Thursday, July 8, 2010

siapa yang tahu waktu akan membawa kita kemana, ya?

Kadang kita bertukar rokok.
Kadang sekedar bertukar lagu.
Kadang cuma bertukar kabar tidak penting.

Ada satu bagian dari diri saya yang selalu bertanya-tanya, apakah kamu orangnya?

Jika iya, entahlah apa saya akan merasa lega atau menyesal, membiarkan kamu menunggu begitu lama.

Tapi, siapa yang tahu waktu akan membawa kita kemana, ya?

Wednesday, July 7, 2010

too much of you.


From Dian Sastro to Mariana Renata.
From Kate Bosworth to Megan Fox.

I don't find them intimidating.
They're just too much.

And you are the right portion of your ownself.

***


pict taken from here.


the mythical Mr. Perfect.


"Rindu mengorak menarik hati serentak
hey-hey siapa dia...
Wajah sembunyi di balik payung fantasi
hey-hey siapa dia..."
***

Mendengar pembicaraan seorang teman saya sedang mempersiapkan pernikahan, saya menanyakan sebuah pertanyaan klasik : "So, how do you know that he's the perfect one ?"

Saya sering sekali menanyakan pertanyaan ini, sampai-sampai bosan sendiri. Saya selalu ingin tahu proses awal dibalik keputusan penting itu. 5W+1H, dari memutuskan seseorang sebagai the mythical Mr. Perfect.

Why mythical ? Because i don't believe there is someone that could be soo perfect.

Hal paling saya sukai dari teman saya ini adalah dia seorang realis sejati, yang selalu menemukan logika untuk segala sesuatu. Bahkan untuk sesuatu yang sifatnya absurd dan subjektif macam siapakah Mr. Perfect kita.

"Well, basically you just know. Perfect itu masalah yang tidak bisa disama ratakan. Ukurannya banyak, dan jelas bukan dalam arti kata sesungguhnya. Perfect itu adalah ketika dia datang di saat yang tepat, seperti di saat elo emang udah pengen nikah. Atau sesuatu yang sangat ngga penting, seperti dia bisa mengerti jokes norak lo, atau selera makan lo yang gila. Perfect doesn't always mean that he's extremely cool or what. You'll know what you need."

Begitu kira-kira resume jawabannya.

Saya yang seringkali mendengar jawaban serupa adegan di film Serendipity, langsung berbinar. The cynical and pesimistic me suddenly believe, that someday i'll be able to find my Mr. Perfect. And getting married, making love, having my own home, and be undescribeably happy, despites all the ups and downs.

Finding someone, who's perfect in his unperfections, that sounds possible.


***

Saya bermimpi saya berhadapan dengan Kris Biantoro, memperkenalkan saya dengan suara tenornya. Tentu saja di acara kuis klasik itu, Kuis Siapa Dia. Hanya saja judulnya kali ini, "Siapa Dia si Mr. Perfect". Potongan wajah dikeluarkan satu-persatu di layar. Saya menebak dan gagal. Lalu tirai itu terbuka.

Isinya seorang pria duduk diatas kursi, wajahnya gelap.

Tapi itu sama sekali bukan mimpi buruk. Itu hanya kenyataan. Mungkin memang saya belum menemukan dia.

'Dia' masih menunggu di balik tirai, dengan sabar, menunggu jawaban saya tepat dengan potongan-potongan wajahnya, yang ditampilkan di layar.

***

"Payung fantasi arah kemana dituju
hey-hey tunggu dulu...
Bolehkah aku melihat seri wajahmu
boleh kah disayang....

Siapa geranfan tuan...
pembawa pelipur rasa bahagia...
cendrawasih dari bulan...
Ataukah si bintang siang"
(Payung Fantasi-Ismail Marzuki
)


bapak.papa.AYAH.daddy.pops


"Some people lost a big football match, while others had just lost a family member. World is really unpredictable, yes?"

***

Betapa menyesalnya saya ketika tidak sempat menerima telpon dan membalas message teman saya, soal kabar duka yang menimpa keluarganya secara tiba-tiba. Semuanya hanya karena keteledoran saya, yang lupa me-non-aktifkan mode silent di HP saya.

I really-really want to be someone who comfort her in this kind of situation.

***

Pulang makan malam itu, saya masuk ke kamar dengan kesal. Menyesalkan betapa tidak asiknya penjaga kosan saya, yang melarang pacar masuk, hingga saya tidak sempat cuddling dulu sebelum tidur. Atau menyesali betapa bodohnya saya yang membiarkan sebuah kewajiban menggantung begitu saja, hanya karena malas. Meratapi diri sendiri, yang sudah gagal memenuhi tantangan '30 HAri Menulis Blog' di hari ke-empat.

PLUS, sebuah hal yang selalu saya keluhkan setiap hari : "Kenapa ayah saya adalah orang seperti dirinya."

Semuanya nampak seperti keluhan wajar seorang anak, yang sedang bosan hidup begini-begini saja, sambil sesekali menyalahkan diri sendiri, dan mengkambing hitamkan cara ayah nya mendidik dan memperlakukan.

Sampai pacar saya datang,LAGI setelah mengantar saya pulang tadi, menggedor pintu rumah saya dengan panik. Katanya ayah sahabat kami meninggal.

Ya, sahabat saya yang tidak sempat saya balas message nya tadi. Saya menengok ponsel saya. Puluhan missed call, dan sepotong kata pendek di aplikasi Yahoo Messenger "Ginna..."

***

Dengan back sound dramatis sorakan dan umpatan serta bunyi vuvuzela dalam mode sayup-sayup, matanya kosong, ketika menceritakan sepotong kisah terakhir tentang sang ayah. Sekali-sekali cuma ada sekilas tawa miris. Ia takut tidak bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Entah kenapa, saya bisa merasakan semua emosi yang sedang dia rasakan, lalu mulai mengasosiasikannya dengan diri saya sendiri. Betapa saya tidak akur dengan ayah saya sendiri, selalu menuduhnya tidak pernah menghargai saya, dan jarang sekali mendengarkan pendapat saya. Tidak pernah puas, tidak pernah memuji, tidak pernah cukup menyayangi saya. Jarang menemani saya, seringnya hanya memarahi. Saya banyak menyalahkannya akan keadaan saya yang seperti sekarang. Akhirnya jarang mengunjungi, tidak menelpon, dan berhenti mengingat yang baik-baik soal beliau.

Anak durhaka, mungkin itulah saya.

Anak perempuan yang sedang berusaha berdamai dengan kenyataan, bahwa seorang ayah hanya berusaha menjalankan tugasnya.
***

Saat sedang menunggu sambil harap-harap cemas akan kepastian tiket pesawatnya, untuk mengantar ayahnya terakhir kali, dia membisiki saya, "Baik-baik lah sama bokap lo. Lo ga akan pernah tahu kapan bakal kehilangan..."

Saya merasa ingin menelpon ayah saya saat itu juga dan meminta ampun. Seperti biasa saya tidak melakukannya karena terlalu gengsi. Tapi di siang bolong itu, saya kembali mengingat sepotong-sepotong kenangan yang lucu bersama ayah.

Saya ingat digendongnya di pundak, dibilangnya pelan-pelan, bahwa saya adalah anak kesayangannya.

Sunday, July 4, 2010

fin.


" i want to live in those comic books. Sure there are ups and downs.
But, we always could go to the last page,
and see the beautiful ending. "

***



* the pict taken here. thanks!

Saturday, July 3, 2010

when you're not around.


it's an 'argentina vs germany' big match time.
I don't really care, but maybe this is going to be useful, if I forgot when i write this thing down.
Maybe it also could answer the 'why'...

***

because i'm lonely. that's it.

***

People cheering like it was Indonesia who play at the big game. Maybe if it was really Indonesia, I also wouldn't give a damn.

I like to listen to my heart when you're not around. It says " Let's get out of here, you silly!"

Friday, July 2, 2010

a conventional confession.


Topik siaran pagi ini :
"Hal apa yang menurut anda harus tetap konvensional dan apa adanya ? Boleh benda, pemikiran, apapun, bebas!"

Partner siaran saya bilang :
"Surat-menyurat. Harus tetap lewat pos. Ayo kita hidupkan korespondensi yang sebenarnya!"

Saya sih bilang :
"Kamar mandi Indonesia. Pakai bak mandi, ada gayung, boleh basah. Ngga usah sok kebarat-barat an, pakai bathtub, dan harus kering. Biar mandinya puas"

Kami tidak pernah berpikir akan ada yang menjawab :
"WANITA harus tetap konvensional..."


