us, announcers. we laugh as much as we cry, and we're angry as much as we're happy. all dearest listeners, please be kind. and you're gonna hear us smiling, like we mean it.

"it's nice to be important, but it's 'more' important to be nice..."

*dedicated to all dearest skylover. appriciate us like you want to be appriciated. that would be nice.

Friday, December 11, 2009

shiver

So I look in your direction,
But you pay me no attention, do you.
I know you don’t listen to me.
’cause you say you see straight through me, don’t you.

On and on from the moment I wake,
To the moment I sleep,
I’ll be there by your side,
Just you try and stop me,
I’ll be waiting in line,
Just to see if you care.

Did you want me to change?
Well I change for good.
And I want you to know.
That you’ll always get your way,
I wanted to say,

***

so maybe, shiver has always been my favourite coldplay song.

di bagian lalu dalam hidup saya, fix you adalah lagu coldplay kesukaan saya. mungkin karena liriknya yang menyentuh sisi personal saya saat itu, atau mungkin karena beberapa orang berkata Chris Martin menulis fix you untuk Gwyneth Paltrow, untuk membuatnya merasa lebih baik saat ayahnya meninggal. sweet. Atau mungkin juga karena fix you mempunyai bagian klimaks yang bisa membuat saya merinding.

Tapi shiver, seperti arti harfiahnya, selalu membuat saya bergetar. Dingin dan sedikit dark, namun selalu sukses mengajak saya menyanyi dengan emosional. Saya menyukai sisi emosional dan sentimentil yang dibawa lagu ini. Beberapa orang mempercayai lagu ini ditulis oleh Chris saat ia jatuh cinta kepada Natalie Imbruglia. Chris menolaknya, yang jelas, katanya, lagu ini memang ditulis untuk seorang yang special. Tapi hingga saat saya menyanyikan lagu ini 5 menit yang lalu, saya lebih menyukai spekulasi pertama. Bahwa lagu ini ditulis untuk Natalie, diluar kebetulan yang sangat luar biasa dimana Natalie juga memiliki lagu hits berjudul sama.

Perasaan saya hanya menginginkannya begitu, karena begitu indah mungkin kedengarannya. Chris jatuh cinta, bertepuk sebelah tangan, lalu membuat sebuah lagu patah hati yang sangat dark. Sangat datar, Bahkan lagunya pun tidak memiliki klimaks yang spesifik. Tapi betapa spesialnya lagu ini, jika memang benar ditujukan untuk Natalie. Lagu patah hati yang tidak memojokan, tidak menghakimi, dan tidak memaksa.

Pada kenyataannya saya tidak tahu apakah Chris masih menyimpannya dalam hati. Karena seperti kita tahu, Chris sekarang bersama Gwyneth, HAPPY. Tapi yang jelas, lagu itu bukan untuk Gwyneth. Lagu itu untuk seseorang yang sangat special, Natalie.


I want to be Natalie in your life. Don't judge me just because i broke your heart before, just wrote me a nice song, and sing it to the world...
life goes on, but the song remains.

***


Don’t you shiver? shiver, shiver

I’ll always be waiting for you,
So you know how much I need ya,
But you never even see me, do you?

And this is my final chance of getting you.

On and on from the moment I wake....
Did you want me to change? ...

Sing it loud and clear.
I’ll always be waiting for you.

Monday, December 7, 2009

di suatu malam minggu

"... gue ngga bisa bohong, bahwa gue bener-bener percaya sama lu. Gue percaya lu akan jadi sesuatu...."

*It feels really nice, when somebody believe that you're something, instead of nothing. thank you....

Friday, December 4, 2009

similarity equal soulmate, question mark.

"love is not about similarities , miracles, or faith. It's just about what's right." --me

***

Adik tokoh Tom dalam film (500) Days of Summer menasihati kakaknya, yang clueless dalam urusan cinta, "Not just because she likes the same quirky things as you, making her your soulmate..." Tom sedang semakin tergila-gila akan Summer, tokoh perempuannya, karena sama-sama menyukai The Smiths.

***

Adik saya, jauh sebelum film (500) Days of Summer dirilis, pernah berkata, "Elu ngerasa dia bener dan kalian cocok, bukan karena kenyataannya gitu. Dasarnya emang kalian SAMA aja...." (*hebat juga adik saya, jangan-jangn dia inspirasi dibalik film itu) Saya tertegun.

***

Saya sejujurnya adalah pencari soulmate sejati. Saya, meskipun menolak untuk menunjukkan, sangat percaya pada silly little things called love, yang diragukan banyak orang. Maka semenjak umur saya sangat muda, saya mulai mencari dengan penuh percaya diri.

Soulmate : karena jika diterjemahkan membuat artinya semakin membingungkan dan absurd, saya mulai membuat definisi sendiri, definisi sok tahu lebih tepatnya " seseorang dengan banyak kesamaan dengan saya, yang membuat saya jatuh cinta dan pastinya nyaman, yang akan menemani saya sampai akhir hayat."

