Thursday, January 28, 2010

dearest listeners

sometimes, it's exhausting to be everyone's lover. you have to be nice, put your smiley voice, and pretend as if you are in a good mood. no matter how sick their comments are, or how it affect our dignity as a person.

we are just ordinary people. that's what you should now about us, announcers. we laugh as much as we cry, and we're angry as much as we're happy. all dearest listeners, please be kind. and you're gonna hear us smiling, like we mean it.

"it's nice to be important, but it's 'more' important to be nice..."

*dedicated to all dearest skylover. appriciate us like you want to be appriciated. that would be nice.

Monday, January 18, 2010

adi(a)idan

Posting ini hanya untuk memastikan, anak-anak saya (di masa depan) mempunyai nama seperti yang sudah saya rencanakan. Tidak bernama Budi-Wati seperti di buku Bahasa Indonesia, atau Meghan-Steve, seperti nama-nama artis baru, yang sudah pasti nama samaran.

Nama anak-anak saya adalah : Adia & Aidan

***

Adia
taken from one of a heartwarming number from Sarah Maclahlan, "Adia". It's a calming song, I want my baby girl grow up calm, and be the coolest girl in town and the warmest girl in heart. And remember, it should pronounced as Sarah sing the song : Ei-di-ya.

***

Aidan
named after Carrie Bradshaw's almost-true-love boyfriend, Aidan Shaw. He's warm, nice, and such a gentleman. I want my baby boy to grow up just like Aidan. It's also pronounced Ei-den, just like the perfect heaven people all looking for. And by the way, why not Big, Carrie Bradshaw's true love ? Simple, I don't want my baby boy, grow up like some kind of immature womanizer.

***

dedicated to my future baby girl and baby boy.
And yes, i'd prefer two children only.

Let's Just Fall In Love Again

"Beb, kita mainan jaman PDKT lagi yu...." tanya saya, berseri-seri, berharap.
"Ngga ah, capek." jawabnya, singkat padat, melanjutkan makan.

***

Tidak banyak lagu yang begitu mendengar langsung saya sukai. Jason Castro harus merasa beruntung. Singlenya yang berjudul "Let's Just Fall In Love Again," membuat saya jatuh cinta, bahkan ketika mendengar intronya saja. Entah intronya yang menarik dengan suara siulan, entah judulnya yang lucu, atau liriknya yang lugas dan membuat saya senyum-senyum sendiri.

Let’s pretend baby

That you’ve just met me

And I’ve never seen you before

I’ll tell all my friends

That I think you’re starin’

And you say the same to yours


And oh, we’ll dance around it all night

And then I’ll follow you outside

And try to open up my mouth

And nothing comes out right


Jika dibahasa Indonesiakan, mungkin lagu ini akan berjudul "Ayo Kita PDKT Lagi". Hahaha. Katakanlah saya cheesy, tapi lagu ini membuat saya teringat setiap moment PDKT saya bersama pacar. Berkenalan, pertama kali menikmati sore bersama, mengobrol dan bercanda dengan kaku. SMS tidak penting, telepon canggung, dan saling bercerita soal kegemaran. Tersenyum-senyum kecil mengingat satu sama lain, lalu mengaku jatuh cinta, dan mengajak kencan.

I’ll call you in three days

Not too soon, not too late

And I’ll ask your roommate if you’re home

You call me on Thursday

And we’ll hang out all day

Then fall asleep on the phone


And oh, I’ll hold your hand when we drive

And we’ll lose track of all the time

And we’ll tell everyone

That we ain’t never felt so alive


We’ll fall disgustingly fast

And we’ll stop hangin’ out with friends

And they’ll be so offended

Manis. Dan saya baru ingat lagi rasanya. Tidak ada perasaan yang lebih berbunga dibanding itu semua. Saya ingin merasakannya lagi. Bukannya saya sudah berhenti jatuh cinta. Hanya karena semuanya tadi begitu lucu untuk dikenang. Dan kadang, dengan kebersamaan menahun, pertengkaran, dan sifat jelek pacar yang menjengkelkan, kita lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.

And I wanna fall in love with you again

I don’t have to try

It’s so easy

Who needs to pretend?

But because it’s so funny

Let’s just think about it, honey

Let’s just fall in love again


***

Semoga lain kali dia mau.
Let’s just think about it, honey. Let’s just fall in love again...