WTF, said us (off air of course)...

***


"...wanita itu harus tetep konvensional. karena wanita modern membuat saya pusiiiingggg..."


Begitu kata si pendengar itu via SMS. Lebih ke arah curhat memang, tapi entah kenapa ya, saya kok tersinggung.

Mungkin kata-kata ini justru datangnya dari orang--laki-laki--yang sangat konvensional. Takut akan perubahan. Bahkan tidak rela kalau wanita jauh dari stereotype yang ada dalam bayangannya. Lemah lembut, tinggal di rumah, nurut sama suami, ngga punya power. Semoga sih tidak disertai pakai konde, kebaya, dan jarik. Semoga, maksudnya wanita modern juga bukan, yang suka keliaran tengah malam, one night stand sana-sini, sambil mabuk-mabukan.

Tidak enak sekali rasanya menjadi serba salah. Kalau jadi konvensional artinya lemah. Kalau jadi modern takutnya jadi liar.

I'm not a feminist or such a thing. Tapi mendengar masih banyak pemikiran begitu soal wanita membuat saya sedikit gila. Lalu buat apa kita sekolah tinggi-tinggi, mengejar karier, dan berusaha mandiri, kalau akhirnya disuruh kembali lagi ngulek sambel, dan dituntut menghasilkan sambel enak, karena kalau tidak katanya bukan istri teladan.

There is nothing wrong of being modern woman. You, guys, who need to eat that fact, and face it wisely!

***


"Kalau kata saya, yang harus tetep konvensional itu DASHBOARD..." kata seorang teman lewat twitter.

Kami berpandangan, lalu tertawa lepas kontrol, sambil mencari-cari judul lagu Vindicated sebagai gong.


*You know what, Chris Carraba is not a conventional man either. I heard he's gay... And it's confessional, not conventional.

Thursday, July 1, 2010

the shoes ballad.


"Yo, Move your big a**, lady....Make a room!" seru si Loreng marah-marah. Pardon her language, gaya nya memang begitu. Terobsesi jadi artis R&B afro-american. Liat saja dandanannya dengan leopard print warna cokelat itu.

"Haduhh...harusnya situ yang agak sedikit minggir. Saya kejepit nih..." kata si Manik tidak kalah ceriwis. Dia membereskan manik-manik merahnya, yang terinjak.

"Sssst.... tenang!" Si Purple mengambil alih, mungkin dia yang paling waras di ruangan itu. Gaya bossy nya, dengan satin berwarna ungu itu, membuatnya semakin tampak seperti leader. "Lebih baik kalian diam. Atau orang akan mendengar kita."

***

Manik-manik warna merah menyala.
Ungu satin yang anggun.
Dan satu lagi, leopard printed cokelat. Dia favorite saya.

Mereka dimasukan secara paksa ke dalam kantong belanjaan itu, oleh penjaga toko. Saya menenteng mereka dengan puas. They perfectly ended my day.
They just didn't know.
***

"huhuhu....aku berdandan begini bukan untuk dikurung gelap-gelapan bersama kalian. Lihat manik-manik merah ku, lucu khannn...," Manik mulai menangis.

"Welcome to the club. Gue juga disini untuk pamer motif leopard ini. This is so HOT you know..." sahut Loreng acuh tak acuh.

"ssshhh....please girls, stay quiet. We're shoes, we aren't suppose to talk. just sit pretty and be patient. We're made to be worn. Believe me, this is just a beginning of our wonderful journey... " ucap Purple bijaksana.

Mereka bertiga menatap ke atas. Ada cahaya. Disusul dengan sepasang tangan manusia. Tangan yang gemetaran karena senang.

"Yes miss, shoes are made to be worn, and one of you are going to accompany me starting this lovely July.

Oh, maybe the red one is perfect..."
bisik manusia itu.

***

Saat mengeluarkan sepatu manik-manik merah dari kantong, saya mendengar pekikan tertahan, "yayyy! she had just picked me!"

Did she just speak ? Are shoes suppose to speak, like all those toys in Toy Story ?

Well, mungkin saya berhalusinasi akibat euphoria berbelanja sepatu kemarin malam.

===========================================

btw, this is my first attempt of continously writing my blog in this whole July. Theo nantangin saya. And i said yes. Mungkin juga saya menantang diri saya sendiri. Menulis setiap hari dalam sebulan, that should be interesting. And, yes, I definitely said yes....

Let this feast begin "30 Hari Menulis Blog" !!! *finger crossed

Friday, June 4, 2010

move through.

kantor ini ternyata membosankan.
saya baru ingat, pertemanan yang membuatnya menyenangkan.

mungkin saya harus bekerja di taman kanak-kanak saja. Meskipun saya benci anak-anak, tapi setidaknya pertemanan mereka tulus.

***

I'm ready to move forward, now.
Wait for me folks!

Thursday, June 3, 2010

emotional emoticons.


:) happy
:( sad
:x love struck
X( angry

these kind of emoticons make our world seems easier. But, how about if we want to express something un-describeable.

Like "i love you, but i'm so angry, that i couldn't say if I were happy or sad" ?

That's another story i guess.

***

Entah kenapa jika saya berkirim pesan dengan-mu, selalu ada emoticon-emoticon itu. Apakah karena kata-kata tidak cukup atau memang terlalu sulit untuk mendeskripsikan apa yang kamu dan saya punya lewat kata-kata.

Maka saya akan hanya mengetik :) di belakang kalimat pendek saya, dan kamu membalas dengan x) di belakang jawaban mu.

Saya terkikik geli. Bukan karena gurauan mu, yang entah kenapa selalu sulit untuk saya cerna, tapi karena emoticon itu x) sangat mirip kamu ketika kita biasa ngobrol setiap hari.

Sayangnya kamu dan saya memang bukan pasangan terbaik di atas kertas. Saya begini, kamu begitu. Kita berbeda. Tapi, bukan jenis perbedaan yang bisa melengkapi satu-sama lain, hanya perbedaan yang berbeda.

Sulit untuk paham bagaimana emoticon-emoticon itu bekerja mengirimkan pesan-pesan emosional. Seperti senyuman yang kamu kirimkan siang ini, dimana hati saya sedang berwarna hitam karena sudah lama tidak diisi semangat.

Terima kasih sudah memberi nya warna.

Semoga emoticon itu sungguhan.
***

maybe somebody should just stop creating emoticons.
They could lie you know.

Tuesday, May 11, 2010

i'm a fuckin' mess.

I try to pick up the pieces of me everywhere, but now i'm getting tired.
I'm indeed a fuckin' mess, and i don't know what to do to myself.

Tuesday, April 27, 2010

so, what band are you ?


Saya mendapati seonggok benda yang tidak familiar diatas tempat tidur saya. Sebuah kaos berwarna kuning, yang gambarnya saya kenali sebagai mendiang raja pop, Michael Jackson. Tidak lupa ada tulisan R.I.P. nya. Mmmmm....Well, kita semua sudah tahu dia sudah meninggal, buat apa sih diberi keterangan lagi, dicetak jadi kaos pula. Gambarnya besar, jelas, dan....mmm....sangat MJ. Sementara tulisannya juga besar, jelas, dan....mmm...sangat berusaha meyakinkan kita bahwa dia (pembuat kaosnya) adalah orang paling berduka sedunia.

Oh ya, by the way, kaos itu ternyata oleh-oleh dari pacar adik saya, UNTUK SAYA.

Sempat tersinggung sih, kenapa dari semua band dan musisi yang ada di dunia, yang mungkin dijadikan kaos, saya malah diberi yang bergambar MJ--saya bahkan tidak berpikir moonwalk nya itu keren. Tapi mau bagaimana lagi. Itu khan pemberian (jangan marah ya pacar adik ku). Salah saya juga pesan kaos band tapi tidak menyebutkan secara spesifik namanya (sekali lagi jangan marah ya, setengahnya memang salah saya).


But.....seriously, AM I LOOK LIKE A MICHAEL JACKSON's FAN ?

