Thursday, March 24, 2011

real-life gimmick.

and every story has a gimmick.
what's yours ?

***

Saya tertawa ketika seorang teman bilang, bahwa sebelumnya dia terlalu takut menceritakan kisahnya, hanya karena dia merasa itu sangat absurd.

Tapi bukankah begitu lah hidup ? Selalu ada bagian-bagian absurd yang terlalu aneh untuk diceritakan, yang biasanya terdiri dari sebuah perjalanan atau pencarian, diisi oleh sepersekian racikan percintaan yang cheesy, dan berakhir dengan sebuah kebodohan yang diikuti bencana.

Dan seperti di film-film, kadang-kadang ada beberapa gimmick tidak penting, yang melengkapi setiap adegannya. Di Eternal Sunshine of The Spotless Mind ada sekotak kaset rekaman ingatan buruk yang berusaha dihapus, di Science of Sleep ada mainan-mainan imajinatif yang hanya bisa dimengerti oleh 'mereka' yang suka 'bermain', dan di Inception ada totem yang bisa mengingatkan para pemimpi, mana yang nyata dan tidak.

Semuanya bergerak, berputar, dan bergantian muncul, sebagai sebuah penanda. Meskipun dalam kisah nyata gimmick tadi biasanya jauh lebih sederhana--sesederhana notes-notes ucapan terima kasih di pintu kosan atau berkendara bersama dalam sebuah mobil VW tua--namun tentu saja mereka juga penting.

Karena, jika suatu saat cerita sudah mulai menjadi semakin absurd, semakin sulit direka ulang, dan semakin mengarah ke sesuatu yang tidak nyata, hanya gimmick-gimmick sederhana itu lah yang kita punya, untuk mengingat dan menceritakannya kembali sambil tersenyum.
***

My gimmick is a random conversation in 140 characters.
Your silly obsession to shoes, words, and music.
And our silly late night games.
I'll keep them that way.


Monday, March 7, 2011

low is the new high.

"i never thought that i could talk about these kind of things with you..." a friend said.

What we talk about that night were : the universe, beliefs, soulmate, and basically some sort of heavy spiritual concepts and shits.

And why on earth he said the earlier phrase, because i'm always a sarcastic-pesimistic bitch. I refuse to believe in sentimentality 'those kind of things' bring. I belive those in shitty way.


***

Suddenly Jobless.
Struggling wrap up my study on the last minute.
Having a heavy financial problems.
Being single.
All the kind of low, everyone could imagine, altogether at the moment i less predict.


Saya sedang semacam mendapat tamparan besar, dan sama sekali tidak melihatnya datang, sampai akhirnya benar-benar terjadi.

Untungnya, malam minggu itu, dua orang teman baik semasa perkuliahan, mengajak janjian bertemu di malam minggu yang tidak terlalu asik itu. Untungnya lagi, saya tidak menolak ajakan mereka.

Lalu, di tengah sebuah cafe yang cukup crowded, kami mengobrol ngalor ngidul soal banyak hal ganjil, yang sepertinya bukanlah pilihan banyak orang sebagai pilihan tema malam minggu.

" I almost lost the posivity I built all this way, over Jakarta. Kota itu, dan kantor gue khususnya, seperti membuat gue berpikir negatif, dan melupakan banyak esensi dari apa yang kita kerjar di dunia ini."

"Kalau dipikir-pikir hidup gue ngga masuk akal. Gaji selalu ngga cukup."

"I'm stressed out, i can't imagine being jobless in this hardest moment."

"I never thought my own wish to a twist could result into tragedy."

Keluhan-keluhan yang cukup sulit untuk dicari jawabannya lewat sebuah kacamata realita. Sepertinya kesimpulan yang tepat hanyalah : "let's commit a comunal suicide, and it's all done."
***

Tapi mungkin saja teori 'negatif bertemu negatif sama dengan positif' malam itu berlaku begitu saja. All the negativity suddenly changed into positivity.

"Tuhan memiliki pintu maaf yang lebih besar dari semua dosa yang mungkin seorang manusia lakukan."

"Kalau kamu berpikir sumber penghasilan hanya gaji, then that's the problem. Coba pikirkan hal-hal lainnya yang mungkin didapat dari sebuah pekerjaan. Mungkin networking atau pengalaman, itulah yang seharusnya kita coba syukuri."

"Semua masalah finansial akan selalu ada jalan keluarnya. Asalkan kita mau mencoba sedikit lebih sederhana dalam berpikir."

"Percayalah bahwa 'universe' selalu punya cara yang unik untuk menjawab banyak hal"

"Kemarahan itu overrated. Bahkan kadang kita lupa apa masalah kita sebenarnya dengan marah-marah. Yang penting adalah memaafkan."

"Do you believe in soulmate ? Bahwa soulmate itu melengkapi kita dengan caranya yang aneh ? I'm a total believer now"

Entahlah apa energi sebuah persahabatan itu begitu besar untuk menyelesaikan banyak permasalahan berbeda yang ada di atas meja malam itu. Atau kami memang sebenarnya datang dengan solusi yang sudah ada di otak kami masing-masing, hanya saja sulit untuk kami deskripsikan secara pribadi. Yang jelas, malam itu saya pulang dengan merasa sangat beruntung.

Beruntung punya teman yang tidak mencoba menggurui saya dengan teori-teori dan usulan sok tahu tentang kehidupan.
Beruntung punya perpanjangan otak untuk menyempurnakan proses yang saya lalui akhir-akhir ini.
Beruntung punya motivator dan filsuf terbaik, bernama : persahabatan.

***

"You sure have experienced a lot of things, girl. You should feel lucky. And we have to cherish it, because not everybody could find it."

That night, all the lows, became the new high.
Dan hal buruk dalam hidup yang mungkin terjadi, yang kami sepakati setelahnya, hanyalah stagnasi. Yang terpenting adalah terus bergerak, mengikuti kata hati (sebuah hal yang sudah seringkali seorang teman lainnya bilang, dan saya kurang mengerti artinya sampai malam itu).

and hey, maybe all those 'things' that i refuse to believe at the beginning, aren't shits at all. They're what i believe deeply, the problem is, how brave we are to bring it all on the table, and suck up the shitty-ness, turn it into enlightning trigger.

"Yeah, i'd never thought low is my highest achievement in life."

***

"Life'll only be crazy as it's always been
Wake up early, stay up late, having debts
Things won't be as easy as it often seems
And yet you want me
This cliché's killing me
Still I need more I need more
This I’ve never thought before

Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said "To the future we surrender.
Let's just celebrate today, tomorrow's too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn't this what you've been dreaming of?"
Life's to live and love's to love

To the future we surrender
Life's to live and love's to love"

---Surrender, by : Float
*one who finds a friend finds a treasure (italian proverb)

***

# Obrolan absurd malam minggu bersama Detta Rahmawan dan Alfa Haga, diceritakan kembali dengan bahasa yang lebih ringkas, in a charming way... ;p #


Tuesday, February 22, 2011

I WISH I.

You love lemon and I love banana Rabbit is lovely, and hippo is cute But shoes will always be our greatest coincidence
swimming is your specialty And drowning is my tendency Can we just play as a teacher and student and go home after, holding hands

***
Oh I wish I could have the courage To take you away anyhow to some funny named deserted island far far away oh I wish I've always had the guts To ask you dissapear together Getting high on whatever drugs everyday


oh I wish I could made you a better song ***
A kiss on the lips is okay But a kiss in the eyes are even finer Please show up in my every bad dreams And do those secretly under the pillow Let's just sing into every coldplay's song Dancing with gondry into the eternal sunshine Going to hawaii and get married in whatever ritual the tribe suggest I'll dyed my hair blue, just please don't end this as a spotless mind


---------------
"and i'm always a lyric person, please somebody add some melody to get along with it..."

