Monday, July 28, 2008
So many questions
I need an answer
Whatever happened to emilia earhart
Who holds the stars up in the sky
Is true love once in a lifetime
Did the captain of the titanic cry
Apalah yang kita ketahui di dunia ini.
Hanya sedikit dibanding kan yang kita tidak ketahui.
Saya terkejut melihat dan merasakan banyak sekali selidik ingin tahu di sekeliling kita. Memaksa kita untuk menjawab iya saja, demi membungkam mereka pergi. Memang begitu, begitu merasa mengetahui jawaban dari sebuah jawaban di kepala, orang-orang ini akan pergi dan mencari pertanyaan lain untuk dijawab. Tidak perduli apakah sebenarnya pertanyaan mereka perlu untuk ditanyakan, ataukah pertanyaan itu hanya retoris, tidak perlu jawaban untuk menjawabnya.
Ya kadang-kadang mereka begitu. Bertanya bukan karena tidak tahu. Mereka bertanya hanya karena ingin merasa tahu.
Bukan pula karena perduli, hanya ingin dibilang tahu.
Saya menanggapi hanya dengan pertanyaan,
"Buat apa kamu mau tahu?"
Toh setiap jawaban hanya akan menimbulkan pertanyaan lain yang membuat mu semakin susah tahu.
Karena bukankah begitulah hidup? Semakin banyak kita bertanya, semakin banyak pula yang tidak kita tahu. Semakin sulit kita menemukan jawabannya, semakin berguna jawaban tersebut untuk kita.
Someday well know
If love can move a mountain
Someday well know
Why the sky is blue
Someday well know
Why I wasnt meant for you
Does anybody know the way to atlantis
Or what the wind says when she cries
Someday well know
Why samson loved delilah
One day Ill go
Dancing on the moon
Someday youll know
That I was the one for you
I bought a ticket to the end of the rainbow
I watched the stars crash in the sea
If I could ask God just one question
Why arent you here with me?
(Someday We'll Know, by : New Radicals)
Thursday, June 26, 2008
seek pleasure
Memang dasar tempat jahanam. Pantas saja dibuat terpencil begitu. Kata teman saya," kalo lo pada udah ngerasa mau mukulin gue dan udah bete, itulah saatnya kita nyampe!"
Benar saja. Ketika tangan-tangan sudah mulai akan melayang--beberapa menggenggam benda tumpul--sampailah kami di tempat itu. Penuh mobil-mobil yang berisi orang-orang seperti kami. Seeking pleasure....
Saperti masuk wahana di DUFAN, ada lorong bertangga sempit, lampu biru yang menyala membuat pusing, sisanya jendela besar yang menawarkan keindahan malam seperti di safari malam. Suara tawa, jedug musik--suaranya memang jedagjedug kok!--,dan gemerincing gelas. Udara dingin menyusup. Pantas saja. Waktu mata saya akhirnya bisa membiasakan diri dengan percampuran cahaya biru redup itu dengan bohlam kuning yang remang, saya bisa melihat, separuh bangunan itu tidak beratap. KAMI ADA DI SURGA....langit yang jadi atapnya.
Terbalik yah? Biarkan saja. Selanjutnya kami juga tidak peduli ketika semua terbalik-balik.
Yang diam, tertawa...
Yang duduk, berdansa...
Yang sendiri, bersama...
Yang wajar, menggila....
we seek pleasure, and we found it.
we didn't need anymore details....
*cheers everybody!
--------------------------------------------------------------------------------------
"When I was a young girl I used to see pleasure
When I was a young girl I used to drink ale
Out of the ale house, down into the jail house
My body salve-aided and hell is my doom
Come mama come papa and sit you down by me
Come sit you down by me and pity my case
My poor head is aching my sad heart is breaking
My body salve-aided and hell is my doom
Please send for the preacher to come and pray for me
And send for the doctor to heal all my wounds
My poor head is aching my sad heart is breaking
My body salve-aided and I'm bound to die..."
When I was I Young Girl; by : Feist
baju kebanggaan
saya sudah melewatinya.
saya tersenyum bangga pada diri sendiri.
saya sudah berusaha.
"Siap-siapin baju buat besok. Buat jadi baju kebesaran atau kekalahan lo...." kata sebuah suara menghantarkan.
saya memang berencana pakai baju istimewa besok.
bukan sebagai baju kekalahan atau kemenangan...
cuma untuk merayakan usaha saya.
Sunday, June 1, 2008
hugging and kissing game
Begitu ucap saya setiap kali seorang teman datang menghampiri dengan gelagat-gelat akan memberikan afeksi berlebih lewat peluk dan cium.