***

Pacar saya pernah bilang, "Taruh-taruhan, yang. Setengah dari ABG-ABG yang pakai kaos Antrhax atau Lamb of God itu, pasti ngedengerinnya Avenged Sevenfold....." Saya tertawa. Bisa jadi sih. Soalnya agak tidak masuk akal juga kalau ABG-ABG seumur adik saya, mengidolakan band dan mendengarkan musik yang umurnya mungkin lebih tua dari ayah saya. Tapi marilah jangan meng-under estimate-kan mereka. Bisa saja pengetahuan musiknya jauh lebih luas dibandingkan dengan saya sendiri, yang kebetulan berprofesi sebagai music director. Dan biarkanlah mereka berekspresi, toh masih muda.

Saya sendiri punya dua kaos band di lemari saya. Satu dari band lokal, Efek Rumah Kaca, yang karya-karyanya saya dengarkan secara religius, satu lagi dari band-legendaris-yang-kalau-saya-sebut-tidak-mungkin-tidak-kenal, The Beatles. Diantara keduanya yang saya sebut pertama lebih sering saya pakai--sampai-sampai sekarang hilang di tumpukan cucian kosan. Entah karena bahannya yang nyaman, atau hati saya yang nyaman ketika memakainya, jadi kalau-kalau ada orang yang beratanya "Eh, Efek Rumah Kaca itu yang kayak gimana sih ?" saya bisa menjawab dengan yakin begitu.

Lain dengan kaos The Beatles, yang sengaja saya beli di flea market, untuk sengaja kembaran sama pacar saya. Seringnya saya pakai untuk di rumah, dimana tidak akan ada yang mungkin mencoba me-ngetes pengetahuan saya akan band tersebut. Karena, paling-paling saya hanya bisa menyebut Lennon, Mccartney, Inggris, Abbey Road, dan Hey Jude.

Begitulah kaos band buat saya. Seperti identitas, buat apa dipakai jika tidak paham.

Saya yakin, pacar saya juga lebih senang mengenakan kaos Nine Inch Nail atau The Perfect Circle-nya ketimbang kaos The Beatles kembar kami--dan terlihat lebih tampan juga.

***

So, what band are you ?

p.s. : and once again, am i really, really, really.....like a Michael Jackson fan type ? *heart broken*


Wednesday, April 21, 2010

living (as) zombie

Dia berlari terengah-engah. Kota kosong ini terasa semakin mengerikan. Apalagi setelah teman-temannya mati.

Well, bukan benar-benar mati sih. Mereka berubah menjadi zombie-zombie ganas yang menyebarkan virus mematikan. Bukan tidak mungkin dalam hitungan jam virus ini akan menjangkiti seluruh negeri. Dia tidak perduli, yang penting ia tidak menjadi seperti mereka.

Lebih baik dia bunuh diri saja.

***

Belakangan, hari-hari saya, saya jalani sebagai zombie. Bangun pagi pukul 05.40--waktu yang sudah saya perhitungkan dengan cermat, agar saya bisa tidur lebih lama, tapi tidak sa
mpai termbat--, cuci muka-sikat gigi, ganti baju, dan secara tergesa menyetir ke kantor, di jalanan yang masih sepi, sambil humming menghilangkan "suara bantal". Biasanya partner siaran saya sudah datang duluan dan duduk manis di depan mic sambil browsing bahan siaran, saya--lagi-lagi tergesa--duduk di mic yang satu lagi, di depan mixer, sambil memilih lagu opening yang tepat. Sambil menunggu smash opening, kami akan saling mengucapkan selamat pagi, dan sedikit cathcing up cerita-cerita ngga penting. Setelah itu, kami akan siaran selama dua jam penuh, sambil sesekali keluar ke kamar mandi atau minum kopi.
Siaran selesai, saatnya office hour. Tidak lupa numpang mandi dulu di kamar mandi kantor--ya, saya mandi di kantor. Setelah menjemur handuk di balkon kantor, saya akan
mulai bekerja. Sampai jam pulang datang,--diselingi ngobrol, keluar makan siang, atau kabur keluar sebentar menyelesaikan skripsi yang tak kunjung usai--dan saya pergi pulang.
Sampai di rumah, saya akan menyetel TV, nonton sinetron sambil tiduran, makan malam--bersama pacar atau adik--, lalu tidur.
DAN......mengulang kegiatan diatas lagi.


photo by : Duane Michals (check his other awesome works here)


Well, i'm no different with those zombies. I'm soulless. I forgot how to have fun.

Saya lebih ingin menjadi tokoh lain dalam film-film thriller itu. Tidak menjadi pahlawan yang bertahan sampai akhir dan menyelamatkan bumi, tidak apa-apa. Mungkin asyik juga menjadi orang yang pertama kali menyadari pergerakan zombie, tapi tidak dipercaya semua orang, dan diasingkan keluar negeri oleh agen pemerintah, bebas dari serangan zombie.

Karena jelas saya bukanlah pahlawan. Menjadi pahlawan bagi diri sendiri saja susah.

***

zombie-zombie itu pun mendekat, dengan mata mereka yang kosong, lidah menjulur seperti terkena rabies, dan wajah pucat menuju busuk. Ia menahan napas, sambil menembakan senapan yang belum pernah disentuhnya sebelumnya, secara random. Keinginan bunuh diri hilang seketika, lagipula Ia tidak punya nyali melakukannya.

Sayang, ternyata tembakan tidak mempan, mungkin juga pelurunya hanya terbuang sia-sia, karena dia menembak asal. Sekarang zombie-zombie itu meraih kaki dan tangannya. Ia menendang dan memukul, mereka tidak bergeming. Dan ia tergigit. Dalam transisinya menjadi zombie, semua kisah hidup dan emosi yang teraduk berputar di depan matanya. Dia berharap melakukan lebih banyak hal berguna dan pergi ke lebih banyak tempat sebelumnya, untuk diingat di saat-saat seperti ini.

Sayang, dia memang bukan pahlawan dari cerita ini, Ia pun berubah menjadi seperti yang lainnya, bergerak mengikuti naluri, bukan pikiran, dengan mata kosong. Bukannya tidak pernah dia bergerak begitu, tapi kali ini berbeda. Hanya saja, menjadi zombie membuatnya kehilangan identitas.
Kini, ia sama dengan yang lain.

a single cup of froyo.

Fro-Yo. Frozen Yoghurt.
Dingin, asam mengigit, dengan semu manis, renyah, atau asam lagi, tergantung topingnya.

Sama seperti rasa menikmatinya sendirian sepulang kerja, hasil keinginan impulsif di sore hari. Asemmmm, seperti iri melihat segerombolan perempuan yang menikmatinya bersama-sama, sembari saling tukar icip toping masing-masing. Renyah, karena rasanya garing juga tidak punya teman ngobrol, selain twitter dan BlackBerry Messenger.

Untung saja saya memilih toping longan hari ini. Rasa akhirnya manis. Baru saya ingat, sudah lama sekali tidak membiarkan saya menyenangkan diri sendiri. Ternyata rasanya manis.

a single cup of longan toped froyo, and a single right moment of sweet me time. Maybe, that's all I need.


Friday, March 26, 2010

the reason why


"i like indie-music, because of the same reason why i like you.


............

not everybody likes it."

silly .little. things

"Saya ingin blogging, tapi internet saya mati...bete..."
"Gitu aja dibesar-besarin. Udah lah...."

Tapi, saya sangat suka blogging. Dan hey...mungkin itu bukan persoalan kecil.

***

Entah karena pada dasarnya saya adalah orang yang sentimentil atau tidak mau ribet, sejak dulu saya adalah orang yang paling suka 'silly-little-things'. Saya menyebutnya begitu, untuk hal-hal sepele yang membuat saya senang.

Daripada sebuket bunga mawar, saya akan memilih sekantung bibit bunga matahari.
Daripada menghitung bintang di atas bukit, saya akan lebih memilih pergi ke planetarium bersama.
Daripada secarik surat cinta dengan bahasa berbunga-bunga, saya akan lebih memilih komik lucu dengan wajah saya sebagai tokohnya.

Buat saya semua hal itu romantis karena sederhana. Sesederhana cinta, yang menurut saya semudah mengucapkan 'i love u'.

Sama seperti bagaimana sederhananya saya mengukur hari yang indah.

Makan makanan enak, menyetir di jalanan yang tidak macet, mengenakan baju yang tidak sama dengan orang lain, dan menulis kapanpun saya inginkan.

Jadi, tidak boleh kah saya merasa kesal kali ini ?

Semudah bagaimana itu bisa membuat saya senang, kenapa tidak kamu bilang saja, "Boleh..." ?
***

Why are you never even try to understand my 'silly-little-things' ?