Thursday, February 10, 2011

tipsy talk.

Half drunk and talk. Don't combine them. You'll ended as a blabbery-drunker, or even worst, a wasted-blabbery-drunker.

I'm the last type. I talk when i drunk. Much--the talk, not the drink.

And people often offended , with what i'm saying during those times that i'm not too proud of. They said, I talk in crappy English about unexpected-sensitive things, like religion, or how bad my neighbour looks.

I hope i could be a wise-tipsy-talker. The rare type, that my friend just showed me tonight.

***

katanya, "Galau itu tidak menular. Galau itu menghasut. Seperti lagu-lagunya Efek Rumah Kaca."

katanya lagi, "Kangen itu bukan benda padat. Dia dari gas. Dia bisa menyublim, dan menguap, sesuai dengan momentnya."

the smartest typsi talk that i ever encountered. still absurd, but at least (sounds) smart.

***

envy her.

I don't know which part. The fact that maybe we could drink the same amount of alcohol, and while i'd already got wasted, she would just started being tipsy. 

Or, the other fact, that she didn't offended anybody in her tipsy talk.

  

Monday, January 10, 2011

You and Me.

saya dan seorang sahabat mengambil sebuah kesimpulan akhir dalam senyuman. Baiklah, kami sudah mengerti sekarang. Ada beberapa hal yang memang sebegitu menyakitkannya dan sebegitu mengesalkannya untuk dimengerti pada awalnya, namun akhirnya akan terasa indah juga.

kami pun masuk ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan. Tapi tampaknya, music player saya ingin ikut-ikutan membuat kesimpulan. Dia memutar satu lagu, yang membuat kami tersenyum-senyum konyol. 

***


"Yesterday when you were young
Everything you needed done was done for you
Now you do it on your own
But you find you're all alone, what can you do?

You and me walk on, walk on, walk on
'Cause you can't go back now

You know there will be days
When you're so tired
That you can't take another step
The night will have no stars 
And you'll think you've gone as far 
As you will ever get

You and me wak on, walk on, walk on
'Cause you can't go back now

And yeah, yeah, you go where you want to go
Yeah, yeah, be what you want to be
If you ever turn around, you'll see me

I can't really say
Why everybody wishes they were somewhere else
But in the end, the only steps that matter
Are the ones you take all by yourself

You and me walk on, walk on, walk on
Yeah, you and me walk on, walk on, walk on
'Cause you can't go back now
Walk on, walk on, walk on
You can't go back now" 

Can't Go Back Now,by : the weepies

***

dan hari itu satu impian kami terwujud, lagi...


Wednesday, January 5, 2011

silly.little.things. (part 2) : Tattooed in my mind.


Entah karena pada dasarnya saya adalah orang yang sentimentil atau tidak mau ribet, sejak dulu saya adalah orang yang paling suka 'silly-little-things'. Saya menyebutnya begitu, untuk hal-hal sepele yang membuat saya senang.

quoted from : silly.little.things


***

Seperti nama distro. Sama juga dengan single salah satu band indie lokal.

Namun untuk saya, silly little things adalah sesuatu yang banyak berarti. Hal-hal kecil konyol, yang membuat saya lebih banyak melihat mendengar dan merasakan. Hal-hal kecil konyol yang membuat saya lebih banyak memaafkan dan berbaikan. Hal-hal kecil konyol yang membuat saya merasa lebih besar di hati.

Kontradiksi yang aneh memang. Tapi mungkin itulah saya. Banyak hal dalam satu tubuh kecil, kontradiksi alami. Yang seringkali lupa akan hal-hal kecil konyol, yang seharusnya saya bawa kemanapun saya pergi. karena tanpa mereka, saya pasti sudah jadi tidak waras, atau setidaknya berdiam di pojokan ruangan dalam posisi tidak wajar, meratapi kehidupan yang terlalu aneh.

Maka pagi itu, saya ingin memastikan, hal-hal kecil konyol tersebut tidak akan pernah terlewatkan sekali lagi dan terlupakan sewaktu-waktu.

I tattooed them in my mind.


silly.little.things
font : jelly (taken from dafont.com)
special thanks : bulelebo(design) & munir (tattoo artist)

Jogjakarta
1/1/11


hanya untuk sebuah 'halo'.

perasaan saya sesak setiap kali mendengar lagu itu.

Saya teringat-ingat sebuah kisah singkat yang pernah terjadi antara saya dan seseorang yang memberikan lagu itu. Kata seorang teman, mungkin itu artinya dia--somehow--masih menginginkan saya merasakan semua emosi yang sama seperti saat lagu itu diberikan. Lagu ini mengindikasikan bahwa saya harus menunggu lebih lama lagi. Saya pernah menunggu, dan waktu itu dia kembali. Tapi kali ini, saya tidak tahu. apakah yang harus saya tunggu. Menunggu dia. atau menunggu sebuah moment indah terjadi sekali lagi.

Saya hanya bisa menarik napas panjang, sambil merubah wajahnya yang sering sekali berganti-ganti di kepala saya, karena saya memang tidak pernah bertemu dengannya. Semoga, ketika lain kali moment indah itu datang, juga bersamaan dengan kedatangannya.

Hanya agar saya bisa, setidaknya, mengucapkan "halo" dan menjabat tangannya sambil tersenyum.

***



"Helo. I'm mr. hippo. I live in Jakarta. And i like potatoes."
Lalu lengkaplah cerita kami.


a part of one sweet process.

"saya sudah siap beranjak, tolong jangan pegangi kaki saya lagi..."

Kalimat yang berulang kali saya ucapkan dalam doa saya akhir-akhir ini--ya saya berdoa.

Agar saya diperbolehkan melanjutkan 'perjalanan' saya dengan tenang. Sebuah permohonan yang salah. Karena ternyata, hal itu adalah bagian dari sebuah proses manis, yang akhirnya terjadi.

***

saya menangis tersedu-sedu antara kesal dan sedih malam itu. Keduanya karena harus memilih.

Memilih mungkin akan lebih mudah, ketika keinginan itu datang dari diri saya sendiri. Tetapi memilih karena sebuah keharusan yang tidak jelas, tentu saja tidak hanya membuat sedih, tetapi juga menyisakan kesal.

Saya mereka ulang semua kejadian yang pernah terjadi di antara kami. Yang sudah pernah kami ulangi setiap detailnya beberapa malam sebelum ini. Kami melewati semua timeline kehidupan, dan akhirnya berbaikan. Bukan satu sama lain, itu sudah kami lakukan sejak lama, malam itu kami berbaikan dengan keadaan yang tampaknya selalu bermaksud membuat kami sedih.

Ya, termasuk kali terakhir ini--ia mengindikasikan ini akan jadi yang terakhir.

Saya berharap kami adalah remaja-remaja polos yang akan selalu memilih jalan belakang apabila tidak disetujui. Tapi kami sama-sama sadar, energi kami sudah tidak lagi setara mereka, untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Kami hanya ingin semua berjalan apa adanya, tertata di tempatnya.

Hingga pada akhirnya kami terbangun pagi nya.

***

Kami tertawa-tawa karena semua yang tadi malam terasa begitu konyol. Perasaan sentimentil. Pedihnya perpisahan. Dan sulitnya memilih.

Karena pada dasarnya ini bukanlah tentang kami. Kami hanyalah trigger untuk sebuah proses lain di luar ini.