Agak jijik ya. Bayangkan saja, dia memoyongkan bibirnya, memejamkan mata, mulai mendekatkan wajah ke arah saya, sambil merentangkan kedua tangan, seolah ingin merengkuh anaknya yang sudah lama hilang dalam-dalam. Sayangnya...saya bukan anaknya yang lama hilang--bahkan dia juga belum pernah punya anak--dan saya tidak terlalu menggemari afeksi berlebih macam itu.
Tapi, entah kenapa semakin saya merasa jijik, teman saya ini semakin bernapsu melakukannya (aduh jangan salah sangka dulu, ini bukan napsu macam itu, tapi napsu yang 'lucu'). Muncul ide di kepala saya, awas nanti gue balassss....
Tidak perlu susah-susah mencari balasannya. Saya monyongkan bibir saya, pejamkan mata, mendekatkan wajah ke arahnya, dan merentangkan tangan ingin memeluk. Hasilnya,
"Anjis....jangan berani dekat lagi loooo....awasss aja!"
Jadilah ini permainan kami sehari-hari. Hugging and kissing game. Atau biasa kami sebut permainan afeksi. Bikin kami jadi takut satu sama lain. Bikin kami ketagihan juga...Karena senang sebetulnya diberikan afeksi yang begitunya...
Tapiii...kalo sempat dicium dan dipeluk betulan...yuck! Agak males yah....
Dasar manusia...sukanya yang setengah-setengah. Padahal apa salahnya kalau memeluk dan cium betulan tanda sayang.
"Sini...sini....dicium ama tante...." tiba-tiba teman saya itu datang dari arah belakang.
"Don't you ever dare....!" dengan sigap saya menjauh.
Lalu kami terkikik dan terkakak bersama....permainan ini seruuuuuu!!!
Mungkin rasa sayang tidak selamanya harus selalu dibagi dengan peluk-cium. Yang penting berbagi kebahagian dan tawa. Itu baru artinya sayang.....
*(ughhweeeeggggg......!)
Sunday, May 25, 2008
lagu yang bicara
Saya tenggelam dalam sebuah kenangan yang aneh karena sebuah lagu. Sebuah lagu yang dulu setiap pagi saya putar untuk menemani saya mandi (ya...dulu saya ‘mandi’). Saya mengingat kenangan yang dibawa oleh lagu itu dengan senyum miris.
Yang saya pinjam untuk membangunkan saya dari tidur kesiangan.
Thursday, May 1, 2008
only time knows
"Jangan sekarang ya...saya lagi labil. Don't have to rush.."
"What's the meaning of rush anyway... only time knows.."
Hanya waktu yang tau apa buru-buru itu. Waktu membantu kita mendefinisikan, dan kita membuat standar. JAdilah kita selalu terkejar-kejar. Padahal apalah artinya terburu-buru jika disejajarkan dengan seluruh waktu yang kita miliki di dunia. Tidak banyak. Itu juga mungkin. Because, only time knows...
sentimentilisme dan melankolialisme
Kemarin saya bicara dengan seorang teman via online...Saya bicara tentang hal-hal yang jarang saya utarakan tapi selalu terpikirkan...Saya bicara tentang cinta, kesepian, dan rutinitas.
Beginilah sepotong dari pembicaraan panjang kami malam itu,
"Kemarin saya lihat kamu di Bandung, naik mobil VW. Jahat ga bilang-bilang pulang teh.."
"Ga mungkin weekdays saya ada di Bandung, Gin.."
"Bukan kemarin sih, beberapa hari lalu, minggu tepatnya.."
"Kalau begitu itu saya."
"Huh bukannya bilang kalau lagi di BAndung, saya kangen ngobrol sama kamu"
"Hayu atuh ketemuan...jika ada kesempatan dan kamu tidak bobogohan, ya"
"Hahaha sudah habis euphorianya, Mam. Sekarang saya lebih banyak sendiri. Padahal saya paling phobia kesendirian."
"Wah kemana teman-teman? Penebeng-penebeng itu? Seperti saya dulu..."
"Ke kampus sih tetap bareng. Tapi khan sudah jarang ke kampus. Selebihnya ya sendiri-sendiri..Payah, mau ketemu temen sendiri saja susah."
"Masa..."
"Iya..eh kamu tau gak si Eceu lagi menghilang. Saya kangen sama dia, sudah 2 bulan ga ketemu dan ngobrol."
"Bahaya oge...kenapa dia ngilang?"