Wednesday, March 10, 2010

dunia : sebuah komedi berputar

"komi(e)di putar
tempatku tamasya
seperti dunia putarannya pelan penuh mimpi
komi(e)di putar tempatku bermain
sekarang kelata
lain waktu putri"

originaly from : Komidi Putar-Bonita

Monday, March 8, 2010

sparks that sparked.

he's standing there and i reply his message.
it ain't cheating, we're just chatting.
then why do i feel guilty.
is it because of him that standing there with sparkling eyes, or it's just me.

that sparks remind me of something.
You and me...
should we still be together and let us spark again.
or we better runaway from each other, and find that sparks in someone else's.

Wednesday, February 24, 2010

please, press play

I love these words, taken from Pandji's album tittle :

"You'll never know when somebody come and press play in your paused life" (yeah, something like that...i don't know for sure)

today, somebody press play in my paused life. Not my boyfriend, best friend, or anyone special. He's a stranger, that I meet only on class. my lecturer.

Dear Mr, thank you very much. i'm so happy that i could cry.

and now, i could dance over my life again.

Sunday, February 21, 2010

travelling without moving (yes, i take it from Jamiroquai's)

Risto is Estonian, Martina is Italian, and Rhys is from Welsch (part of UK, correct me if I'm wrong). Vinny is my best friend on high school and Zaky is my baby, we are Indonesian.

We, the Indonesian desperately wants to go somewhere around Europe to feel winter. They, the Estonian, Italian, and Irish, wants to go around the world to learn everything new, and not minus 30 cold.

from rice, bahasa, hot water after meal, to smoking in public transportation, something that maybe seems very common for most of Indonesian, amazed them. I'm not a culture expert or profesional tour guide, but I enjoyed explaining our 'silly' traditions one by one. In addition, they told us their culture, and answer my silly questions like, "where is Estonia in exact?"

whatever reason we have in mind, it's always nice to meet new people, even when you are still at the same place that you've born in.

It felt like I'm already went abroad.


from left to right : Martina, Risto, Rhys, Vinny, Me, Zaky, hanging out on Roemah Kopi

thank's to concidered our country for you 'around the world' destination. Wait for us, the Indonesian in Europe! *and please make sure that we could have rice--or nasi goreng even better--for meal, when we reach your country... haha

ps : Vie, bring me more foreigners, and I'm totally going to go pro with this guiding thing. haha!

Friday, February 12, 2010

living in the box.

I write this thing, while everybody is having this important meeting behind me. In front of me there are a square empty dustbin, ouval wet washtafel, and a towel hanger that has no towel on it.

Yes, i'm not part of that important meeting group. I'm an outsider that happen to be here, put aside at the end of the room.

I'm having a great time. alone, at the corner.

***

Tinggal di kota ini--let's say it's Pandora, so i won't insulted anyone--membuat saya terbiasa harus menjadi bagian dari grup ini, atau geng anu. Di daerah tertentu adalah sekelompok geng motor anarki, yang sedang mabuk dan tidak membiarkan seorang pun lewat di sekitar mereka, tanpa perasaan takut dipukul. Di sisi kota yang lain ada sekolompok musisi indie, yang sedang membahas kemungkinan melebarkan sayap mereka ke sebuah cakupan yang lebih luas, tanpa keinginan untuk pergi dari kota. Di tengah kota , di depan sebuah institut seni terkemuka, sekelompok seniman muda sedang membuka sebuah diskusi kecil mengenai aturan kota yang tidak masuk akal, sehingga membatasi kreatifitas mereka ber-seni. Di sebuah toko buku indie di pinggir kota, sekelompok aktivis feminis sedang mengobrol soal bagaimana mereka bisa menyebarkan filosofi mereka, tanpa terdengar terlalu garis keras. Di sudut gelap yang lain, sekelompok musisi underground sedang marah-marah mengenai segala hal yang berbeda dengan mereka, geng motor yang anarki, musisi indie pop yang membosankan, seniman muda yang terikat selera kapitalis, dan para feminis yang mereka tidak mengerti.

Itu hanya sedikit dari kelompok-kelompok di kota ini.

Salahkan saya, yang tidak pernah ada di dalam salah satu dari kelompok tersebut, untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, tapi kota ini sangat terbiasa dengan stereotype.

Seorang teman baru, pelancong dari Estonia sempat bertanya pada saya, apakah orang-orang di kota ini memiliki pemikiran tertentu soal pendatang dengan warna kulit dan nuansa pupil mata berbeda. Saya menjawab, "Kota kami sangat terbuka dengan pendatang baru. Tidak ada sedikit pun rasisme besar semacam itu yang pernah terjadi disini. Kami hanya memusuhi orang-orang diluar interest kami."

Stereotype yang terjadi di kota ini hanyalah terbentuk berdasarkan ketertarikan terhadap satu hal. Dan rasisme di kota ini hanya terjadi, ketika seseorang yang merasa sangat individual tiba-tiba ingin mencoba blend in, dengan salah satu diantara kelompok dengan interest yang berbeda. Musik, seni, hobby, dan segala sesuatu yang bisa membuat orang bersatu, malah menjadi kotak-kotak sempit yang membuat orang terlalu nyaman, dan mulai menjadi tidak toleran terhadap individualitas.

Musuh kami adalah kota ini--sebut saja Pandora.

***


Living in this city is--literally--just like you're living in Pandora box. You'll never know, how odd it is to be just like YOU, untill you open the box. And there is no room for individuality.

I want to move somewhere, outside the box--as they say about think differently--and be accepted as individual me.

wish me luck.

***

For now,
every single corner is taken, so maybe i have to live side by side
with dustbin, washtafel, and towel hanger.

--------------------------------------------------------------------------------------

pict taken from : www.digitalmonkeys.wordpress.com

Tuesday, February 2, 2010

have to start over, don't we ?


i miss the days when love is much way simpler.
easy to be described and has no drama.

i miss you.
and our days, when there is soo much smile.
when i trust you more than anybody else.

let's start over, baby...

Thursday, January 28, 2010

dearest listeners

sometimes, it's exhausting to be everyone's lover. you have to be nice, put your smiley voice, and pretend as if you are in a good mood. no matter how sick their comments are, or how it affect our dignity as a person.

we are just ordinary people. that's what you should now about us, announcers. we laugh as much as we cry, and we're angry as much as we're happy. all dearest listeners, please be kind. and you're gonna hear us smiling, like we mean it.

"it's nice to be important, but it's 'more' important to be nice..."

*dedicated to all dearest skylover. appriciate us like you want to be appriciated. that would be nice.

Monday, January 18, 2010

adi(a)idan

Posting ini hanya untuk memastikan, anak-anak saya (di masa depan) mempunyai nama seperti yang sudah saya rencanakan. Tidak bernama Budi-Wati seperti di buku Bahasa Indonesia, atau Meghan-Steve, seperti nama-nama artis baru, yang sudah pasti nama samaran.

Nama anak-anak saya adalah : Adia & Aidan

***

Adia
taken from one of a heartwarming number from Sarah Maclahlan, "Adia". It's a calming song, I want my baby girl grow up calm, and be the coolest girl in town and the warmest girl in heart. And remember, it should pronounced as Sarah sing the song : Ei-di-ya.

***

Aidan
named after Carrie Bradshaw's almost-true-love boyfriend, Aidan Shaw. He's warm, nice, and such a gentleman. I want my baby boy to grow up just like Aidan. It's also pronounced Ei-den, just like the perfect heaven people all looking for. And by the way, why not Big, Carrie Bradshaw's true love ? Simple, I don't want my baby boy, grow up like some kind of immature womanizer.

***

dedicated to my future baby girl and baby boy.
And yes, i'd prefer two children only.

Let's Just Fall In Love Again

"Beb, kita mainan jaman PDKT lagi yu...." tanya saya, berseri-seri, berharap.
"Ngga ah, capek." jawabnya, singkat padat, melanjutkan makan.

***

Tidak banyak lagu yang begitu mendengar langsung saya sukai. Jason Castro harus merasa beruntung. Singlenya yang berjudul "Let's Just Fall In Love Again," membuat saya jatuh cinta, bahkan ketika mendengar intronya saja. Entah intronya yang menarik dengan suara siulan, entah judulnya yang lucu, atau liriknya yang lugas dan membuat saya senyum-senyum sendiri.