Polos saya memang, dulu.

Susah sekali ternyata menemukan kesamaan itu. Maka, jarang yang benar-benar bisa membuat saya jatuh cinta, dan semakin saya mencari, semakin banyak kandidat yang datang, semakin jauhlah saya dari soulmate saya. Karena saya mencari, kesamaan, kecocokan, ke-monokrom-an (???)......

***

Bertemulah dengan satu kandidat lagi. Saya sedang sangat lelah mencari, dan dia datang begitu saja. Setelah scanning sedikit soal bau badan dan selera musik, saya memutuskan bersamanya. Dalam berbagai macam hal kami cocok. Konsep beragama, gaya hidup, selera musik, sampai gaya bercanda, dan kegemaran makan. Saya hampir merasa menemukan soulmate saya, sampai....

Suatu hari saya bangun dengan perasaan gamang yang aneh. Saya merasa lelah, tidak lengkap, dan kesepian. All of these odd simililarities between us, started to killing me. Mungkin kami terlalu banyak bersama, membicarakan hal yang sama, dan makan hal yang sama, sampai chemistry itu hilang entah kemana. Entah apakah chemistry itu pernah ada atau tidak. Saya terlalu sibuk mencari kesamaan, disaat seharusnya saya banyak-banyak mencari seseorang yang bisa melengkapi saya, dan saling melengkapi.

Tanpa kesamaan, hanya karena dia terasa benar.

***

"I thought you were right, but maybe, I'm not right for you..." --Summer to Tom, on their favourite bench.

Well, baby, let's think about us again....

Friday, November 27, 2009

kisah si pembela kebenaran & si menyebalkan

Penokohan #1 : Si Pembela Kebenaran

Jika dia berjalan, dia akan memandang ke sekitarnya lalu mulai membaca tanda. Bukan menilai, bukan juga menghakimi, hanya melihat yang kebetulan bisa ia rasakan. Kadang-kadang dia benci menjadi satu-satunya yang mengerti, karena instingnya pasti akan membawanya ke berbagai kejadian aneh, yang kadang bisa membuatnya ingin melakukan sesuatu, atau setidaknya, muntah. Dia hanya bingung, kenapa manusia suka sekali mengurusi urusan manusia lainnya. Padahal seperti namanya, urusan pribadi itu, sifatnya PRIBADI.

Penokohan #2 :Si Menyebalkan

Jika berjalan, dia akan dinilai menyebalkan oleh banyak orang. Kelihatan sombong, acuh, dan pemilih. Padahal dia hanya selalu berusaha menjadi dirinya sendiri. Yang bukannya sombong, tapi hanya pelupa. Bukannya acuh, hanya terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri, untuk ingin tahu urusan orang lain. Bukannya pemilih, hanya selalu punya standar akan segala sesuatu, dan standar itu TINGGI.

***

Babak I

Si Pembela Kebenaran bertemu Si Menyebalkan di tengah jalan. Orang-orang di sekeliling mereka sedang kasak kusuk menghakimi Si Menyebalkan. Katanya orang itu jahat dan tidak punya hati. Si Pembela Kebenaran maju dan berdiri di sebelah Si Menyebalkan. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, tidak boleh ada orang yang menghakimi orang lain seperti itu, tanpa memahami siapa dia sebenarnya. Lagipula siapa yang pernah memahami Si Menyebalkan. Untuk mengenalnya saja, orang terlalu banyak alasan untuk mau.

Babak II

Berada di bagian jalan kehidupannya yang paling asing, Si Menyebalkan mulai merasa lelah menjadi orang lain. Toh hasilnya sama saja, tidak ada yang mengerti. Di saat gelagat orang-orang yang mulai ingin menambahkan satu lagi label pada dirinya--senseless--dia bertemu Si Pembela kebenaran. Entah kenapa, dia mau berdiri di sebelah Si Menyebalkan, dan menemaninya menghadapi orang-orang. Si Menyebalkan baru saja disadarkan, mungkin saja ketulusan memang ada di dunia ini.

Babak III

Si Pembela Kebenaran dan Si Menyebalkan berjalan pulang bersama. Dan mungkin ini adalah awal sebuah kebersamaan yang aneh, antara dua orang berbeda keyakinan. Tapi satu hal mereka sepakat, pertemanan memang seharusnya tulus-tulus saja.

***

Pesan Moral

"Jangan pernah berkompromi dengan apapun yang kita yakini. Karena suatu saat, di tengah perjalanan hidup ini, mungkin saja kita dipertemukan dengan orang yang bersedia memahami. Tanpa tendensi dan ego, hanya karena ingin menemani."

Thursday, November 26, 2009

hectisism.

