Tuesday, February 18, 2014

a little change.

"They always say time changes things, but you actually have to change them yourself."
---Andy Warhol.

***

I think I could use a new layout and banner as a refreshment.  Plus, don't you think a new signature line won't kill? With a help from a friend (look at his profile here) and a bunch of yellow bananas, I decided to dress up this blog a little.


Bye, old banner!

Enjoy the changes, folks!


Saturday, January 18, 2014

some certain romance.


Some people are in love, some are not.

Some other think they’re in love, but they aren’t.

Some just fall for a person they know bad for them, hoping they are wrong.

***

Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada sebuah romansa sesaat yang berakhir buruk. Sulit untuk mendeskripsikan perasaan yang ada setelahnya. Terlalu singkat dan tidak berarti untuk ditangisi, tapi juga terlalu aneh bila hanya ditertawakan saja.

Jenis romansa seperti ini, biasanya diawali dengan pertemuan yang biasa saja. Dilanjutkan dengan beberapa momen tidak terduga, yang kemudian mengubah biasa saja menjadi sebuah kemungkinan. Dalam tahap ini, mulai terjadi proses timbang-menimbang yang alot. Bukan dengan siapa-siapa, tapi dengan diri sendiri. Biasanya sebagian dari diri kita berkata tidak ada salahnya mencoba, namun segera ditolak keras oleh sebagian lagi, yang berkata buat apa mencoba sesuatu yang berawal biasa saja. Tentu saja kadang kita ingin selalu teguh mempercayai, bahwa formulasi romansa yang benar harus dimulai dengan percikan yang penuh keajaiban. Tapi apa boleh buat, seringnya kita hanya menuruti insting lain yang berupa rasa penasaran.

Dan tiba-tiba saya sudah berada dalam sebuah hubungan coba-coba yang aneh. Fluktuatif, membingungkan, pasif-agresif. Iya, semua teori panjang tadi sebenarnya seutuhnya pengalaman  pribadi. Sama seperti semua hal lain yang sifatnya percobaan, hingga akhirnya benar-benar gagal, kita tidak akan pernah tahu. Yang jelas, ketika romansa sesaat (sebut saja begitu ya, setidaknya terdengar lebih manis dari aslinya) itu berakhir, yang ada hanya kesal. Marah adalah kata yang terlalu kuat dan sedih terlalu lemah. Kesal mungkin paling tepat, karena berada di antara keduanya.

***

I remember I discussed this with my own self when it started.



“What do you think?”

“I think, call it off while you can.”

“Don’t you feel a little bit curious about this? About him?”

“Yes. But please, you know curiosity kills.”

“It won’t hurt. I promise us.”

“You know it will. Deep inside you knew.”



Even if it bothered me so bad along the way, I decided to ignore me.
And to admit I should’ve known better, now? I think it’s far too late.
Some certain romance is just not good enough to be true. 


***


A 15 tracks mixxx, for those who had been through something they’ve known would end badly. Including passive-aggressive tracks from Arctic Monkeys, Interpol, and Fiona Apple.

You Are Blind-Lacrosse.
You Owe Me An IOU-HotHotHeat.
Heart Is A Beating Drum-The Kills.
A Certain Romance-Arctic Monkeys.
Cancel On Me-Bombay Bicycle Club.
I Know you Don’t Love Me-Peter, Bjorn, And John.
Merah-Monkey To Millionare.
So Complicated-Noisettes.
Evil-Interpol.
What Remains-Foals.
Lover’s Spit-Broken Social Scene.
A White Demon Love Song-The Killers.
While You Wait for the Others-Grizzly Bear.
A Mistake-Fiona Apple.
One Last Time-The Kooks.

Thursday, January 16, 2014

sedikit garam dalam secangkir cokelat.


Sebuah hari baru, di tahun yang baru.
Musik yang menghanyutkan, dan obrolan suka-suka bersama sahabat.

