Thursday, November 12, 2009

this time i write for my self

yes, this time i will write for myself

ya, kali ini saya akan menulis untuk diri saya sendiri

i will allow people to read my mind once again, but not for them, it's just for me to let them know

saya sekali lagi akan membiarkan orang lain membaca pikiran saya, untuk saya yang membiarkan mereka tahu, sekali lagi....

semoga siapapun tidak keberatan, bahkan ketika namanya ada dalam tulisan (dan pikiran saya).

Welcome....
Selamat datang....

Di dunia saya yang dipenuhi garis-garis berwarna-warni
in my colorful-striped world

Wednesday, June 10, 2009

strawberry on the shortcake

kamu dan diri mu
kamu dan kehidupan baru mu

ijinkanlah saya menjadi bagiannya

                                           ****

a piece of cake, with a strawberry on the top of it.
Where would you start to eat ?

the cake first, and you left the strawberry for the last bite.
or
you take the strawberry first, and after that, you start eating the cake untill the last bite...

Sebuah film menganalogikan cara memakan cake ini, sebagai cara menyayangi.

Kebanyakan orang akan memilih cara pertama. Memisahkan strawberry dari cake mereka, meletakkannya di pinggiran piring, dan memakannya sebagai suapan terakhir yang memuaskan, setelah semua cake itu habis. Alasannya, karena mereka sangat menyukai strawberry itu, dan ingin menyimpannya dulu, untuk dinikmati paling akhir. Untuk memberikan kepuasan akhir yang nikmat.

Sebagian orang akan melahap strawberry itu lebih dulu, dan menghabiskan cake nya belakangan. Bukan karena mereka membenci strawberry. Mereka melakukannya justru karena mereka sangat suka strawberry. Dan apapun yang disukai, harus menjadi yang 'pertama'.

Cake adalah kehidupan.
Dan strawberry adalah segala sesuatu yang bisa membuat hidup ini jauh lebih indah.
Seseorang yang penting.
Yang disayangi melebihi apapun, bahkan melebihi kehidupan itu sendiri.

Kamu adalah strawberry diatas cake saya. Seseorang yang penting, yang membuat hidup saya lebih berwarna. Namun saya memilih untuk memakan strawberry saya terakhir.

Karena saya ingin kamu menemani saya hingga gigitan terakhir kehidupan.

Seperti strawberry di sisi piring, yang menunggu untuk dihabiskan, ketika yang empunya sudah berhasil menelan kehidupan dengan sukses, dan telah menemukan nikmatnya kehidupan. Untuk kemudian berbagi manisnya hidup, dengan sepotong strawberry dengan warnanya yang merah dan rasanya asam, untuk membuat kehidupan makin terasa manis.

                                       ***

kamu dan diri mu
kamu dan kehidupan baru mu

ijinkanlah saya menjadi bagiannya

seperti dulu, waktu hanya ada kamu dan saya....

Tuesday, June 9, 2009

mulai menulis (lagi)

ketika bicara bukanlah pilihan
saya menulis

ketika menulis bukanlah pilihan
saya menangis

menangisi semua yang terlambat saya lakukan
menangisi semua yang terlalu cepat saya putuskan
menangisi semua kombinasi kepahitan yang datang bernama kehidupan

dan kegetiran akan mengalir seperti tulisan

Lalu saya bisa mulai menulis lagi dengan tenang...

Sunday, March 22, 2009

....(they said i shouldn't publish)

yes, they said I shouldn't publish my blog. I don't know why....

As I know, blog is my only tools to widely communicating....

why
why
why...???

Tuesday, March 17, 2009

+10

Banyak hal yang mencantumkan +10 di permukaannya :

+10 di mainan anak-anak
Yang concern pasti ibu-ibu. Karena kalau anaknya masih di bawah 10 tahun, bahayanya bisa macam-macam. Tersedak (mainan), keracunan (mainan), atau....ya anaknya tidak bisa memainkan mainan tersebut. Anaknya pasti tidak perduli. Karena buat mereka, mainan ya untuk dimainkan, bukan untuk dilihat dulu kemasan nya, baru dibeli.

+10 di wahana taman bermain
Yang concern sudah pasti petugas yang bertanggung jawab untuk wahana tersebut. Kalau tidak, bisa jadi mengakibatkan korban (jiwa maupun psikis). Pengunjung sih hanya pasrah. Menurut saja, daripada acara liburan berubah jadi bencana.

+10 di ulangan.
Yang concern hanya ibu guru dan pak guru. Karena artinya, didikan mereka berhasil. Bukan karena muridnya jenius, tapi pretise sebagai guru unggulan. Sedangkan buat murid, itu sama saja dengan memberi cap "NERD" di kepala mereka, dan membuat mereka jauh dari kehidupan sosial yang wajar.

Saya bukan ibu-ibu.
Saya juga bukan petugas wahana taman bermain.
Dan yang jelas, sejak masuk kuliah, nilai yang saya dapat sudah tidak diberikan dengan angka lagi.
Jadi saya tidak peduli. Buat apa menambah masalah-masalah saya dengan +10 jenis itu.

Tapi bukan berarti +10 bukan masalah.

Hari itu saya menemukan +10 yang lain. Yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kepala saya yang -10 ini.

Timbangan + 10 = panic attack.

Artinya saya harus turun dari timbangan itu secepat mungkin, dan kemudian membakar timbangan itu, demi menghilangkan bukti bahwa saya sudah memasuki tahap overweight.

Akhirnya saya peduli juga. karena +10 di perut, artinya,
semua baju yang saya punya akan terus kekecilan.





Wednesday, February 11, 2009

Reflection

Sepotong tulisan bikinan sahabat :

Desember 2005

Oooowwww,,
Tiba-tiba back sound yang muncul adalah lagu secret garden, jelas yang terpercik dalam pikiran saya adalah satu nama..
Ginna,,
Juga berbagai hal yang berkaitan dengan nya..