"Entah. Tadinya juga saya khawatir. Tapi setelah saya pikir-pikir, yasudahlah biar saja kalau maunya ngilang begitu. Saya jadi terpikir sebuah teori : setiap orang kadang ingin menghilang dan sendirian saja.With no particular reason."
"Bosan mungkin. Sama rutinitas. Dan teman itu bagian dari rutinitas..."
"Itu sih ya alasan paling masuk akal. Bosan sama rutinitas. Tapi kalau teman sudah jadi rutinitas, kayaknya ada yang salah deh. Hyyyy....takut pasti saya juga memilih kabur.."
"Itulah yang membuat saya selalu menghindari komitmen.Merasa dapat pembenaran nih.."
"Haha..silahkan saja. Semua orang sah membuat alasan yang dianggap benar. Tapi memang benar, rutinitas dan komitmen itu mengerikan kalau kita miliki bersamaan. Pertemanan dan percintaan, kadang berubah jadi rutinitas saja. Pasti inginnya menghilang. Tapi sulit...sudah ada tanggungan berupa komitmen. Membingungkan ya komitmen itu, mau dibawa kemana sih? Jadi apa?"
"Memang..padahalnya dasarnya manusia hanya butuh rasa sayang dan perhatian...kenapa komitmen dibawa-bawa ya......"
Hmmm saya pikir benar juga. Rasa cinta dan sayang bisa kita dapat (atau kita beri) dari mana (dan ke mana) saja. Berkomitmenlah untuk selalu berbagi. Dan rutinitas pasti jadi sebuah omong kosong.
Itu saja.
Saya masih merasa semtimentil dan melankolis. In a different way. Kali ini saya habiskan waktu dengan diri sendiri saja.
Wednesday, March 26, 2008
Horton Hears a Who...!
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Animation |
Begitulah kira-kira yang juga diyakini Horton, si gajah lincah yang menjadi tokoh sentral dalam film ini. Pikirannya yang liar dan sangat optimis, membuatnya punya masalah dengan seisi hutan yang lain, karena mempercayai sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat, disentuh, didengar, dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi Horton--dengan caranya yang aneh dan lucu--tetap optimis untuk membela kepercayaannya itu, meskipun tidak ada yang mau percaya.
Secara garis besar, film ini menceritakan kisah Horton yang berjuang demi apa yang dipercayainya tersebut. Tentu saja, ditambah dengan bumbu-bumbu line lucu khas Jim Carey (yang mengisi suara Horton), dan adegan-adegan slapstick seperti di dalam film Ice Age ( yang juga karya dari pembuat film ini). Memang dalam segi tehnik pembuatan tidak secanggih Ratatouille atau Finding Nemo dan film-film Pixar yang lain, tapi film ini sungguh menghibur. Cocok untuk anak-anak yang datang menemani orang tua mereka--yang mengaku datang menemani anak-anaknya nonton--dan pas untuk yang tengah mencari film dengan pesan moral cukup mengena, ditengah badai film horor indonesia dan film perselingkuhan. Jangan heran kalau tokoh-tokoh yang ditampilkan mirip yang ada di the grinch atau The Cat in the Hat, karena film ini memang diambil dari karya Dr. Seuss, sang pembuat kisah anak-anak ternama itu.
Saya percaya film ini akan membekas di hati banyak penontonnya, meskipun banyak juga yang pesimis, seperti pihak 21 Cineplex yang cuma memberi jatah 2 kali penayangan untuk film ini (berbagi studio dengan tali pocong perawannya dewi persik). Tapi entah, apakah saya punya semangat dan optimisme setara dengan Horton. Karena jika saya punya, pasti saya sudah melihat Horton menari-nari atau mengajak saya ngobrol lewat lubang kecil itu...
Monday, March 17, 2008
When Cinta Laura Ride an Ojek
“Mana ujan..becek...ga ada ojek...”