Membuat-nya tersadar, serius memikirkan kehidupan kadang bukanlah pilihan yang bijaksana. Bisa saja ternyata yang dia butuhkan hanyalah mendengarkan lebih banyak musik, membaca lebih banyak buku, dan menonton lebih banyak film. Bisa jadi semua yang dia butuhkan ternyata memang hanya menjalaninya saja. Ditemani segala inspirasi yang mungkin bisa didapatkannya, untuk membuat perjalanan ini lebih terasa di hati.

Dia sekarang mengerti, kenapa dia menyukai sedikit garam di cangkir cokelat panasnya. Karena garam mendongkrak rasa, itu sebabnya.

Dan segala rasa yang telah terdongkrak inspirasi itu, mulai sekarang, akan diserapnya sebagaimana hari ini dia memperlakukan mereka. Tanpa banyak resistensi, tanpa basa-basi. Rasakan saja, rasakan hingga terdefinisikan dengan sendirinya.

Ia berjanji.
Tak perlu terlalu serius, tapi setulus-tulusnya.
Bukankah begitu semestinya?

***



***
 
“Suppose you’ve gotta do what you’re gotta do
We just weren’t feeling how we wanted to
You sit and try sometimes
But you just can’t figure out what went wrong
Then out of nowhere somebody comes
And hits you with Oooh la la la la…

(Oooh la la la la)
You got those mad sounds in your ears
To make you get up and dance
Mad sounds in your ears
They make you get up and dance.,,” ---Arctic Monkeys, on : ‘Mad Sounds’.

2013 : troubling bless.


How much drama a person could endure in a year? I would say, countless!

***

For the opportunities and interesting projects I took and let down.
For the times I spent happily (or not) at work and delightfuly (or not) at bars.
For the places I’ve been to.
For the food I’ve tasted.
For the amount of alcohol I drank.
For the weird (or not weird enough) guys I’ve met.
For even weirder new friends turned family.

For things I did and didn’t do.
For words I said and didn’t say.

For all the devastating and breath-taking moments.
For all the smile, the crank, the laugh, the cry-out.

For all the manic drama the above have caused…
I declare 2013, as the year of blessings.

Troubling bless I suppose to say.
Still, I’m tougher, happier.
As if nothing can stop me.
Simply blessed.

***



And as I count my blessings this year, I suddenly remember what I still haven’t found yet. You.

Thursday, November 28, 2013

the destructive liveliness.

I love my job as much as I hate it. 
The truth to be told, I might have developed this weird love-hate relationship with my job.

***

“Don’t be silly. I know you love being busy. You love it so much until it hurts!” kata seorang sahabat ketika saya sedang mengeluh padanya soal pekerjaan saya saat ini.

Keadaannya saat itu adalah saya belum tidur cukup sekitar tiga hari berturut-turut karena lembur, sedang menghadapi rangkaian pitching tak berujung yang mengharuskan saya brainstorming bersama team setiap hari, ditambah mengurusi obsesi pribadi ikut award yang ternyata sama sekali tidak mudah. Kepala saya semacam siap meledak dalam hitungan jam. Dan saat saya bilang meledak, saya benar-benar membayangkan bola-bola mata yang melompat keluar, bagian otak yang berceceran, dan rambut yang berterbangan. Iya, terkadang saya memdefinisikan pekerjaan saya sebagai sesuatu yang sangat destruktif. Karena mungkin Ia memang begitu.

Tapi anehnya, dibalik semua perasaan tersiksa dan wajah ‘kenceng’ yang selalu seperti mau bilang JANGAN-GANGGU-ATAU-SIAP-DIPOTONG-DADU, saya merasakan reaksi kimia yang mendebarkan. Mungkin penjelasan paling sederhananya adalah adrenalin. Semua hal tentang pekerjaan ini membuat adrenalin saya menari-nari tidak beraturan. Deadline yang tiba-tiba maju tanpa alasan, meeting internal alot yang bisa membuat teman tiba-tiba jadi seperti monster, presentasi bersama client bitchy yang bikin darah mendidih. Siapa bilang segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan membuat orang susah punya kehidupan. Semakin sibuk, semakin chaos, semakin intense, saya semakin merasa hidup.