==============================================
download the song here:
http://www.get-music.net/mp3-994265/jason-castro-let-just-fall-in-love-again.html


Saturday, January 16, 2010

second trickiest question



"so, miss x... what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?"

The second Trickiest question an interviewer could possibly ask to a writer.

The first is, "who's your favorite author?"


***

Saya seringkali melakukan simulasi gila mengenai bagaimana wawancara soal buku best seller saya berlangsung di masa mendatang. Mungkin saya ada di sebelah Jay Lenno, menari bersama Ellen Degeneres, dan bila beruntung menyelesaikan buku pertama saya sebelum Oprah pensiun, diundang ke studio Harpo. Yah setidaknya bercanda bersama Tukul, atau berdiskusi bersama Andy F Noya, lalu buku saya dibagikan kepada seluruh penonton di studio.

Saya menanti-nantikan saat seperti itu semenjak saya menulis cerita pendek pertama saya, yang terinspirasi dari cerita bersambung di majalah Bobo. Saya suka menulis. Dan saya membayangkan, betapa indahnya jika bisa dikenal orang banyak lewat sesuatu yang sangat saya sukai, dan yang saya pikir satu-satunya yang bisa saya lakukan dengan benar. Menulis.

Simulasi wawancara saya biasanya berlangsung di malam hari, ketika semua orang sudah tidur. Semua interviewer hebat yang saya sebutkan tadi--ehmmm...kecuali Tukul, dia entertainer hebat, tapi interviewer hebat, i don't know, how about if we try to hijack his sacred laptop?--akan memulai dengan pertanyaan dengan inti yang sama.

"Jadi buku anda ini bercerita soal apa?" (Oprah biasanya akan membuka dengan "I Love This Book, I even read it only in one night, and I put in on Oprah's Book Club." Then suddenly, all the Americans said soo)

Saya membayangkan akan menjawabnya dengan kata-kata macam : kontemplasi, refleksi, mediasi, provokasi, atau bahkan sublimasi. Mereka mengangguk tanda puas. Saya telah menjawab dengan cara cukup pintar. Mudah, gunakan saja istilah-istilah sulit berakhiran si.

Pertanyaan selanjutnya, "Apakah ini kisah nyata ?"

Saya akan menjawab, "Ini cerita keseharian. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Ini bagian dari hidup saya, anda, dan semua yang pernah menjadi wanita."

*applause cheering*

"Lalu, apakah anda lebih suka menulis kisah-kisah fiksi atau sebaliknya ? Kenapa ?"
"(Saya memutuskan untuk memakai sedikit bahasa Inggris, jika ini untuk acara lokal, kalaupun Tukul tidak mengerti, setidaknya itu akan jadi umpan bagus untuk lawakannya) I'd prefer to write about life. Tapi, saya bukan jurnalis. Saya hanya tahu berkhayal, merefleksikannya (lagi-lagi istilah berakhiran 'si') pada kehidupan saya, dan menuangkannya dalam tulisan. Saya tidak tau cara membuat feature human interest dan mewawancarai orang seperti anda. Dengan begitu saya bisa mengedepankan kenyataan hidup dengan cara fantasi yang disukai banyak orang."

*applause cheering*

"Oke, sejak kapan anda menulis ?"
"Sepanjang saya bisa mengingat, selama itu pula saya sudah mulai menulis."
"Baik, kalau begitu anda lebih baik punya alasan bagus untuk melakukannya?" (Mungkin Jay Lenno yang akan bertanya dengan cara seperti ini) Kalimat lain untuk bertanya "what's your reason, or we can say, 'purpose' in all those writings ?" The second trickiest question for all writers.

Bahkan dalam bayangan saya, saya terdiam selama beberapa detik. Lalu berkata, "Excuse me ?" hanya untuk memanjangkan waktu berpikir.

Di setiap wawancara yang dilakukan oleh semua penulis, saya menunggu pertanyaan itu keluar. You have to answer it smart enough, or else, people gonna mock you all the way to your grave, as an un-visionary writers.

Saya mencoba, "Saya menulis untuk memberikan pengetahuan dalam cara yang menghibur...??" Terlalu basi.

Coba lagi, "Saya ingin menulis sesuatu yang bisa menginspirasi semua wanita, agar menjadi kuat." Hmmmm...too feminist...

Sekali lagi, "Menulis membuat saya menjadi kuat. Maka saya terhubung dengan semua pembaca di seluruh dunia...bla..bla..bla..." Membingungkan, terlalu lemah, dan secara bersamaan sangat self-centered.

