bukan itu bukan siapa2 hanya orang iseng yang vandal
ini kisah saya bersama tiga orang lelaki di malam minggu...aneh tapi nyata, ternyata menyenangkan juga....hahaha
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Saya dan teman-teman sering sekali mengeluh kalau sudah menginjak daerah itu. Tempat ke arah luar
Mataharinya.
Aduh, setiap hari di sana sama seperti seminggu berjemur di pantai. Mataharinya bukan hanya menyinari, tapi menyeringai, bahkan menusuk. Teman saya bahkan sempat berteori, tampaknya matahari di sana ada dua. Huah....satu matahari saja sudah bikin pusing kalau lama-lama terkena sinarnya, belum lagi ditambah penipisan ozon, Bisa bikin kanker kulit. Ada dua matahari...bayangkan saja sendiri....double pusing...double kanker....
Sore itu saya juga baru pulang dari ”negeri dua matahari” itu. Saya tidak berharap menemukan matahari-matahari lainnya yang sejenis itu. Saya ingin matahari yang hangat, yang menyinari...bukan menyeringai. Telepon saya berdering. Katanya matahari saya akan pulang hari ini. Ah, akhirnya...ada juga matahari yang saya tidak keberatan lama-lama disinari.
Matahari.
Begitu saya biasa menyebut dia. Karena dia hangat dan menerangi. Dia menyebut saya bunga matahari. Saya tidak keberatan. Bunga matahari biasanya akan mencari sinar matahari. Saya punya banyak alasan untuk terus mencari dia. Saya juga yakin dia akan terus dengan sabar terbit untuk menerangi hari saya. Matahari memang seharusnya begitu, menyinari dengan sabar.
Saya menunggu agak lama, dan akhirnya melihat matahari saya berjalan menuju saya. Wajah lelah setelah perjalanan jauh dan kerepotan membawa barang-barangnya. Tangannya penuh... Satu tas di tangan kiri dan sesuatu berwarna kuning di tangan kanan. Benda itu begitu besar dan familiar, saya langsung mengenalinya sekali lihat.
Bunga Matahari.
Tanpa senyum yang berlebihan atau kata-kata pengantar yang picisan seperti tulisan saya ini, dia berikan bunga matahari itu. Bukan hanya satu, tapi sepuluh. Bukan juga untuk moment istimewa yang langsung sibuk saya ingat-ingat, tapi hanya karena ingin.
Benar mungkin kata orang tua. Hati-hati dengan apa yang kau inginkan. Kadang-kadang tidak selalu seperti harapan. Saya cuma ingin satu matahari, yang datang sebelas. Iya, sebelas. Bunga-bunga itu, dan dia sendiri.
Jadi, kalau dua matahari itu double pusing dan double kanker...
11 matahari = everything i could wish for....
Saya memejamkan mata karena kelelahan.
Kata teman saya hari ini saya sangat enerjik. Mondar mandir kesana kemari, tertawa-tawa akan semua hal, dan berbicara dengan keramah-tamahan yang berlebih kepada semua orang. Well, pantas saja bukan kalau sampai saya kelelahan di akhir hari.
Dalam pejaman mata itu, saya membayangkan dia. Matahari pagi, siang, sore—bahkan di malam hari dia masih matahari—yang sudah lama sekali saya rindukan sinarnya. Saya pikir dia mungkin sekarang sedang melakukan hal yang sama dengan saya. Memejamkan mata karena kelelahan. Saya melihat dia hari ini sangat enerjik. Mondar mandir kesana kemari, tertawa-tawa akan semua hal, dan berbicara dengan keramah-tamahan yang berlebih kepada semua orang. Well, pantas saja bukan kalau sampai dia kelelahan di akhir hari, seperti saya.
Kami seperti orang gila...
Setidaknya dia pikir dia begitu, yang menurut saya sama sekali tidak. Saya lebih gila. Berusaha bersikap biasa—tapi dengan berlebihan yang akan membuat orang yang sedikit peka tahu ada yang tidak beres—padahal saya kebingungan. Kebingungan menghadapi perasaan saya sendiri. Tidak enak rasanya ketika mengetahui seseorang yang paling saya sayangi kehilangan arah, dan saya tidak mampu menjadi sandarannya. Karena ketika dia kehilangan arahnya, saya pun begitu. Kehilangan satu sosok yang sudah sangat akrab, digantikan dengan sebentuk wajah putus asa. Saya kesal tidak bisa menjadi sesuatu yang lebih berguna. Hanya duduk mematung di sebelahnya, berusaha meyakinkan dia bahwa saya ada. Saya ada dan menemaninya dengan cara saya yang sampah, sehingga dia tidak perlu merasa sendirian lagi. Entah apakah keberadaan saya berarti untuk dia, tapi saya hanya bisa melakukan itu.