By : Cinta Laura
Bisa jadi quotes diatas adalah sebuah quotes paling populer dan paling inspiratif di awal tahun ini. Saya mendengarnya hampir tiap hari. Di kampus, di kantor, di televisi, di majalah, bahkan teman-teman saya yang berprofesi sebagai penyiar radio menggunakannya sebagai punchline di akhir kalimat mereka, atau menjadikannya sebagai kalimat pembuka yang sangat catchy. Salah satu e-mail yang paling hot beredar di milis kantor, berisikan sebuah kreasi spektakuler temannya teman. Sebuah lagu sederhana yang dibuat lewat cool edit, dengan durasi sekitar 30 detik, yang berupa versi remix dari “Mana ujan..becek...ga ada ojek...”-nya Cinta Laura. Semua orang langsung download untuk dijadikan ring tone HP yang cool. Lagu itu diputar terus disela dering telepon dari client dan tuts-tuts keyboard yang menemani pemiliknya bekerja. Ada yang mendengarkan sambil geleng-geleng kepala, ada yang sambil tertawa-tawa, ada juga yang sampai teriak ”aduuuuhhhh ini nggak banget deeehhhhh....”(dengan logat Cinta Laura yang dibuat-buat). Tapi entah kenapa, tidak ada satu orang pun yang rela menjadi volunteer, demi kemaslahatan umat, untuk mematikan track lagu itu.
It’s everyone’s guilty pleasure....
Semenjak kemunculannya, Cinta Laura boleh dibilang fenomenal. ABG umur 13 tahun, wajah indo, dengan personality ’bintang’—yang kadang tidak sinkron. Kerap kali mengaku tomboy, gemar mengenakan aksesori berbentuk tengkorak, dan mendengarkan System of a Down. Namun muncul di layar kaca dengan gaun panjang ala Cinderella—sama seperti judul sinetron yang membesarkan namanya—, make up tebal, dan gaya berbicara yang centil khas ABG sinetron jaman sekarang. Tapi bukan itu yang membuatnya jadi fenomenal. Logat bicara nya itu lho....
Entah dibuat-buat, entah memang dari sananya begitu, logat bicara Cinta Laura yang ke-bule-bule-an, membuatnya jadi perhatian (tapi coba perhatikan di sinetron-sinetronnya, dia bicara dalam bahasa Indonesia yang baik-baik saja). Infotainment ikut membantunya, dengan sengaja menanggap Cinta—yang tampaknya sama sekali tidak sadar—dengan meliput dan mewawancarainya untuk hal-hal yang tidak penting. Yang penting, Cinta bicara.. Diawali dengan statementnya tentang penyakit lambungnya, yang orang biasa sebut maag. Cinta punya bahasanya sendiri, ”gastroww....”( i dont even sure how to spell it...). Pembawa acara infotainment ternama Uli Herdinansyah, sampai bertanya-tanya apakah artinya sambil tertawa geli. Dilanjutkan dengan statementnya mengenai bibirnya sendiri. ”Orang bilang bibir aku monyong...seperti Angelina Jollie”. Poor Cinta... Dia pikir monyong itu padanan yang pas untuk bibir tebal. Yah masih banyak lagi statement Cinta yang mengejutkan dengan logat Bule nya yang kental itu.
Kata orang sih norak....tapi tetap ditunggu, dong...!
Sampai akhirnya, muncul lah Cinta dengan statement terakhirnya tentang liburannya ke Bali beberapa waktu lalu. Cinta mengaku sempat kehujanan dan sulit mencari kendaraan untuk bepergian. Tentu saja dengan cara yang tidak biasa dong,”...Mana ujyan...becyek...ga ada owjyekkk...” Boom! Statement yang langsung menjadi highlights dimana-mana.
Padahal, bukannya biasa kalau orang mengeluh becek dan tidak ada ojek ketika hari sedang hujan?
Well...saya acungkan jempol untuk Cinta Laura. Bukan untuk Award aktris sinetron terbaik yang didapatnya tahun lalu. Tapi untuk menjadi Cinta Laura, everyone’s guilty pleasure. Dengan personality bintang nya, ke-tomboy-an nya, dan logat Bule nya yang menjadi trend terkini. Saya membayangkan Cinta sedang duduk menonton TV atau membaca majalah di ruang tengah rumahnya, ditemani sang ibu yang gaya bicaranya hampir sama. Sambil terkikik geli Cinta berkata pada ibunya, ”Mam....I did It.... I made everybody know who I am. And I did make a trend......”
“Good job darling.... It’s every new comer needs...publication.....You’ll be the next rising star baby!” jawab ibunya. Mereka berpelukan lega dan membeli sekantong ‘turkey kebab’ kesukaan Cinta untuk merayakan.
Entah pembicaraan itu dilakukan dengan bahasa Inggris atau bahasa Jawa tulen. Entah juga diakhiri dengan membeli turkey kebab atau getuk lindri. Entah pembicaraan tersebut memang benar-benar terjadi atau tidak. Tapi yang pasti Cinta pantas merayakan sesuatu.
Because, when Cinta Laura Ride an Ojek in the middle of the muddy road, everybody will follow.....