Lalu saya mengingat-ingat dengan khusyuk, alasan saya pertama kali menulis. ...... ..... ......... . Oh tidak, saya tidak punya alasan! Saya hanya suka menulis. Menggerakan jari saya. Mengsinkronisasikannya dengan isi kepala saya, dan menumpahkan segala keluhan hati saya. Lalu membaca nya ulang, hanya untuk memberikan sensasi keberhasilan yang aneh, dan tetap merasakan element of surprises-nya, meskipun semua itu berasal dari kepala saya sendiri. Saya merasa mengenal diri saya ketika saya menulis. Mungkin karena huruf-huruf itu lebih nyata dibandingkan perasaan. Atau menumpahkan sesuatu dalam tulisan, selalu membuat saya seperti habis menyelesaikan salah satu puzzle bagian kehidupan saya. Puas dan lega. Hanya karena itu sebenarnya.

"Well, saya menulis hanya karena saya menyukainya. Saya menulis untuk mengenal diri saya. Just because I like it that bad, that's it,"

Please, ingatkan untuk menjawab pertanyaan 'writing purpose' itu dengan kalimat diatas. Karena saya tidak ingin 'mengarang' sesuatu, sebagai alasan melakukan hal yang paling saya sukai di dunia. Saya hanya ingin jujur. Yah, setidaknya tentang satu hal itu. I don't care if in the end, people mock me to my grave, as an un-visionary best seller writer.

and in my fantasy of finally-answering-the second-trickiest-question-for-every-writers, i get 'boo'-ed, instead of cheering applause.

*people boo-ing*

***

"The last question, who is your favourite author, and give me also the title please..." Oprah said.

"I Like Paulo Coelho's Veronika Decides to Die, because that's the only book that I read to the end, in one single night. Just like how much you love my book, Oprah...." Yes, I beat Oprah up at the trickiest part!

*big smile for the close up*


==================
picture : http://latimesblogs.latimes.com/photos/uncategorized/2008/10/16/laptop_1016.jpg

Wednesday, January 6, 2010

darker you, darker me.




" I like the darker you. So i could cheer you up, and feel like I'm special and important to you. I hate the darker me, because even if you're not there to cheer me up, you're still special to me..."

taken from my "twitter" page, January 5th, 2010
photo by : Rizky Amalia

a (semi)mental-breakdown.

merasa sendirian dan mulai tidak nyaman
mudah menangis
gundah tanpa alasan yang tepat
mengumpat hanya karena hal-hal remeh

Semua symthomps yang bisa diketemukan pada semua wanita di usia twenty-something.... dan pada diri saya.

Am I in the middle of mid-life crisis, or Am I having this (semi)mental-breakdown ?

***

Bergaul dengan banyak teman yang berusia jauh lebih tua, membuat saya sangat mengetahui bagaimana rasanya ada di bagian paling kritis--katanya--dari kehidupan perempuan. Twenty-something. Start on your 22nd or 23rd, and last till you reach another part of life, thirties.
Waktu itu saya hanya manggut-manggut. Saya masih belasan tahun, menunggu ulang tahun saya yang ke-20. Katanya sebentar lagi saya akan memasuki masa-masa paling absurd dari kehidupan saya secara keseluruhan. Meskipun ditakut-takuti, bisa saja saya tidak bisa keluar dari bagian kehidupan itu hidup-hidup, saya malah merasa sangat bersemangat. Di otak saya, yang entah kenapa selalu tertantang untuk melakukan hal-hal buruk--dan selalu kalah (baca : rokok, alkohol, dan hal-hal lain yang tidak enak jika disebutkan)--akan menyenangkan tampaknya memiliki tantangan baru dalam hidup. Maklum, saya baru saja keluar dari masa teenage yang meskipun juga fluktuatif, tapi sangat terasa aman.
Temang saya tertawa melihat sunggingan senyum bersemangat saya. Katanya, "Lihat aja nanti booo! Gue tunggu di sebrang cuma, untuk ngetawain dan bilang, 'what i told 'ya...'"

***

And here I am.