A word that reverse to a hectic situation, which made u want to jump from an 11 storeys building and die instantly.
--me

Monday, November 23, 2009

aku kamu dia kita (akan) pulang


"good things take time honey, just be patient a little bit more."
Saya merasa salah bicara, karena dia bilang dia menangis. Meskipun saya tidak melihat, saya tahu dia menangis, tulisannya terlihat sedih.

***

Tidak biasa-biasanya dia begitu. Lesu, tidak teriak-teriak tidak jelas, dan tidak bercerita dengan jemari yang merekah kemana-mana. Bajunya memang berwarna cerah seperti biasanya. Tapi jelas hari ini di tidak baik-baik saja.

Entah apa yang sedang menimpanya, saya tidak tahu secara detail. Yang jelas ini bukan masalah cinta biasa. Masalah cinta ini sudah jadi perkara 'konsep diri'. Pada akhirnya saya ngobrol juga soal 'konsep diri' ini dengannya. Bukannya malah tenang, dia terasa tegang.

Dan menangislah dia setetes demi setetes. Membuat maskara yang selalu dipakainya luntur. Seketika dia tidak terlihat seperti dia. Dia bilang dia lelah dan merasa lemah. Lalu menangis lagi.

Saya mengerti. Sangat mengerti. Merasakan perasaan tak berdaya, yang akan sangat asing, kalau kita terbiasa hidup tanpa siapa-siapa dan selalu berusaha mengurus diri kita sendiri. Berusaha menepis cibiran orang, dan tatapan menyepelekan yang sering kali datang. Ingin berlari keluar, tapi ingin pulang.

Mungkin pada akhirnya kita semua harus pulang. Menemui mereka yang pasti tidak akan membiarkan kita jatuh. Dan memahami kita seperti kita apa adanya, tanpa label , tanpa penilaian. ayah, ibu, adik, kakak. Keluarga.

Dalam tangisnya, dia berkata harus bicara pada ayahnya. Ya, itu benar.

Hanya mereka yang akan menerima kita setelah kita berlari jauh, kelelahan, dan ingin beristirahat.

***
"Jika lelah beristirahat lah, dan sandarkan kepala mu di bahu seseorang. Mungkin itu akan membantu mu berbaikan dengan diri mu sendiri."

Friday, November 20, 2009

a (re)call to a (good)friend

" ...And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war..."

(the call, by : Regina Spektor)

* dedicated to a friend, "I'll fill your book to the very end, because you've had fill mine..."

Friday, November 13, 2009

saya si bunga matahari, mmm.... benarkah ?




"...you're not Carrie, you are Ginna Finalis! bungamatahari! yang selalu bikin kumbang iri. you know what i mean, darl."

mmm...maaf tapi saya tidak tahu....
Justify Full
***

Teman saya itu orangnya memang misterius. Kadang-kadang dia membuat saya amaze. Dia seringkali lebih tahu diri saya, dibanding saya sendiri. Saya saja lupa sejak kapan saya adalah si bunga matahari. Apalagi si bunga matahari yang selalu bikin kumbang iri. Ahhhhh....sejak kapannnn........??? Siapa pula kumbang ?

Begitulah hidup bersama-sama dengan penduduk dunia yang lain yah. Harus siap dengan komentar, judgement, sampai pujian yang mereka buat. Well, terus terang saya selalu paling tidak siap dengan pujian. Pujian bikin saya sesak napas, apa benar ya saya seperti itu.....kok mereka lebih tahu....??? Lagipula, saya harus membalas seperti apa ? Bilang 'iya dooongg...' kok rasanya ge-er betul. Bilang 'terima kasih...' terlalu basa-basi. Tidak bilang apa-apa, nanti dikira sombong. Kalau cibiran atau ledekan, jauh lebih mudah untuk dihadapi. Tinggal senyum sambil pergi, dan mengibaskan rambut dengan cool. Saya tidak pernah diajari untuk perduli sama hal-hal semacam itu.

Maka, waktu teman saya itu mengomentari sebuah notes saya di facebook, saya tidak tahu harus bagaimana. Mungkin saya harus bilang terima kasih saja. Tapi, saya tidak tahu bagaimana harus bilang terima kasih, tanpa terlihat ge-er, seperti artis-artis infotainment itu. Jadilah saya menulis saja.

***

"...gw percaya ketika lo sedang bikin titik-titik, kadang gak keliatan, kadang samar, kadang rapuh, kadang bolakbalik kita hapus. tapi kalau kita lakuin itu dengan konsisten, titik-titik itu bisa jadi garis lurus yang tebal dan kuat. lo dan gw sedang 'menitiki' sesuatu, ssshhh! orang-orang saja yang ngga tau dan mungkin ngga mau tau. itu urusan mereka."

Kalimat lanjutan dari teman saya. Nah, yang ini saya sangat setuju. Orang-orang kadang memang ngga tahu, ngga mau tahu, dan.....sok tahu. Biar saja, itu urusan mereka.