Saya cukup mengenal karakternya walaupun kadang ada saja kelakuannya yang saya tidak mengerti,,
Maklum manusia itu padanya berbeda..
Dan memang pada dasar nya semua manusia itu unik..
Kalo saya memandang Gina, dia memiliki karakter yang cukup unik..
Dia karakternya Sangunui yang Populer bangetlah..
Emosional, spontanius, mudah berteman, dan lainnya..
Bila saya teringat tentang dia, pasti bibir saya akan memicing dan tersenyum..
Sekarang pun saat saya menulis ini, saya senyum-senyum sendiri..
Memang wanita yang aneh..
Dia selalu ingin menjadi wanita yang kuat,,
Jelas kuat, dengan jari kaki yang selalu bergerak-gerak dengan ga jelas..

Hmmm..
Sekarang dia sedang menghadapi konflik dengan pacarnya,,
Aduh Gee,,
Bukannya saya pengen ngebahas, cuman saya hanya menuangkan berbagai kata yang muncul dalam pikiran saya..
Ga apa-apa ya..
Jangan marah,,

Saya rasa
Ginna itu pengen..
Sebuah perhatian yang sederhana.
Sebuah perhatian yang layaknya diberikan kepada seorang wanita.
Sebuah keinginan untuk diperhatikan.
Sebuah keinginan untuk dimanja.
Sebuah keinginan untuk disayang
Sebuah keinginan untuk diperlakukan like ordinary woman.
Sebuah keinginan untuk menjadi prioritas, tidak perlu untuk selamanya tapi pada saat yang tepat.
Maybe she needs a little bit more attention..?

Dia berusaha menekankan pada dirinya bahwa dia harus kuat,,
Itu bagus, itu patut di beri acungan jempol
Tapi dia harus ingat pada kodratnya.
Dia itu wanita..
Wanita itu sensitif,
Wanita itu sangat-sangat emosional..

Menurut saya mungkin sudah saatnya tangis itu jatuh..
Sudah terlalu lama tangis itu bergantung..
Tangis itu sudah mulai lelah..

Menangis bukanlah suatu yang hina
Menangis itu hal yang normal,,
Cobalah tumpahkan semuanya,,
 
Tapi itu hanya merupakan pandangan saya,,
Saya hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran,,
Maap ya,,

Dua tahun kemudian, saya baru menyadari, apa yang di tulisnya mungkin benar. Saya akhirnya belajar menyayangi dan berbaikan dengan diri saya sendiri.

That's what friends are for
To reflect ourself in honest way
Because sometimes, people who cares knows better....
 
".....Who is that girl I see
Staring straight back at me
When will my reflection show
Who I am inside

I am now
In a world where I have to hide my heart
And what I believe in
But somehow
I will show the world
Whats inside my heart
And be loved for who I am...."
(Reflection, by : Christina Aguilera)

People are People

Bandung malam itu lumayan dingin. Saya harap-harap cemas menunggu kedatangan orang itu. Mantan pacar.

Semasa SMA. Benar-benar semasa SMA. Artinya saya sempat menghabiskan sebagian besar masa SMA saya bersama dia. Jenis mantan pacar yang menemani di masa paling memorable sekaligus paling labil dalam jenjang kehidupan kita.

Jenis mantan pacar seperti ini sangat berbahaya untuk dihadapi kembali. Baik dalam keadaan masih single, ataupun sudah punya pacar atau suami sekalipun. Riskan. Bisa-bisa dia terlihat lebih dewasa dan ganteng sedikit, cerita semasa SMA terulang lagi.

Tapi, dengan sangat wise, mantan pacar ini datang membawa pacarnya. Saya untungnya juga bersama beberapa teman, yang dengan baik hati mau mencoba menyelamatkan saya dari menjadi lalat pengganggu hubungan orang.

Wajahnya masih sama. Tingginya masih sama--tidak seberapa tinggi. Tangannya masih sama. Wanginya juga entah kenapa masih sama. Saya mendadak sentimentil. Me
ngingat masa-masa bersama dia yang sangat lucu kalau diingat sekarang.

Kalau kami awet dari dulu, harusnya saya sudah nikah sama dia sekarang, punya anak kembar yang hidungnya mancung-mancung
seperti hidungnya--bukan seperti hidung saya. Kami punya semacam janji akan benar-benar nikah lima tahun dari waktu itu. And then live happily ever after. Keputusan yang sangat muda. Masih percaya bahwa hidup begitu mudah, seperti dalam cerita-cerita putri raja ala Disney.

Akhirnya, ketika kami sadar--waktu itu saya duluan yang sadar--bahwa hidup kami masih sangat panjang dan masih banyak kemungkinan dalam hidup kami,saya pergi.
Meninggalkan marah, benci, dan lain-lain yang buruk-buruk di hati.

But thank god. We move on. We live our life, and grow up. End up sitting in the front of each other, without anger, with smile.

Dia hidup dengan baik-baik--he's goin' straight edge for god sake! Punya pacar baik-baik--trully nice girl! He's changed. But he looks happy.

Saya jadi teringat kata teman saya kepada seorang teman yang lain,

"Kalau mau hidup lo membaik, jadian sama Ginna. Tunggu diputusin. Sedih bent
ar. Habis itu niscaya lo jadi orang sukses."

Saya tertawa keras sekali waktu itu. Tapi mungkin benar juga, percaya nggak percaya sih. Beberapa tahun belakangan, ketika saya bertemu beberapa mantan pacar, perkembangan hidup mereka mencengangkan. Satu jadi pilot, satu udah mau jadi bapak, satu udah punya album sendiri dan jadi artis, satu lagi udah kerja di luar negeri, dll. Padahal, dul
unya.....wah, jangan sampai harus saya sebut satu-satu aib mereka. Bisa-bisa ini jadi blog gossip, sekelas Gossip Girl.


People change.

I do believe that.

Meskipun wajah mereka belum berubah. Tinggi mereka tetap sama. Wangi mereka masih seperti yang teringat.
Tanpa harus jadian sama saya.

And somehow in a good way.