In my not-too-far-from-23-where-it-all-started. Entah ini hormonal atau apa, yang jelas saya merasa menjalani kehidupan saya dalam PMS berkepanjangan. Grumpy, jarang tersenyum, menarik diri dari keramaian, dan mulai banyak mengeluh. Koleksi pakaian yang kurang update (padahal punya satu lemari penuh, yang bahkan sudah sulit ditutup), pekerjaan yang menyebalkan (padahal hanya satu-satunya pilihan yang bisa bikin orang iri, karena waktu yang sangat 'bebas'), kehidupan pergaulan yang membosankan (padahal bertemu orang baru setiap hari, tapi tetap malas memulai hubungan), dan ini itu, banyakkkkk sekaliii. Dan puncaknya, saya mulai sering menangis dalam tidur. Untuk hal yang saya tidak tahu apa. Mungkin ini rasanya menjadi Heath Ledger sebelum meninggal, mencoba melepaskan sosok asing dalam dirinya--yang ternyata adalah Joker, tokoh yang diperankannya sepenuh hati di film terakhirnya--lalu insomnia, hingga frustasi...dan mati.

***

Saya adalah Spongebob dalam episode serial Spongebob Squarepants--yang ironisnya--adalah kesukaan saya. Episode RockBottom.

Dikisahkan Spongebob pergi berlibur bersama Patrick. Namun Spongebob malah tertidur dalam bis dan nyasar ke sebuah kota bernama RockBottom. Pintu masuk kota ini cukup absurd, yaitu sebuah jalan turunan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Kotanya pun sama absurdnya, dengan orang-orang aneh yang tidak dikenal Spongebob, yang bicara dalam bahasa aneh, yang bahkan tidak bisa dibedakan jenis kelaminnya.

Di kegelapan kota asing tersebut, Spongebob berdiri di tepi jalan. Senternya mati, dan hari mulai gelap. Jadwal bis pulang terakhir sudah lewat. Dan, Patrick secara tidak sengaja malah meninggalkannya.

Sendirian. Gelap. Asing. Mendadak Spongebob merasa tidak mengenal dirinya lagi.

***

Menganalogikan kehidupan saya dengan sebuah episode serial kartun, dengan tokoh utama seonggok spons pencuci piring berwarna kuning, memang cukup absurd. Saya sebenarnya melakukannya hanya untuk membuat tulisan ini menjadi sedikit sarkastis dan (berharap) jadi lucu. Tapi sekarang lucunya, saya malah merasa takut.

Jika di episode itu, Spongebob dibuat pulang ke Bikini Bottom dengan selamat, dan meninggalkan Rock Bottom selamanya (maaf, untuk yang belum menonton episodenya, dan saya malah membocorkan endingnya) oleh sang penulis, lalu bagaimana nasib saya ?

Apakah 'Sang Penulis' kisah hidup saya akan melakukan hal serupa ?

Friday, December 11, 2009

shiver

So I look in your direction,
But you pay me no attention, do you.
I know you don’t listen to me.
’cause you say you see straight through me, don’t you.

On and on from the moment I wake,
To the moment I sleep,
I’ll be there by your side,
Just you try and stop me,
I’ll be waiting in line,
Just to see if you care.

Did you want me to change?
Well I change for good.
And I want you to know.
That you’ll always get your way,
I wanted to say,

***

so maybe, shiver has always been my favourite coldplay song.

di bagian lalu dalam hidup saya, fix you adalah lagu coldplay kesukaan saya. mungkin karena liriknya yang menyentuh sisi personal saya saat itu, atau mungkin karena beberapa orang berkata Chris Martin menulis fix you untuk Gwyneth Paltrow, untuk membuatnya merasa lebih baik saat ayahnya meninggal. sweet. Atau mungkin juga karena fix you mempunyai bagian klimaks yang bisa membuat saya merinding.

Tapi shiver, seperti arti harfiahnya, selalu membuat saya bergetar. Dingin dan sedikit dark, namun selalu sukses mengajak saya menyanyi dengan emosional. Saya menyukai sisi emosional dan sentimentil yang dibawa lagu ini. Beberapa orang mempercayai lagu ini ditulis oleh Chris saat ia jatuh cinta kepada Natalie Imbruglia. Chris menolaknya, yang jelas, katanya, lagu ini memang ditulis untuk seorang yang special. Tapi hingga saat saya menyanyikan lagu ini 5 menit yang lalu, saya lebih menyukai spekulasi pertama. Bahwa lagu ini ditulis untuk Natalie, diluar kebetulan yang sangat luar biasa dimana Natalie juga memiliki lagu hits berjudul sama.

