Showing posts with label artsy. Show all posts
Showing posts with label artsy. Show all posts

Wednesday, July 7, 2010

too much of you.


From Dian Sastro to Mariana Renata.
From Kate Bosworth to Megan Fox.

I don't find them intimidating.
They're just too much.

And you are the right portion of your ownself.

***


pict taken from here.


Tuesday, May 11, 2010

i'm a fuckin' mess.

I try to pick up the pieces of me everywhere, but now i'm getting tired.
I'm indeed a fuckin' mess, and i don't know what to do to myself.

Wednesday, April 21, 2010

living (as) zombie

Dia berlari terengah-engah. Kota kosong ini terasa semakin mengerikan. Apalagi setelah teman-temannya mati.

Well, bukan benar-benar mati sih. Mereka berubah menjadi zombie-zombie ganas yang menyebarkan virus mematikan. Bukan tidak mungkin dalam hitungan jam virus ini akan menjangkiti seluruh negeri. Dia tidak perduli, yang penting ia tidak menjadi seperti mereka.

Lebih baik dia bunuh diri saja.

***

Belakangan, hari-hari saya, saya jalani sebagai zombie. Bangun pagi pukul 05.40--waktu yang sudah saya perhitungkan dengan cermat, agar saya bisa tidur lebih lama, tapi tidak sa
mpai termbat--, cuci muka-sikat gigi, ganti baju, dan secara tergesa menyetir ke kantor, di jalanan yang masih sepi, sambil humming menghilangkan "suara bantal". Biasanya partner siaran saya sudah datang duluan dan duduk manis di depan mic sambil browsing bahan siaran, saya--lagi-lagi tergesa--duduk di mic yang satu lagi, di depan mixer, sambil memilih lagu opening yang tepat. Sambil menunggu smash opening, kami akan saling mengucapkan selamat pagi, dan sedikit cathcing up cerita-cerita ngga penting. Setelah itu, kami akan siaran selama dua jam penuh, sambil sesekali keluar ke kamar mandi atau minum kopi.
Siaran selesai, saatnya office hour. Tidak lupa numpang mandi dulu di kamar mandi kantor--ya, saya mandi di kantor. Setelah menjemur handuk di balkon kantor, saya akan
mulai bekerja. Sampai jam pulang datang,--diselingi ngobrol, keluar makan siang, atau kabur keluar sebentar menyelesaikan skripsi yang tak kunjung usai--dan saya pergi pulang.
Sampai di rumah, saya akan menyetel TV, nonton sinetron sambil tiduran, makan malam--bersama pacar atau adik--, lalu tidur.
DAN......mengulang kegiatan diatas lagi.


photo by : Duane Michals (check his other awesome works here)


Well, i'm no different with those zombies. I'm soulless. I forgot how to have fun.

Saya lebih ingin menjadi tokoh lain dalam film-film thriller itu. Tidak menjadi pahlawan yang bertahan sampai akhir dan menyelamatkan bumi, tidak apa-apa. Mungkin asyik juga menjadi orang yang pertama kali menyadari pergerakan zombie, tapi tidak dipercaya semua orang, dan diasingkan keluar negeri oleh agen pemerintah, bebas dari serangan zombie.

Karena jelas saya bukanlah pahlawan. Menjadi pahlawan bagi diri sendiri saja susah.

***

zombie-zombie itu pun mendekat, dengan mata mereka yang kosong, lidah menjulur seperti terkena rabies, dan wajah pucat menuju busuk. Ia menahan napas, sambil menembakan senapan yang belum pernah disentuhnya sebelumnya, secara random. Keinginan bunuh diri hilang seketika, lagipula Ia tidak punya nyali melakukannya.

Sayang, ternyata tembakan tidak mempan, mungkin juga pelurunya hanya terbuang sia-sia, karena dia menembak asal. Sekarang zombie-zombie itu meraih kaki dan tangannya. Ia menendang dan memukul, mereka tidak bergeming. Dan ia tergigit. Dalam transisinya menjadi zombie, semua kisah hidup dan emosi yang teraduk berputar di depan matanya. Dia berharap melakukan lebih banyak hal berguna dan pergi ke lebih banyak tempat sebelumnya, untuk diingat di saat-saat seperti ini.