Let’s pretend baby

That you’ve just met me

And I’ve never seen you before

I’ll tell all my friends

That I think you’re starin’

And you say the same to yours


And oh, we’ll dance around it all night

And then I’ll follow you outside

And try to open up my mouth

And nothing comes out right


Jika dibahasa Indonesiakan, mungkin lagu ini akan berjudul "Ayo Kita PDKT Lagi". Hahaha. Katakanlah saya cheesy, tapi lagu ini membuat saya teringat setiap moment PDKT saya bersama pacar. Berkenalan, pertama kali menikmati sore bersama, mengobrol dan bercanda dengan kaku. SMS tidak penting, telepon canggung, dan saling bercerita soal kegemaran. Tersenyum-senyum kecil mengingat satu sama lain, lalu mengaku jatuh cinta, dan mengajak kencan.

I’ll call you in three days

Not too soon, not too late

And I’ll ask your roommate if you’re home

You call me on Thursday

And we’ll hang out all day

Then fall asleep on the phone


And oh, I’ll hold your hand when we drive

And we’ll lose track of all the time

And we’ll tell everyone

That we ain’t never felt so alive


We’ll fall disgustingly fast

And we’ll stop hangin’ out with friends

And they’ll be so offended

Manis. Dan saya baru ingat lagi rasanya. Tidak ada perasaan yang lebih berbunga dibanding itu semua. Saya ingin merasakannya lagi. Bukannya saya sudah berhenti jatuh cinta. Hanya karena semuanya tadi begitu lucu untuk dikenang. Dan kadang, dengan kebersamaan menahun, pertengkaran, dan sifat jelek pacar yang menjengkelkan, kita lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.

And I wanna fall in love with you again

I don’t have to try

It’s so easy

Who needs to pretend?

But because it’s so funny

Let’s just think about it, honey

Let’s just fall in love again


***

Semoga lain kali dia mau.
Let’s just think about it, honey. Let’s just fall in love again...


==============================================
download the song here:
http://www.get-music.net/mp3-994265/jason-castro-let-just-fall-in-love-again.html


Saturday, January 16, 2010

second trickiest question



"so, miss x... what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?"

The second Trickiest question an interviewer could possibly ask to a writer.

The first is, "who's your favorite author?"


***

Saya seringkali melakukan simulasi gila mengenai bagaimana wawancara soal buku best seller saya berlangsung di masa mendatang. Mungkin saya ada di sebelah Jay Lenno, menari bersama Ellen Degeneres, dan bila beruntung menyelesaikan buku pertama saya sebelum Oprah pensiun, diundang ke studio Harpo. Yah setidaknya bercanda bersama Tukul, atau berdiskusi bersama Andy F Noya, lalu buku saya dibagikan kepada seluruh penonton di studio.

Saya menanti-nantikan saat seperti itu semenjak saya menulis cerita pendek pertama saya, yang terinspirasi dari cerita bersambung di majalah Bobo. Saya suka menulis. Dan saya membayangkan, betapa indahnya jika bisa dikenal orang banyak lewat sesuatu yang sangat saya sukai, dan yang saya pikir satu-satunya yang bisa saya lakukan dengan benar. Menulis.

Simulasi wawancara saya biasanya berlangsung di malam hari, ketika semua orang sudah tidur. Semua interviewer hebat yang saya sebutkan tadi--ehmmm...kecuali Tukul, dia entertainer hebat, tapi interviewer hebat, i don't know, how about if we try to hijack his sacred laptop?--akan memulai dengan pertanyaan dengan inti yang sama.

"Jadi buku anda ini bercerita soal apa?" (Oprah biasanya akan membuka dengan "I Love This Book, I even read it only in one night, and I put in on Oprah's Book Club." Then suddenly, all the Americans said soo)

Saya membayangkan akan menjawabnya dengan kata-kata macam : kontemplasi, refleksi, mediasi, provokasi, atau bahkan sublimasi. Mereka mengangguk tanda puas. Saya telah menjawab dengan cara cukup pintar. Mudah, gunakan saja istilah-istilah sulit berakhiran si.

Pertanyaan selanjutnya, "Apakah ini kisah nyata ?"

Saya akan menjawab, "Ini cerita keseharian. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Ini bagian dari hidup saya, anda, dan semua yang pernah menjadi wanita."

*applause cheering*

"Lalu, apakah anda lebih suka menulis kisah-kisah fiksi atau sebaliknya ? Kenapa ?"
"(Saya memutuskan untuk memakai sedikit bahasa Inggris, jika ini untuk acara lokal, kalaupun Tukul tidak mengerti, setidaknya itu akan jadi umpan bagus untuk lawakannya) I'd prefer to write about life. Tapi, saya bukan jurnalis. Saya hanya tahu berkhayal, merefleksikannya (lagi-lagi istilah berakhiran 'si') pada kehidupan saya, dan menuangkannya dalam tulisan. Saya tidak tau cara membuat feature human interest dan mewawancarai orang seperti anda. Dengan begitu saya bisa mengedepankan kenyataan hidup dengan cara fantasi yang disukai banyak orang."

*applause cheering*

"Oke, sejak kapan anda menulis ?"
"Sepanjang saya bisa mengingat, selama itu pula saya sudah mulai menulis."
"Baik, kalau begitu anda lebih baik punya alasan bagus untuk melakukannya?" (Mungkin Jay Lenno yang akan bertanya dengan cara seperti ini) Kalimat lain untuk bertanya "what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?" The second trickiest question for all writers.

Bahkan dalam bayangan saya, saya terdiam selama beberapa detik. Lalu berkata, "Excuse me ?" hanya untuk memanjangkan waktu berpikir.

Di setiap wawancara yang dilakukan oleh semua penulis, saya menunggu pertanyaan itu keluar. You have to answer it smart enough, or else, people gonna mock you all the way to your grave, as an un-visionary writers.

Saya mencoba, "Saya menulis untuk memberikan pengetahuan dalam cara yang menghibur...??" Terlalu basi.

Coba lagi, "Saya ingin menulis sesuatu yang bisa menginspirasi semua wanita, agar menjadi kuat." Hmmmm...too feminist...

Sekali lagi, "Menulis membuat saya menjadi kuat. Maka saya terhubung dengan semua pembaca di seluruh dunia...bla..bla..bla..." Membingungkan, terlalu lemah, dan secara bersamaan sangat self-centered.

Lalu saya mengingat-ingat dengan khusyuk, alasan saya pertama kali menulis. ...... ..... ......... . Oh tidak, saya tidak punya alasan! Saya hanya suka menulis. Menggerakan jari saya. Mengsinkronisasikannya dengan isi kepala saya, dan menumpahkan segala keluhan hati saya. Lalu membaca nya ulang, hanya untuk memberikan sensasi keberhasilan yang aneh, dan tetap merasakan element of surprises-nya, meskipun semua itu berasal dari kepala saya sendiri. Saya merasa mengenal diri saya ketika saya menulis. Mungkin karena huruf-huruf itu lebih nyata dibandingkan perasaan. Atau menumpahkan sesuatu dalam tulisan, selalu membuat saya seperti habis menyelesaikan salah satu puzzle bagian kehidupan saya. Puas dan lega. Hanya karena itu sebenarnya.

"Well, saya menulis hanya karena saya menyukainya. Saya menulis untuk mengenal diri saya. Just because I like it that bad, that's it,"

Please, ingatkan untuk menjawab pertanyaan 'writing purpose' itu dengan kalimat diatas. Karena saya tidak ingin 'mengarang' sesuatu, sebagai alasan melakukan hal yang paling saya sukai di dunia. Saya hanya ingin jujur. Yah, setidaknya tentang satu hal itu. I don't care if in the end, people mock me to my grave, as an un-visionary best seller writer.

and in my fantasy of finally-answering-the second-trickiest-question-for-every-writers, i get 'boo'-ed, instead of cheering applause.

*people boo-ing*

***

"The last question, who is your favourite author, and give me also the title please..." Oprah said.

"I Like Paulo Coelho's Veronika Decides to Die, because that's the only book that I read to the end, in one single night. Just like how much you love my book, Oprah...." Yes, I beat Oprah up at the trickiest part!

*big smile for the close up*


==================
picture : http://latimesblogs.latimes.com/photos/uncategorized/2008/10/16/laptop_1016.jpg

Wednesday, January 6, 2010

darker you, darker me.