Perasaan saya hanya menginginkannya begitu, karena begitu indah mungkin kedengarannya. Chris jatuh cinta, bertepuk sebelah tangan, lalu membuat sebuah lagu patah hati yang sangat dark. Sangat datar, Bahkan lagunya pun tidak memiliki klimaks yang spesifik. Tapi betapa spesialnya lagu ini, jika memang benar ditujukan untuk Natalie. Lagu patah hati yang tidak memojokan, tidak menghakimi, dan tidak memaksa.

Pada kenyataannya saya tidak tahu apakah Chris masih menyimpannya dalam hati. Karena seperti kita tahu, Chris sekarang bersama Gwyneth, HAPPY. Tapi yang jelas, lagu itu bukan untuk Gwyneth. Lagu itu untuk seseorang yang sangat special, Natalie.


I want to be Natalie in your life. Don't judge me just because i broke your heart before, just wrote me a nice song, and sing it to the world...
life goes on, but the song remains.

***


Don’t you shiver? shiver, shiver

I’ll always be waiting for you,
So you know how much I need ya,
But you never even see me, do you?

And this is my final chance of getting you.

On and on from the moment I wake....
Did you want me to change? ...

Sing it loud and clear.
I’ll always be waiting for you.

Monday, December 7, 2009

di suatu malam minggu

"... gue ngga bisa bohong, bahwa gue bener-bener percaya sama lu. Gue percaya lu akan jadi sesuatu...."

*It feels really nice, when somebody believe that you're something, instead of nothing. thank you....

an unimportant message for important people

Dear Mommy and Daddy,

Please let me do what i really want.

I want to move to Bali and finished my book (our book, friend!)
I want to travel around the world and try living abroad
I want to have my own fashion line, and work myself full time on that

Dear Mommy and Daddy,
Just let me see the world...Because, maybe, it's just about time...

Yours Sincerely,
daughter and an independent person

***

Friday, December 4, 2009

similarity equal soulmate, question mark.

"love is not about similarities , miracles, or faith. It's just about what's right." --me

***

Adik tokoh Tom dalam film (500) Days of Summer menasihati kakaknya, yang clueless dalam urusan cinta, "Not just because she likes the same quirky things as you, making her your soulmate..." Tom sedang semakin tergila-gila akan Summer, tokoh perempuannya, karena sama-sama menyukai The Smiths.

***

Adik saya, jauh sebelum film (500) Days of Summer dirilis, pernah berkata, "Elu ngerasa dia bener dan kalian cocok, bukan karena kenyataannya gitu. Dasarnya emang kalian SAMA aja...." (*hebat juga adik saya, jangan-jangn dia inspirasi dibalik film itu) Saya tertegun.

***

Saya sejujurnya adalah pencari soulmate sejati. Saya, meskipun menolak untuk menunjukkan, sangat percaya pada silly little things called love, yang diragukan banyak orang. Maka semenjak umur saya sangat muda, saya mulai mencari dengan penuh percaya diri.

Soulmate : karena jika diterjemahkan membuat artinya semakin membingungkan dan absurd, saya mulai membuat definisi sendiri, definisi sok tahu lebih tepatnya " seseorang dengan banyak kesamaan dengan saya, yang membuat saya jatuh cinta dan pastinya nyaman, yang akan menemani saya sampai akhir hayat."

Polos saya memang, dulu.

Susah sekali ternyata menemukan kesamaan itu. Maka, jarang yang benar-benar bisa membuat saya jatuh cinta, dan semakin saya mencari, semakin banyak kandidat yang datang, semakin jauhlah saya dari soulmate saya. Karena saya mencari, kesamaan, kecocokan, ke-monokrom-an (???)......

***

Bertemulah dengan satu kandidat lagi. Saya sedang sangat lelah mencari, dan dia datang begitu saja. Setelah scanning sedikit soal bau badan dan selera musik, saya memutuskan bersamanya. Dalam berbagai macam hal kami cocok. Konsep beragama, gaya hidup, selera musik, sampai gaya bercanda, dan kegemaran makan. Saya hampir merasa menemukan soulmate saya, sampai....

Suatu hari saya bangun dengan perasaan gamang yang aneh. Saya merasa lelah, tidak lengkap, dan kesepian. All of these odd simililarities between us, started to killing me. Mungkin kami terlalu banyak bersama, membicarakan hal yang sama, dan makan hal yang sama, sampai chemistry itu hilang entah kemana. Entah apakah chemistry itu pernah ada atau tidak. Saya terlalu sibuk mencari kesamaan, disaat seharusnya saya banyak-banyak mencari seseorang yang bisa melengkapi saya, dan saling melengkapi.