Monday, February 11, 2008
malam minggu
Friday, February 8, 2008
another marriage
Monday, February 4, 2008
Accross the Universe
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Film ini akan menjawab...
Saya merasa bukan orang yang sangat suka sama the Beatles. Kalah lah sama temen saya yang memang mengagung-agungkan mereka serupa dewa dan mengkoleksi lagu-lagu mereka dari yang paling umum, sampai yang paling rare. Tapi betapa kagetnya saya, ketika akhirnya menonton Accross the Universe ini. Ternyata saya ngga kalah lho, pengetahuan lagunya sama fans-fans the Beatles itu....
Terbukti, sepanjang film saya tidak hentinya ikutan sing a long...menikmati soundtrack maupun backsound film ini, yang kesemuanya adalah milik the Beatles yang diaransemen ulang--dengan sangat baik. PErlu dicatat juga, saya sangat merasa puas bernyanyi, karena film ini juga bisa digolongkan sebagai film drama musikal yang sangat kaya lagu sebagai pengganti dialog-dialog pendeknya, lengkap dengan koreografi yang cantik dan tetap 'gagah' untuk para prianya.
Tapi jangan bandingkan film ini dengan Highschool Musical atau Hairspray, yang terasa sangat ceria dan--yah datar saja. Menonton film ini, siap-siap diaduk-aduk emosi anda. Mata anda akan dimanjakan dengan pilihan setting tempat dari sang sutradara yang sangat indah dan 'mengagetkan'. Karena, bisa saja dari dataran Inggris yang aristokrat dan klasik, anda dipindahkan ke daerah suburban New York yang padat, atau medan perang di Vietnam yang penuh darah. Begitu juga dengan pilihan tone gambarnya. Jika mata anda sudah terasa hangat dengan warna-warna khas springtime bersiaplah untuk silau dengan warna-warna pshychadelic khas Flower Generation di thn 60an.
Semakin kebelakang anda mungkin akan makin terlongo-longo dengan tingkat absurditas film ini yang kental dengan aksi-aksi teaterikal. Tapi jangan khawatir, tidak akan terlalu mengganggu alur cerita nya, yang masih berada diseputar cinta.
Bukan...bukan...bukan cinta-cintaan seperti yang lain. Cinta dalam film ini diartikan berbeda.... Cinta kepada lawan jenis, cinta kepada teman, cinta kepada hidup, cinta kepada negara, dan cinta kepada musik tentunya......
Tinggal anda siapkan mata, hati, dan juga telinga....untuk ikut merasakan aura cinta dalam film ini...dan ikutlah bernyanyi......
Nanti anda akan tahu, seberapa familiar Anda dengan lagu-lagu the Beatles yang memang tampaknya belum juga mati....
ps : siap-siap juga dengan kejutan cameo yang spektakuler !
Saturday, January 26, 2008
11 matahari
Saya dan teman-teman sering sekali mengeluh kalau sudah menginjak daerah itu. Tempat ke arah luar
Mataharinya.
Aduh, setiap hari di sana sama seperti seminggu berjemur di pantai. Mataharinya bukan hanya menyinari, tapi menyeringai, bahkan menusuk. Teman saya bahkan sempat berteori, tampaknya matahari di sana ada dua. Huah....satu matahari saja sudah bikin pusing kalau lama-lama terkena sinarnya, belum lagi ditambah penipisan ozon, Bisa bikin kanker kulit. Ada dua matahari...bayangkan saja sendiri....double pusing...double kanker....
Sore itu saya juga baru pulang dari ”negeri dua matahari” itu. Saya tidak berharap menemukan matahari-matahari lainnya yang sejenis itu. Saya ingin matahari yang hangat, yang menyinari...bukan menyeringai. Telepon saya berdering. Katanya matahari saya akan pulang hari ini. Ah, akhirnya...ada juga matahari yang saya tidak keberatan lama-lama disinari.
Matahari.
Begitu saya biasa menyebut dia. Karena dia hangat dan menerangi. Dia menyebut saya bunga matahari. Saya tidak keberatan. Bunga matahari biasanya akan mencari sinar matahari. Saya punya banyak alasan untuk terus mencari dia. Saya juga yakin dia akan terus dengan sabar terbit untuk menerangi hari saya. Matahari memang seharusnya begitu, menyinari dengan sabar.
Saya menunggu agak lama, dan akhirnya melihat matahari saya berjalan menuju saya. Wajah lelah setelah perjalanan jauh dan kerepotan membawa barang-barangnya. Tangannya penuh... Satu tas di tangan kiri dan sesuatu berwarna kuning di tangan kanan. Benda itu begitu besar dan familiar, saya langsung mengenalinya sekali lihat.