I re-think my self.
Apakah saya sudah berubah.
Kata orang saya berubah banyak. Ke arah yang buruk.


Hahahaha

I still believe I've changed in a good way. Because I am a part of people. People change. And what's so wrong about that....?


"...Refine, old time, colourblind

Big sign, do time, doesn't rhyme
A lot, to much, standing tall

And I'm crying in the valley:
“I shall never, ever fall!�?


People are people
and I feel so strong
People are people and I'm
going on...."
(People Are People, a song by D'sound)

Sunday, February 8, 2009

my own glass of martini

Malam mulai larut dan saya mulai kesal,  membayangkan malam minggu ini akan saya  habiskan sendirian saja. Banyak orang mungkin akan mengatakan tak apa bila malam minggu tidak pergi keluar, biarlah itu jadi konsumsi ABG labil dan Geng motor yang masih suka nongkrong di Dago, malam minggu. Friday Night is the new Saturday Night. Saya kurang lebih percaya, laggipula malam minggu jalanan macet, saya benci macet. Tapi entah kenapa malam minggu ini saya tidak ingin sendirian. Mungkin karena sedang sedikit berselisih dengan teman dan pacar sedang sulit dipaksa beranjak dari kasurnya, saya ingin mencari kesenangan hari ini. Di malam minggu yang biasanya biasa-biasa saja.

Saya mengucapkan kalimat perpisahan lewat mic, dan tepat ketika saya keluar, beberapa orang teman mengajak saya bepergian. Oh thank God... Datang  juga tawaran itu. Entah kenapa ada rasa malas yang amat sangat  untuk mengajak orang pergi duluan. Terkesan sedikit desperate. Untung yang lain tidak berpikir begitu. Kalau tidak, siapa yang menyelamatkan saya dari malam minggu inii nantinya.

Sempat beberapa kali ganti personel, ganti acara, dan ganti tempat, akhirnya saya berakhir di sebuah cafe baru, bersama lima orang lainnya yang semua laki-laki. Saya menengok teman saya yang sedang memilah milih wine yang diinginkannya, agak lama. Tiba-tiba waitress yang kebetulan juga laki-laki dan sedari tadi menunggu dengan anteng,mulai memberikan saran-saran.

" Kalo boleh saya pilihkan, lebih baik pesan red wine bla bla ini (saya lupa namanya, bahasa Prancis kalau tidak salah). Selain harganya sedang diskon, cocok sekali untuk wanita," katanya dengan gaya profesional sambil melirik kepada saya.

Seolah teman saya itu--dan teman laki-laki yang lainnya--memilih minuman yang dicocok-cocokan dengan saya, seolah karena saya perempuan satu-satunya, sudah pasti saya memang cewek matre yang kemana-mana minta dibayari (tapi memang malam itu teman saya janji menraktir wine tanpa diminta), seolah karena saya perempuan, saya tidak bisa memilih minuman saya sendiri.

Well, jika waitress itu ingin berusaha mengistimewakan saya, dia salah. Entah perempuan lain, tapi saya agak malas menemukan kenyataan itu. Selalu malas, jika menemukan kenyataan, bahwa perempuan selalu dianggap mahluk yang lebih lebih labil, emosional, dan tidak mandiri, baik dalam bersikap maupun berpikir, dengan kedok kesopanan laki-laki.Ladies first ketika masuk ruangan, ladies night di club, ladies parking area di mall.  Itu cuma sesuatu yang secara tidak sadar, mencoba membuktikan bahwa perempuan itu selalu manja. Bohong kalau orang bilang kita hidup di dunia kesetaraan. Setelah sekian lama, kita masih hidup di dunia patriarki, dimana wanita hanya penduduk nomor dua, yang menurut norma sosial, bahkan agama, harus selalu tunduk kepada laki-laki.

Saya perempuan, saya mandiri. Saya bisa memilih. Saya bebas. Saya menolak di nomor dua kan dengan embel-embel keistimewaan.

Maka malam itu saya memilih. Segelas Martini Lychee. Teman saya pun akhirnya tidak jadi memilih wine yang katanya cocok untuk wanita itu. Entah karena harganya terlalu mahal, entah karena dia mengerti perasaan saya, entah karena dia memang sedang tidak ingin saja, saya tetap lega.

" Minum Martini, kayak James Bond aja lo...." begitu kata teman saya.

I sipped my Martini with pride. Akhirnya dia mau coba. Yang lainnya juga.

"Enak ya... Manis !" Saya hanya tersenyum. Mungkin begitu rasanya memilih. Manis...

*So....Cheers everyone...!!!
To live our live in our own way, in a fine way....



"Cause I am a Superwoman
Yes I am
Yes she is
Even when I'm a mess
I still put on a vest
With an S on my chest
Oh yes
I'm a Superwoman"
(taken from '"Superwoman", a song by Alicia Keys)

Friday, January 9, 2009

Seberapa Dalam Cinta Mu

I know your eyes in the morning sun
I feel you touch me in the pouring rain
And the moment that you wander far from me
I wanna feel you in my arms again

And you come to me on a summer breeze
Keep me warm in your love and then softly leave
And its me you need to show

Seberapa Dalam Cinta Mu....

Saya sedang senang menyenandungkan potongan bait lagu, yang disebut-sebut sebagai lagu yang paling banyak di-remake itu. Iya, lagu Seberapa Dalam Cinta Mu ! Yeah well, itu kalau kita menerjemahkannya secara praktis  ke dalam Bahasa Indonesia. Tidak terdengar romantis, tidak kasual, dan sama sekali tidak puitis.

Berulang-ulang saya senandungkan--dalam bahasa Inggris--di depan pacar saya. Berharap kemampuan berbahasa Inggrisnya cukup untuk mengerti kalimat simpel itu. Atau setidaknya kepekaannya cukup besar sehingga akhirnya sadar, seberapa besar keingin tahuan saya terhadap hal itu. Hasilnya pacar saya hanya ikut meneruskan sisa lagunya, entah memang hanya ingin, atau bermaksud membalikan pertanyaannya pada saya. Itu juga saya tidak tahu.