Tanpa kesamaan, hanya karena dia terasa benar.

***

"I thought you were right, but maybe, I'm not right for you..." --Summer to Tom, on their favourite bench.

Well, baby, let's think about us again....

Friday, November 27, 2009

kisah si pembela kebenaran & si menyebalkan

Penokohan #1 : Si Pembela Kebenaran

Jika dia berjalan, dia akan memandang ke sekitarnya lalu mulai membaca tanda. Bukan menilai, bukan juga menghakimi, hanya melihat yang kebetulan bisa ia rasakan. Kadang-kadang dia benci menjadi satu-satunya yang mengerti, karena instingnya pasti akan membawanya ke berbagai kejadian aneh, yang kadang bisa membuatnya ingin melakukan sesuatu, atau setidaknya, muntah. Dia hanya bingung, kenapa manusia suka sekali mengurusi urusan manusia lainnya. Padahal seperti namanya, urusan pribadi itu, sifatnya PRIBADI.

Penokohan #2 :Si Menyebalkan

Jika berjalan, dia akan dinilai menyebalkan oleh banyak orang. Kelihatan sombong, acuh, dan pemilih. Padahal dia hanya selalu berusaha menjadi dirinya sendiri. Yang bukannya sombong, tapi hanya pelupa. Bukannya acuh, hanya terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri, untuk ingin tahu urusan orang lain. Bukannya pemilih, hanya selalu punya standar akan segala sesuatu, dan standar itu TINGGI.

***

Babak I

Si Pembela Kebenaran bertemu Si Menyebalkan di tengah jalan. Orang-orang di sekeliling mereka sedang kasak kusuk menghakimi Si Menyebalkan. Katanya orang itu jahat dan tidak punya hati. Si Pembela Kebenaran maju dan berdiri di sebelah Si Menyebalkan. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, tidak boleh ada orang yang menghakimi orang lain seperti itu, tanpa memahami siapa dia sebenarnya. Lagipula siapa yang pernah memahami Si Menyebalkan. Untuk mengenalnya saja, orang terlalu banyak alasan untuk mau.

Babak II

Berada di bagian jalan kehidupannya yang paling asing, Si Menyebalkan mulai merasa lelah menjadi orang lain. Toh hasilnya sama saja, tidak ada yang mengerti. Di saat gelagat orang-orang yang mulai ingin menambahkan satu lagi label pada dirinya--senseless--dia bertemu Si Pembela kebenaran. Entah kenapa, dia mau berdiri di sebelah Si Menyebalkan, dan menemaninya menghadapi orang-orang. Si Menyebalkan baru saja disadarkan, mungkin saja ketulusan memang ada di dunia ini.

Babak III

Si Pembela Kebenaran dan Si Menyebalkan berjalan pulang bersama. Dan mungkin ini adalah awal sebuah kebersamaan yang aneh, antara dua orang berbeda keyakinan. Tapi satu hal mereka sepakat, pertemanan memang seharusnya tulus-tulus saja.

***

Pesan Moral

"Jangan pernah berkompromi dengan apapun yang kita yakini. Karena suatu saat, di tengah perjalanan hidup ini, mungkin saja kita dipertemukan dengan orang yang bersedia memahami. Tanpa tendensi dan ego, hanya karena ingin menemani."

Thursday, November 26, 2009

sayang dan ukuran

Beberapa ukuran sayang pada keluarga :

+ lulus kuliah cepat-cepat
+ tidak punya pacar gondrong
+ rajin membereskan kamar
+ tidak suka pulang malam
+ punya kerjaan tetap
+ tidak suka memakai jeans robek ke acara keluarga

Saya hanya punya setidaknya satu dari ukuran sayang tadi. Tapi bukan berarti saya tidak sayang keluarga. Saya hanya suka pakai celana robek saya karena nyaman, tiak membereskan kamar karena tidak sempat, pulang malam2 karena banyak pekerjaan, lalu kebetulan jatuh cinta pada pria berambut gondrong, dan tidak punya waktu untuk ribut tidak penting mengurusi panjang rambutnya. Untuk cepat lulus kuliah, oke saya mungkin malas, lalu frustasi, dan sekarang sedang bersemangat.
Saya ingin lulus. Tapi bukan untuk membuktikan saya sayang keluarga. Saya ingin lulus saja tanpa dipaksa dan dikatai 'bullshit'. Karena saya seorang anak, bukan tetangga yang butuh banyak alasan untuk menyayangi.