Bunga Matahari.
Tanpa senyum yang berlebihan atau kata-kata pengantar yang picisan seperti tulisan saya ini, dia berikan bunga matahari itu. Bukan hanya satu, tapi sepuluh. Bukan juga untuk moment istimewa yang langsung sibuk saya ingat-ingat, tapi hanya karena ingin.
Benar mungkin kata orang tua. Hati-hati dengan apa yang kau inginkan. Kadang-kadang tidak selalu seperti harapan. Saya cuma ingin satu matahari, yang datang sebelas. Iya, sebelas. Bunga-bunga itu, dan dia sendiri.
Jadi, kalau dua matahari itu double pusing dan double kanker...
11 matahari = everything i could wish for....
Friday, January 4, 2008
kenapa harus mandi ?
jawab teman saya sambil jijik. Karena dia tahu saya bertanya 'kenapa harus mandi?' untuk menegaskan tindakan saya yang tidak mandi dari pagi. Sedangkan jam sudah menunjukan pukul 14. 30. Saya duduk di meja kantor menghadap komputer sambil memberengut. Bukan itu maksud pertanyaan saya. Saya cuma wondering, kenapa harus ada sebuah kegiatan bernama mandi. Tujuannya memang bersih-bersih dari segala jenis kotorn. Misalnya, belek, iler, keringet, dll. Tapi kenapa juga harus ada kotoran-kotorn tersebut? Bukan prosesnya loh. Tapi alasan kenapa mereka harus eksis.PAsti jawabannya biar ada yg dibersihin waktu mandi.
Yah...balik lagi ke pertanyaan pertama dooonggg....
Memang sih itu sama saja kayak bertanya kenapa gajah itu namanya gajah. Sampai tua juga pasti pertanyaan berputar di sekitar itu saja. Jawabannya juga karena gajah itu, ya gajah.
Sesimple itu,,,
PAdahal ada hal-hal di dunia yang bikin kita banyak berpikir, kenapa harus ada dan harus terjadi. Biasanya sih hal-hal yang kita benci ( seperti mandi, untuk saya). Bukannya menjalani, kita malah sibuk bertanya 'kenapa'. Pasti lah jadi frustasi sendiri. Karena nantinya jawabnya cuma 'karena harus'.
Well, memang sesimple itu...
Karena di dunia ini banyak hal yang ga perlu kita mengerti. Jalani saja. Maka kita akan baik-baik saja. Berusaha mengerti, atau malah mempertanyakan, itu malah akan memaksa kita berusaha lebih keras dan jatuh frustasi.
Mandi ga yah? Kenapa juga harus ?
kami keluarga besar
Wednesday, January 2, 2008
teman dan anting hijau tosca
kaos garis pink-merah-hijau
gelang warna-warni
rok jeans guntingan belel
stocking ungu
converse butut pink
tas kanvas kotak-kotak ungu-putih
"What's up with the earings, beyb?"
"Iya kenapa sih warnanya harus ijo, ga nyambung tau!"
"Stockingnya ungu lagi..."
"Sepatu lo...aduuuhhh...buang aja deh mendingan!"
"Kok, gaya lo sekarang kekinian banget sih?"
"Mo konser ya, bareng Mulan Kwok..."
Tertawa-tawa lah mereka, sambil geleng2 kepala. Dikiranya saya buta warna, sampai2 pakai setelan sejenis itu.
Saya sih cuma ikutan ketawa. Teman-teman saya memang kreatif kalau disuruh ngomentarin atau mengejek. Ada saja yang bisa mereka katakan sampai bikin orang jadi ngga pede sendiri.
"Saya suka aja...."
Jawaban yang belum juga bisa membuat mereka berhenti mengejek. Tapi seorang teman nyeletuk lagi. Celetukan favorite saya sore itu.
"Pasti ngga nyambung lah,,,dia mah gitu!" disambut tawa lebih keras dari yang lain. Beserta anggukan2 dalam, tanda setuju banget.
Saya tersenyum lebar.
Hahaha...ini baru namanya teman.
Seberapa jahat mereka complain, seberapa keras mereka tertawa, dan seberapa senang mereka mengejek, tetap saja akhirnya maklum.
Itu tandanya mereka sudah kenal betul siapa saya, baju apa yang saya suka kenakan, makanan bagaimana yang saya suka makan, bahkan sampai kebiasaan saya sebelum tidur.
Mereka mengejek tapi tidak melarang.