Seberapa Dalam Cinta Mu.
Kalau saya hidup di dunia sinetron atau novel cinta terjemahan yang buruk, mungkin saya akan bisa menanyakannya dengan mudah. Tapi saya hidup di dunia nyata, sudah tentu semuanya lebih sulit.
Cukup sulit sampai kita harus selalu menebak-nebak isi hati orang yang kita sayangi. Takut secara sia-sia akan ketidak berdayaan kita terhadap perasaan orang lain, yang membuat kita jauh dari ketulusan. Atau seperti saya, dengan tidak tahu malu menyanyi dengan kemampuan vokal yang seadanya, yang berakhir memberengut karena tidak diperdulikan.

Seberapa Dalam Cinta Mu ?
Sedalam lautan ?
Seluas Dunia ?
Setinggi angkasa ?
Sebesar jagad raya ?

Saya hanya ingin,
Seindah Ketulusan.

Unconditional Love ?
aahhh....that's another song.....

How deep is your love
I really need to learn
cause were living in a world of fools
Breaking us down
When they all should let us be
We belong to you and me

I believe in you
You know the door to my very soul
Youre the light in my deepest darkest hour
Youre my saviour when I fall
And you may not think
I care for you
When you know down inside
That I really do
And its me you need to show
(How Deep Is Your Love; by Bee Gees )

Thursday, December 18, 2008

Perasaan/Dirasakan

Saya berpikir kembali
Apakah telah benar memutuskan
Padahal saya punya janji yang belum selesai
Dan saya tidak punya apa-apa untuk ditawarkan

selain....
Ketulusan?
Sombong kalau saya bilang begitu
Saya hanya merasakan

Karena perasaan itu dibuat untuk dirasakan
Bukan diutarakan

because my heart said so

Angry and dissapointed
He walked out that door
I watched in agony
That was the most disturbing scene i've ever seen

***

Bersenang-senang mungkin tujuan kami malam itu. Tapi kedatangan saya tampak hanya membuat semua orang bingung dan merasa resah.
" Batalkan saja..."
"Jangan," kata saya.
"...."
Ada keheningan yang membuat kami semua merasa tidak enak. Merasa buruk. Merasa tidak punya hati. Setidaknya saya begitu.
Saat dua orang teman menyanyikan satu lagu yang baru saja mereka ciptakan, saya mulai menangis.
"...yahh...padahal ini lagu dibuat untuk menghibur...kurang....ya..."
Saya menggeleng. Menangis makin kencang. Beberapa orang memilih keluar. Menyadari saya  mungkin butuh ruang. Padahal saya butuh keyakinan. Apa yang saya lakukan beberapa menit yang lalu, apakah benar? Kalau benar, lalu kenapa saya hanya merasa sedih, bukan meyakini?
"Tadi dia membiarkan saya pergi. Tanpa konfrontasi apapun, tanpa emosi. Saya harusnya merasa senang. Tapi saya tidak. Wajahnya menyiksa."
"Do you care about him that much...?"
"Yeah, now i know.... And i feel like a coldhearted bitch...!"

***

I made this promise to myself
That I would be there
Just because I care
And my heart said so

sometimes we just need to follow our heart

Saturday, November 22, 2008

defining nice

The fucking phone is ringing....the fucking phone is ringing.... the fuck....

 

I pick up the phone.

I didn’t expect anybody.

Little bit surprising that it was you.

 

“Are you okay...”

“I’m okay...”

“We’re having fun here.”

“I know...just go on. Have fun. The night is waiting to be beaten.”

“Okay then. Bye...”

“Bye....”

 

I smiled.

I know you tried to share the happiness. But you never push that hard.

Defining nice.

It’s you  in my mind.

And that’s enough....

GOSSIP GIRL

Gossip Girl here,

your one and only source to the scandalous lives of Mahattan’s Elite.

- from the series “Gossip Girl”-

 

 

Kalau saja di jaman SMA saya tinggal di New York dan sudah jamannya push e-mail lewat hand phone, mungkin saja Gossip Girl—situs fiktif itu—akan muncul dengan nama yang berbeda dan isi yang hampir serupa : the scandalous lives of high school’s attendance.

 

The names there are not gonna be ‘B’ and ‘S’ (Stands for Blair Waldorf and Serena Van Der Woodsen).

Akan tertulis ‘V’ and ‘G’. Well, setidaknya ini bukan fiktif. Saya dan sahabat saya di SMA memang saling memanggil dengan inisial masing-masing.

Lalu diikuti inisial teman-teman kami yang lain : ‘I’, ‘D’, ‘K’, ‘M’, ‘N’, (another) ‘V’....etc.

 

B and S are B.F.F.....

Yes, so do we... V and G are B.F.F...

Kami memang baru bertemu di SMA. Tapi kami serasa saling mengenal puluhan tahun. Beberapa orang malah mengira kami berteman sejak TK.

 

B and S are upper East-siders.

V and G also East-siders.

We live at the East of Jakarta and my ex-highschool-boyfriend had this B-Boys club wich called East Riders. OMG...how ‘East’ we are!

 

B and S have their crush, D, N, and C...

Well, we also had ours..

V had E, I, D....and others

G had G, D, U, I, E, A....and many others

We had the I, for the same person, at the different time  of our high school experience.

We had the E, also for the same person,  at the sama time, that made V slap G on the face, in front of the class, that also made our high school experience soooo scandalicious.

 

B and S have their own villains. Sometimes for each other. But they made up at the end.

V and G also had their own villains. Sometimes for each other, but we made up easily, and  most of our villains were others.

Mantan pacar yang meninggalkan kami demi seorang anak baru, anak baru yang merebut pacar kami, mantan teman kami yang mencomblangi mantan pacar kami dengan anak baru yang kami benci, guru yang menyuruh kami memanjangkan rok dan melonggarkan baju, anak sekolah lain yang datang dan merebut perhatian cowok-cowok di sekolah kami, adik kelas yang memelototi kami balik ketika dipelototi, dan tentu saja, kakak kelas yang merasa dipelototi balik ketika memelototi kami, atau kakak kelas yang pacarnya kami rebut, kakak kelas yang temannya naksir kami, kakak kelas yang teman laki-lakinya jadi teman kami juga, dan segala jenis kakak kelas yang lain.