Sebuah proses yang manis, i supposed.

Proses yang menghantarkan seseorang yang kami sayangi, pulang ke tempat orang-orang tersayangnya, dan berbaikan dengan apapun yang dia punya.

Kami tersenyum. Mungkin ini awal dari akhir yang menyenangkan. Atau akhir dari awal yang buruk. Entahlah. Kami merasa lega yang jelas.

"Saat kamu baik-baik saja, kamu pun melepas pegangan mu di kaki saya. Kita siap melangkah. Ya, bukan hanya saya, tapi juga kamu..."

***




Wednesday, December 29, 2010

'kenapa' untuk sebuah kegilaan.

Seorang teman bilang, "ngapain sih lo bersedia gila buat dia?"
Saya hanya mengedikan bahu. Mungkin karena saya sudah benar-benar gila saja, atau secara tidak terjelaskan, hanya merasa apa yang saya rasakan benar-benar benar.
***

kegilaan itu dimulai dari serangkaian kata-kata. Tidak manis, tidak menggoda, hanya 'mengganggu'. Bukan jenis mengganggu seperti ada orang yang berteriak-teriak di kuping saya saat sedang sakit gigi, atau seperti ada segerombolan ABG labil yang kompak berpakaian serupa. Ini jenis mengganggu yang membuat nalar saya bicara, "ini tidak mungkin cuma sekedar kebetulan". Dan saya pun jadi penasaran.

Sayangnya mungkin rasa penasaran ini akan sangat sulit dimengerti oleh orang lain. Wajar sih, semua orang pasti akan berpikir menggunakan akal sehat, sedangkan semenjak kegilaan ini dimulai, entah apa yang saya gunakan untuk berpikir.

Hati ? ah. Terlalu dini untuk bilang begitu. Saya pun tidak tahu lagi. Yang jelas semua kegilaan ini mulai berubah menjadi sesuatu yang adiktif dan saya mulai kewalahan. Apa sih yang sebenarnya saya harapkan, saya juga tidak bisa menetapkan dengan jelas.

Saya hanya ingin jawaban untuk berbagai macam kata kenapa yang sering muncul saat saya sedang bengong. Sekaligus jawaban untuk berbagai macam keyakinan, yang entah kenapa, mulai saya rasakan di tengah ketidak pastian.

Sayangnya, kegilaan ini seperti juga dimulainya, berakhir dengan sedikit gila (entah apa pantas menyebutnya begitu). Ketika sebuah akhir terjadi, tentunya kita ingin sekali memberi tanda titik disana. Sebuah tanda titik, yang entah kenapa (lagi-lagi kenapa) belum rela untuk saya bubuhkan.

Menunggu apalagi sih ? Tidak tahu. Mungkin sebuah kegilaan lain. Yang menyakitkan. Yang barangkali akan membuat semuanya jauh lebih mudah.



***

"I'm always here
All alone without you now
Lights of the night
Just to see you somehow

There's two of us in here
The only, only
There's two of us in here
And it's only

Just you wait
Just you wait
Just you wait
Just you wait

If you run
If you run
If you run

I'll wait, I'll wait"
If You Run-The Boxer Rebellion

Tuesday, December 28, 2010

for the sake of.

the photo hasn't been published before.
I accidentaly found it in a friend's hard disk.
Decided to upload it as a personal rememberance.

***

for the sake of our twenty-something drama.
for the sake of lessons we've learned
for the sake of laugh and tears that had been covering one another from time to time.

for the sake of our earlier life together,
and for the sake of our dream of being together forever.


Ginna Finalis-Zulkifli Tegar
May, 21st 2007

photo taken and edited by : Rizky Amalia

absurd, nothing described it better.

Most of my nights are absurd, no bragging about it.
But, this is the most absurd night in my life, so far.
The place is crowded. Mostly with people i know. I'm busy saying hi, giving hugs, and answering curiosity.

Suddenly, a woman stand up from the crowd, to sing a song with the band. And i was strangled. Is that MEL SHANDY ? Yes, the lady rocker who was quite popular back then, along side with Nicky Astria and Nike Ardila.

FYI, she's now wearing 'jilbab'. And the place is a bar, full with alcohol. She picked a song "What's Going On", and sang the song in highly lady rocker pitch. And the band is a britpop band.

I couldn't say anything but absurd. Or maybe surreal. Something you can't believe, but somehow it feels real.
***

Dan sebuah telepon dari teman membuat saya berhenti berpikir ini adalah sesuatu yang nyata. Saya harap itu tidak nyata.
Saya harap saya kemarin tidak pergi ke gig itu, tertawa-tawa, memeluk semua orang, dan sedikit tipsy karena tequilla. Saya harap saya tidak menonton teman saya perform, dan tidak bisa menebak siapa yang tiba-tiba naik ke atas panggung untuk menyumbang lagu.

Saya tidak bisa berharap membatalkan beberapa hal lain di belakangnya, karena semuanya memang sudah seharusnya begitu.
Tetapi, mungkin kalau saya tidak pergi kemarin, di saat yang bersamaan, dia juga tidak akan melakukan hal yang kemarin dilakukannya.

Hal yang membuat saya merasa seperti seorang cold hearted bitch. useless-cold-hearted bitch. Because even if i felt something, i couldn't do anything to that.

***

All of sudden, the band played a song that had been haunting me earlier that night. The vocalist--not Mel Shandy--said, the song was dedicated to my other friend. But, yet, i feel like the song was dedicated to me. I sang it loudly, as my invisible tears began to shed . I feel misrable and somehow i feel bad of being good.

"Take me out tonight
Where there's music and there's people
Who are young and alive
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one anymore

Take me out tonight
Because I want to see people
And I want to see life
Driving in your car
Oh please don't drop me home
Because it's not my home, it's their home
And I'm welcome no more

And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well the pleasure, the privilege is mine

Take me out tonight
Take me anywhere, I don't care
I don't care, I don't care
And in the darkened underpass
I thought Oh God, my chance has come at last
But then a strange fear gripped me
And I just couldn't ask"
There is a Light That Never Goes Out, The Smiths

Thursday, December 16, 2010

and i've been followed.

kehilangan 1 orang followers tidak pernah terasa se-tidak enak ini. Dan perlu dicatat, meskipun sering membayangkan apa rasanya memiliki followers sampai ratusan ribu, saya tidak pernah terlalu peduli jumlah yang saya miliki. Kalau memang ada yang follow, pastilah saya masih punya orang-orang yang sepemikiran, atau yah setidaknya saya masih punya teman, atau paling yah, saya punya seseorang yang ingin sopan saja.
***

Sampai hari ini. Seseorang dengan twit-twitnya yang aneh. dan kesukaan-kesukaanya yang mirip dengan saya. disertai kecenderungan-kecenderungan pemilihan jokes, yang seringkali mendekati selera saya. ditambah kebiasaannya mengolah kata dalam bahasa inggris yang secara gramatikal sempurna, atau bahasa indonesia yang sangat baik, yang pastinya akan membuat saya--si fetish bahasa--sangat tertarik.

there is always a first time for everything.
and this is my first time, feeling like crying, to lost one particular follower.
well, maybe that one follower is special, somehow.

and i've been followed, but no longer. 


***

"suddenly everything has changed

putting all the clothes

you washed away
as you're folding up the shirts
you hesitate
then it goes fast
you think of the past

suddenly everything has changed"
'Suddenly Everything has Changed-The Postal Service'

siapa tahu.

dia mengusap-usap punggung perempuan itu hingga tertidur. Ada sebuah keheningan janggal yang dia tahu harusnya tidak ada. Dalam kedekatan dan sentuhan mereka seolah menciptakan jarak.