" I like the darker you. So i could cheer you up, and feel like I'm special and important to you. I hate the darker me, because even if you're not there to cheer me up, you're still special to me..."

taken from my "twitter" page, January 5th, 2010
photo by : Rizky Amalia

a (semi)mental-breakdown.

merasa sendirian dan mulai tidak nyaman
mudah menangis
gundah tanpa alasan yang tepat
mengumpat hanya karena hal-hal remeh

Semua symthomps yang bisa diketemukan pada semua wanita di usia twenty-something.... dan pada diri saya.

Am I in the middle of mid-life crisis, or Am I having this (semi)mental-breakdown ?

***

Bergaul dengan banyak teman yang berusia jauh lebih tua, membuat saya sangat mengetahui bagaimana rasanya ada di bagian paling kritis--katanya--dari kehidupan perempuan. Twenty-something. Start on your 22nd or 23rd, and last till you reach another part of life, thirties.
Waktu itu saya hanya manggut-manggut. Saya masih belasan tahun, menunggu ulang tahun saya yang ke-20. Katanya sebentar lagi saya akan memasuki masa-masa paling absurd dari kehidupan saya secara keseluruhan. Meskipun ditakut-takuti, bisa saja saya tidak bisa keluar dari bagian kehidupan itu hidup-hidup, saya malah merasa sangat bersemangat. Di otak saya, yang entah kenapa selalu tertantang untuk melakukan hal-hal buruk--dan selalu kalah (baca : rokok, alkohol, dan hal-hal lain yang tidak enak jika disebutkan)--akan menyenangkan tampaknya memiliki tantangan baru dalam hidup. Maklum, saya baru saja keluar dari masa teenage yang meskipun juga fluktuatif, tapi sangat terasa aman.
Temang saya tertawa melihat sunggingan senyum bersemangat saya. Katanya, "Lihat aja nanti booo! Gue tunggu di sebrang cuma, untuk ngetawain dan bilang, 'what i told 'ya...'"

***

And here I am.

In my not-too-far-from-23-where-it-all-started. Entah ini hormonal atau apa, yang jelas saya merasa menjalani kehidupan saya dalam PMS berkepanjangan. Grumpy, jarang tersenyum, menarik diri dari keramaian, dan mulai banyak mengeluh. Koleksi pakaian yang kurang update (padahal punya satu lemari penuh, yang bahkan sudah sulit ditutup), pekerjaan yang menyebalkan (padahal hanya satu-satunya pilihan yang bisa bikin orang iri, karena waktu yang sangat 'bebas'), kehidupan pergaulan yang membosankan (padahal bertemu orang baru setiap hari, tapi tetap malas memulai hubungan), dan ini itu, banyakkkkk sekaliii. Dan puncaknya, saya mulai sering menangis dalam tidur. Untuk hal yang saya tidak tahu apa. Mungkin ini rasanya menjadi Heath Ledger sebelum meninggal, mencoba melepaskan sosok asing dalam dirinya--yang ternyata adalah Joker, tokoh yang diperankannya sepenuh hati di film terakhirnya--lalu insomnia, hingga frustasi...dan mati.

***

Saya adalah Spongebob dalam episode serial Spongebob Squarepants--yang ironisnya--adalah kesukaan saya. Episode RockBottom.

Dikisahkan Spongebob pergi berlibur bersama Patrick. Namun Spongebob malah tertidur dalam bis dan nyasar ke sebuah kota bernama RockBottom. Pintu masuk kota ini cukup absurd, yaitu sebuah jalan turunan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Kotanya pun sama absurdnya, dengan orang-orang aneh yang tidak dikenal Spongebob, yang bicara dalam bahasa aneh, yang bahkan tidak bisa dibedakan jenis kelaminnya.

Di kegelapan kota asing tersebut, Spongebob berdiri di tepi jalan. Senternya mati, dan hari mulai gelap. Jadwal bis pulang terakhir sudah lewat. Dan, Patrick secara tidak sengaja malah meninggalkannya.

Sendirian. Gelap. Asing. Mendadak Spongebob merasa tidak mengenal dirinya lagi.

***

Menganalogikan kehidupan saya dengan sebuah episode serial kartun, dengan tokoh utama seonggok spons pencuci piring berwarna kuning, memang cukup absurd. Saya sebenarnya melakukannya hanya untuk membuat tulisan ini menjadi sedikit sarkastis dan (berharap) jadi lucu. Tapi sekarang lucunya, saya malah merasa takut.

Jika di episode itu, Spongebob dibuat pulang ke Bikini Bottom dengan selamat, dan meninggalkan Rock Bottom selamanya (maaf, untuk yang belum menonton episodenya, dan saya malah membocorkan endingnya) oleh sang penulis, lalu bagaimana nasib saya ?

Apakah 'Sang Penulis' kisah hidup saya akan melakukan hal serupa ?

Friday, December 11, 2009

shiver

So I look in your direction,
But you pay me no attention, do you.
I know you don’t listen to me.
’cause you say you see straight through me, don’t you.

On and on from the moment I wake,
To the moment I sleep,
I’ll be there by your side,
Just you try and stop me,
I’ll be waiting in line,
Just to see if you care.

Did you want me to change?
Well I change for good.
And I want you to know.
That you’ll always get your way,
I wanted to say,

***

so maybe, shiver has always been my favourite coldplay song.

di bagian lalu dalam hidup saya, fix you adalah lagu coldplay kesukaan saya. mungkin karena liriknya yang menyentuh sisi personal saya saat itu, atau mungkin karena beberapa orang berkata Chris Martin menulis fix you untuk Gwyneth Paltrow, untuk membuatnya merasa lebih baik saat ayahnya meninggal. sweet. Atau mungkin juga karena fix you mempunyai bagian klimaks yang bisa membuat saya merinding.

Tapi shiver, seperti arti harfiahnya, selalu membuat saya bergetar. Dingin dan sedikit dark, namun selalu sukses mengajak saya menyanyi dengan emosional. Saya menyukai sisi emosional dan sentimentil yang dibawa lagu ini. Beberapa orang mempercayai lagu ini ditulis oleh Chris saat ia jatuh cinta kepada Natalie Imbruglia. Chris menolaknya, yang jelas, katanya, lagu ini memang ditulis untuk seorang yang special. Tapi hingga saat saya menyanyikan lagu ini 5 menit yang lalu, saya lebih menyukai spekulasi pertama. Bahwa lagu ini ditulis untuk Natalie, diluar kebetulan yang sangat luar biasa dimana Natalie juga memiliki lagu hits berjudul sama.

Perasaan saya hanya menginginkannya begitu, karena begitu indah mungkin kedengarannya. Chris jatuh cinta, bertepuk sebelah tangan, lalu membuat sebuah lagu patah hati yang sangat dark. Sangat datar, Bahkan lagunya pun tidak memiliki klimaks yang spesifik. Tapi betapa spesialnya lagu ini, jika memang benar ditujukan untuk Natalie. Lagu patah hati yang tidak memojokan, tidak menghakimi, dan tidak memaksa.

Pada kenyataannya saya tidak tahu apakah Chris masih menyimpannya dalam hati. Karena seperti kita tahu, Chris sekarang bersama Gwyneth, HAPPY. Tapi yang jelas, lagu itu bukan untuk Gwyneth. Lagu itu untuk seseorang yang sangat special, Natalie.


I want to be Natalie in your life. Don't judge me just because i broke your heart before, just wrote me a nice song, and sing it to the world...
life goes on, but the song remains.

***


Don’t you shiver? shiver, shiver

I’ll always be waiting for you,
So you know how much I need ya,
But you never even see me, do you?

And this is my final chance of getting you.

On and on from the moment I wake....
Did you want me to change? ...

Sing it loud and clear.
I’ll always be waiting for you.

Monday, December 7, 2009

di suatu malam minggu

"... gue ngga bisa bohong, bahwa gue bener-bener percaya sama lu. Gue percaya lu akan jadi sesuatu...."

*It feels really nice, when somebody believe that you're something, instead of nothing. thank you....

an unimportant message for important people

Dear Mommy and Daddy,

Please let me do what i really want.

I want to move to Bali and finished my book (our book, friend!)
I want to travel around the world and try living abroad
I want to have my own fashion line, and work myself full time on that

Dear Mommy and Daddy,
Just let me see the world...Because, maybe, it's just about time...

Yours Sincerely,
daughter and an independent person

***

Friday, December 4, 2009

similarity equal soulmate, question mark.