 

B and S doin’ silly things. They stripped, they slept with a guy on the back  of limo, they had fun.

V and G did silly  things also. But...not that ‘silly’.

Kami berlompatan tanpa mengenakan rok sekolah di kamar, untuk mengisi waktu sebelum pergi les. Kami merekam video kami sendiri, jauh sebelum musim youtube, as Hillary Duff and Lindsay Lohan. Kami mengintai  kakak kelas—dan adik kelas—yang kami suka. Kami kabur dari les, dan  pergi makan es krim. Kami menggencet adik kelas dengan suka rela. Kami berkirim surat, padahal cuma pisah kelas.

 

That was our story back then. When life was like a television series. Easy, passionate, and friendly.

I crave for time like that....

 

 

You know you love me

X.O.X.O

Gossip Girl

 

 

 

 

 

You Deserve The Better. I Deserve The Best.

“I have the BEST boyfriend ever!”

“I have the BEST girlfriend ever!”

Kalimat manapun yang kita pikir tepat, apapun jenis kelamin kita—laki-laki atau perempuan—seringnya akan kita katakan ketika :

 

  1. Umur hubungan kita baru sebulan dua bulan; dimana kebahagian seakan diberikan secara maksimal dari langit, melalui seorang pasangan yang pengasih, pengertian, tampan-cantik,pintar...etc.
  2. Umur hubungan kita sudah menginjak setahun lebih; tetapi kebahagiaan masih terasa diberikan secara maksimal dari langit, lewat seorang pasangan yang masih juga tampak pengasih, pengertian, tampan-cantik, pintar...etc....disertai dengan beberapa kekurangan yang masih bisa ditolerir.
  3. Pasangan kita memberikan kecemasan sesaat, yang kemudian dibalas dengan surprise berupa hal-hal tidak terduga untuk kita (namanya juga surprise), atau...yahhh...hal yang kita sudah duga sebelumnya, karena kita sempat memancing dengan menyebutkan hal-hal kesukaan kita dari jauh-jauh hari.

 

Akan lain keadaannya, ketika :

 

  1. Umur hubungan kita baru sebulan dua bulan, lalu tiba-tiba pasangan kita terlihat sedang jalan-jalan bergandengan tangan bersama  orang lain, padahal katanya sedang menemani  ibunya. (Jangan pernah percaya, kalau yang kita lihat, adalah seorang wanita yang jauh lebih muda atau malahan laki-laki yang jauh lebih muda atau tua sekalipun.)
  2. Umur hubungan kita sudah menginjak 10 tahun lebih, kita beranjak menua, tetangga sudah menggunjingi kita perawan tua dan perjaka gagal, dan dia belum juga mau menikah dengan kita.
  3. Pasangan kita mengajak bertengkar setiap hari dan hal-hal kecil membuatnya marah.
  4. or.....simply when you feel that you’re not happy....

 

Kalimat yang keluar dari kita adalah :

“I deserve the BETTER...!” (berlaku untuk semua jenis kelamin dan umur)

Diucapkan dengan bengis di depan cermin atau seorang sahabat, lalu diakhiri dengan kesedihan atau tangis (bisa juga berbentuk raungan, guling-gulingan, atau kesendirian menahun).

 

Saya bingung. Kesedihan mungkin kadang membuat kepintaran kita meleleh bersama air mata.

Kenapa ketika bahagia, kita merasa sudah mendapat yang ‘terbaik’, sedangkan di masa berkabung kita, kita cuma merasa harus mendapat yang ‘lebih baik’.

Seharusnya kesedihan memberikan semangat pada kita untuk mencari yang terbaik,  bukan yang sekedar lebih baik. Dan kita juga seharusnya ingat, bahwa kebahagiaan itu, tidak selamanya yang terbaik, hanya mungkin terasa yang terbaik di suatu waktu dalam kehidupan kita.

 

Mungkin lebih baik memilih berkata,

“ You deserve the better....” karena pastinya mereka perlu orang yang bisa dengan lebih baik mencintai mereka ‘apa adanya’ (yang tahan akan perselingkuhan, kontrol berlebih, dan ketidak bahagiaan), dan membawa mereka sadar, that you’re the best in some other way.

 

“...and I.... I deserve the best...”

Hanya karena kita memang layak mendapatkan yang terbaik, dan selalu tahu apa yang terbaik untuk kita.

 

Keep saying that you deserve the best, and the best one will come when you’re least expected.

 

Thursday, November 6, 2008

STRANGE LAND




After releasing their debut album "Everything Goes Automatic"

STRANGERS are about to launch theirself...

Be the first one to know them, on...

STRANGE LAND
November, 7th 2008
Prefere 72
Ir. H. Juanda 72, Bandung
7 PM till drop....

Come Take A Look Deeper
We're All Strangers at First...
A Strangers...

Sunday, October 26, 2008

Bandung Hujan

Bandung Hujan

Matahari Meredup

Kami Senang

Dan Berjingkrak

Karena artinya

Akhirnya kami bisa pulang

Bandung yang kami ingat sudah kembali...

Tuesday, October 21, 2008

TUHAN MU SIAPA ?

Sebuah potongan pembicaraan di malam hari...

"Apa paham lo?"
"Bebas"
"Gue alam semesta....mereka membantu gue menemukan Tuhan"

"Mungkin gue akan senang kalau pacar gue atheis...."
"Kenapa..."
"Gue akan bebas mencari Tuhan dan menemukan agama yang tepat."

"Gue benci kenapa Tuhan harus dinama-namai...Tuhan itu cukup dipercayai..."
"Tuhan itu bagian dari diri lo, gimana caranya lo ga percaya ?"