Namun tentu saja tidak perlu ada pembicaraan. Dia hanya ingin tidur. Mungkin memeluknya sampai pagi. Karena siapa tahu, besok-besok mereka tidak lagi seperti ini. Entahlah, siapa tahu. Hanya siapa tahu...

***




Monday, December 13, 2010

emotional emoticon, part II : "tidak ada emoticon yang pas".

these kind of emoticons make our world seems easier. But, how about if we want to express something un-describeable.
*taken from : 'emotional emoticons.'
===============================

Serendipity.
A word that people have heard before, but still hard to describe.
This word even listed as one of 10 hardest words to be described in English languange.


***

Kemarin malam, sempat bicara dengan seorang teman tentang serendipity. Entah kenapa, kata itu sedang sering muncul di timeline kami. Padahal, serendipity khan judul satu film romantis yang dibintangi John Cusack, aktor yang paling saya tidak sukai.

Tapi tentu saja hal-hal semacam ini akan sangat menyenangkan untuk dibicarakan, ketika kita benar-benar merasakan. Sayangnya, ketika bicara dalam sebuah kotak kecil dalam 140 karakter, beberapa detail akan seringkali terlewat. Maka sebagai gantinya, kita akan menambahkan sebuah emoticon.

Mungkin akan sangat gampang menambahkan emoticon :p atau ;) dibelakang kata itu. Tapi, jika kisahnya tidak semulus yang berjalan dalam filmnya, tentu saja akan jauh lebih sulit.

***

saya mencari-cari emoticon yang pas. Tidak ketemu. Karena kata itu--serendipity--untuk kami yang hidup di dunia nyata, ternyata bukan hanya membuat tersenyum, tapi juga bikin sesak.

Kami tertawa-tawa akan kenyataan ini. Berharap ada yang bisa menterjemahkannya dalam sebentulk emoticon.

saya :-( dan ;-) di saat yang bersamaan. Hanya saja, tentu perasaan sesak itu tidak terjelaskan.

***

"Hold my head inside your hands,
I need someone who understands.
I need someone, someone who hears,
For you, I've waited all these years."
--'Till Kingdom Comes', by : Coldplay.

Saturday, December 11, 2010

the worst emotional triger.

are you a melody person, or a lyrics person ?
i'm a lyrics person.

but whatever you are, as long as you like music that much, songs could be the worst emotional triger on earth.
***

saya membagi penyuka musik dalam 2 kategori. Penyuka lirik dan penyuka melodi.

Penyuka lirik akan menyukai sebuah lagu, asal liriknya menarik, mengena, atau lebih baik lagi menohok. Penyuka melodi, adalah tipe-tipe penggemar musik yang menyuikai lagu berdasarkan keindahan alunan nada. Tentu saja keduanya pada dasarnya sama, sesuai selera.

Namun, dulu sih pernah ada yang bilang pada saya. Kalau kita adalah penyuka lirik, pastilah kita pribadi yang rasional. Sebaliknya, penyuka melodi, pasti lebih emosional. Semacam bisa menjelaskan otak bagian mana yang paling banyak mempengaruhi perilaku kita. Entahlah apa bisa kita mempercayai teorinya.

karena toh pada akhirnya, penyuka lirik seperti saya pun seringkali merasa emosional, apabila mendengar lagu-lagu yang liriknya saya sukai, karena mengingatkan saya pada satu moment. Atau lebih parah lagi, ketika lagu itu diberikan oleh penyuka lirik yang lain--tampaknya dia seperti itu--hanya untuk melegitimasi kenangan saya bersama dia.

saya mendadak ingin membunuh semua memori lagu yang ada di otak saya. atau setidaknya buatlah saya tones-deaf. Agar tidak ada lagi lagu di dunia ini yang bisa membuat saya merasa sentimentil, bahkan hanya ketika mendengar sepotong bagian dengan lirik absurd semacam, "ba da da da pap" dan "ta ta ra ta ta ta ta ra ta".
***

and i realize, I would be forever music lover, song enthusiast.
maybe, that's how life manage me to remember you forever.


Thursday, December 9, 2010

a soulmate passing by.

jadi apakah soulmate itu?

saya tidak tahu. hanya saja. saya mungkin tahu rasanya menemukan satu.

***

banyak hal yang diramalkan orang-orang tentang soulmate. Ada yang percaya mentah-mentah, bahwa manusia itu katanya diciptakan berpasangan, laki-laki & perempuan. Sebuah konsep yang sedikit cacat di bagian gender secara berpasangan. Jumlah mereka saja berbeda, lagipula, tentu saya dunia ini berputar bersama modernisasi, dimana apapun bisa saja terjadi.

Banyak juga yang menanggapi dengan skeptis. Bahwa soulmate itu cuma hoax bikinan produsen cokelat, kartu valentine, dan penjual bunga. Hoax yang memaksa kita memborong semua produk mereka di tanggal-tanggal khusus seperti 14 Febuari, dengan harapan akhirnya mendapat balasan serupa di tahun berikutnya. Merasa aman, karena tindakan berbalas seperti itu, artinya jodoh.

padahal tentu saja, soulmate itu bukan cuma sekedar jodoh. soulmate itu melengkapi.

***

tidak pernah melihat kehidupan seseorang sedekat ini dengan kehidupan saya. kepalanya seperti menyatu dengan kepala saya. atau mungkin dia adalah alter ego saya, yang sedang menggoda ke-skeptisan saya pada konsep soulmate itu. entahlah, yang jelas tiba-tiba saya bisa melihat seluruh bayangan kehidupan saya. bahkan hingga hal-hal yang belum terjadi.

ini mungkin kalau bahasa klenik, adalah wangsit.
bahasa psikologinya, self-awakening.

saya lebih memilih bahasa kehidupan.
soulmate mungkin telah berpapasan hari ini.
dan itu mungkin saya dengan dia.


"...
You and I singing solo our very own silly song
Playing lovers of all edens all life long
All life long..." --Float, Stupido Ritmo.

Friday, December 3, 2010

shoes judging method.

are you a mocassins type, or a hi-top chuck taylor type ?
are you a doc marteens type, or a running shoes type ?
or are you as easy as those people who choose flip-flops, and go bare feet if you could ?
***

people judge others by their cover. I judge pople by their shoes. Yes, your shoes. Because i think shoes never lies.
***

"Bok, sepatunya dia apaan?"
"Mana gue tau. Mana gue perhatiiin. Ga ada kali orang pas kenalan ngeliatin sepatu."
"Oh emang ngga ya? kok gue iya sih?"
"Freak lo ah. Emang apa yang lo bisa lihat dari sepatu orang ?"
"banyak hal kali. Seleranya, gaya hidupnya...."
"ini apa sih, merknya maksudnya. Gila lo ah, brand minded."
"Ngga gituuu. Bentuknya, modelnya, bersih enggak nya... Sepatu itu menggambarkan perjalanan lo. Sesuatu yang lo anggap nyaman untuk menemani langkah lo, sesuatu yang lo percayai untuk memeluk kaki lo dalam porsi yang lo butuhkan, sesuatu yang lo yakin bisa menjadi teman sepadan outfit lo."
"Serius lo ah. Gila! Gimana sih taunya? Pas salaman lo nunduk? Atau ngintip ke kolong meja"
"I don't know. I just know."
***

in some other people mind, i'm just sick.
yes, i'm sick. I'm sick judging people by their last names, handshake, or smile. They all could be artificial. I'm sick of people tendencies not to judge by cover, just to do something fair. it's too naive. because at the end, if you had a first impression on someone you've just met, thats your standard talking. and putting someone at your very own shoes is just a different kind of unfair
judgemental behaviour.

shoes aren't just cover. shoes comfort you, lead your way, to whatever you're aiming for. They should be honest.