Terima kasih ayah, sudah membuat malam ini saya berpikir, sesudah ini semua selesai, saya harus berhenti menjadi boneka siapapun. Saya pegang janji saya, dan pegang janji mu untuk membiarkan saya, kali ini, memilih jalan saya sendiri. Bukan karena saya tidak sayang keluarga, tapi karena saya ingin menyayangi tanpa ukuran apa-apa.

hectisism.

A word that reverse to a hectic situation, which made u want to jump from an 11 storeys building and die instantly.
--me

Monday, November 23, 2009

ungu.jingga.muda

Tidak sengaja saya melihat langit kekuningan itu. Jarang sekali muncul di tengah musim hujan yang tidak menentu ini.

Seketika saya merasakan kamu.
Lalu ada semacam film yang diputar dalam mode rewind dalam otak saya, dengan kecepatan 24 x. ayam terenak di dunia. mobil derek. batik. hujan. boromeus. sop kaki kambing. yoghurt. toko buku. tangis. perempuan itu. kosong. weker biru. kanebo kuning. kompor gas. bawang putih. pasta. daging merah. diskusi feminis. soda. ceumar. hujan. ujang. ujangwati. mobil hyundai matic tidak bernama. gambir anom. batik agung. muara rajeun. lampu merah. gelap. lampu biru. alkohol. ganja. time after time. bertengkar. bermesraan. s. bunga matahari. si buma. spiderman 3. lisung. bukit bintang. jati nangor. tol cipularang. ciuman.ciuman.ciuman. menangis. tertawa. mentertawakan. bawal aprie. bercanda. kamu. saya. kita. ungu. jingga. muda.
Tentu saja tidak semuanya saya ingat *kalau-kalau kamu membaca dan protes.

Mungkin tidak akan ada banyak hal yang saya ingat dalam otak saya yang sulit sekali mememori ini. Tapi saya akan selalu ingat ungu.jingga.muda. Warna yang membuat saya jatuh cinta pada langit sore, dan kamu.

aku kamu dia kita (akan) pulang


"good things take time honey, just be patient a little bit more."
Saya merasa salah bicara, karena dia bilang dia menangis. Meskipun saya tidak melihat, saya tahu dia menangis, tulisannya terlihat sedih.

***

Tidak biasa-biasanya dia begitu. Lesu, tidak teriak-teriak tidak jelas, dan tidak bercerita dengan jemari yang merekah kemana-mana. Bajunya memang berwarna cerah seperti biasanya. Tapi jelas hari ini di tidak baik-baik saja.

Entah apa yang sedang menimpanya, saya tidak tahu secara detail. Yang jelas ini bukan masalah cinta biasa. Masalah cinta ini sudah jadi perkara 'konsep diri'. Pada akhirnya saya ngobrol juga soal 'konsep diri' ini dengannya. Bukannya malah tenang, dia terasa tegang.

Dan menangislah dia setetes demi setetes. Membuat maskara yang selalu dipakainya luntur. Seketika dia tidak terlihat seperti dia. Dia bilang dia lelah dan merasa lemah. Lalu menangis lagi.

Saya mengerti. Sangat mengerti. Merasakan perasaan tak berdaya, yang akan sangat asing, kalau kita terbiasa hidup tanpa siapa-siapa dan selalu berusaha mengurus diri kita sendiri. Berusaha menepis cibiran orang, dan tatapan menyepelekan yang sering kali datang. Ingin berlari keluar, tapi ingin pulang.

Mungkin pada akhirnya kita semua harus pulang. Menemui mereka yang pasti tidak akan membiarkan kita jatuh. Dan memahami kita seperti kita apa adanya, tanpa label , tanpa penilaian. ayah, ibu, adik, kakak. Keluarga.

Dalam tangisnya, dia berkata harus bicara pada ayahnya. Ya, itu benar.

Hanya mereka yang akan menerima kita setelah kita berlari jauh, kelelahan, dan ingin beristirahat.

***
"Jika lelah beristirahat lah, dan sandarkan kepala mu di bahu seseorang. Mungkin itu akan membantu mu berbaikan dengan diri mu sendiri."

seperti debt collector

seperti debt collector, saya yakin dia akan menagih sesuatu kapan-kapan.

Saya tidak ingin berhutang pada mu, hanya karena kamu menginginkan saya.