"Agama itu apa sih?"
"Cara gue mengapresiasi Tuhan gue"

"Ketuhanan itu sifatnya personal.."
"Lalu kenapa masih banyak orang yang belum menemukan Tuhan ?"
"Karena jarang ada yang berusaha mencari, lagipula siapa yang tahu."
"...?"
"Buat apa menceritakan sisi hidup lo yang paling personal ke orang lain."

"Bukannya fungsi Tuhan itu untuk menempatkan semua pada hakikatnya ?"
"Tuhan menciptakan sistem, semua berujung pada satu....Maka tercipta harmoni"
"......."

Belum juga membuat saya menemukan apa-apa.
Saya harus sabar.
Ketuhanan itu masalah personal. Ya, terserah saya dong....

Sunday, October 12, 2008

F.U.C.K.... NOT F.C.U.K....

Fuck those food!!!!
Opor ayam, rendang, kue-kue kering, ketupat, sambal goreng, dkk.

Fuck those drinks!!!
beer, tequilla, whiskey, dkk.

Fuck those people....
Who told me that I am FATTY now.....

I hate when they were right....

And back to the beginning,
Fuck those food
Fuck those drinks
Fuck those people

Fuck all the things that made me feel bad about my weight gain.......

Friday, October 10, 2008

maybe destiny


Live in Bandung
* checked ! I'm not planned leaving Bandung soon

Female, 18-25 years old
* checked ! I still have 3 years to reach the age limit

Have a big passion on writing
* Oh my god...HELL YESSSS !!!!

Oww..they find new contributors for the magazine...!


Maybe this is destiny...

or

It's just something I coincidentally read  today


well, no guts no glory...

so, How do you think ?

Wednesday, October 8, 2008

Lebaran dan Daging Krispi

Lebaran biasanya diisi dengan gema takbir dan parade bedug. Disertai orang-orang yang berbondong-bondong datang ke mesjid (atau lapangan), mengenakan pakaian terbaik mereka dan dandanan paling maksimal.

Saya mengalaminya juga pagi itu.
Tapi kejadian sebelumnya, belum tentu semua yang berlebaran juga mengalami.

Jln. Cempaka II/12A
Komp Jati Kramat Indah I
Pondok Gede-Bekasi
05.35 am
Kamar Saya
===================================================================

Mata saya terbuka setelah adik saya membangunkan saya dengan sangat paksa. Biasanya dia juga suka membangunkan saya secara paksa, tapi entah kenapa kali ini berbeda. Mungkin karena dia membangunkan saya dengan wajah bolornya terlihat begitu panik, dan tangannya menenteng setumpuk map, yang saya kenali sebagai map-map yang biasa dipakai ibu saya untuk menyimpan ijazah kami semua.
Saya teringat wejangan ibu saya kepada kami di setiap kesempatan, "Kak, De, kalau ada apa-apa itu langsung lari keluar. Ga usah pikirin barang-barang, kecuali ijazah. Langsung selamatkan..."
Melihat pagi buta itu adik saya menenteng map ijazah sambil panik perasaan saya yakin pasti ada apa-apa. Saya lompat dari tempat tidur, tapi melainkan langsung lari keluar tanpa peduli harta benda kecuali ijazah, saya mampir dulu di meja belajar menggotong laptop dan tas saya yang berisi macam-macam. Saya keluar kamar, semua orang sudah di teras berusaha membuka pintu pagar. Saya berteriak, "memang ada apa sih....?" Ayah saya balas teriak lebih sewot, "Ada kebakaran Kak, kihat dong!" lalu dia buru-buru buka pintu garasi dan menstater mobil. Eyang dan tante saya sudah diungsikan di dalam mobil dan siap berangkat. Ibu dan adik saya akhirnya sudah keluar, tapi masih di teras rumah, memandangi sebuah scene yang mirip seperti acara-acara disaster di TV. Sebuah tiang listrik tepat di depan rumah kami terbakar dan mengeluarkan ledakan-ledakan yang cukup besar secara konstan.
Saya baru menyadari betapa genting keadaan, dan kemudian menyadari, betapa saya dilupakan pagi itu, setelah melihat keadaan di luar. Kok bisa semua orang sudah diluar sementara saya baru dibangunkan dan baru berhasil lari ke teras. Adik dan ibu saya mengaku setelah kejadian, mereka memang lupa akan keberadaan saya. Mungkin karena saya sudah tidak pernah ada di rumah.
Beberapa warga termasuk saya berusaha menelpon PLN untuk mematikan aliran listriknya. Tapi terus saja tiang listrik itu meledak-ledak seperti kembang api raksasa. Sisanya berusaha memadamkan api dengan seember air, yang untungnya, berhasil dicegah oleh warga lain, sebelum menimbulkan masalah baru berupa warga yang terpanggang listrik. Setelah agak lama, barulah ada yang berinisiatif memanjat sambil membawa fire extinguisher yang biasa dipajangnya di mobil gaulnya (ada gunanya juga tuh akhirnya). Disusul oleh warga lain yang membawa pemadam versi lebih besar, dan akhirnya mematikan api. 

Semua bernapas lega. Saya menelpon pacar untuk pamer kejadian langka itu. Ayah saya bergerombol bersama bapak-bapak membahas kronologis. Dan adik saya memilih bergabung bersama ibu-ibu dan eyang saya, yang katanya mendapat pertanda lewat masakan lebaran telor petis yang meledak mengotori seisi dapur beberapa saat sebelum kejadian.

was...wes...wosss...was...wess...wosss....

Begitu suaranya kalau di komik. Kasak kusuk, yang perlahan menghilang. Digantikan gema takbir. Orang-orang perlahan mengundurkan diri, bersiap untuk sholat ied. Tidak ada sisa, kecuali kami harus bersungkem idul fitri dalam gelap, karena seluruh aliran listrik mati dan rumah yang tepat di bawah tiang listrik itu harus mengepel ekstra busa-busa dari fire extinguisher.