Thursday, December 2, 2010

near-magical experience.

so, do you believe in coincidence?
I'm once non-believers.
i think the concept of coincidence is way too naive.
But, the joke is on me.
Reality struck. And now, i'm at the stage of totally believing that coincidence really exist. Yes, it's a near-magical experience, and also yes, i'm a little bit exagerrating it.

***

hey, Mr. Anonymous, nice to know that you actually have a name.

Sunday, October 24, 2010

thank you.

so, this is my birthday.

thank you for reminding me of all my past mistakes and failure...




daddy.
24/24/10/10

Saturday, October 16, 2010

Day #30 : sebuah titik.

memulai itu hal yang mudah. menyelesaikanlah yang sulit.

***

saya membuka laptop saya perlahan-lahan. disana tersimpan banyak hal. gambar, melodi, sinema. namun satu yang memiliki tempat khusus, folder sendiri yang bersebrangan dengan folder tugas-tugas kulian, adalah tulisan-tulisan saya.

Dalam folder khusus itu, mereka membagi-bagi dirinya sendiri ke dalam beberapa kategori. kesayangan, racauan tidak berdasar, cerita pendek, naskah film, hingga rencana sebuah cerita yang yakinnya akan suatu hari diterbitkan menjadi buku. Beberapa dari mereka memiliki titik, tapi sisanya hanya mencantumkan koma.

Saya selalu berkata pada diri saya sendiri, dan tentunya mereka--tulisan-tulisan saya--ini hanya sementara. Bahwa mereka semua mempunyai open ending, atau belum berjudul, hanya karena saya belum menemukan yang tepat untuk mereka. Bahwa mereka semua istimewa, dan suatu hari akan terselesaikan.

Gombal memang saya ini. Karena nyata-nyatanya, semakin lama mereka dibiarkan menggantung seperti itu, semakin sulit saya untuk menyelesaikannya. Andaikan mereka manusia, pasti mereka sudah berhenti bicara pada saya karena ngambek, atau keburu mati bunuh diri. dan sayalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kemungkinan-kemungkinan itu.
***

hari ini, sebuah proyek panjang selesai. Proyek iseng-iseng yang harus sampai saya ulang dua kali, demi mengerti apa artinya konsistensi. Selesai seperti yang diharapkan, tanpa twist, tanpa alternate ending. Selesai. Itulah endingnya.

Tapi nyatanya, masih banyak hal-hal lain yang sudah saya mulai dalam kehidupan, dan belum terselesaikan. Mereka tiba-tiba menyerbu saya, minta diberi titik. Selama ini saya hanya membuat sebuah ilusi, seolah-olah semuanya sudah selesai. Mengarang sebuah cerita sendiri, demi menamatkan kewajiban-kewajiban, lewat jalan pintas, lalu kemudian lupa, waktu terus berputar dan saya harus terus berjalan

Seperti kata Bari dalam film FIKSI. karya Mouly Surya, "itulah bedanya fiksi dan realita. Dalam kisah fiksi, semuanya punya ending, sementara di kehidupan nyata life goes on."

***

sabar. saya sedang berjalan ke arah sana.

Friday, October 15, 2010

Day #29 : terlalu banyak.

terlalu banyak hal untuk dikeluhkan.
jalanan yang terlalu padat. harga bensin yang mahal. jalan tol yang berlubang.

terlalu banyak hal untuk diprotes.
kesenjangan sosial. ketidak adilan gender. jam kerja yang terlalu panjang, tanpa uang lembur yang pantas.

terlalu banyak hal untuk ditertawai.
presiden yang lembek. jurnalisme yang tidak akurat. dunia infotainment yang seperti parodi.

terlalu banyak hal untuk dikritik.
film yang terlalu mudah ditebak. lirik lagu yang terlalu sembrono. iklan-iklan yang tidak punya kelas.
***

semua membuat kita lupa bersyukur.

pada secangkir kopi hangat pagi ini, ucapan terima kasih yang tulus, atau tweet yang menyemangati dari orang-orang tidak terduga. pada tas kanvas berwarna orange yang lucu, kalung hand made keren murah meriah, dan jeans belel yang membuat 90an abadi.
***

"Terlalu banyak.... Terlalu banyak hal kecil untuk dinikmati hari ini..."







Thursday, October 14, 2010

Day #28 : kotak bergambar yang bisa berbicara.

lewat sebuah kotak bergambar yang bisa berbicara, dia melihat dunia, menyusun mimpi, dan mencari keseimbangan.
lewat sebuah kotak bergambar yang bisa berbicara, dia menemukan dunia baru. Dunia setelah dini hari yang tidak sunyi, dan diterangi seperti sore hari.
lewat sebuah kotak bergambar yang bisa berbicara, dia menilai. menilai kemampuannya sendiri untuk masuk kesana dan menjadi bagian dari orang-orang berukuran mini dalam kotak tersebut.
***

ia mengetuknya dengan hati-hati. seseorang di dalam sana terus bicara tanpa henti. ia pun sadar, ia telah menjadi bagian dari kotak tersebut sejak lama, hidup bersamanya. tapi tentu saja kotak itu hanyalah kotak bergambar yang bisa berbicara. ia tidak bisa diajak bercengkrama, atau bermain bersama.

Wednesday, October 13, 2010

Day #27 : adiksi.

minggu kemarin minuman teh bersoda. minggu ini kopi krim kalengan. lalu es krim premium dengan cokelat belgia dan almond. nasi bebek goreng remuk juga pernah. bahkan tidak terkecuali, minuman-slash-makanan jelly khusus anak-anak.

masih banyak lagi yang lainnya. asalkan rasanya enak, dan baru dicobanya, pasti akan membuat ia ketagihan. Lalu mulai membeli dan mengkonsumsi mereka secara sembrono dalam satu kurun waktu tertentu. sayangnya memang tidak bertahan lama. Seperti tidak pernah belajar hukum Gossen 1* di jaman SMA dulu, dia akan mengulang-ngulang sebuah kegiatan baru yang di sukai, sampai kebosanan menampar.

dan biasanya jika kebosanan sudah datang, ia tidak akan berusaha bertahan. ia akan segera menemukan yang lain untuk disukai. seperti sebuah siklus. sebuah siklus yang dibuatnya sendiri, untuk menghindari keterikatan dengan apapun, untuk menghindari ketergantungan.
***

dia berkata pada dirinya sendiri, "Apakah ini sama dengan caranya mencintai?"

menemukan seseorang yang disukai. menyukainya sampai puas. teradiksi, lalu bosan dan pergi. Tapi tentu saja pergi bukan urusan yang gampang bila berhubungan dengan hati. lama-lama dia merasa dirinya lemah, tidak berdaya. karena terkadang, ia ingin tetap disana , tapi siklus akan segera memaksanya untuk pergi. sebuah siklus yang awalnya dibuatnya sendiri untuk menghindari keterikatan, justu mengikatnya terlalu keras. ia tidak bisa mengendalikannya. dan ia takut, suatu saat nanti, dia akan berkahir hidup sendirian, hanya terikat dengan ketakutannya sendiri tentang ketergantungan.