"love is not about similarities , miracles, or faith. It's just about what's right." --me

***

Adik tokoh Tom dalam film (500) Days of Summer menasihati kakaknya, yang clueless dalam urusan cinta, "Not just because she likes the same quirky things as you, making her your soulmate..." Tom sedang semakin tergila-gila akan Summer, tokoh perempuannya, karena sama-sama menyukai The Smiths.

***

Adik saya, jauh sebelum film (500) Days of Summer dirilis, pernah berkata, "Elu ngerasa dia bener dan kalian cocok, bukan karena kenyataannya gitu. Dasarnya emang kalian SAMA aja...." (*hebat juga adik saya, jangan-jangn dia inspirasi dibalik film itu) Saya tertegun.

***

Saya sejujurnya adalah pencari soulmate sejati. Saya, meskipun menolak untuk menunjukkan, sangat percaya pada silly little things called love, yang diragukan banyak orang. Maka semenjak umur saya sangat muda, saya mulai mencari dengan penuh percaya diri.

Soulmate : karena jika diterjemahkan membuat artinya semakin membingungkan dan absurd, saya mulai membuat definisi sendiri, definisi sok tahu lebih tepatnya " seseorang dengan banyak kesamaan dengan saya, yang membuat saya jatuh cinta dan pastinya nyaman, yang akan menemani saya sampai akhir hayat."

Polos saya memang, dulu.

Susah sekali ternyata menemukan kesamaan itu. Maka, jarang yang benar-benar bisa membuat saya jatuh cinta, dan semakin saya mencari, semakin banyak kandidat yang datang, semakin jauhlah saya dari soulmate saya. Karena saya mencari, kesamaan, kecocokan, ke-monokrom-an (???)......

***

Bertemulah dengan satu kandidat lagi. Saya sedang sangat lelah mencari, dan dia datang begitu saja. Setelah scanning sedikit soal bau badan dan selera musik, saya memutuskan bersamanya. Dalam berbagai macam hal kami cocok. Konsep beragama, gaya hidup, selera musik, sampai gaya bercanda, dan kegemaran makan. Saya hampir merasa menemukan soulmate saya, sampai....

Suatu hari saya bangun dengan perasaan gamang yang aneh. Saya merasa lelah, tidak lengkap, dan kesepian. All of these odd simililarities between us, started to killing me. Mungkin kami terlalu banyak bersama, membicarakan hal yang sama, dan makan hal yang sama, sampai chemistry itu hilang entah kemana. Entah apakah chemistry itu pernah ada atau tidak. Saya terlalu sibuk mencari kesamaan, disaat seharusnya saya banyak-banyak mencari seseorang yang bisa melengkapi saya, dan saling melengkapi.

Tanpa kesamaan, hanya karena dia terasa benar.

***

"I thought you were right, but maybe, I'm not right for you..." --Summer to Tom, on their favourite bench.

Well, baby, let's think about us again....

Friday, November 27, 2009

kisah si pembela kebenaran & si menyebalkan

Penokohan #1 : Si Pembela Kebenaran

Jika dia berjalan, dia akan memandang ke sekitarnya lalu mulai membaca tanda. Bukan menilai, bukan juga menghakimi, hanya melihat yang kebetulan bisa ia rasakan. Kadang-kadang dia benci menjadi satu-satunya yang mengerti, karena instingnya pasti akan membawanya ke berbagai kejadian aneh, yang kadang bisa membuatnya ingin melakukan sesuatu, atau setidaknya, muntah. Dia hanya bingung, kenapa manusia suka sekali mengurusi urusan manusia lainnya. Padahal seperti namanya, urusan pribadi itu, sifatnya PRIBADI.

Penokohan #2 :Si Menyebalkan

Jika berjalan, dia akan dinilai menyebalkan oleh banyak orang. Kelihatan sombong, acuh, dan pemilih. Padahal dia hanya selalu berusaha menjadi dirinya sendiri. Yang bukannya sombong, tapi hanya pelupa. Bukannya acuh, hanya terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri, untuk ingin tahu urusan orang lain. Bukannya pemilih, hanya selalu punya standar akan segala sesuatu, dan standar itu TINGGI.

***

Babak I

Si Pembela Kebenaran bertemu Si Menyebalkan di tengah jalan. Orang-orang di sekeliling mereka sedang kasak kusuk menghakimi Si Menyebalkan. Katanya orang itu jahat dan tidak punya hati. Si Pembela Kebenaran maju dan berdiri di sebelah Si Menyebalkan. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, tidak boleh ada orang yang menghakimi orang lain seperti itu, tanpa memahami siapa dia sebenarnya. Lagipula siapa yang pernah memahami Si Menyebalkan. Untuk mengenalnya saja, orang terlalu banyak alasan untuk mau.

Babak II

Berada di bagian jalan kehidupannya yang paling asing, Si Menyebalkan mulai merasa lelah menjadi orang lain. Toh hasilnya sama saja, tidak ada yang mengerti. Di saat gelagat orang-orang yang mulai ingin menambahkan satu lagi label pada dirinya--senseless--dia bertemu Si Pembela kebenaran. Entah kenapa, dia mau berdiri di sebelah Si Menyebalkan, dan menemaninya menghadapi orang-orang. Si Menyebalkan baru saja disadarkan, mungkin saja ketulusan memang ada di dunia ini.

Babak III

Si Pembela Kebenaran dan Si Menyebalkan berjalan pulang bersama. Dan mungkin ini adalah awal sebuah kebersamaan yang aneh, antara dua orang berbeda keyakinan. Tapi satu hal mereka sepakat, pertemanan memang seharusnya tulus-tulus saja.

***

Pesan Moral

"Jangan pernah berkompromi dengan apapun yang kita yakini. Karena suatu saat, di tengah perjalanan hidup ini, mungkin saja kita dipertemukan dengan orang yang bersedia memahami. Tanpa tendensi dan ego, hanya karena ingin menemani."

Thursday, November 26, 2009

sayang dan ukuran

Beberapa ukuran sayang pada keluarga :

+ lulus kuliah cepat-cepat
+ tidak punya pacar gondrong
+ rajin membereskan kamar
+ tidak suka pulang malam
+ punya kerjaan tetap
+ tidak suka memakai jeans robek ke acara keluarga

Saya hanya punya setidaknya satu dari ukuran sayang tadi. Tapi bukan berarti saya tidak sayang keluarga. Saya hanya suka pakai celana robek saya karena nyaman, tiak membereskan kamar karena tidak sempat, pulang malam2 karena banyak pekerjaan, lalu kebetulan jatuh cinta pada pria berambut gondrong, dan tidak punya waktu untuk ribut tidak penting mengurusi panjang rambutnya. Untuk cepat lulus kuliah, oke saya mungkin malas, lalu frustasi, dan sekarang sedang bersemangat.
Saya ingin lulus. Tapi bukan untuk membuktikan saya sayang keluarga. Saya ingin lulus saja tanpa dipaksa dan dikatai 'bullshit'. Karena saya seorang anak, bukan tetangga yang butuh banyak alasan untuk menyayangi.

Terima kasih ayah, sudah membuat malam ini saya berpikir, sesudah ini semua selesai, saya harus berhenti menjadi boneka siapapun. Saya pegang janji saya, dan pegang janji mu untuk membiarkan saya, kali ini, memilih jalan saya sendiri. Bukan karena saya tidak sayang keluarga, tapi karena saya ingin menyayangi tanpa ukuran apa-apa.

hectisism.

A word that reverse to a hectic situation, which made u want to jump from an 11 storeys building and die instantly.
--me

Monday, November 23, 2009

ungu.jingga.muda

Tidak sengaja saya melihat langit kekuningan itu. Jarang sekali muncul di tengah musim hujan yang tidak menentu ini.

Seketika saya merasakan kamu.
Lalu ada semacam film yang diputar dalam mode rewind dalam otak saya, dengan kecepatan 24 x. ayam terenak di dunia. mobil derek. batik. hujan. boromeus. sop kaki kambing. yoghurt. toko buku. tangis. perempuan itu. kosong. weker biru. kanebo kuning. kompor gas. bawang putih. pasta. daging merah. diskusi feminis. soda. ceumar. hujan. ujang. ujangwati. mobil hyundai matic tidak bernama. gambir anom. batik agung. muara rajeun. lampu merah. gelap. lampu biru. alkohol. ganja. time after time. bertengkar. bermesraan. s. bunga matahari. si buma. spiderman 3. lisung. bukit bintang. jati nangor. tol cipularang. ciuman.ciuman.ciuman. menangis. tertawa. mentertawakan. bawal aprie. bercanda. kamu. saya. kita. ungu. jingga. muda.
Tentu saja tidak semuanya saya ingat *kalau-kalau kamu membaca dan protes.