Teman ya harusnya begitu... Mengerti dan tidak berusaha mengubah.
ah...ternyata saya ada di tengah orang-orang yang tepat.
Pikir saya sambil pamit pulang....
Kalung warna-warni
kaos hijau pupus dengan bercak-bercak cat
leging bergaris hitam-putih
celana pendek hitam
converse hijau shocking
tas orange
Besok pakai baju itu ahhhh....
teman, teman, dan teman juga
foto seorang tante dan keponakan yang seru. SERU..memang begitu kalau ada dia.
buat sebagian orang, teman itu ada kategorinya masing-masing. Teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kantor, teman nongkrong, teman ngobrol, teman baru ketemu, teman say hi....teman ini dan teman itu.
buat saya, teman ya teman saja. Buktinya, saya satukan mereka dalam kategori : teman, teman, dan teman juga.
Monday, December 31, 2007
rasa-rasanya..
ini idenya tiga orang saudara kembar yang beda karakter gitu deh, tapi saya menerjemahkannya sebagai saya, dan saya saya yang lain. Well, banyak yg menunggu ingin keluar tampaknya...
hmmm...rasa-rasanya memang saya agak kurang oke menjadi model. Tubuh kurang proporsional. Wajah juga. Huh...! thx untuk fotografernya yang telah membuat tampilan saya sedikit membaik..dan...well...MEMBURUK...
*photographed by : iko
sudahlah
Saya memejamkan mata karena kelelahan.
Kata teman saya hari ini saya sangat enerjik. Mondar mandir kesana kemari, tertawa-tawa akan semua hal, dan berbicara dengan keramah-tamahan yang berlebih kepada semua orang. Well, pantas saja bukan kalau sampai saya kelelahan di akhir hari.
Dalam pejaman mata itu, saya membayangkan dia. Matahari pagi, siang, sore—bahkan di malam hari dia masih matahari—yang sudah lama sekali saya rindukan sinarnya. Saya pikir dia mungkin sekarang sedang melakukan hal yang sama dengan saya. Memejamkan mata karena kelelahan. Saya melihat dia hari ini sangat enerjik. Mondar mandir kesana kemari, tertawa-tawa akan semua hal, dan berbicara dengan keramah-tamahan yang berlebih kepada semua orang. Well, pantas saja bukan kalau sampai dia kelelahan di akhir hari, seperti saya.
Kami seperti orang gila...
Setidaknya dia pikir dia begitu, yang menurut saya sama sekali tidak. Saya lebih gila. Berusaha bersikap biasa—tapi dengan berlebihan yang akan membuat orang yang sedikit peka tahu ada yang tidak beres—padahal saya kebingungan. Kebingungan menghadapi perasaan saya sendiri. Tidak enak rasanya ketika mengetahui seseorang yang paling saya sayangi kehilangan arah, dan saya tidak mampu menjadi sandarannya. Karena ketika dia kehilangan arahnya, saya pun begitu. Kehilangan satu sosok yang sudah sangat akrab, digantikan dengan sebentuk wajah putus asa. Saya kesal tidak bisa menjadi sesuatu yang lebih berguna. Hanya duduk mematung di sebelahnya, berusaha meyakinkan dia bahwa saya ada. Saya ada dan menemaninya dengan cara saya yang sampah, sehingga dia tidak perlu merasa sendirian lagi. Entah apakah keberadaan saya berarti untuk dia, tapi saya hanya bisa melakukan itu.
Lalu dari keheningan itu tiba-tiba tercipta sebuah tawa. Entah berasal dari ceritanya yang sangat lucu—seperti biasa—atau karena kami menertawakan perasaan kami masing-masing. Kami merasa tidak pantas mempertanyakannya. Kami memutuskan untuk melanjutkan tertawa-tawa dan pergi ke luar bertemu orang-orang. Kami mondar mandir kesana kemari, tertawa-tawa akan semua hal, dan berbicara dengan keramah-tamahan yang berlebih. Entah berapa orang yang kami temui malam itu. Seingat saya banyak sekali. Saya juga ingat satu hal. Semua orang menatap kami dengan lega. Tampaknya bersyukur melihat kami sudah tertawa dan gembira lagi.
Sedangkan saya, saya punya alasan saya sendiri untuk merasa lega. Setidaknya saya tidak perlu lagi mempertanyakan dan berusaha memberi tahu apa pun lagi. Toh sekarang kami sudah tertawa-tawa lagi...
‘...Be patient, try harder, I’ll help u in my own way
See clearer, be happy, honey we could be all right
And this is all i can do, from now u’re on ur own...’