Tuesday, October 12, 2010

Day #26 : lewat jendela tua.



sebuah bangunan di tengah kota kembali terbayang di kepala saya sore ini. semua detailnya mengingatkan saya akan beberapa potong proses pendewasaan, yang sempat mengiringi cerita hidup.
***

lantai bawah pernah menjadi saksi kesibukan yang seakan tidak pernah selesai. Datang di tengah malam. Mempercepat langkah, karena lorongnya selalu membuat saya takut. Lalu duduk bersama, dengan goal yang sama, saling bersaing demi bisa diterima.

lantai atas selalu mengingatkan saya pada rumah. rumah yang tidak pernah saya miliki di kota ini. Ruangan-ruangan yang selalu diisi wajah-wajah yang sama, seperti sebuah rumah kos yang padat penghuni, yang sesekali berkumpul di balkon untuk saling bertukar cerita lucu atau tangisan yang ditahan-tahan. Merencanakan sebuah petualang bersama, dan mulai memikirkan cerita selanjutnya untuk dijalani sendiri-sendiri.

Salah satu ruang yang kedap suara, selalu saya anggap seperti sekolah, yang anehnya membuat saya tahu lebih banyak. Belajar hal-hal baru, dan bertemu orang-orang yang kelak menjadi penting. Tempat berbisik soal rahasia-rahasia yang terekam manis seperti mix tape yang tidak disengaja.

saya masih ingat pertama kali menjejakan kaki disana. Disambut wajah-wajah asing, yang saya harap akan menyambut dengan ramah. siapa yang tahu, hanya butuh beberapa lama saja, untuk bergabung disana, duduk bersama sambil bergosip atau main gitar, menyatu dalam kata kekeluargaan. Menangis bersama-sama atas nama persahabatan, dan saling curi pandang karena merasakan kisah percintaan yang aneh satu sama lain.

***

pertama kali setelah sekian lama, akhirnya menjejakan kaki lagi disana, membuka pintunya dengan maksud yang sama sekali berbeda. Saya hampir menangis. Di tengah-tengah semua ruangannya yang kosong dan pintu-pintu yang sudah berdebu, saya masih bisa merasakan kehangatan yang pernah sangat saya sukai. Saya mengintip lewat jendela, dan tiba-tiba melihat lebih jelas melalui kaca berjamur itu.

saya harus keluar. melihat dunia, dan mencari rumah-rumah lain untuk disinggahi.

*tribute to Diponegoro 21. A place once felt like home.

Monday, October 11, 2010

Day #25 : senin.

hari senin yang biasa. Bangun pagi dengan malas-malasan. Berharap bisa menghentikan waktu sebentar agar bisa tidur lebih lama, atau memutar waktu sekalian, agar kembali ke weekend yang menyenangkan. Kadang-kadang saya berharap, seandainya saja hari Senin namanya bukan Senin, mungkin saja ia tidak semembosankan ini. Mungkin saja ia secerah minggu pagi, atau semenyenangkan jumat malam.

Tapi ini masih Senin, hari yang paling dibeci di dunia. Hari yang paling biasa menurut saya. Karena disanalah rutinitas dimulai. Dan buat saya, mungkin orang lain juga, rutinitas itu bukan hal yang istimewa. Jadi hari dimana rutinitas dimulai, tentunya itulah hari yang paling biasa.

***

hari Senin yang biasa. Dimulai dengan siaran pagi bersama partner. Lalu mengucapkan selamat pagi kepada pendengar lewat situs jejaring sosial. Sebuah pesan balasan masuk.

katanya, "Hayooo Ginna....semangat-semangat !!!"
Partner siaran saya menaikan alis sambil memajukan dagunya sedikit. Bahasa isyarat bertanya, "Siapa?" Saya mengedikan bahu, membahasakan, "tidak tahu." Bukan karena saya tidak kenal atau lupa pernah berkenalan, tapi karena tidak percaya. Dia adalah orang terakhir yang saya bisa sangka menyemangati semanis itu di pagi hari.

Saya menatap kalender sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan hari senin. Hari senin tidak pernah berawal semanis ini.




Sunday, October 10, 2010

Day #24 : di pasar itu, dulu.

dulu, di pasar ini saya pernah merasakan sedihnya sendirian. untung hari ini bergendengan. seperti melihat potret saya yang duduk sendirian mencari. sementara dia sibuk mengurusi dirinya sendiri.

dan waktu itu waktu masih sangat panjang, untuk saya menyadari, bahwa saya membutuhkan tangan lain untuk digandeng.


Saturday, October 9, 2010

Day #23 : new geek muse.


well hello geeks!

Here's your new rival. Mike Posner. The coolest geeky musician from America. And why again you have to considered him as your new geek rival, geeks? Here's the reason

one, he had this very geeky pict of him.

two, he has this very geeky song, with synthesizer and a bit of hip-hop.

three, he's cute.

Thank's for your attention geeks!

***

"you got designer shades,
just to hide your face and
you wear them around like
you're cooler than me.
and you never say hey,
or remember my name.
its probably cuz,
you think you're cooler than me."

(Cooler Than Me-Mike Posner)

Friday, October 8, 2010

Day #22 : catatan seorang fans (hampir) radikal.

Gelisah. Mondar-mandir dalam tidur. Andaikan saya adalah sleepwalker, mungkin saya akan berjalan keliling kamar dalam tidur saya. Terbangun setiap dua jam, sambil memikirkan apa yang akan terjadi besok. Hari ini. Malam ini.

Tidak ada yang lebih indah memang membayangkan pertemuan dengan idola masa muda. Yes, tonight i'm going to Smashing Pumpkin's concert.

Semoga Billy Corgan melihat ke arah saya. Saat itu entah apa lagi yang bisa membedakan saya dengan para fans radikal yang melemparkan bra ke atas panggung panggung.

Finger crossed.

***

Dalam tidur yang tidak tenang, saya bermimpi hang out bersama Smashing Pumpkin. Billy bercanda bersama D'Arcy, dan Iha terlihat sesekali ikut menimpali. Sesuatu yang saya hampir harapkan menjadi nyata, tapi sepertinya tidak mungkin.

"Time is never time at all
You can never ever leave without leaving a piece of youth
And our lives are forever changed
We will never be the same
The more you change the less you feel
Believe, believe in me, believe
That life can change, that you're not stuck in vain
We're not the same, we're different tonight
Tonight, so bright
Tonight..."

Thursday, October 7, 2010

Day #21 : seperti memotong rambut sendiri.

Dan berjatuhanlan lembaran-lembaran rambut itu satu persatu. Hasilnya ? Terlalu pendek.

***

Saya menarik-narik poni saya ke arah wajah. Tetap saja terlalu pendek. Bahkan dalam keadaan basah. Terlalu memang. Bukan hanya terlalu pendek tadi, tapi juga terlalu kalau memotong rambut sendiri saja tidak bisa. Padahal logikanya, itu rambutmu sendiri, tanganmu sendiri juga yang menggerakan gunting, dan otakmu sendiri yang bilang harus seberapa banyak memotong.

Begitulah. Hampir sama dengan bagaimana kita mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Kadang terlalu pendek, hingga hasilnya hanya tindakan impulsif yang tidak ada artinya. Atau malahan tidak sengaja membuat kuping sedikit tersayat gunting, yang artinya kita kurang hati-hati.

Tapi apalah nilainya memotong terlalu pendek dan kuping yang tersayat gunting. Toh luka akan hilang, dan rambut akan segera tumbuh kembali. Susahnya adalah ketika kita tidak berani memotong rambut sendiri. Sampai akhirnya terlalu panjang, kusut, dan mengganggu pandangan.

Sampai suatu hari kesempatan sudah lewat, dan trend rambut di majalah sudah berganti. Kita tidak akan bisa kembali.