Saya tidak berpikir kejadian itu sebagai kutukan atau hidayah di hari Lebaran. Saya tidak sujud taubat sesudahnya. Saya hanya berpikir, untung kami orang Indonesia. Yang warga nya punya semangat menolong  setinggi semangat pamernya--saya bertemu seorang ibu yang tak henti-hentinya memuji keberanian anaknya yang ikut manjat pagi itu, yang rumahnya tiga blok dari gang kami. Sangat berdedikasi!
Lepas dari niatnya, menolong atau jadi hero, buat saya sama saja. Yang penting lebaran kali ini tidak kami lewati sebagai daging krispi...

Sunday, September 21, 2008

lewat gelap

Saya memasuki kamar saya sendiri dengan rasa aneh. Ada bau khas yang masih saya ingat, dari bau menyengat  campuran obat nyamuk, kapur barus kamar mandi, dan kura-kura yang jarang saya urus. Tapi dibanding hidung, kuping saya lebih tidak nyaman. Ada bunyi “nggging” kesunyian   yang selalu saya benci. Saya segera menyalakan televisi, yang tengah menayangkan sepotong adegan sinetron tidak bermutu. Tidak penting. Yang penting bunyi tidak enak di kuping itu hilang.

 

Asing di kamar sendiri.

Mungkin itu  kalimat yang paling tepat menggambarkan apa yang saya sedang rasakan ini. Saya terlalu banyak berada di kamar orang lain. Kamar dengan bau yang juga khas. Percampuran jamur lembab, wangi tubuhnya yang manis, dan obat nyamuk yang sama dengan milik saya di kamar. Mungkin obat nyamuk itu yang bikin saya betah berlama-lama disana, karena mengingatkan saya akan kamar saya sendiri, dan mengingatkan saya akan rumah. Mungkin juga karena bau jamur lembab yang lekat sekali dengan nuansa kota ini yang dingin. Atau bisa jadi, karena wangi tubuhnya, dan dia selalu ada di kamar itu. Dia ada dan tidak ada, tidak berbeda rasanya. Dia selalu memenuhi kamar itu.

 

Kalau sedang ada, dia biasanya membaca di pojokan. Membaca apa saja. Novel, majalah lama, komik Donal dan Sinchan yang membuatnya tertawa sendiri, atau membaca tulisan tangannya sendiri yang memenuhi seluruh tembok di dekat tempat tidur. Saya dengan sok sopan akan datang mengganggu dengan pertanyaan semacam, “boleh tidur disini lagi”, atau kalau tidak mengeluh tentang lantai yang selalu berdebu membbuat saya gatal dan tumpukan pakaian kotor yang membuat tangan saya gatal ingin menggotong semuanya ke laundry.

 

Sudah semacam yang punya kamar itu memang saya ini. Terlalu peduli sama isinya, sampai suka bersih-bersih tanpa diminta. Tas-tas saya juga pasti ada saja yang teronggok di dekat pintu masuk. Kakaknya bahkan pernah berkomentar, “bantal disini pasti isinya jigong lu semua...!” saya hanya tertawa dan bilang sialan. Tidak enak hati karena terlalu sering numpang, tapi sisi hati yang lain terlalu merasa nyaman.

 

Apalagi kalau pintu itu sudah ditutup. Dia akan mulai menyusun bantal-bantal kesayangannya di karpet lalu mematikan lampu dan tidur dengan posisi yang membuat punggungnya sakit hingga sekarang. Saya memandanginya dalam gelap. Cuma dalam keadaan itu saya bisa melihat dia dengan cara yang berbeda. Peaceful. Tidak gundah dan gusar seperti  biasanya. Hanya begitu caranya, agar saya bisa merasa memiliki.

 

Dalam terang dia biasanya gelap. Tak terjamah tangan saya yang bahkan jarang ingin menyentuh. Takut tidak terbalas.

 

Memang hanya dalam ruang gelap itu saya merasa nyaman. Karena seperti  yang saya bilang tadi, dia memenuhi ruangan, dan mudah bagi saya untuk merasakannya.

 

Tapi siang  itu, saya memutuskan untuk mengumpulkan semua barang-barang saya dan menjejalkannya kedalam tas-tas  yang biasanya saya biarkan teronggok di depan pintu. Entah karena apa. Saya hanya berpikir, mungkin saya harus kembali ke persembunyian saya sendiri. Memikirkan banyak hal, tanpa auranya yang terlalu terasa. Mungkin dia juga harus memikirkan banyak hal tanpa kontaminasi suara dengkur dan igau saya. Biar saja saya jauh dari rasa aman. Saya harus menemukannya dalam terang. Lewat kesendirian yang asing. Mungkin...

 

 

Wednesday, September 17, 2008

beautiful mess

Some friends have posted 10 things about them.

Well now...let's learn some things about me, with a little help from a song by Jason Mraz. It says "Beautiful Mess". Yes some people call me messy, and--sometimes--beautiful. That's life, right? Full of contradiction that makes you being rather uncertain. If there is one thing i could tell you, well...just live it how it has to be,,,with full of contradiction.

 

"Beautiful Mess"

 

You’ve got the best of both worlds

You’re the kind of girl who can take down a man then lift him back up again

"I love being in a relationship! (with a guy, of course!) They are easy to be friend and loved one, so I got everything i need in one packaged...hihihi"

You are strong but you’re needed, humble but you’re greeted

"Some friends call me ambitious. They think I only care about perfection. I take it as a compliment though...Because maybe...yes...I become very needy"

And based on your body language and shotty cursive I’ve been reading

You’re style is quite selective though your mind is rather reckless

"I always loveeeee colors and style. Since I knew I don't have any cappacities to be a designer, I design my own fashion style. Many people keep complaining, but I keep adding so much color. Whatever people think, i love being me."

Well I guess it just suggests that this is just what happiness is

"This is the contradictive thing about me and this lovely song. I'm still searching...In the middle of deep thinking of happiness and what I need in life, instead of what i want."