Lalu dari keheningan itu tiba-tiba tercipta sebuah tawa. Entah berasal dari ceritanya yang sangat lucu—seperti biasa—atau karena kami menertawakan perasaan kami masing-masing. Kami merasa tidak pantas mempertanyakannya. Kami memutuskan untuk melanjutkan tertawa-tawa dan pergi ke luar bertemu orang-orang. Kami mondar mandir kesana kemari, tertawa-tawa akan semua hal, dan berbicara dengan keramah-tamahan yang berlebih. Entah berapa orang yang kami temui malam itu. Seingat saya banyak sekali. Saya juga ingat satu hal. Semua orang menatap kami dengan lega. Tampaknya bersyukur melihat kami sudah tertawa dan gembira lagi.
Sedangkan saya, saya punya alasan saya sendiri untuk merasa lega. Setidaknya saya tidak perlu lagi mempertanyakan dan berusaha memberi tahu apa pun lagi. Toh sekarang kami sudah tertawa-tawa lagi...
‘...Be patient, try harder, I’ll help u in my own way
See clearer, be happy, honey we could be all right
And this is all i can do, from now u’re on ur own...’
( All I Can Do—Club 8 )
Saya menangis di tengah hujan dan kesendirian.
Sebuah kombinasi yang sangat pas memang. Hujan, sendirian, lalu kesepian. Saya membuka sebuah album kenangan berisi kisah cinta kekanak-kanakan yang saya miliki dahulu. Entah kenapa saya merasa album itu sudah cukup lama tidak tersentuh dan harus dibuka malam itu. Bukan kombinasi yang tepat sebetulnya. Hujan, sepi, sendiri, dan kenangan... Seperti yang saya duga, hanya akan membawa kegalauan. Saya terus membuka album itu. Tokoh di dalamnya seolah bergerak-gerak. Saya sedang menonton sebuah film pendek, berisikan sebuah perjalanan. Perjalanan panjang berumur pendek yang harus diakhiri dengan kalimat benci.
Saya ingat pernah mengirim sebuah kartu bertulisan kurang lebih “love is a journey, and I’m glad to have this journey with you.” Picisan. Teman saya membacanya keras-keras dan menjadikannya ejekan selama beberapa lama. Tapi memang tak pernah sama artinya ketika memang ditujukan untuk seseorang. Dia menyimpannya di sebuah tempat yang rapih, membawanya kemanapun dia pergi. Itu jimat, katanya.
Sebulan setelahnya, dia merobek kartu itu, dan melemparkannya di depan muka saya—yang juga masih saya ingat betul. Saya tidak pernah melihat kebencian yang begitu besar—well mungkin lebih tepatnya kekecewaan—dari tatapan seseorang. Tapi dia melakukannya malam itu, dan saya seketika takut. Takut mengambil jalann yang salah.
Saya ingat saya pernah memohonnya untuk mengerti saja dan tidak pergi. Saat itu dia terlihat sangat menginginkannya, tapi saya tahu hatinya tidak. Lalu dia mengabulkan permintaan saya. Saya tahu itu pasti terjadi.
Beberapa lama kemudian saya menemukan saya menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkannya dulu. Dia memohon dan meminta. Menagih janji, menangis, dan merengkuh saya dalam-dalam. Saya kosong, tidak bergeming.
Saya ingat saya pernah menyanyikan sebait lagu Grow Old with You. Saya bilang lagu itu untuk dia. Waktu itu saya mempunyai sekelebat gambaran keluarga yang saya miliki sendiri. Dia ada di dalamnya.
Beberapa waktu sebelum cerita itu berakhir, kami duduk berdua di pinggir jalan. Makan siang seperti biasa. Yang tidak biasa, katanya pagi itu dia melihat gambaran masa depannya. Bak mandi dan jamban saksinya. Katanya saya harus melengkapi gambaran itu.
Saya ingat dia selalu menjadi orang yang tidak tahu kompromi. Saya memakai sebuah jaket buerbunga yang sangat dia benci. Dia mengeluh terus dan saya tidak mau dengar. Bertengkar. Gara-gara sepotong jaket berbunga warna orange. Akhirnya saya tetap tidak mau membuka jaket itu. Dia cemberut, tapi tetap berjalan di belakang saya.