***


Well, I said whatever. My hair will grow faster than I could even notice.

Wednesday, October 6, 2010

Day #20 : an answer to future.

Talking about future always making me anxious. I'm not the kind of person that live for future, I'm more a live-for-now person. Enjoying everything to the fullest while it last.

But that's the missing point of my way of life. How much time it will last, this I'll never know.

***

Pagi ini saya dikejutkan oleh ide topik siaran yang keluar dari mulut partner siaran saya. Ide awalnya adalah menyoroti fenomena early retirement yang skrg banyak dilakukan para profesional di luar negeri. Lalu pertanyaannya adalah gambaran apakah yang ada di benak kita, tentang hidup setelah pensiun.

Saya tertegun. Bukan saja karena saya memang seringkali tidak terlalu ambil pusing soal apa yang akan terjadi, tapi saya merasa urusan pensiun hanya urusan orang yang umurnya 50 tahun ke atas. Jadi ketika ditanya bayangan kehidupan di masa itu, saya harus ekstra berpikir cepat.

And this is my answer to that :


"saya ingin hidup bersama pasangan saya. Tua dan merasa bahagia bersama-sama, tanpa menyusahkan anak-anak kami nanti. Tinggal di rumah kami yang nyaman di dearah suburban yang nyaman, sesekali bepergian ke kota dan bersenang-senang, atau berlibur ke tempat yang eksotis. Seperti sepasang nenek-kakek lincah, yang kemana-mana bersama, sambil sesekali bertengkar soal hal-hal kecil yang sebenarnya adalah kebiasaan"

Jawaban ini malah lebih mengejutkan dibandingkan apa yang saya rasakan saat ditanya. Karena di masa-masa produktif seperti sekarang, keinginan saya justru sangat bertolak belakang. Misalnya saja, untuk berkarier setinggi-tingginya, mengesampikan urusan berkeluarga belakangan, dan punya banyak uang, hanya agar tidak menjadi tergantung pada siapa pun juga. Apakah itu memang kecenderungan seseorang untuk merasa independen dalam suatu fase, lalu berpindah ke fase yang lebih settle dengan berbagi ? I really don't know. But it would be nice to live peacefuly at the end. Having somene to hold your hand until you die.

Too sentimental ? Well, i guess when it comes to life, everybody is sentimental.


***

Talking about future always making me anxious.
So many dreams, too many hopes, and adding another mistery to be revieled.


Tuesday, October 5, 2010

Day #19 : one day slacker.

the sun is shining too bright. I don't want to wake up. I don't want to shower. I don't want to go to work. I just want to be a slacker for one day, and not feeling guilty about it.

Monday, October 4, 2010

Day #18 : masa masak ?

Memotong daging, mengiris sayuran, meramu bumbu. Mencampurnya ke dalam wajan, lalu menyajikannya semanis mungkin. Tentu saja semua itu bagian dari memasak. Satu hal yang bisa jadi sebenarnya adalah hobby terpendam saya, yang dari dulu tidak ingin saya akui.
***

Kenapa saya benci memasak, banyak yang bisa saya sebutkan sebagai jawabannya. Entah karena sesudahnya saya harus mencuci piring, ditambah tangan yang bau dan baju yang kotor, atau karena menurut saya kegiatan ini terlalu feminin dan menguji kesabaran, hingga sulit sekali cocok dengan profil diri saya.
Setelah melalui proses denial bertahun-tahun, saya baru berdamai dengan memasak, kali ini. Saat melihat betapa sumringahnya wajah adik saya yang menemukan makanan hasil masakan saya di kamar kosnya--yang artinya dia tidak harus bayar makan malam. Saat menerima satu ciuman berbau nasi uduk yang saya masak, dari si pacar.
Seolah-olah memasak adalah cara saya berbagi. Saya yang selalu kesulitan menyalurkan afeksi dalam bentuk apapun, akhirnya menemukan, bahwa memasak bukan hanya sekedar meracik bahan dan memakannya. Memasak adalah sebuah proses mengumpulkan cita rasa dan emosi, hingga bisa dihidangkan sebagai sajian berbagi bersama orang-orang kesayangan.
***

Saya membayangkan diri saya mengenakan apron berenda dan topi koki. Saya memasak dengan cekatan. Di depan saya beberapa pasang mata menatap tidak sabar. Dan saat masakannya jadi, kami makan bersama hingga kekenyangan, sampai sulit berdiri.

Sunday, October 3, 2010

Day #17 : tentang mimpi.

so, i have this really weird dream last night.
About me, quitting my job. In that dream, I hug everyone, packed, and just go without any second thought.
Am i just dreaming, or this is somekind of way my mind telling me what to do?
***

Menghitung hari-hari yang sudah dihabiskan di tempat itu. 3 x 365 hari. Mungkin sudah terlalu banyak. Sampai saya lupa bagaimana caranya bergerak. Keterbiasaan kadang memang membuat kita lengah, sampai-sampai jadi bodoh. Tidak tahu lagi bagaimana menterjemahkan sikap profesional dan mengesampingkan double standard. Tidak lagi ada intrik, tidak lagi ada jenjang untuk dinaiki. Apalagi jika bicara mimpi-mimpi. Belakangan mimpi memang hanya yang hadir saat tidur. Sisanya, terlupakan.
***

In that dream i walk away. The rest i didn't know. Just hoping it was a sweet dream after all.

Saturday, October 2, 2010

Day #16 : Teori Budi.

Ditengah kebosanan menunggu di sebuah pusat shuttle service antar kota, seorang bapak mengemukakan teorinya soal salah satu nama paling common di Indonesia. BUDI. Saya mulai merasa terhibur dan mencuri dengar.
Katanya pada temannya, "Ada 7 juta Budi di Indonesia..."

Oh really? Saya mempublishnya di twitter. Sekedar yg mengecek. Yang me-retweet tidak terhitung.

Oke, saya sedikit lebay. Cuma dua sih. Tapi benar, sebegitu banyak kah Budi di Indonesia?

***

Saya jadi ingat nama lain di Indonesia, yang sempat banyak diperhatikan orang, setelah diangkat oleh seorang penulis slash artis, HERMAN--bukan nama penulisnya. Teori penulis itu, nama Herman begitu common terdengar di telinga dan diucapkan orang Indonesia, tapi bukan benar-benar nama yang ada di daftar orang yang kita kenal. Waktu membacanya saya mengerenyit. Well, saya punya paman yang namanya Herman, jadi teori itu aneh sekali. Tapi banyak sekali, hampir semua yang pernah membacanya bahkan, menyatakan kebenaran teori itu. Entah karena nama Herman adalah nama yang hanya populer di ranah fiksi saja, atau karena semua Herman itu penyendiri, atau hanya karena teori itu telah terlanjur dibukukan, atau karena penulisnya adalah artis.

Tapi diluar kenyataan yang saya anggap benar, bahwa saya punya kenalan yang benar-benar bernama Herman. Sebuah teori lain sudah kembali membuat saya bingung, dan menyangkal kebenaran. Ada 7 juta Budi di Indonesia. Banyaknya Budi di Indonesia menjelaskan teori Herman. Karena kalau Herman yang ada dalam teori Budi, pastilah Herman sudah sebegitu terkenalnya.

***

Tidak lama salah satu petugas shuttle service itu memanggil nama Budi. Dalam ruangan itu tiga orang berdiri. Salah satunya adalah bapak pencetus teori Budi.

Ya, Herman memang tidak sebanyak Budi. Tanyakan saja pada 6.999.997 Budi lainnya.