 

And what a beautiful mess this is

It’s like picking up trash in dresses

 

Well it kind of hurts when the kind of words you write

Kind of turn themselves into knives

"I write everything. Love life, friendship, new clothes that i bought, shoes that i wear today, what restaurant that i am in to fill my stomach with trash...everything! Sometime it contains harsh language, but that's the cool thing about writing. You can write it down, read it again, publish it when you like it, or...just erase it in instance. I choose to write, because i have a very dirty mouth!"

And don’t mind my nerve you can call it fiction

But I like being submerged in your contradictions dear

"ooohh...too many contradiction, dear! i'm happy but i'm lonely. I'm easy but rather complicated. I love music but i can't read partiture. I love eating but i hate my big belly. I love sunflower but hate the smell. I love fashion high heels but can't bearly wearing them. I love reading but i don't have favorite writer. I am me...but sometimes I'm just somebody."

Cause here we are, here we are

 

Although you were biased I love your advice

Your comebacks they’re quick and probably have to do with your insecurities

"I can't stand being alone! It makes me missereable, and yes it's kinda sad."

There’s no shame in being crazy, depending on how you take these words

"I take the word crazy as my middle name. At least some people belive that. I don't know why.....you tell me..."

I’m paraphrasing this relationship we’re staging

"And like every single person in this whole wide world we're living in, I'm still searching for my mr. right. It has to be really RIGHT, because I don't want to spend the rest of my life, staring  on my own  mistake every day."

 

But it’s a beautiful mess, yes it is

It’s like picking up trash in dresses

 

Well it kind of hurts when the kind of words you say

Kind of turn themselves into blames

And the kind and courteous is a life I’ve heard

But it’s nice to say that we played in the dirt

Cause here, here we are

Here we are

 

We're still here

 

And it’s a beautiful mess, yes it is

It’s like taking a guess when the only answer is yes

"You can think anything about me, but don't bother to ask. So who the hell you think you are to judge me?"

 

And through timeless words and priceless pictures

We’ll fly like birds not of this earth

And tides they turn and hearts disfigure

But that’s no concern when we’re wounded together

And we tore our dresses and stained our shirts

But its nice today, oh the wait was so worth it

Monday, August 18, 2008

bersama sepotong tiramisu

bersama sepotong tiramisu dia datang dan memberi rasa manis.

"God put a smile upon your fice...METAL" begitu katanya lewat sebuah kartu. 

bahkan ejaan nya salah, saya tidak tahu.

Yang jelas saya tersenyum lebar sekali hari itu, sambil menikmati kesenangan yang datang lewat sepotong tiramisu...


NB: yang membuang kartu di komputer gue itu orangnya dosaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!

Wednesday, August 13, 2008

menunggu

Menunggu...Menunggu dan Menunggu...

Saya menunggu di pojokan sambil merokok
Menunggu dia tersenyum sambil bilang, "Nyong, kenapa lo? Sini Cerita!"
Lalu biasanya dia mengacak-ngacak rambut saya sambil mencubit-cubit pipi saya yang tidak tembem. Saya akan membalas dengan menariki kulit telapak tangannya yang sekarang kurus...

Saya menunggu sambil pura-pura tidur
Menunggu dia memanggil nama saya dari kamar sebelah dengan suara keras.
Setelahnya saya biasanya menyahut, lalu dia tertawa. Terjebaklah saya dan diberikannlah julukan orang tidur yang suka nguping...

Saya menunggu sambil bercerita kesana kemari tentang kejadian hari itu.
Dia akan dengan sabar mendengarkan lalu menanggapinya dengan kalimat-kalimat konyol. Sesedih apapun saya, dia selalu sukses membuat saya tertawa-tawa. Dia juga biasanya ikut tertawa. Lalu kami berbaring dengan posisi-posisi yang aneh, dan bernyanyi lagu cucak rowo.

Kami biasanya membahas apa yang kami lihat, sesuai dengan yang mata kami lihat.
Kami biasanya mengomentari apa yang kami dengar, persis seperti pendengaran kami bicara.
Kami biasanya berkata-kata, tanpa peduli susunan kata-kata.
Kami bebas...

Saya menunggu hari itu datang lagi.

Monday, July 28, 2008

So many questions

So many questions
I need an answer
Whatever happened to emilia earhart
Who holds the stars up in the sky
Is true love once in a lifetime
Did the captain of the titanic cry

Apalah yang kita ketahui di dunia ini.
Hanya sedikit dibanding kan yang kita tidak ketahui.

Saya terkejut melihat dan merasakan banyak sekali selidik ingin tahu di sekeliling kita. Memaksa kita untuk menjawab iya saja, demi membungkam mereka pergi. Memang begitu, begitu merasa mengetahui jawaban dari sebuah jawaban di kepala, orang-orang ini akan pergi dan mencari pertanyaan lain untuk dijawab. Tidak perduli apakah sebenarnya pertanyaan mereka perlu untuk ditanyakan, ataukah pertanyaan itu hanya retoris, tidak perlu jawaban untuk menjawabnya.

Ya kadang-kadang mereka begitu. Bertanya bukan karena tidak tahu. Mereka bertanya hanya karena ingin merasa tahu.
Bukan pula karena perduli, hanya ingin dibilang tahu.

Saya menanggapi hanya dengan pertanyaan,
"Buat apa kamu mau tahu?"
Toh setiap jawaban hanya akan menimbulkan pertanyaan lain yang membuat mu semakin susah tahu.

Karena bukankah begitulah hidup? Semakin banyak kita bertanya, semakin banyak pula yang tidak kita tahu. Semakin sulit kita menemukan jawabannya, semakin berguna jawaban tersebut untuk kita.

Someday well know
If love can move a mountain
Someday well know
Why the sky is blue
Someday well know
Why I wasnt meant for you
Does anybody know the way to atlantis
Or what the wind says when she cries
Someday well know
Why samson loved delilah
One day Ill go
Dancing on the moon
Someday youll know
That I was the one for you
I bought a ticket to the end of the rainbow
I watched the stars crash in the sea
If I could ask God just one question
Why arent you here with me?
(Someday We'll Know, by : New Radicals)