“Yeah, maybe I am. But, please let me talk this crap out. At least let’s play along as if I actually hate it just a little and love myself more…” dan saya pun tertawa. Entah dulu saya membuat perjanjian dengan iblis atau apa, saat pertama kali memutuskan bekerja seperti sekarang. Yang jelas saya membutuhkan sensasi kontradiktif ini sebagai alasan untuk bangun setiap pagi.

Just to feel the destructive liveliness. 

***

I decided to take off from work early tonight and go straight home. 
I felt slightly in love with myself, and it wasn’t so bad at all.




"i can't begin to explain
how we disassemble the parts and frame

baby it's the same late morning
the same no show
it's the same fucking habits
i guess we don't know

all of this is tearing us apart
i don't know where us or this start
all of this is tearing us apart

i don't know where us or this start..."

--Naked and Famous, on : All of This.


Tuesday, November 26, 2013

to give it all up, completely.

And you see, the oddities of life, they are all there to tell you something. That sometimes, the life itself, it’s not so bad. 

It’s just waiting there for you to make it not all so bad.


***

How many times did you think every moment in your life should be grand? The moment you finally left the job you hate, the moment you tell your parents you want to start standing on your own feet, the moment you tell somebody you love him.

In my so-called-life, I thought big decisions needs to be taken care carefully. I thought I have to had a really good timing and create the moments. Just to make sure they’re magical enough, and by that I won’t make any errors.

But then I forgot one thing. I can’t make the universe waiting for me. It works just beyond my plans, beyond my every count. It has a very weird sense of humor I supposed to say. Because once, It told me to gave up something to took another chance. A chance to be genuinely happy. I took the chance. In fact I’m a moron if I didn’t. It’s just, I didn’t know one thing until just now.

What I didn’t know, that happen to be the most important thing, that chance I took before, It doesn’t just work magically. It’s a work in progress. It’s the ability to give up things and took better chances, I guess.

That doesn’t really need a lot of planning or series of grand moments. It only needs a will.


***

As he slowly touch my fingers and finally fully hold my hand, I began to think about you, about the oddities, about the magic, about the chemistry, about all the grand moments we create, that I believe I wouldn’t be able to recreate with anyone else. I had to give all of those up. I just had to.

In a very odd way, I gave it all up completely. Finally.





***

"here's where the story ends 
ooh here's where the story ends 

it's that little souvenir of a terrible year
which makes my eyes feel sore
oh I never should have said, the books that you read
were all I loved you for

it's that little souvenir of a terrible year
which makes me wonder why
and it's the memories of your shed that make me turn red
surprise, surprise, surprise..."

---The Sundays, on : Here's Where The Story Ends.

you're borrowed.

Someday I'll find a way to get you back.


***

Dia menangis tak terkendali malam itu.

Menangisi kontradiksi yang membingungkan dalam hidupnya. Saat bagian-bagian lain mulai tersusun dan saling mengisi sesuai dengan apa yang direncanakannya, ada satu hal yang terus membuatnya terkaget-kaget. Rasa kehilangan yang begitu besar. Hampir sebesar keinginannya untuk melupakan, yang terkadang bisa membuat segala hal yang telah berhasil diaturnya kembali berserakan.

Dia sering berkata pada dirinya sendiri, ini hanya sebuah fase patah hati. Mungkin yang jenisnya paling parah. Tapi tentu saja dia yakin bisa mengatasinya. Dia pernah melalui hal-hal yang lebih mengerikan dari ini, kenapa harus takut sekarang. Dia berencana menyerap semua perasaan yang menyakitkan itu hingga mati rasa, lalu pelan-pelan menguburnya, dan melanjutkan hidup.

Hanya saja, setelah beberapa lama Ia baru mengerti, ini bukan hal yang bisa direncanakan dengan strategi sehebat apapun. Karena ini adalah tentang merelakan. Seperti membiarkan sepatu kesayangnya dipinjam dan tidak kembali. Sampai kapanpun, sepatu itu akan terus menjadi kesayangannya. Dan dia tahu, dia akan mati penasaran sampai akhirnya mengetahui bagaimana mendapatkannya kembali dan benar-benar mencoba.




***

But I know one day you’ll get it.

And you’ll pick me up, kiss my eyes, and say, “sorry it took me so long.”