Sayang, dia memang bukan pahlawan dari cerita ini, Ia pun berubah menjadi seperti yang lainnya, bergerak mengikuti naluri, bukan pikiran, dengan mata kosong. Bukannya tidak pernah dia bergerak begitu, tapi kali ini berbeda. Hanya saja, menjadi zombie membuatnya kehilangan identitas.
Kini, ia sama dengan yang lain.

Friday, February 12, 2010

living in the box.

I write this thing, while everybody is having this important meeting behind me. In front of me there are a square empty dustbin, ouval wet washtafel, and a towel hanger that has no towel on it.

Yes, i'm not part of that important meeting group. I'm an outsider that happen to be here, put aside at the end of the room.

I'm having a great time. alone, at the corner.

***

Tinggal di kota ini--let's say it's Pandora, so i won't insulted anyone--membuat saya terbiasa harus menjadi bagian dari grup ini, atau geng anu. Di daerah tertentu adalah sekelompok geng motor anarki, yang sedang mabuk dan tidak membiarkan seorang pun lewat di sekitar mereka, tanpa perasaan takut dipukul. Di sisi kota yang lain ada sekolompok musisi indie, yang sedang membahas kemungkinan melebarkan sayap mereka ke sebuah cakupan yang lebih luas, tanpa keinginan untuk pergi dari kota. Di tengah kota , di depan sebuah institut seni terkemuka, sekelompok seniman muda sedang membuka sebuah diskusi kecil mengenai aturan kota yang tidak masuk akal, sehingga membatasi kreatifitas mereka ber-seni. Di sebuah toko buku indie di pinggir kota, sekelompok aktivis feminis sedang mengobrol soal bagaimana mereka bisa menyebarkan filosofi mereka, tanpa terdengar terlalu garis keras. Di sudut gelap yang lain, sekelompok musisi underground sedang marah-marah mengenai segala hal yang berbeda dengan mereka, geng motor yang anarki, musisi indie pop yang membosankan, seniman muda yang terikat selera kapitalis, dan para feminis yang mereka tidak mengerti.

Itu hanya sedikit dari kelompok-kelompok di kota ini.

Salahkan saya, yang tidak pernah ada di dalam salah satu dari kelompok tersebut, untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, tapi kota ini sangat terbiasa dengan stereotype.

Seorang teman baru, pelancong dari Estonia sempat bertanya pada saya, apakah orang-orang di kota ini memiliki pemikiran tertentu soal pendatang dengan warna kulit dan nuansa pupil mata berbeda. Saya menjawab, "Kota kami sangat terbuka dengan pendatang baru. Tidak ada sedikit pun rasisme besar semacam itu yang pernah terjadi disini. Kami hanya memusuhi orang-orang diluar interest kami."

Stereotype yang terjadi di kota ini hanyalah terbentuk berdasarkan ketertarikan terhadap satu hal. Dan rasisme di kota ini hanya terjadi, ketika seseorang yang merasa sangat individual tiba-tiba ingin mencoba blend in, dengan salah satu diantara kelompok dengan interest yang berbeda. Musik, seni, hobby, dan segala sesuatu yang bisa membuat orang bersatu, malah menjadi kotak-kotak sempit yang membuat orang terlalu nyaman, dan mulai menjadi tidak toleran terhadap individualitas.

Musuh kami adalah kota ini--sebut saja Pandora.

***


Living in this city is--literally--just like you're living in Pandora box. You'll never know, how odd it is to be just like YOU, untill you open the box. And there is no room for individuality.

I want to move somewhere, outside the box--as they say about think differently--and be accepted as individual me.

wish me luck.

***

For now,
every single corner is taken, so maybe i have to live side by side
with dustbin, washtafel, and towel hanger.

--------------------------------------------------------------------------------------

pict taken from : www.digitalmonkeys.wordpress.com

Tuesday, February 2, 2010

have to start over, don't we ?


i miss the days when love is much way simpler.
easy to be described and has no drama.

i miss you.
and our days, when there is soo much smile.
when i trust you more than anybody else.

let's start over, baby...

Wednesday, January 6, 2010

darker you, darker me.




" I like the darker you. So i could cheer you up, and feel like I'm special and important to you. I hate the darker me, because even if you're not there to cheer me up, you're still special to me..."

taken from my "twitter" page, January 5th, 2010
photo by : Rizky Amalia