Beberapa waktu kemudian saya ingin memakai jaket itu lagi. Tapi saya tidak bisa menemukannya dimanapun. Saya teringat kisah jaket berbunga warna orange. Tampak dia tertinggal di sebuah kendaraan beraroma bunga berwarna orange.
Saya ingat suatu siang yang panas. Saya terus-terusan menengok ke belakang. Menunggunya berpindah ke samping saya dan menggandeng saya. Dia tetap berjalan di belakang saya.
Saya selalu minta dia untuk berjalan di samping saya. Tapi dia lebih suka melihat saya dari belakang. Menjaga saya dari belakang. Begitu katanya.
Saya ingat berjalan di sebuah keramaian dan menemukan seseorang yang suka sekali mengabadikan moment. Dia mengeluarkan sebuah kamera dari kantongnya, dan dengan tanpa alasan membidik ke arah crowd. Saya berdiri di sebelahnya memandangi.
Saya juga suka mengabadikan moment. Namun saya melakukannya dengan mata dan hati.
Maka saya simpan semuanya dalam satu album. Semoga dia juga punya album miliknya. Semoga dia juga belum mengganti posisi album itu di urutan teratas. Sebab ketika dia pikir saya telah menukarnya dengan album yang lebih baru, dia hanya lupa. Saya sangat suka mengabadikan moment...bersama dia.
Saya terbangun dengan sayup nyanyian. Sudah lama saya tahu lagu itu, tapi saya tidak tahu lagu itu akan terdengar begitu indah. Saya tertawa mendengarnya bernyanyi. Well...not that great I have to admit. Dia juga tidak hapal liriknya, apalagi saya.
Hmmm pagi yang indah. Pagi pertama dalam beberapa bulan terakhir, dimana saya terbangun dengan senyum ( I always hate waking up early in the morning ). Merasakan perasaan akrab yang sudah lama saya lupakan. Love isn’t the right word. Tapi saya juga bingung jika harus mendiskripsikannya lebih dalam. Yang jelas rasanya hangat sekali, sekaligus menyenangkan.
"then U said go slow, i fall behind
the second hand of life
time after time
if u fall i will catch u ill be waiting
time after time..."
Saya membuka sebuah folder dengan nama Freezin’ Moments.
Apa namanya ya rasa menggelitik itu ?
Yang membuat matamu berbinar tak karuan dan penuh khayal.
No, not love if u answer my silly question.
Karena bukan cinta yang akan membuatmu berkhayal akan sesuatu.
Cinta hanya akan membuat rasa ingin memiliki itu muncul. Dan tentu saja sesuatu yang binal akan mengikuti. Lalu…cinta bukan jadi cinta lagi. Cinta jadi butuh. Cinta jadi terbiasa. Cinta jadi takut sakit.
Tapi, kalau rasa yang itu beda.
Rasa itu menghidupkan mimpi, mendebarkan jantung, membangkitkan harapan, mengundang kupu-kupu beterbangan di dalam perut. Geli tapi menyenangkan.
Sayangnya, kupu-kupu itu sering sekali cepat pergi, waktu rasa itu sudah berubah jadi keinginan. Keinginan yang mendorong rasa ingin tahu, meminta kepastian, mencari kepuasan atau malah, kenyataan yang menyakitkan.
Gagal menjadi rasa tak bernama yang menyenangkan, lalu kemudian memiliki wajah baru bernama cinta.
“Kenapa rasanya sesak yah?”
“Sudah saya bilang...dilupakan cepat-cepat itu tidak enak.”
“Saya nggak pernah ingin melupakan. Kenapa orang ingin cepat-cepat melupakan?”
“Karena kamu tidak layak diingat. Kamu tidak seindah itu”
“Dia juga tidak seindah itu”
“Setidaknya kamu punya sesuatu yang indah sekarang. Dia hanya sedang mengusahakan miliknya”
“Dengan melupakan saya begitu cepat. Kasihan..dia hanya akan menemukan saya yang berbeda.”
“Sudahlah, terima saja kalau kamu dilupakan. Itu setimpal.”
“Tidak adil ketika kamu harus merasa sesak dan tidak tahu kenapa.”
“Kamu tahu kenapa, kamu baru saja dilupakan itu saja...”
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku , oh sayangku kau begitu...sempurna
(andra and the backbone—sempurna)