Maka saya akan diam, dan terus tidak menginginkan mu.

Saya
Hanya
Tidak seperti itu.

pengakuan yang harus diakui

"(nyengir) ehmm...i'm late ..."

"what (datar)?"

"Late...I'm late 30 minutes for morning show...(sambil menyiapkan alasan)"

"owh, yes...(melanjutkan baca koran)."

"..."

well, harus diakui itu pengakuan ter-kaku yang pernah saya akui. Tapi apa boleh dikata, pengakuan harus tetap dilakukan karena harus, khan ?

mari meramal lewat music folder

"Being bold is not just about appearence, it's about having standard"--me

***

Membuat sebuah keputusan untuk bersama seseorang, tidaklah mudah. Kita harus menimbang, menilik, mengintip, bahkan hingga mengintil. Setiap orang mempunyai kategori yang berbeda, dan batasannya masing-masing. Sama seperti membeli barang di pusat grosir, ada yang banyak permintaan, ada yang pasrah dengan tawaran penjualan.

Untuk saya pengambilan keputusan macam ini, tidak perlu banyak requirement. Hanya tiga point yang menjadi highlight saya :

1. Chemistry
2. tidak bau badan
3. selera musik yang bagus

Nah, point ke-3 ini seringkali membuat saya dibilang 'nggak banget' oleh beberapa teman yang tahu. Katanya apa hubungannya selera musik, dengan memilih pasangan. Well, i have my own reason.

I believe that your playlist or music folder described you best.

Seperti tulisan, yang bisa menggambarkan isi otak penulisnya, dan lukisan yang bisa menuliskan perasaan hati si pelukis.

Tapi tidak semua orang bisa (dan suka) menulis, apalagi melukis. Yang semua orang bisa lakukan adalah menikmati. Dan yang paling mudah untuk dinikmati adalah musik. Musik tersedia dalam segala selera. Selera pasar yang cheesy, selera music-expert yang sulit dimengerti, atau selera jujur yang aneh.

Saya tidak bilang selera saya yang mana, atau lebih baik punya selera musik kategori mana. Tapi yang jelas saya punya standar. Itu khan yang paling penting.

Jadi standar sih gampang, punya standar kadang-kadang sulit.

Saya ingat-ingat folder musik mantan-mantan kesayangan saya. Tidak semua bagus, tapi mereka punya standar. Yah, punya standar itulah yang paling penting. You have standard, then u're are bold enough to choose the best for u...

Friday, November 20, 2009

a (re)call to a (good)friend

" ...And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before
All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war..."

(the call, by : Regina Spektor)

* dedicated to a friend, "I'll fill your book to the very end, because you've had fill mine..."

Thursday, November 19, 2009

undeniable awkward moment

awkward moment #1

"Selamat sore, dengan mas x..."
"Selamat sore menuju malam, dengan siapa ya..."

*saya cengengesan kesel, mungkin memang ada perbedaan waktu 12 jam

=============================

awkward moment #2

"Jadi yang disediain apa aja ?"
"Paling cuma sound aja, ngga ada alatnya..."
"alat apa maksudnya ?"
"eh...mmm....alat musik"
"(dengan nada tersinggung) oh, pasti saya bawa sendiri lah, mbak....."

*untung saya cepat mengarang alasan, "soalnya ada beberapa yang minta disediain alat (sulap)"

==============================

awkward moment #3

SMS saya kirim
"Ini no saya : 081220683xxx atau 92834xxx "
SMS dibalas
"Ini no saya : 081220683xxx atau 92834xxx (yang GSM khan no saya mbak)
Membalas SMS lagi dengan malu
"Maaf saya sedang sangat stress, yang benar 085861179xxx..."
SMS dibalas lagi
"Oooo.....maklum..."

*agak tidak sensitif ya mas, padahal saya sudah curhat colongan

==============================

awkward moment #4

"Maaf mbak, boleh pinjam sajadah ?"
"Oiya boleh (sambil memberikan sajadah)"
"Sholatnya dimana ya mbak...?"
"Di sini aja (sambil mengantar)"
"Kalau kiblatnya kemana ?"
"............(bingung) kemana sih ? Maaf, tidak sholat"

*saya biarkan saja dia menyangka agama saya kaballah

==============================


(semua didengar oleh seorang PD radio wanita di Bandung, yang geleng-geleng, lalu ingin guling-guling)

inspired by the addicted blog : www.ngupingjakarta.blogspot.com