Thursday, September 30, 2010

Day #15 : [REAL] man manual.

seorang laki-laki telah menjadi laki-laki, jika sudah berani mengakui, bahwa ia juga menyukai hal-hal yang disukai perempuan. Membaca majalah perempuan, mengikuti saran artikel self help, bergosip, dan nonton maraton serial sex and the city di TV kabel.

Yang tidak boleh dilakukan laki-laki hanyalah berselingkuh. Tentunya disamping memakai topi vedora berpayet, crop jacket glitter, dan suit warna pastel.

Day #14 : pernah, masih.

Mantan teman sejawat.
Mantan teman sepermainan.
Mantan teman sekolah.
Mantan teman tapi mesra.
Mantan temannya teman.
***

Entah masih bisa dibilang teman atau tidak, kalau sudah disebut mantan. Yang jelas semua masih bercanda, meledek, dan saling memandangi. Berusaha menemukan sosok-sosok yang dulunya begitu akrab, dibalik rambut yang memanjang, kumis yang tumbuh sembarangan, atau tubuh yang semakin tambun. Mencoba mengejar ketertinggalan dalam waktu yang sempit, dan duduk bersama seperti dulu lagi. Lalu satu persatu semuanya beranjak. Pulang untuk kembali pada kehidupannya sendiri-sendiri.
***

Di tengah jalan pulang saya tersadar. Kami pernah, dan masih begitu hangat.

Wednesday, September 29, 2010

Day #13 : random.

today wish list :

a cup of banana ice cream
a splash of barbeque night with friends
a hint of smile from some strangers
a kiss that last forever

***

ingredients of an anti-boring day.

Tuesday, September 28, 2010

Day #12 : Hello, I'm Ginna, and I'm a -----holic.

Saya menuju rak penyimpanan setengah berlari. Harap-harap cemas, saya lihat botol-botol berisi cairan itu masih setengah penuh. Ada yang berwarna, hijau, biru, merah tua, dan yang lainnya yang sulit saya deteksi warnanya. Teman saya dulu pernah bilang, "never trust the red, blue, and green, one." Katanya mereka memabukkan, bikin ketagihan.

Nyatanya saya memang begitu. Ketagihan. Warnanya yang menarik, sensasinya yang berbeda, dan aromanya yang menyengat. Saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Bahkan cenderung kehilangan kepercayaan diri kalau sensasi mereka sudah tidak ada lagi di tubuh saya.

Saya memilih salah satu. Yang merah tua. Berisi paling sedikit diantara yang lain, karena sensasinya selalu menempel sempurna di tubuh saya. Saya buka tutup botolnya, dan saya hirup bau khas nya yang menyengat dalam-dalam.

Saya tersenyum. Begini toh rasanya ketagihan, menghirup baunya saja sudah menjadi sesuatu yang memuaskan. Jari-jari saya bergetar seakan tidak sabar. Sudah tidak ada lagi alasan menunggu.

Memang saatnya saya oleskan kuteks merah tua itu di kuku saya, setelah sekian lama.


***




Monday, September 27, 2010

Day #11 : mimpi-mimpi yang terlupakan.

Saya berharap ingat mimpi semalam. Seharusnya ada alat yang bisa membuat kita bisa tetap mengingat semua detail mimpi kita, setidaknya hanya sampai saya bisa mencatat dan mengartikannya. Saya hanya ingin tahu, kenapa saya banyak sekali bermimpi tentang kamu, bahkan ketika kamu tertidur di sebelah saya. Apakah mimpi-mimpi ini mencoba mengatakan sesuatu, atau ini hanya sebuah refleksi kebersamaan yang mulai terlalu banyak?

Tapi mimpi semalam, saya ingin sekali ingat. Saya ingat, bahkan ditengah-tengah tidur saya yang tidak terlalu nyenyak tadi malam, saya berusaha mengingatkan diri saya, agar begitu terbangun langsung menceritakannya kepada kamu.

Kenyataannya, pagi tadi kita hanya berpisah lewat sekilas salam dari balik jendela. Saya lupa. Dan sekarang sudah terlambat untuk mengingatnya.

***


Sunday, September 26, 2010

Day #10 : earth day.

I'm always a big city girl, born and raise. But this morning, in our meditation mode, i almost fell in love with nature. Almost said yes to camping, noded to barefoot walking, and embraced the wind that blew my charming hair away.

It felt like the nature was in some kind of conspiracy, to bring me closer to them. I surrendered for a little bit, and i heard what it was saying, "you are mine, and i'm yours." Enough said, i cheated my boyfriend for about fifteen minutes, and became nature's. We--me and nature--were pretty sure he would understand.

***

"The Lodge" Maribaya, Bandung
an EARTHBOUND trial with some random interesting people.

Saturday, September 25, 2010

Day #9 : saturday morning.

Terbangun dengan bau nasi uduk dan telur dadar, dibawa oleh sebentuk wajah yang sangat familiar. Dilanjutkan dengan menonton serial favorite bersama-sama. Iya, saya baru bangun tidur, belum mandi, bahkan belum cuci muka dan sikat gigi. But, that's what make this typical Saturday morning perfect.

Sederhana dan tanpa rencana.
***

"It's getting late on Sunday morning
I get up and see
Silly TV talking by itself in the living room
I slept on the sofa again
And don't remember the ending of
The late night movie
And my old lady she don't care,
As I look for food in the fridge

Well, this is life
Well, this is my life
Well, this is life
To plan a weekend without you"

(Lazy Sunday Morning, by : Clazziquai)

Thursday, September 23, 2010

Day #8 : how i met your father.

Just a random thougths while I was watching "How I Met Your Mother", laughing my ass off.

"When will I met my Ted Mosby ? A guy that will telling my kids, the story of how he met their mother with every single silliest detail, in a funniest-charmingly way ?"

Judge me as a mass product of Hollywood-made-serial-slash-unreal-dream, but this Tv series has made its point.

That it'll be nice if i could finally find someone who are willing to do something so sweet, and in reverse give my version of the story, of how i met their father, to our kids...

***






Day #7 : a few more people like you.

Saya buka kolom comment di bawah tulisan terakhir saya. Lagi-lagi ada nama kamu. Saya tersenyum. Bukan karena comment-mu yang selalu lucu dan apa adanya. Tapi karena wajahmu terlihat lebih berukuran normal jika diperkecil dalam seukuran ujung kuku.

Seberapa besar yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi berarti?
Dari kamu, saya mengetahui, tidak selalu sebegitu besarnya.

***

Lewat facebook, bahkan friendster--sayang kamu tidak punya twitter--yang tidak pernah lupa kamu hampiri, untuk sekedar me-like, mengirim testimonial, atau mengomentari.

Lewat SMS dan telepon, yang sekali dua kali akan datang, hanya untuk mengecek kabar atau mengucap selamat ulang tahun, bahkan dari jauh.

Lewat film-film gore dan komik-komik cult, yang kamu sarankan, hanya karena kamu memaklumi selera saya yang tidak wajar.

Lewat blog yang selalu penuh dengan comment-comment penuh semangat atau comment asal, yang sedikit banyak membuat saya merasa harus terus menulis.

Lewat pertemuan sesekali, yang akan berlangsung lamaaaaa sekali.
***

Semuanya wajar, tulus, dan tidak dipaksakan. Sebuah kenyataan yang kadang membuat saya lupa, bahwa hal-hal yang berarti itu bukan selalu sesuatu yang besar.

Kecil, tapi selalu ada. Itu kamu dalam hidup saya.



*A few more people like you, and i'll be complete. :)