Mungkin tidak akan ada banyak hal yang saya ingat dalam otak saya yang sulit sekali mememori ini. Tapi saya akan selalu ingat ungu.jingga.muda. Warna yang membuat saya jatuh cinta pada langit sore, dan kamu.

aku kamu dia kita (akan) pulang


"good things take time honey, just be patient a little bit more."
Saya merasa salah bicara, karena dia bilang dia menangis. Meskipun saya tidak melihat, saya tahu dia menangis, tulisannya terlihat sedih.

***

Tidak biasa-biasanya dia begitu. Lesu, tidak teriak-teriak tidak jelas, dan tidak bercerita dengan jemari yang merekah kemana-mana. Bajunya memang berwarna cerah seperti biasanya. Tapi jelas hari ini di tidak baik-baik saja.

Entah apa yang sedang menimpanya, saya tidak tahu secara detail. Yang jelas ini bukan masalah cinta biasa. Masalah cinta ini sudah jadi perkara 'konsep diri'. Pada akhirnya saya ngobrol juga soal 'konsep diri' ini dengannya. Bukannya malah tenang, dia terasa tegang.

Dan menangislah dia setetes demi setetes. Membuat maskara yang selalu dipakainya luntur. Seketika dia tidak terlihat seperti dia. Dia bilang dia lelah dan merasa lemah. Lalu menangis lagi.

Saya mengerti. Sangat mengerti. Merasakan perasaan tak berdaya, yang akan sangat asing, kalau kita terbiasa hidup tanpa siapa-siapa dan selalu berusaha mengurus diri kita sendiri. Berusaha menepis cibiran orang, dan tatapan menyepelekan yang sering kali datang. Ingin berlari keluar, tapi ingin pulang.

Mungkin pada akhirnya kita semua harus pulang. Menemui mereka yang pasti tidak akan membiarkan kita jatuh. Dan memahami kita seperti kita apa adanya, tanpa label , tanpa penilaian. ayah, ibu, adik, kakak. Keluarga.

Dalam tangisnya, dia berkata harus bicara pada ayahnya. Ya, itu benar.

Hanya mereka yang akan menerima kita setelah kita berlari jauh, kelelahan, dan ingin beristirahat.

***
"Jika lelah beristirahat lah, dan sandarkan kepala mu di bahu seseorang. Mungkin itu akan membantu mu berbaikan dengan diri mu sendiri."

seperti debt collector

seperti debt collector, saya yakin dia akan menagih sesuatu kapan-kapan.

Saya tidak ingin berhutang pada mu, hanya karena kamu menginginkan saya.

Maka saya akan diam, dan terus tidak menginginkan mu.

Saya
Hanya
Tidak seperti itu.

pengakuan yang harus diakui

"(nyengir) ehmm...i'm late ..."

"what (datar)?"

"Late...I'm late 30 minutes for morning show...(sambil menyiapkan alasan)"

"owh, yes...(melanjutkan baca koran)."

"..."

well, harus diakui itu pengakuan ter-kaku yang pernah saya akui. Tapi apa boleh dikata, pengakuan harus tetap dilakukan karena harus, khan ?

mari meramal lewat music folder

"Being bold is not just about appearence, it's about having standard"--me

***

Membuat sebuah keputusan untuk bersama seseorang, tidaklah mudah. Kita harus menimbang, menilik, mengintip, bahkan hingga mengintil. Setiap orang mempunyai kategori yang berbeda, dan batasannya masing-masing. Sama seperti membeli barang di pusat grosir, ada yang banyak permintaan, ada yang pasrah dengan tawaran penjualan.

Untuk saya pengambilan keputusan macam ini, tidak perlu banyak requirement. Hanya tiga point yang menjadi highlight saya :

1. Chemistry
2. tidak bau badan
3. selera musik yang bagus

Nah, point ke-3 ini seringkali membuat saya dibilang 'nggak banget' oleh beberapa teman yang tahu. Katanya apa hubungannya selera musik, dengan memilih pasangan. Well, i have my own reason.

I believe that your playlist or music folder described you best.

Seperti tulisan, yang bisa menggambarkan isi otak penulisnya, dan lukisan yang bisa menuliskan perasaan hati si pelukis.

Tapi tidak semua orang bisa (dan suka) menulis, apalagi melukis. Yang semua orang bisa lakukan adalah menikmati. Dan yang paling mudah untuk dinikmati adalah musik. Musik tersedia dalam segala selera. Selera pasar yang cheesy, selera music-expert yang sulit dimengerti, atau selera jujur yang aneh.

Saya tidak bilang selera saya yang mana, atau lebih baik punya selera musik kategori mana. Tapi yang jelas saya punya standar. Itu khan yang paling penting.

Jadi standar sih gampang, punya standar kadang-kadang sulit.

Saya ingat-ingat folder musik mantan-mantan kesayangan saya. Tidak semua bagus, tapi mereka punya standar. Yah, punya standar itulah yang paling penting. You have standard, then u're are bold enough to choose the best for u...

Friday, November 20, 2009

a (re)call to a (good)friend

" ...And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war..."

(the call, by : Regina Spektor)

* dedicated to a friend, "I'll fill your book to the very end, because you've had fill mine..."

Thursday, November 19, 2009

undeniable awkward moment

awkward moment #1

"Selamat sore, dengan mas x..."
"Selamat sore menuju malam, dengan siapa ya..."

*saya cengengesan kesel, mungkin memang ada perbedaan waktu 12 jam

=============================

awkward moment #2

"Jadi yang disediain apa aja ?"
"Paling cuma sound aja, ngga ada alatnya..."
"alat apa maksudnya ?"
"eh...mmm....alat musik"
"(dengan nada tersinggung) oh, pasti saya bawa sendiri lah, mbak....."

*untung saya cepat mengarang alasan, "soalnya ada beberapa yang minta disediain alat (sulap)"

==============================

awkward moment #3

SMS saya kirim
"Ini no saya : 081220683xxx atau 92834xxx "
SMS dibalas
"Ini no saya : 081220683xxx atau 92834xxx (yang GSM khan no saya mbak)
Membalas SMS lagi dengan malu
"Maaf saya sedang sangat stress, yang benar 085861179xxx..."
SMS dibalas lagi
"Oooo.....maklum..."

*agak tidak sensitif ya mas, padahal saya sudah curhat colongan

==============================

awkward moment #4

"Maaf mbak, boleh pinjam sajadah ?"
"Oiya boleh (sambil memberikan sajadah)"
"Sholatnya dimana ya mbak...?"
"Di sini aja (sambil mengantar)"
"Kalau kiblatnya kemana ?"
"............(bingung) kemana sih ? Maaf, tidak sholat"

*saya biarkan saja dia menyangka agama saya kaballah

==============================


(semua didengar oleh seorang PD radio wanita di Bandung, yang geleng-geleng, lalu ingin guling-guling)

inspired by the addicted blog : www.ngupingjakarta.blogspot.com

Saturday, November 14, 2009

when life isn't good



kata adiknya, yang terpisah jarak dua kota,
" gue ingin nangis, tapi ngga tahu apa yang gue tangisi...."

kata temannya, yang ditawarinya pekerjaan,
" gue nggak tahu gue harus gimana...."

kata dia kepada dirinya sendiri,
" gue tidak baik-baik saja.... gue ngga tahu apa yang gue inginkan..."
alih-alih berkata hal yang sama kepada temannya yang menemani malam itu, dia malah,
"tenang aja.... gue baik-baik aja. Ini cuma syndrome twenty something yang aneh."

Hidup tidak pernah sesempurna itu untuk beberapa orang. Dia berpikir, adiknya, temannya, dan dirinya sendiri sedang ada di dalam bagian terendah hidup mereka. Mereka saling terhubung. Lewat sambungan telepon, lewat dunia maya, dan waktu yang menghampiri mereka dengan kabar buruk.

Hari ini dia merasa tidak sendirian.
Menghadapi kehidupan yang sedang membelakangi.
Atau mungkin dia sedang membelakangi kehidupannya sendiri.
Tapi semua ini harus berubah.
Setidaknya dia tidak sendirian lagi.

when life isn't good
it's glad to know you're not alone......