( All I Can Do—Club 8 )
hujan dan kesendirian
Saya menangis di tengah hujan dan kesendirian.
Sebuah kombinasi yang sangat pas memang. Hujan, sendirian, lalu kesepian. Saya membuka sebuah album kenangan berisi kisah cinta kekanak-kanakan yang saya miliki dahulu. Entah kenapa saya merasa album itu sudah cukup lama tidak tersentuh dan harus dibuka malam itu. Bukan kombinasi yang tepat sebetulnya. Hujan, sepi, sendiri, dan kenangan... Seperti yang saya duga, hanya akan membawa kegalauan. Saya terus membuka album itu. Tokoh di dalamnya seolah bergerak-gerak. Saya sedang menonton sebuah film pendek, berisikan sebuah perjalanan. Perjalanan panjang berumur pendek yang harus diakhiri dengan kalimat benci.
Saya ingat pernah mengirim sebuah kartu bertulisan kurang lebih “love is a journey, and I’m glad to have this journey with you.” Picisan. Teman saya membacanya keras-keras dan menjadikannya ejekan selama beberapa lama. Tapi memang tak pernah sama artinya ketika memang ditujukan untuk seseorang. Dia menyimpannya di sebuah tempat yang rapih, membawanya kemanapun dia pergi. Itu jimat, katanya.
Sebulan setelahnya, dia merobek kartu itu, dan melemparkannya di depan muka saya—yang juga masih saya ingat betul. Saya tidak pernah melihat kebencian yang begitu besar—well mungkin lebih tepatnya kekecewaan—dari tatapan seseorang. Tapi dia melakukannya malam itu, dan saya seketika takut. Takut mengambil jalann yang salah.
Saya ingat saya pernah memohonnya untuk mengerti saja dan tidak pergi. Saat itu dia terlihat sangat menginginkannya, tapi saya tahu hatinya tidak. Lalu dia mengabulkan permintaan saya. Saya tahu itu pasti terjadi.
Beberapa lama kemudian saya menemukan saya menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkannya dulu. Dia memohon dan meminta. Menagih janji, menangis, dan merengkuh saya dalam-dalam. Saya kosong, tidak bergeming.
Saya ingat saya pernah menyanyikan sebait lagu Grow Old with You. Saya bilang lagu itu untuk dia. Waktu itu saya mempunyai sekelebat gambaran keluarga yang saya miliki sendiri. Dia ada di dalamnya.
Beberapa waktu sebelum cerita itu berakhir, kami duduk berdua di pinggir jalan. Makan siang seperti biasa. Yang tidak biasa, katanya pagi itu dia melihat gambaran masa depannya. Bak mandi dan jamban saksinya. Katanya saya harus melengkapi gambaran itu.
Saya ingat dia selalu menjadi orang yang tidak tahu kompromi. Saya memakai sebuah jaket buerbunga yang sangat dia benci. Dia mengeluh terus dan saya tidak mau dengar. Bertengkar. Gara-gara sepotong jaket berbunga warna orange. Akhirnya saya tetap tidak mau membuka jaket itu. Dia cemberut, tapi tetap berjalan di belakang saya.
Beberapa waktu kemudian saya ingin memakai jaket itu lagi. Tapi saya tidak bisa menemukannya dimanapun. Saya teringat kisah jaket berbunga warna orange. Tampak dia tertinggal di sebuah kendaraan beraroma bunga berwarna orange.
Saya ingat suatu siang yang panas. Saya terus-terusan menengok ke belakang. Menunggunya berpindah ke samping saya dan menggandeng saya. Dia tetap berjalan di belakang saya.
Saya selalu minta dia untuk berjalan di samping saya. Tapi dia lebih suka melihat saya dari belakang. Menjaga saya dari belakang. Begitu katanya.
Saya ingat berjalan di sebuah keramaian dan menemukan seseorang yang suka sekali mengabadikan moment. Dia mengeluarkan sebuah kamera dari kantongnya, dan dengan tanpa alasan membidik ke arah crowd. Saya berdiri di sebelahnya memandangi.
Saya juga suka mengabadikan moment. Namun saya melakukannya dengan mata dan hati.
Maka saya simpan semuanya dalam satu album. Semoga dia juga punya album miliknya. Semoga dia juga belum mengganti posisi album itu di urutan teratas. Sebab ketika dia pikir saya telah menukarnya dengan album yang lebih baru, dia hanya lupa. Saya sangat suka mengabadikan moment...bersama dia.